"Jangan dilempar, Thai Thai. Saya bisa mengeluarkannya sendiri." Gadis itu sibuk memunguti barang-barangnya yang tercecer.
Pemilik kontrakan tiba-tiba mengusirnya setelah dua bulan Nindy tidak juga membayar uang sewa. Uang hasil monet membuat konten di y*utube sudah habis tak bersisa untuk mengangsur hutang kepada mantan majikannya.
"Ehh, yang itu jangan!"
"Oopps!" Nindy ternganga, matanya menatap sedih bungkusan plastik yang telah pecah dengan meluncur kasar ke dalam tong sampah.
Seketika harapannya untuk makan enak musnah sudah. Sisa sup daging yang ia bawa dari tempat kerja terbuang dengan sia-sia karena ulah pemilik kontrakan.
"Aku sudah peringatkan, tetapi kau tidak peduli. Jadi, jangan salahkan aku jika mengusirmu malam-malam begini."
Pintu tertutup dengan Nindy yang mendekap tas ransel yang sudah penuh sesak dengan pakaiannya.
Berkas-berkas pribadinya tercecer di lantai. Nindy menekuk kaki, memungut file-file penting terkait identitas juga surat-surat perizinan untuk dimasukkan ke dalam koper lusuh miliknya yang kini tergeletak di lantai.
Matanya berembun, hampir meloloskan cairan bening yang dalam sekali berkedip akan terjatuh membasahi pipi.
Satu per satu ia tata ulang dokumen-dokumen yang berserakan itu sembari memikirkan ke mana dia akan tidur malam ini.
Hampir dua puluh menit Nindy membereskan barang-barangnya.
Menegakkan tubuh, Nindy menyeret koper serta tas ransel itu dengan gontai. Dia menoleh ke samping, menatap para tetangga kontrakan yang sedari tadi hanya menonton tragedi pengusiran itu tanpa berani membela atau menawarkan Nindy bantuan, apalagi sebuah tempat tinggal sementara untuk bermalam.
Nindy menunduk, menyusuri jalan keluar dari area kontrakan itu.
Langkahnya berat ketika menapaki jalan sempit itu. Perut Nindy sudah mulai lapar. Bayangan memakan sup daging dengan kuah kental bercampur dengan bumbu spesial yang lezat telah pupus saat itu juga.
Nindy mendesah lesu. Langkahnya lunglai dengan tubuh yang lemas. Tenaganya seolah mulai menipis setelah berjalan cukup lama dengan beban berat yang ia bawa.
Nindy terus berjalan, melangkah tak tentu arah. Pikirannya gamang dengan ke mana langkahnya akan tertuju. Menyeret koper lusuh itu, Nindy sesekali mengusap peluh di dahinya.
Suara perutnya mulai terdengar berontak, menuntut untuk segera diisi. Namun, tidak ada yang bisa Nindy lakukan selain terus berjalan mengikuti ke mana kakinya itu akan melangkah.
Bukan hanya keadaan yang sedang tidak berpihak kepadanya, cuaca sepertinya juga sedang ingin mengolok-ngoloknya.
Guntur terdengar menggelegar, setetes air tiba-tiba terjatuh dari atas langit membuat Nindy menengadahkan wajahnya.
Bulir-bulir air mulai terjatuh sedikit banyak, yang kemudian berubah semakin lebat. Menghantam wajah Nindy yang sedang menengadah dengan mata terkatup rapat.
Angin malam yang berhembus bersamaan hujan yang kian menderas, membuat tubuh kurus Nindy menggigil kedinginan.
Air mata yang sedari tadi ditahannya kini sudah lolos dan mengalir dengan bebas. Menyaru dengan derasnya air hujan yang sudah lebih dulu membasahi wajahnya.
Dingin
Nindy memeluk tubuhnya sendiri, menghalau rasa dingin yang sudah mendera, menyiksa tubuh. Giginya gemeretak dengan tubuh gemetar. Sementara kedua kakinya sudah kesulitan untuk menopang tubuhnya.
Rasa putus asa sudah membebat di pikirannya. Apakah ia akan mati dalam kondisi kelaparan dan kedinginan seperti ini? Apakah kini sudah waktunya ia harus menghadap sang Ilahi dengan keadaan yang serba kekurangan?
Ah, setidaknya sebelum mati dia sudah pernah merasakan sup daging lezat dengan dua mangkuk setengah porsi siang tadi. Setidaknya hidupnya sedikit berwarna dengan merasakan kelezatan makanan yang pernah masuk ke lambungnya.
Namun, ketika rasa putus asa sudah memenuhi kepalanya. Sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti di sampingnya, membuat Nindy menoleh ke arah mobil itu.
Kaca mobil di bagian penumpang menurun dan muncullah sosok berhijab dengan senyum teduh yang diarahkan kepadanya.
"Nindy!" Sosok itu memanggilnya, tersenyum ramah kepadanya.
Sedikit kesulitan Nindy menggerakkan bibirnya. Tenggorokannya masih tercekat dengan rasa sakit akan pahitnya kehidupan bersamaan dengan hawa dingin yang menyeruak tubuhnya. "Michella."
Muchella, gadis yang pernah ditemuinya dua tahun yang lalu. Mereka sempat berkenalan saat itu ketika Nindy baru saja pulang bekerja dari menjaga toko pakaian. Michella yang Nindy ketahui adalah gadis yang baik, meski dari penampilan terlihat bahwa gadis itu adalah dari keluarga berada, tetapi dia sepertinya tidak memandang orang dari derajat dan kastanya. Nindy tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu lagi.
Dia tersenyum mengangguk, berbicara kepada seseorang yang duduk di sampingnya. Entah apa yang mereka bicarakan, karena Nindy tidak sanggup mencuri dengar disebabkan suara derasnya hujan dan guntur yang beberapa kali terdengar menggelegar.
Sejenak ia menunggu, terlihat seorang laki-laki yang Nindy ketahui adalah sopir mobil itu berjalan ke arahnya sambil membawa payung.
"Mari, Nona! Saya bawakan barang-barang Anda."
Nindy ingin menolak, tetapi anggukan dari seseorang yang tadi berbicara kepadanya membuatnya sungkan menolak. Lagipula saat ini dia sudah tidak sanggup lagi menahan hawa dingin yang terasa menggerogoti tenaganya.
Nindy mengangguk kemudian, diikuti gerakan yang cekatan sang sopir itu mengambil alih barang-barang Nindy untuk diletakkannya di bagasi mobil.
Gadis itu hanya menurut ketika pintu mobil itu dibuka. Menundukkan kepala, Nindy memasukkan tubuhnya ke dalam mobil berada di kursi samping kemudi.
Dari arah belakang, seseorang mengangsurkan handuk bersih berwarna putih yang lembut kepadanya.
"Keringkan dirimu. Kamu bisa masuk angin." Suara ramah dan lembut itu berbicara lagi. Nindy menerima handuk itu sembari mengucapkan terima kasih dengan lirih.
Disekanya air yang menetes dan sudah menguyupkan pakaiannya. Wajahnya yang semula penuh air mata sudah ia usap dengan handuk itu. Bibirnya bergetar karena kedinginan. Nindy memeluk handuk itu dengan melingkarkan menutupi punggung serta tubuh bagian depannya.
"Mas, kita ajak Nindy sekalian makan malam, ya?" Samar-samar terdengar wanita baik hati itu mengucapkan sesuatu.
Oh, sepertinya dia sudah menikah. Mendengar bagaimana wanita itu berkata kepada suaminya dengan lembut dan sedikit manja, pasti mereka saling mencintai. Sungguh beruntung ya, Michella.
Nindy tidak menoleh, dia hanya menatap ke depan ke arah jalanan. Tidak sopan rasanya jika dia menoleh ke belakang, menatap sepasang suami istri yang sedang berbicara.
"Tidak, antarkan saja dia pulang. Kita 'kan akan makan malam romantis, mana mungkin mengajak orang luar ikut."
Nindy mendengar semua itu. Ah, dia merasa menjadi seorang pengganggu saja.
"Auuh. Kenapa dicubit sih, disayang saja." Suara lelaki di belakang itu terdengar lagi, membuat jiwa kesendirian Nindy meronta.
"Issh, tapi ajak Nindy bersama kita, ya?" bujuk si wanita, masih berharap Nindy ikut makan bersama mereka.
"Tergantung, ciumannya lama atau tidak!"
Apaan sih mereka?
Nindy hanya bisa mencuri dengar tanpa berani menoleh. Menatap spion tengah pun takut. Takut jika jiwa kesepiannya berteriak kesakitan.
Ckk, suara apa itu?
Nindy sempat mendengar teman wanitanya itu menolak, tetapi sekarang telinganya telah tercemar dengan suara-suara aneh.
Ekor matanya melirik ke arah sopir yang sedang fokus ke jalanan. Tampaknya sopir tersebut masih berekspresi datar, sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dilakukan dua orang manusia di belakangnya.
Nindy masih menggigil, suara laknat itu malah membuatnya semakin kedinginan.
Apakah dua orang di belakang itu lupa jika ada jiwa kesepian dan kurang belaian yang sedang berjuang hidup demi sepiring nasi?
Note :
Thai Thai : Panggilan Nyonya dalam bahasa Kantonis.
》Memangnya apa kira-kira yg di dengar Nindy?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Umaila
ditunggu kelanjutannya y thorr
2022-10-27
1
Sunarty Narty
y Allah Sean jiwa mesumnya g berkurang malah makin jd🤭🤭🤭
2022-10-24
0
Qiza Khumaeroh
waahh jgan2 itu sean sma istriy yg mnjd kasih tak sampai Yang
2022-04-20
0