"Kau boleh membuangnya, karena mulai detik ini pekerjaanmu sebagai asiten rumah tangga di sini sudah mulai berlaku. Jadi, bereskan semua sekarang juga!"
Sekali lagi, Nindy merasa ditindas. Dia belum sempat menikmati rasa keterkejutannya itu, tetapi Yang kembali menekannya. Yang Pou Han terlalu licik, menggunakan semua keahlian dan kekuasannya untuk menindas, menekan hingga Nindy berada di titik terendah.
Tepat setelah lelaki itu menyelesaikan ucapannya, sebuah map lain dengan kertas kosong di dalamnya dilempar dengan kasar di atas meja. Dia tidak sempat menjawab, karena Yang Pou Han segera melanjutkan perkataannya.
"Tulis apa yang jadi keinginanmu, lalu tanda tangan. Dan kau harus menandatangani apa yang sudah menjadi keinginanku," ucap Yang Pou Han dengan membuka telapak tangannya ke atas yang kemudian tanpa isyarat apa pun, asistem Lie Am meletakkan pena di atas tangan lelaki itu.
Pena itu segera dilemparkan dengan kasar di atas meja tepat di atas map yang sebelumnya akan diraih oleh Nindy.
Kertas di dalam map itu terlihat begitu menggoda. Secercah harapan untuk segera keluar dari lingkup penindasan yang mengatasnamakan sebuah hukuman mungkin akan segera berakhir ketika dia menuliskan apa yang akan menjadi keinginannya.
Tidak memerlukan waktu lama, pena dan kertas itu diambilnya. Sejenak ia berhenti ketika mata pena itu menyentuh kertas kosong, berpikir poin apa saja yang akan ia tulis di sana.
Nindy harus memikirkan dengan matang apa yang dia inginkan. Dia tidak ingin terburu-buru. Apa yang dia tuliskan nanti sangat berpengaruh dengan masa depannya. Jika dia menuliskan hal yang tidak benar, maka bisa saja kebebasannya hanya akan menjadi sebuah kenangan.
...01. Pihak pertama akan bekerja selama satu bulan di "The Miracle Ocean Garden" tanpa gaji, tidak ada perpanjangan waktu dalam bentuk apa pun. Dan jika pihak ke dua melakukan pelanggaran, maka wajib memberikan gaji tiga kali lipat dari gaji normal....
...02. Tidak ada kekerasan fisik selama menjadi asisten rumah tangga. Berlaku mulai perjanjian ini ditandatangani hingga selamanya (tanpa batas waktu)....
...03. Setelah satu bulan berakhir, maka semua perjanjian berakhir, kecuali poin 02....
Gurat senyum nampak di wajah Nindy. Ya, dia hanya harus bertahan selama satu bulan penuh. Setelah itu dia akan terbebas dari lelaki gila, yang bernama Yang Pou Han itu.
Nindy menutup map itu, yang sebelumnya telah membubuhkan tanda tangannya di sana, lalu mendorong map itu di depan Yang Pou Han.
Lelaki itu meraih map yang berisi permintaan Nindy. Dibacanya sekilas, lalu tersenyum simpul.
Ekor matanya melirik ke arah asisten Lie Am yang segera mendapat anggukan dari lelaki itu. Tanpa berbicara, dia meletakkan satu bandel kertas yang sudah dijilid begitu tebal di depan Nindy.
Tangannya cekatan membuka halaman terakhir dari kertas itu, lalu meletakkan pena di atasnya.
"Silakan ditandatangani, Nona!" ucapnya sopan.
Nindy mengerutkan kening, masih bingung dengan apa yang ada di depan mata itu. Kendati ingin menanyakannya kepada Yang Pou Han, dia justru membubuhkan tanda tangannya di sana.
Nindy menganggap apa pun yang tertulis di dalamnya hanya berlaku hingga satu bulan saja. Dan tidak akan berlaku setelahnya.
"Kau tidak ingin membacanya terlebih dulu?" tanya Yang Pou Han heran melihat Nindy begitu percaya diri dengan langsung menandatangani surat perjanjian itu.
"Tidak perlu. Lebih baik sekarang kau tanda tangani milikku!" ucap Nindy dengan penuh percaya diri.
"Baiklah, aku tidak memaksamu untuk membacanya. Jangan salahkan aku jika kau menyesal setelah menandatangani perjanjian ini."
Perkataan Yang berhasil membuat kepercayaan Nindy menurun. Memang apa sebenarnya isi dari perjanjian yang ditulis oleh Yang Pou Han?
*******
Rumah itu terlalu besar jika hanya dihuni oleh satu orang saja. Dan di rumah ini sama sekali tidak ada pembantu rumah tangga.
Bagaimana orang sekaya itu bisa sangat pelit dengan tidak mempekerjakan seorang pembantu saja untuk mengurus rumahnya?
Sejak pagi Nindy sudah sibuk membersihkan rumah. Menyapu, mengepel dan membersihkan meja juga furniture mewah yang berada di rumah itu. Sungguh sangat melelahkan.
Sabar, Nindy. Hanya sebulan. Ayoo! Kamu bisa!
Berkali-kali Nindy mencoba menyemangati diri sendiri. Menata hati, pikiran serta tenaga untuk menghadapi si pria kaya, tetapi pelit itu. Mungkin setelah terbebas dari Yang Pou Han, Nindy berharap bisa melakukan syukuran dengan berbagi kepada tetangganya.
Tunggu! Tetangga? Bukannya dia sudah diusir. Ah, Nindy sepertinya sudah terlupa akan hal itu.
"Nindy! Nindy!"
Suara yang paling dibenci oleh Nindy akhirnya terdengar juga. Dia menghela napas, meletakkan tongkat pel dengan asal seraya bergegas menemui si majikan.
"Iya, Tuan. Ada perlu apa?" ucap Nindy ketika sudah menemukan Yang Pou Han duduk di meja makan.
"Mana sarapanku? Mengapa belum siap juga?"
Apa, sarapan? Nindy bahkan tidak tahu jika tugasnya harus membuat makanan juga. Nindy belum semmpat membaca semua perjanjian yang ditulis oleh Yang Pou Han kepadanya.
"Saya akan menyiapkannya segera, Tuan!"
Dia berlalu, tanpa menunggu perintah lagi dari Yang Pou Han. Sedikit menghentakkan kaki kesal, tidak rela jika setiap hari harus melakukan pekerjaan sebanyak itu.
Dia memasukkan roti tawar ke mesin pemanggang, menyiapkan selai dan juga minuman. Pipinya mengembung dengan bibir memaki Yang Pou Han dengan lirih.
"Dasar pelit. Semoga dia tersedak saat makan nanti."
Terlalu banyak mengeluh membuat Nindy tidak memperhatikan roti yang dipanggangnya. Ia terlupa mengatur timer dan pengatur panas dengan pas, sehingga ketika dia mengingatnya roti sudah dalam keadaan gosong.
"Ooops, panas-panas." Roti yang menghitam itu sedikit terlempar-lempar ke udara, tetapi tidak sampai terjatuh.
Bersamaan dengan rasa terkejutnya dengan warna roti yang gosong itu, teriakan Yang Pou Han kembali terdengar nyaring di telinganya.
"Nindy! Nindy! Cepat sarapannya!"
Ekor mata Nindy memutar malas, sangat kesal dengan sikap bos pelit dan penuh perhitungan itu. Dia ingin memanggang roti itu sekali lagi, tetapi teriakan menjengkelkan itu terdengar lagi, membuat Nindy cepat-cepat mengoleskan selai stroberi di atasnya.
Dua potong roti panggang telah siap. Nindy agak ragu melangkah. Entah akan bagaimana reaksi Yang Pou Han melihat hasil pekerjaannya.
Dengan hati-hati, piring yang berisi roti panggang buatannya tersaji di atas meja beserta minuman teh tawar hangat.
Netra kecoklatan itu menatap roti panggang itu dengan tajam, lalu beralih ke arah Nindy.
"Kau mau meracuniku!" bentak Yang Pou Han dengan wajah yang merah padam.
Nindy menggeleng. Sebenci apa pun dia kepada Yang Pou Han, tak pernah terbesit sedikit pun pikiran untuk meracuni lelaki itu. Namun, mendoakan dia cepat mati mungkin iya, tetapi tentu saja atas ijin yang Kuasa, bukan dengan campur tangannya.
"Mana mungkin saya berani melakukan itu, Tuan."
Lelaki itu mendorong piring itu dengan kasar. "Lalu apa ini? Kau pikir aku anjing mau makan makanan seperti ini!"
Nindy ingin terkekeh, tetapi segera ditahannya.
Ah, benarkah dia merasa seperti anjing. Baguslah kalau dia merasa begitu, setidaknya dia sadar diri.
"Tidak, tuan. Saya tidak mengatakan kalau Tuan seperti anjing. Tapi jika Tuan merasa seperti itu, saya tidak masalah."
"Apa kau bilang! Lancang sekali kau mengatakan itu!" Nampak raut muka geram Yang Pou Han. Nindy benar-benar menguras kesabarannya.
Nindy sedikit berjingkat mendengar bentakan kasar Yang Pou Han kepadanya. Kendati ingin membela diri, dia lebih memilih mengambil kembali piring berisi roti panggang itu.
"Saya akan membuatkannya lagi, Tuan," ucap Nindy dengan membawa pergi roti panggang itu.
Tepat ketika Nindy ingin berbalik, pergi dengan membawa piring itu, Yang Pou Han kembali mengucapkan sesuatu. "Siapa yang menyuruhmu membawa pergi roti itu?"
Langkah Nindy terhenti, memutar badan menghadap Yang Pou Han. "Maksud Tuan? Apakah Tuan mau memakan roti panggang ini?" Sedikit tidak percaya Nindy ketika mengatakannya.
"Letakkan di sini, dan buatkan yang baru!"
Bergegas gadis itu meletakkan piring ke atas meja. Membalik badan, Nindy melangkah menuju dapur dengan cepat untuk menyiapkan roti panggang baru untuk sang majikan."
"Sempurna," ucapnya memuji hasil pekerjaannya sendiri.
Dengan penuh percaya diri, Nindy meletakkan roti panggang baru itu di depan Yang Pou Han.
"Selamat makan, Tuan."
Senyum puas terukir di bibir Nindy. Ternyata membuat roti panggang dengan sempurna bisa membuat Nindy bahagia. Dia ingin kembali ke dapur, tetapi dengan cepat Yang Pou Han menahannya.
"Mau ke mana?"
"Saya akan kembali bekerja, Tuan."
Yang mengisyaratkan dengan gerakan bola mata, menunjuk kursi di depannya. "Duduk!"
Ragu Nindy mendekat, "Apakah boleh?"
Dia menghela napas sekali dengan berat, lalu memerintahkan Nindy dengan perkataan yang sama. "Duduk!"
Nindy meneguk saliva, tetapi segera menurut dengan apa yang diperintahkan Yang Pou Han kepadanya.
"Makan!" ucap Yang sembari mendorong roti panggang gosong itu di depan Nindy.
Netra itu menatap roti panggang yang tersaji di depannya. Nindy merasa warna roti itu lebih hitam daripada ketika ia menghidangkannya saat pertama kali. Apakah Nindy yang memang tidak terlalu memperhatikan itu?
"Habiskan!"
Perkataan Yang kembali membuat Nindy tercengang. Sebelumnya lelaki itu mengatakan jika roti panggang itu lebih cocok dimakan oleh anjing. Dan saat ini di depannya, dengan jelas Yang memerintahkan Nindy untuk memakan roti panggang gosong itu hingga habis. Apakah itu berarti Yang menganggapnya sebagai 'anjing'?
Nindy meraih roti itu sepotong, menunjukkan wajah kesal ke arah Yang Pou Han dan mendapatkan tatapan menjengkelkan dari lelaki itu.
Dengan sengaja, Nindy memakan roti panggang itu dengan gigitan besar, mengunyahnya dengan serampangan seperti wanita liar yang tidak tahu etika di atas meja makan.
Berharap mengerjai Yang dengan sikap buruknya dalam melahap makanan, Nindy justru tersedak dengan menahan rasa pahit dari roti gosong itu, membuat ia terbatuk-batuk.
Bukannya memberikan minuman kepada Nindy, Yang Pou Han malah tersenyum sinis, sembari menikmati minuman hangat yang dibuatkan Nindy untuknya.
Nindy beranjak, ingin mengambil minum di dapur, tetapi Yang segera mencegahnya.
"Habiskan!"
Nindy yang masih terbatuk, menatap tajam ke arah Yang Pou Han. Tak acuh dengan perintah atasan, Nindy berlari menuju dapur lalu mengambil air untuk diminumnya.
********
Sudah menunggu lama Nindy di depan jalan, tetapi bus jemputan tak kunjung datang. Kakinya sudah telalu pegal untuk berdiri, membuatnya sesekali menekuk kaki sekedar melemaskan ototnya yang mulai menegang.
Lima belas menit lagi tempat wisata di mana dirinya bekerja hampir buka, dan Nindy masih saja berada di tempat ini. Dia bahkan belum sempat melakukan persiapan di areanya bekerja. Pasti ketua tim akan memarahinya setelah dia sampai.
Nindy menghentak-hentakkan kaki, mengusir rasa gelisah dari pikirannya. Ekor matanya menilik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Semakin cemas, dia akhirnya memilih berjongkok. Menekuk kaki sembari meletakkan kedua tangan di atas lututnya.
Sebuah Range Rover putih berhenti tepat di depannya membuat Nindy segera menengadah melihat siapa yang sedang usil memarkirkan mobil sembarangan.
Kaca mobil belakang terbuka, dan muncullah wajah menyebalkan dengan sorot mata dingin yang ingin segera ia musnahkan di muka bumi ini. Yang Pou Han.
"Masuk!"
Dia menggeleng, mengabaikan perintah tuan pemarah.
"Bus tidak akan datang ke area elite seperti ini. Apakah kau ingin berjalan kaki?"
Seketika Nindy membulatkan bibirnya, terkejut dengan apa yang dikatakan Yang Pou Han.
Dasar! Mengapa tidak bilang dari tadi?
Nindy mendengkus, menatap kesal lelaki itu yang sengaja mempermainkannya.
"Bukan urusanmu!" jawabnya seraya bersedekap dada dan memalingkan muka.
Lelaki itu hanya tersenyum miring, menatap Nindy dengan menaikkan sebelah alisnya. "Perjanjian nomor seratus tiga puluh tujuh. Baca!"
"Apa?"
Bergegas Nindy membuka tas kanvasnya, mencari berkas perjanjian yang tadi malam sempat ia tanda tangani. Seketika matanya membeliak dengan mulut ternganga.
"Pihak ke dua jika terlambat datang ke tempat kerja, maka pihak pertama akan memberi hukuman kepada pihak ke dua untuk tidak memberi jatah makan malam, tidur di luar semalaman tanpa menggunakan selimut atau alas tidur."
Belum sempat rasa terkejutnya itu selesai, mobil Yang Pou Han melaju meninggalkan Nindy.
Nindy segera berlari sekuat tenaga mengejar mobil Yang Pou Han. Dia berlari dan terus berlari hingga napasnya ngos-ngosan.
"Keterlaluan. Yang, Kau sangat keterlaluan!"
Nindy mengatur napas dengan sedikit membungkuk, meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut kanan dan kiri. Ingin sekali dia memaki habis-habisan Yang Pou Han saat ini juga.
Tepat di saat ia menegakkan badan, Range Rover putih itu sudah berhenti tepat berada di sampingnya.
"Kau butuh tumpangan?"
Nindy menghela napas, lalu mengangguk.
Dengan sedikit berlari, Nindy memutar ke arah pintu yang lain, membuka pintu mobil lalu mendaratkan bokongnya di sana.
"Jalan!" ucap Yang Pou Han kepada sopirnya.
Nindy nampak mengatur napasnya yang tersenggal, tanpa menoleh ke arah lelaki yang duduk di sebelahnya, dia memejamkan mata.
Hening.
Tiada sepatah kata pun yang terucap atau terdengar di antara mereka. Begitu senyap, hanya suara deru mesin mobil dari jalanan yang mendominasi suasana itu. Hingga Yang Pou Han terasa ada sesuatu yang menempel di bahunya. Sedikit berat dan menekan.
Kepalanya menoleh, mendapati gadis itu tertidur dengan kepala menempel di bahunya. Terdengar dengkuran halus dari bibir Nindy yang sedikit terbuka.
Gadis itu nampak kelelahan. Terlihat dari lelapnya dia ketika di perjalanan. Hingga lelaki itu tak kuasa untuk membangunkannya. Dia membiarkan posisi tetap seperti itu. Tangannya sesekali membenarkan kepala Nindy yang sempat merosot ke bawah. Menahannya agar tetap dalam posisi yang sama.
Sampai pada saat mobil memasuki pelataran The Miracle Ocean Garden, Yang sengaja berdehem sejenak dengan suara yang keras, membuat Nindy yang tertidur terlonjak seketika.
Nindy terkejut dengan posisinya itu. Dia menempel di bahu Yang Pou Han, dan tanpa sadar dia mengusap bekas air liur di sudut bibirnya. Dia meringis sedikit takut, menatap Yang dengan menyipitkan mata.
Lelaki itu memperhatikan lengan jasnya, lalu netra sipit itu membulat sempurna. "Kau meneteskan air liur di jas mahalku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sunarty Narty
y Allah yang,mau lihat gimana ekspresi yang klu Nindy d deketin cowok tim marketing
2022-10-24
1
Qiza Khumaeroh
astaga bner2 bkin gregetan Yang pau
2022-04-20
0
Rd Kurniasari
hahahaha jorok Nindy ngencesss ngiler
2022-04-15
0