"Aku tidak mau!" Dia menggeleng kuat-kuat, menolak mentah-mentah keputusan yang diambil sepihak itu.
"Ini demi kebaikanmu, Nindy. Pertengkaran kalian telah diliput oleh banyak media. Jika kalian tidak menikah, aib itu tidak akan segera menghilang dari peredaran." Salwa mencoba memberi pengertian kepada Nindy.
Urusan menikah memang tidak bisa dipaksakan, tetapi menikah bukanlah sesuatu yang buruk. Pernikahan adalah hubungan sepasang manusia berlainan jenis yang dipersatukan dan disahkan oleh Tuhan. Karena dengan memutuskan menikah, dua orang akan menjadi partner dalam menjalankan ibadah terlama yang ditunaikan tanpa jeda dalam masa waktu seumur hidup.
Nindy menunduk. Air matanya seketika luruh begitu saja. Drama apalagi ini?
Dia ingin segera terbebas dari Yang Pou Han, tetapi karena alasan yang tak jelas dia malah harus menikah dengan lelaki itu. Bukankah itu tidak adil?
Sejak pertemuannya dengan Yang Pou Han, Nindy merasa hidupnya selalu penuh dengan kesulitan. Lelaki itu tak pernah puas untuk memerintahnya seenak hati. Bahkan dia harus bekerja ekstra dari pagi hingga malam tanpa mendapatkan sepeser pun uang darinya. Dia mencoba bertahan, kendati waktu satu bulan yang menyiksa itu terasa begitu lama.
Namun, saat ini dia justru mendapatkan pilihan yang sangat tidak ia inginkan, yaitu harus menikah dengan lelaki yang ingin sekali ia hindari keberadaannya.
Apakah Nindy mampu untuk menjalani hari-harinya sebagai seorang istri, melayani lelaki itu yang berlidah tajam dan bermulut pedas hingga tak jarang menorehkan luka di hati Nindy.
"Salwa, apakah aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Nindy kemudian setelah sekian lama bungkam.
Wanita itu mengangkat dagu, menatap manik hitam yang sudah basah oleh air mata. Hingga keluarlah sebuah pertanyaan yang sedari tadi ditungguinya. "Apakah kau bahagia menikah dengan tuan Paderson?"
Dia mengulas senyum mendengar pertanyaan Nindy. Mengusap punggung gadis itu, Salwa menjawab dengan lembut. "Tentu saja. Aku bahagia dan sangat beruntung mendapatkan suami sepertinya. Kau juga akan mengalami hal yang sama, Nindy. Percayalah!"
Dia menggeleng kemudian. "Kami tidak saling mencintai. Bagaimana kami bisa bahagia? Apalagi sepertinya aku tidak cocok dengannya. Perbedaan kami terlalu senjang. Dia pria berada, sementara aku ... bukan siapa-siapa." Nindy menunduk lesu.
"Cinta tidak memandang itu semua, Nindy. Karena aku juga bukanlah siapa-siapa sebelum menikah. Aku sama sepertimu," ucap wanita itu penuh pengertian, membuat hati Nindy yang sebelumnya gelisah sedikit lebih tenang.
"Benarkah? Apakah kalian tidak saling mencintai sebelum menikah?"
Tepat ketika Salwa ingin menjawab, tiba-tiba Sean datang dan menyela pertanyaan Nindy. "Untuk apa kau mengorek pernikahan kami?"
Dia nampak tersentak, terkejut dengan suara keras yang tiba-tiba terdengar penuh ancaman. Seketika aura dingin menyelimuti tubuhnya, membuat Nindy tidak berani untuk sekedar mengalihkan pandangan.
"Mas, apakah sudah selesai bicaranya?" Salwa mencoba mengalihkan pembicaraan kepada Sean ketika menyadari perubahan raut pasi di wajah Nindy.
Lelaki itu terlihat mengangguk, menatap sang istri dengan lembut. Bagaimana dalam sekejab saja sorot mata dingin dan menakutkan itu bisa berubah menjadi lembut dan penuh cinta ketika dihadapkan dengan Salwa?
Bagaiman wanita itu bisa menaklukan laki-laki dingin dan menakutkan seperti itu?
"Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya kepada Salwa. Dan tentu saja dibalas anggukan oleh wanita itu.
Ayolah, memang apa yang sudah Nindy lakukan kepada Salwa. Tidak ada, 'kan? Harusnya Nindy yang mendapatkan pertanyaan seperti itu, karena dia yang sedang menangis.
Ya, Nindy terlupa jika lelaki itu adalah suami Salwa. Mana mungkin lelaki itu menanyai keadaan Nindy. Sudah tentu yang dicemaskan adalah kondisi istrinya, bukan? Meskipun itu terlihat berlebihan.
Hingga terdengar ucapan lembut yang terlontar dari mulut wanita itu, seraya tersenyum dengan bibir serta matanya. "Aku baik-baik saja."
Lelaki itu melingkarkan tangannya di bahu wanita itu, menyentuh pipi yang sudah membias dengan warna merah merona. "Syukurlah. Mari kita keluar! Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri."
Wanita itu mengangguk patuh. Berjalan beriringan dengan melingkarkan tangan mesra di pinggang suaminya. Tanpa menoleh ke arah belakang lagi, Sean dan Salwa sudah meninggalkan ruangan itu.
Tinggallah Nindy dan Yang Pou Han yang masih mematung di tempat tanpa bersuara sedikit pun. Yang Pou Han berdiri di ambang pintu ruang rapat, sementara Nindy masih duduk dalam posisi membungkuk dengan dagu diletakkan di atas meja.
Hingga derap langka sepatu Yang Pou Han terdengar mendekat, membuat gadis itu segera menyeka air matanya. Dia menoleh kemudian, menatap dengan perasaan yang sulit diartikan.
"Apakah kau senang karena akan menikah denganku?"
Pertanyaan Yang Pou Han berhasil membuat Nindy semakin kesal. Apa lelaki itu mengira Nindy sengaja melakukan permainan itu untuk menjebaknya?
"Aku tidak ingin menikah denganmu. Ayo bebaskan aku. Aku ingin menghilang dari kehidupanmu."
Lelaki itu menautkan kedua alisnya, hampir menyatu. Mendengar penolakan yang langsung keluar dari mulut Nindy. "Tetapi aku ingin menikahimu."
Mendengar itu, Nindy menegakkan tubuh, memutar arah duduknya menghadap Yang Pou Han. "Kau ingin menikahiku? Tapi mengapa?"
Dia mengulas senyum kemudian. Dan sebuah kalimat yang terlontar dari mulutnya membuat Nindy semakin kesal kepada lelaki di depannya itu. "Karena waktu satu bulan sepertinya tidak cukup untuk menyiksamu. Aku ingin melakukannya lebih lama."
Nindy berdiri dari duduknya, mengepalkan tangan dengan kuat. Bersiap menentang perkataan Yang Pou Han yang tidak mengenakkan itu. Namun, sebelum mulutnya berhasil mengucapkan sepatah kata, lelaki itu menyelanya. "Kau yang membuat semua ini terjadi. Mulutmu yang tidak bisa direm itu telah membuat semuanya seperti ini. Jadi, mari kita selesaikan semua dengan semestinya."
"Apa, mengapa semuanya menjadi salahku? Kau yang bersalah di sini. Jangan melempar kesalahan hanya kepadaku, Yang!" ucapnya dengan tegas.
Lelaki itu tersenyum penuh arti, yang sayangnya Nindy tidak mengerti dengan arti yang tersembunyi di balik senyuman itu. "Karena aku turut andil, sehingga aku mau mempertanggungjawabkannya. Jadi, ayo kita selesaikan semuanya dengan baik."
Lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Nindy seraya mempertahankan senyumnya. "Ayo kita menikah!"
Dia berdecak kemudian. Mengerutkan kening menatap tangan yang terulur di depannya. "Pernikahan bukan sebuah permainan, Yang. Itu adalah sebuah ikatan suci yang tercipta dengan campur tangan Tuhan."
"Aku tidak menganggapnya sebuah permainan. Apakah wajahku terlihat seperti itu?" tanya Yang Pou Han dengan menunjukkan wajah yang "menyebalkan".
"Kau bahkan terlihat tidak serius mengatakannya."
"Apakah aku harus membungkuk di depanmu, baru kau menganggapku serius?" tanya lelaki itu seraya menarik kembali tangannya yang sempat terulur.
Gadis itu menghela nalas panjang, mengerjapkan kelopak matanya perlahan. "Aku ingin bahagia dengan pernikahanku, Yang. Apakah impianku itu terlalu sulit untuk diwujudkan?" ucapnya lirih dengan menunduk lesu.
Setiap wanita menginginkan pernikahan yang membahagiakan, bukan?
Apakah keinginan itu terlalu tinggi untuk diraih?
Hingga jawaban yang terucap dari bibir lelaki itu membuat Nindy harus menyerah dengan keadaan.
"Kita tidak akan pernah tahu, pernikahan ini akan membuatmu bahagia atau sengsara jika kita tidak pernah mencobanya. Siapa tahu pernikahan yang kau benci ini justru membuatmu bahagia. Jadi, dengan sadar aku ingin menawarkan diri kepadamu untuk menjadi saksi bagaimana kisah ini akan terukir."
Lelaki itu mengulurkan tangannya lagi, menampilkan senyuman terbaiknya. "Tidak ada pilihan lagi, Nindy. Ayo kita selesaikan semuanya dengan baik."
Nindy masih bergeming, menatap tangan yang terulur di depannya itu. Antara bingung dan tertekan bercampur menjadi satu. Nindy tak sanggup untuk memutuskan masa depannya hanya dalam waktu sekejab itu. Hingga sebuah tarikan di lengannya yang berbalut pakaian panjang menyadarkan dia dari lamunannya. "Ayo lamban. Awak media sudah menunggu kita."
"Apa?"
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Qiza Khumaeroh
udh ngga sbar akn sebucin apa Yang pau
2022-04-21
1
Akhmad Fajar
tema ceritanya bagus.
2021-10-06
0
syifa
ceritanya bagus, beruntung bisa nemu ni novel 🤭
2021-09-26
0