14. Sudah Diputuskan

"Aku tidak mau!" Dia menggeleng kuat-kuat, menolak mentah-mentah keputusan yang diambil sepihak itu.

"Ini demi kebaikanmu, Nindy. Pertengkaran kalian telah diliput oleh banyak media. Jika kalian tidak menikah, aib itu tidak akan segera menghilang dari peredaran." Salwa mencoba memberi pengertian kepada Nindy.

Urusan menikah memang tidak bisa dipaksakan, tetapi menikah bukanlah sesuatu yang buruk. Pernikahan adalah hubungan sepasang manusia berlainan jenis yang dipersatukan dan disahkan oleh Tuhan. Karena dengan memutuskan menikah, dua orang akan menjadi partner dalam menjalankan ibadah terlama yang ditunaikan tanpa jeda dalam masa waktu seumur hidup.

Nindy menunduk. Air matanya seketika luruh begitu saja. Drama apalagi ini?

Dia ingin segera terbebas dari Yang Pou Han, tetapi karena alasan yang tak jelas dia malah harus menikah dengan lelaki itu. Bukankah itu tidak adil?

Sejak pertemuannya dengan Yang Pou Han, Nindy merasa hidupnya selalu penuh dengan kesulitan. Lelaki itu tak pernah puas untuk memerintahnya seenak hati. Bahkan dia harus bekerja ekstra dari pagi hingga malam tanpa mendapatkan sepeser pun uang darinya. Dia mencoba bertahan, kendati waktu satu bulan yang menyiksa itu terasa begitu lama.

Namun, saat ini dia justru mendapatkan pilihan yang sangat tidak ia inginkan, yaitu harus menikah dengan lelaki yang ingin sekali ia hindari keberadaannya.

Apakah Nindy mampu untuk menjalani hari-harinya sebagai seorang istri, melayani lelaki itu yang berlidah tajam dan bermulut pedas hingga tak jarang menorehkan luka di hati Nindy.

"Salwa, apakah aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Nindy kemudian setelah sekian lama bungkam.

Wanita itu mengangkat dagu, menatap manik hitam yang sudah basah oleh air mata. Hingga keluarlah sebuah pertanyaan yang sedari tadi ditungguinya. "Apakah kau bahagia menikah dengan tuan Paderson?"

Dia mengulas senyum mendengar pertanyaan Nindy. Mengusap punggung gadis itu, Salwa menjawab dengan lembut. "Tentu saja. Aku bahagia dan sangat beruntung mendapatkan suami sepertinya. Kau juga akan mengalami hal yang sama, Nindy. Percayalah!"

Dia menggeleng kemudian. "Kami tidak saling mencintai. Bagaimana kami bisa bahagia? Apalagi sepertinya aku tidak cocok dengannya. Perbedaan kami terlalu senjang. Dia pria berada, sementara aku ... bukan siapa-siapa." Nindy menunduk lesu.

"Cinta tidak memandang itu semua, Nindy. Karena aku juga bukanlah siapa-siapa sebelum menikah. Aku sama sepertimu," ucap wanita itu penuh pengertian, membuat hati Nindy yang sebelumnya gelisah sedikit lebih tenang.

"Benarkah? Apakah kalian tidak saling mencintai sebelum menikah?"

Tepat ketika Salwa ingin menjawab, tiba-tiba Sean datang dan menyela pertanyaan Nindy. "Untuk apa kau mengorek pernikahan kami?"

Dia nampak tersentak, terkejut dengan suara keras yang tiba-tiba terdengar penuh ancaman. Seketika aura dingin menyelimuti tubuhnya, membuat Nindy tidak berani untuk sekedar mengalihkan pandangan.

"Mas, apakah sudah selesai bicaranya?" Salwa mencoba mengalihkan pembicaraan kepada Sean ketika menyadari perubahan raut pasi di wajah Nindy.

Lelaki itu terlihat mengangguk, menatap sang istri dengan lembut. Bagaimana dalam sekejab saja sorot mata dingin dan menakutkan itu bisa berubah menjadi lembut dan penuh cinta ketika dihadapkan dengan Salwa?

Bagaiman wanita itu bisa menaklukan laki-laki dingin dan menakutkan seperti itu?

"Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya kepada Salwa. Dan tentu saja dibalas anggukan oleh wanita itu.

Ayolah, memang apa yang sudah Nindy lakukan kepada Salwa. Tidak ada, 'kan? Harusnya Nindy yang mendapatkan pertanyaan seperti itu, karena dia yang sedang menangis.

Ya, Nindy terlupa jika lelaki itu adalah suami Salwa. Mana mungkin lelaki itu menanyai keadaan Nindy. Sudah tentu yang dicemaskan adalah kondisi istrinya, bukan? Meskipun itu terlihat berlebihan.

Hingga terdengar ucapan lembut yang terlontar dari mulut wanita itu, seraya tersenyum dengan bibir serta matanya. "Aku baik-baik saja."

Lelaki itu melingkarkan tangannya di bahu wanita itu, menyentuh pipi yang sudah membias dengan warna merah merona. "Syukurlah. Mari kita keluar! Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri."

Wanita itu mengangguk patuh. Berjalan beriringan dengan melingkarkan tangan mesra di pinggang suaminya. Tanpa menoleh ke arah belakang lagi, Sean dan Salwa sudah meninggalkan ruangan itu.

Tinggallah Nindy dan Yang Pou Han yang masih mematung di tempat tanpa bersuara sedikit pun. Yang Pou Han berdiri di ambang pintu ruang rapat, sementara Nindy masih duduk dalam posisi membungkuk dengan dagu diletakkan di atas meja.

Hingga derap langka sepatu Yang Pou Han terdengar mendekat, membuat gadis itu segera menyeka air matanya. Dia menoleh kemudian, menatap dengan perasaan yang sulit diartikan.

"Apakah kau senang karena akan menikah denganku?"

Pertanyaan Yang Pou Han berhasil membuat Nindy semakin kesal. Apa lelaki itu mengira Nindy sengaja melakukan permainan itu untuk menjebaknya?

"Aku tidak ingin menikah denganmu. Ayo bebaskan aku. Aku ingin menghilang dari kehidupanmu."

Lelaki itu menautkan kedua alisnya, hampir menyatu. Mendengar penolakan yang langsung keluar dari mulut Nindy. "Tetapi aku ingin menikahimu."

Mendengar itu, Nindy menegakkan tubuh, memutar arah duduknya menghadap Yang Pou Han. "Kau ingin menikahiku? Tapi mengapa?"

Dia mengulas senyum kemudian. Dan sebuah kalimat yang terlontar dari mulutnya membuat Nindy semakin kesal kepada lelaki di depannya itu. "Karena waktu satu bulan sepertinya tidak cukup untuk menyiksamu. Aku ingin melakukannya lebih lama."

Nindy berdiri dari duduknya, mengepalkan tangan dengan kuat. Bersiap menentang perkataan Yang Pou Han yang tidak mengenakkan itu. Namun, sebelum mulutnya berhasil mengucapkan sepatah kata, lelaki itu menyelanya. "Kau yang membuat semua ini terjadi. Mulutmu yang tidak bisa direm itu telah membuat semuanya seperti ini. Jadi, mari kita selesaikan semua dengan semestinya."

"Apa, mengapa semuanya menjadi salahku? Kau yang bersalah di sini. Jangan melempar kesalahan hanya kepadaku, Yang!" ucapnya dengan tegas.

Lelaki itu tersenyum penuh arti, yang sayangnya Nindy tidak mengerti dengan arti yang tersembunyi di balik senyuman itu. "Karena aku turut andil, sehingga aku mau mempertanggungjawabkannya. Jadi, ayo kita selesaikan semuanya dengan baik."

Lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Nindy seraya mempertahankan senyumnya. "Ayo kita menikah!"

Dia berdecak kemudian. Mengerutkan kening menatap tangan yang terulur di depannya. "Pernikahan bukan sebuah permainan, Yang. Itu adalah sebuah ikatan suci yang tercipta dengan campur tangan Tuhan."

"Aku tidak menganggapnya sebuah permainan. Apakah wajahku terlihat seperti itu?" tanya Yang Pou Han dengan menunjukkan wajah yang "menyebalkan".

"Kau bahkan terlihat tidak serius mengatakannya."

"Apakah aku harus membungkuk di depanmu, baru kau menganggapku serius?" tanya lelaki itu seraya menarik kembali tangannya yang sempat terulur.

Gadis itu menghela nalas panjang, mengerjapkan kelopak matanya perlahan. "Aku ingin bahagia dengan pernikahanku, Yang. Apakah impianku itu terlalu sulit untuk diwujudkan?" ucapnya lirih dengan menunduk lesu.

Setiap wanita menginginkan pernikahan yang membahagiakan, bukan?

Apakah keinginan itu terlalu tinggi untuk diraih?

Hingga jawaban yang terucap dari bibir lelaki itu membuat Nindy harus menyerah dengan keadaan.

"Kita tidak akan pernah tahu, pernikahan ini akan membuatmu bahagia atau sengsara jika kita tidak pernah mencobanya. Siapa tahu pernikahan yang kau benci ini justru membuatmu bahagia. Jadi, dengan sadar aku ingin menawarkan diri kepadamu untuk menjadi saksi bagaimana kisah ini akan terukir."

Lelaki itu mengulurkan tangannya lagi, menampilkan senyuman terbaiknya. "Tidak ada pilihan lagi, Nindy. Ayo kita selesaikan semuanya dengan baik."

Nindy masih bergeming, menatap tangan yang terulur di depannya itu. Antara bingung dan tertekan bercampur menjadi satu. Nindy tak sanggup untuk memutuskan masa depannya hanya dalam waktu sekejab itu. Hingga sebuah tarikan di lengannya yang berbalut pakaian panjang menyadarkan dia dari lamunannya. "Ayo lamban. Awak media sudah menunggu kita."

"Apa?"

*******

Terpopuler

Comments

Qiza Khumaeroh

Qiza Khumaeroh

udh ngga sbar akn sebucin apa Yang pau

2022-04-21

1

Akhmad Fajar

Akhmad Fajar

tema ceritanya bagus.

2021-10-06

0

syifa

syifa

ceritanya bagus, beruntung bisa nemu ni novel 🤭

2021-09-26

0

lihat semua
Episodes
1 01. Awal Pertemuan
2 02. Hukuman
3 03. Menahan Lapar
4 04. Orang Kaya Pelit
5 05. Diusir dari Kontrakan
6 06. Sang Penyelamat
7 07. Kesepakatan Baru
8 08. Surat Perjanjian
9 09. Mencari Alasan
10 10. Sakit Membawa Berkah
11 11. Menyendiri
12 12. Salah Paham
13 Keputusan Yang Adil
14 14. Sudah Diputuskan
15 15. Conferensi Pers
16 16. Saling Bicara
17 17. Penghinaan
18 18. Perjanjian Sakral
19 19. Malam Menyebalkan
20 20. Apakah Sakit?
21 21. Harus Lebih Bersabar
22 22. Pengalaman Pertama
23 23. Makanan Sampah
24 24. Pesta Pernikahan
25 25. Hampir Ternoda
26 26. Akhirnya Terjadi
27 27. Perasaan Asing
28 28. Seperti Medan Magnet
29 29. Panggilan Yang Terabaikan
30 30. Merasa Nyaman
31 31. Ikatan Yang Ternodai
32 32. Menyerah Dengan Perasaan
33 33. Memulai Dari Awal
34 34. Pilihan Yang Sulit
35 35. Mantan Suami Terbaik
36 36. Penampilan Yang Menarik Perhatian
37 37. Cemburu
38 38. Harga Diri Senilai Es Krim
39 39. Perubahan Sikap
40 40. Honeymoon Part 1
41 41. Honeymoon Part 2
42 42. Tidak Sanggup Lagi
43 43. Kematian
44 44. Kau Tak Datang
45 45. Aku Mencintainya
46 46. Menghilangnya Si Pemilik Hati
47 47. Meminta Bantuan
48 48. Jiwa Kesepian
49 49. Ketekadan Jiwa
50 50. Mencari Nindy
51 51. Dia Istriku
52 52. Sakit Demam
53 53. I love You
54 54. Rasa Syukur
55 55. Janji Setia Selamanya
56 Ucapan Terima Kasih Author dan Pengumuman
57 Pemberitahuan
58 56. Kencan Rakyat Jelata
59 57. Lelaki Yang Tak Dikenal
60 58. Berita Gembira
61 59. Rasa Bahagia
62 60. Kenyataan Pahit
63 61. Kehidupan Baru
64 62. Keikhlasan Seorang Ibu
65 63. Wanita Pesakitan
66 64. Dukungan Seorang Terkasih
67 65. Berpacu Dengan Waktu
68 66. Taubatnya Seorang Pendosa
69 67. Kuasa Tuhan
70 68. Pendonor Yang Tak Disangka-Sangka
71 69. Ayah Yang Kejam
72 70. Bahagia Itu Sederhana
73 71. Keluarga Kecil Bahagia
74 72. Malam Istimewa
75 73. Pertemuan Terakhir
76 74. Berkumpulnya Keluarga Besar
77 Promo Kisah Baru.
78 75. Ekstra Chapter 1
79 76. Ekstra Chapter 2
80 77. Ekstra Chapter 3
81 74. Ekstra Chapter 4 ~End~
82 Pengumuman Novel Baru
83 Hallo!
Episodes

Updated 83 Episodes

1
01. Awal Pertemuan
2
02. Hukuman
3
03. Menahan Lapar
4
04. Orang Kaya Pelit
5
05. Diusir dari Kontrakan
6
06. Sang Penyelamat
7
07. Kesepakatan Baru
8
08. Surat Perjanjian
9
09. Mencari Alasan
10
10. Sakit Membawa Berkah
11
11. Menyendiri
12
12. Salah Paham
13
Keputusan Yang Adil
14
14. Sudah Diputuskan
15
15. Conferensi Pers
16
16. Saling Bicara
17
17. Penghinaan
18
18. Perjanjian Sakral
19
19. Malam Menyebalkan
20
20. Apakah Sakit?
21
21. Harus Lebih Bersabar
22
22. Pengalaman Pertama
23
23. Makanan Sampah
24
24. Pesta Pernikahan
25
25. Hampir Ternoda
26
26. Akhirnya Terjadi
27
27. Perasaan Asing
28
28. Seperti Medan Magnet
29
29. Panggilan Yang Terabaikan
30
30. Merasa Nyaman
31
31. Ikatan Yang Ternodai
32
32. Menyerah Dengan Perasaan
33
33. Memulai Dari Awal
34
34. Pilihan Yang Sulit
35
35. Mantan Suami Terbaik
36
36. Penampilan Yang Menarik Perhatian
37
37. Cemburu
38
38. Harga Diri Senilai Es Krim
39
39. Perubahan Sikap
40
40. Honeymoon Part 1
41
41. Honeymoon Part 2
42
42. Tidak Sanggup Lagi
43
43. Kematian
44
44. Kau Tak Datang
45
45. Aku Mencintainya
46
46. Menghilangnya Si Pemilik Hati
47
47. Meminta Bantuan
48
48. Jiwa Kesepian
49
49. Ketekadan Jiwa
50
50. Mencari Nindy
51
51. Dia Istriku
52
52. Sakit Demam
53
53. I love You
54
54. Rasa Syukur
55
55. Janji Setia Selamanya
56
Ucapan Terima Kasih Author dan Pengumuman
57
Pemberitahuan
58
56. Kencan Rakyat Jelata
59
57. Lelaki Yang Tak Dikenal
60
58. Berita Gembira
61
59. Rasa Bahagia
62
60. Kenyataan Pahit
63
61. Kehidupan Baru
64
62. Keikhlasan Seorang Ibu
65
63. Wanita Pesakitan
66
64. Dukungan Seorang Terkasih
67
65. Berpacu Dengan Waktu
68
66. Taubatnya Seorang Pendosa
69
67. Kuasa Tuhan
70
68. Pendonor Yang Tak Disangka-Sangka
71
69. Ayah Yang Kejam
72
70. Bahagia Itu Sederhana
73
71. Keluarga Kecil Bahagia
74
72. Malam Istimewa
75
73. Pertemuan Terakhir
76
74. Berkumpulnya Keluarga Besar
77
Promo Kisah Baru.
78
75. Ekstra Chapter 1
79
76. Ekstra Chapter 2
80
77. Ekstra Chapter 3
81
74. Ekstra Chapter 4 ~End~
82
Pengumuman Novel Baru
83
Hallo!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!