Gadis itu hanya bisa tersenyum sembari menunjukkan deretan gigi putihnya kepada Yang. Sebelum lelaki itu memarahinya lagi, Nindy bergegas meraih tuas pintu lalu membukanya untuk keluar dari Range Rover putih itu.
Kabur dari Yang Pou Han adalah cara ampuh untuk menghindari amukan singa gila itu. Nindy berlari tanpa menoleh ke arah si tuan pemarah. Kendati ingin segera menyingkir dari Yang Pou Han, dia justru terjungkal karena tidak memperhatikan sekitaran ketika berlari.
"Aauuh," keluhnya seraya mengusap keningnya yang terbentur.
Tepat ketika gadis itu ingin bangkit, sebuah tangan mengulur di depannya.
Nindy menengadah, menatap siapa yang berbaik hati ingin membantunya. Nampaklah laki-laki yang sempat mengajaknya berkenalan sedang tersenyum kepadanya.
"Kau tak apa?" ucapnya dengan tersenyum manis.
Nindy hanya mengangguk, menerima uluran tangan itu untuk menariknya agar bangkit lebih mudah. Dia mengibas-ngibaskan pakaiannya yang kotor bekas tanah. Menilik jam tangan, Nindy terkejut jika sudah terlambat lima menit dari waktu yang ditentukan.
Dia menunduk, menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan lelaki itu."Terima kasih, Zang Nan. Maaf, aku sudah terlambat."
Terlihat gadis itu berlari ke pos di mana dia ditugaskan. Lelaki itu hanya tersenyum melihat tingkah gadis yang baru saja ditolongnya itu. Sempat menggelengkan kepala sambil tersenyum, dia memilih pergi setelahnya, ketika Nindy sudah menjauh dari pandangan.
Insiden itu tak lepas dari pengamatan Yang Pou Han yang masih berada di dalam mobil. Dia mendengkus, melepaskan jas yang terkena air liur Nindy lalu melemparnya ke belakang.
Tangannya bergerak mengambil ponsel menghubungi asisten Lie Am. "Ambilkan aku jas baru!"
**********
"Tuan, Nona Danisha beberapa kali menghubungi. Mengatakan ketersediannya untuk Tuan," ucap asisten Lie Am dengan ekspresi datar.
Yang Pou Han hanya diam tak menanggapi. Dia sudah bosan diganggu oleh wanita itu. Hingga berkali-kali Yang Pou Han menolak, wanita itu tetap saja mencari perhatiannya.
"Apakah kau tidak bisa mengurus satu perempuan saja. Kalau kau tidak mampu, mungkin sudah waktunya kau pensiun."
"Maaf, Tuan. Saya memang tidak berguna." Asisten Lie Am hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Tak mampu membela diri ataupun menyalahkan orang lain.
Danisha, gadis Denmark yang pernah menjadi simpanan Yang Pou Han sebelum lelaki itu menikah dengan mantan istrinya, Emelie. Yang sudah memberikan banyak kompensasi kepada wanita itu. Alih-alih pergi, dia terus saja berupaya mendekati Yang Pou Han.
Obsesi besarnya untuk mendapatkan pria kaya itu terlalu besar. Hingga ketika mendengar kabar perceraian Yang Pou Han, wanita itu berusaha keras untuk menaklukkan hati lelaki itu.
"Suruh sopir untuk menjemput Nindy nanti. Kita pergi ke perusahaan."
Asisten Lie Am mengangguk. Di balik kursi kemudi, lelaki itu mulai mengambil alih. Melajukan mobil untuk membawa mereka menuju ke perusahaan pusat.
Hampir tiga puluh menit berlalu, hingga pada akhirnya Yang Pou Han sudah sampai di perusahaan pusat.
Dengan langkah cepat dia memasuki area lobby bersamaan dengan asisten Lie Am yang mengekor di belakangnya.
Yang melangkah menuju lift khusus eksecutive yang akan membawanya ke lantai empat puluh di mana ruangannya berada. Tepat ketika pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan dengan jemari lentik dan kuku yang dicat dengan warna merah menyala menghentikan pergerakan pintu itu hingga kembali terbuka.
Yang melirik kesal melihat siapa yang sudah lancang membuka kembali pintu lift yang hampir tertutup itu.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi, Yang. Mengapa kau mengabaikanku?" Suara yang dibuat semanja mungkin itu justru terdengar sumbang dan memuakkan di telinga Yang Pou Han.
"Aku sibuk." Tatapan Yang begitu dingin, lurus ke depan. Enggan untuk melihat bahkan melirik ke arah wanita itu.
"Aku tahu kau sibuk. Makanya aku yang mendatangimu. Nanti siang kita makan bersama, ya?" ucap wanita itu seraya mendekatkan dirinya ke arah Yang Pou Han.
Pintu lift tertutup dengan angka digital yang bergerak lambat membawa mereka menuju ke lantai empat puluh. Wanita itu mendekat dengan mengambil posisi di antara Yang Pou Han dan asisten Lie Am. Tangannya melingkar ke lengan lelaki itu yang segera ditepis oleh Yang.
"Asisten Lie, aku tidak ingin melihat dia lagi berkeliaran di perusahaanku."
Mendengar titah sang majikan, asisten Lie Am segera menyingkirkan wanita itu. Menariknya agar menjauh dari Yang Pou Han, hingga dia terhimpit ke dinding lift yang dingin.
"Yang, kau tidak boleh memperlakukanku begini!" teriaknya dengan menatap kesal ke arah asisten Lie Am.
Lelaki itu sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapannya. Dia masih mempertahankan lengan wanita itu agar tidak sampai mendekat ke arah Yang Pou Han.
Sampailah pintu lift berdenting, pertanda lantai empat puluh berada. Pintu lift bergerak, membuka dengan Yang segera keluar meninggalkan asisten Lie Am dengan wanita itu. Tanpa menoleh lagi, Yang pergi menuju ruangannya.
Pintu lift tertutup, meninggalkan asisten Lie Am dengan wanita itu. Tangannya menekan angka untuk mencapai lantai dasar dan segera mendapatkan pelototan dari mata wanita itu.
"Aku tidak mau turun, Asisten Lie!"
Lelaki itu hanya bergeming, enggan menjawab penolakan. Dia hanya menjalankan perintah atasan untuk segera mengeluarkan wanita itu keluar dari perusahaan YP Corp.
Angka digital itu terus menunjukkan penurunan secara berkala, turun satu per satu hingga angka dasar sudah menyala bersamaan dengan denting lift yang terdengar sekitar beberapa detik setelahnya.
"Silakan keluar, Nona Danisha!" Asisten Lie Am menahan tangannya di pintu lift, mempersilakan wanita itu keluar terlebih dulu.
Nampaklah dia menghentakkan sepatu berhaknya dengan keras, membuang muka ke depan asisten Lie Am lalu pergi tanpa kata, melenggang dengan gaya pongahnya menuju area lobby dan menghilang dari pandangan.
*********
"Nindy, aku tidak melihatmu naik bus tadi pagi. Dengan apa kau berangkat?" Zang Nan yang baru saja menyelesaikan urusannya, tiba-tiba menghampiri Nindy yang sedang bertugas mengatur pakan hewan air itu.
Nindy hanya tersenyum menanggapi pertanyaan lelaki itu. Dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa berangkat bersama Yang Pou Han, bukan?
Akan jadi apa dia jika menyebar gosip murahan tentang dirinya dan lelaki pemarah itu?
"Aku bersama teman. Dia kebetulan membawa kendaraan sendiri." Terucaplah jawaban yang paling masuk akal.
Lelaki itu nampak mengangguk-anggukkan kepala, mengerti.
"Apakah nanti malam kau ada acara?" tanyanya kemudian, menatap Nindy penuh harap.
"Nanti malam? Ouuh, aku harus bekerja nanti malam." Senyuman itu ditunjukkannya, mengingat banyaknya pekerjaan menanti untuk malam nanti. Sungguh dia harus menyiapkan tenaga ekstra untuk satu bulan ini.
Zang Nan mengernyitkan dahi. "Kau juga bekerja paruh waktu di malam hari?"
"Ehem, begitulah."
Dan tatapan kagum nampak terlihat di wajah Zang Nan. Dia tidak menyangka gadis di depannya itu ternyata seorang pekerja keras.
"Aku mengerti. Mungkin lain kali. Jika kau ada waktu senggang, hubungi aku, ya." Zang Nan mengangsurkan kartu nama miliknya kepada Nindy. Gadis itu masih bingung akan maksud Zang Nan, tetapi ia memilih untuk menerimanya saja.
"Baiklah, terima kasih."
Berlalulah lelaki itu kemudiam setelah mengucapkan sepatah dua kata ucapan basa-basi kepada Nindy.
Nindy memasukkan kartu nama berkilau dengan warna merah mendominasi, menyelipkannya di salah satu kantung dompet lusuhnya. Kembali ia berkutat dengan pekerjaannya, karena sebentar lagi jam pulang akan segera tiba.
Pengunjung sudah mulai sepi karena wisata akan ditutup. Semua petugas pun sudah mulai bersiap untuk pulang. Nindy dan rekan setimnya juga sedang berkemas diri karena bus karyawan akan mengantar mereka pulang secara serentak.
"Ayo , Nindy!" ajak teman wanita setimnya untuk segera menuju ke area berkumpul karyawan.
"Kakak duluan saja. Saya masih harus menyiapkan sesuatu."
"Sebentar lagi bus berangkat. Kau akan ketinggalan nanti." Masih menunggu Nindy, karena sepertinya gadis itu masih sibuk dengan suatu hal yang tidak diperlukan.
"Tidak apa, Kak. Saya akan pulang dengan teman saya."
Wanita itu nampak heran, menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan teman yang Nindy maksudkan, tetapi tak mendapatkan satu orang pun yang datang.
"Kau yakin? Temanmu tidak datang, tempat ini akan sepi."
"Dia akan datang, Kak. Sebentar lagi dia akan datang. Kakak pergilah!" gugup Nindy mengataknnya. Dia tidak pandai berbohong.
"Oh, baiklah. Jaga dirimu baik-baik." Setelah mengucapkan itu, dia berlalu.
Nindy menghela nalas dalam. Sampai kapan dia harus mencari alasan agar tidak ketahuan oleh teman-temannya. Hingga ketika bus karyawan sudah pergi meninggalkan tempat, Nindy segera keluar dari area tempat wisata.
"Mari, Nona!" Suara asisten Lie Am mengejutkannya. Hampir saja Nindy terlonjak ketika suara itu muncul secara tiba-tiba.
Dia mengangguk, mengikuti ke mana asisten Lie Am pergi. Hingga lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Nindy.
Gadis itu menunduk sopan, merasa tidak enak karena jabatan dia dan asisten Lie sama sekali tidak ada apa-apanya, tetapi lelaki itu memperlakukannya dengan sangat baik. Kendati dia hanya seorang pelayan, mengerjakan tugas rumah tangga, tetapi sikap asisten Lie Am begitu sopan kepadanya.
"Asisten Lie, apakah saya boleh naik bus karyawan?" tanya Nindy kemudian, ketika mobil sudah dalam kondisi melaju dengan asisten Lie yang mengendarainya.
"Tuan Yang memerintahkan agar Nona naik mobil saja."
Terdengar desahan lesu dari bibir gadis itu. "Yeah, dia tidak mungkin mau repot-repot menjemputku di tempat tinggalku yang lama."
Dari rear-vision mirror, Asiten Lie Am memperhatikan wajah lesu Nindy. Kemudian sedikit mengulas senyum. "Nona bisa memintanya kepada tuan Yang. Mungkin akan dikabulkan."
"Menurutmu begitu? Ah, sepertinya dia tidak mungkin mengabulkannya. Kau tahu, dia tipe orang yang suka memperumit masalah orang lain, suka seenaknya senidiri dan penindas manusia yang sudah lemah. Ooops, maaf. Dia majikanmu, 'kan? Jangan beri tahu dia, ya!" Nindy meringis ketika menyadari ucapannya. Bagiaman dia begitu ceroboh memaki Yang di depan asisten setianya.
"Tidak, Nona. Saya tidak akan mengatakan apa pun kepada tuan Yang, karena tuan Yang sudah tahu dengan sendirinya."
"Apa? Apa dia sakti?" Nindy tampak berpikir, apakah Yang Pou Han memiliki kesaktian atau semacam cermin ajaib yang bisa menampilkan keberadaan seseorang di mana pun mereka berada.
Jika memang begitu, dia harus siap siaga. Bagaimana jika Yang Pou Han melihatnya ketika dia mandi atau berganti pakaian? Ah, wajah Nindy tiba-tiba memerah ketika membayangkannya.
"Mobil ini dilengkapi CCTV yang langsung terhubung dengan komputer juga ponsel tuan Yang."
Perkataan asisten Lie Am sukses membuat Nindy membulatkan mata.
Apa CCTV? Apakah ketika dia mengupil tadi, Yang Pou Han juga melihatnya?
Ish, mengapa baru mengatakan sekarang. Asisten dan majikan sama-sama membuat kesal.
Nindy diam. Jika dia terus berbicara, maka akan berbahaya. Unek-uneknya dengan lelaki pemarah itu akan keluar semua, dan pasti Yang Pou Han akan bertambah menyiksanya.
Sampailah ketika mobil itu sudah berada di depan pelataran rumah Yang Pou Han. Rumah yang terlalu besar jika hanya dihuni oleh seorang saja.
Nindy masuk dengan langkah lesu. Banyak pekerjaan yang menunggu untuk segera dituntaskan. Rasa lelah yang sudah bergelayut di tubuhnya membuat ia enggan untuk mengerjakannya.
"Tuan Yang malam ini pulang terlambat. Mungkin Nona tidak perlu masak untuk Tuan. Saya permisi." Tanpa menunggu jawaban dari Nindy, asisten Lie Am undur diri meninggalkan gadis itu seorang diri di rumah besar itu.
"Ah, syukurlah jika si pemarah itu pulang terlambat. Aku bisa bersantai sejenak." Nindy segera masuk ke kamar mandi, membersihkan diri karena tubuhnya sudah lengket dan perpeluh.
Entahlah, malam ini rasanya tubuhnya tidak seperti biasa. Nindy sudah terbiasa hidup susah, tetapi dia jarang sekali sakit. Namun, selepas mandi tubuhnya menggigil kedinginan.
Dengan cepat, dia merangkak menaiki ranjang tidurnya yang empuk. Setidaknya di kamar ini dia merasakan tidur di tempat yang nyaman. Sangat jauh berbeda dengan tempat tidur dia yang dulu.
Nindy membalut tubuhnya dengan selimut tebal, tidur meringkuk seraya memeluk tubuhnya sendiri.
Dingin
Rasanya begitu menyiksa, hingga perutnya yang belum terisi ikut merasakan perih dan sesak.
Nindy memejamkan mata, mencoba mengistirahatkan tubuh yang sepertinya terlalu banyak diforsir tenaganya belakangan ini.
Hingga alam bawah sadar sudah merasuki jiwanya, membelai hangat dan memeluk tubuh kedinginan itu.
*******
"Tuan Yang, saya antar naik ke kamar." Asisten Lie berusaha memapah Yang Pou Han. Lelaki itu terlalu banyak minum hingga tubuhnya sempoyongan.
Dia menghadiri acara makan malam kolega bisnisnya, tetapi berakhir dengan minum-minuman keras.
"Sudahlah, aku bisa sendiri. Panggilkan Nindy. Suruh dia membuatkan minuman hangat untukku."
Lelaki itu duduk di atas sofa panjang, memanjangkan kakinya hingga menyentuh batas ujung sofa. Sementara asisten Lie Am pergi memanggil Nindy.
Diketuknya pintu kamar Nindy, tetapi tak ada jawaban sama sekali dari dalam. Sekali lagi dia mencoba dan hasilnya masih sama.
Asisten Lie berinsisiatif membuatkan Yang minuman hangat sendiri. Namun, begitu dia akan masuk ke dapur Yang Pou Han memanggilnya.
Bergegas langkahnya menuju ruang tamu, menemui sang majikan yang nampak letih itu.
"Lama sekali. Di mana Nindy?" gerutunya dengan mengurut kening yang terasa pusing.
"Nona Nindy sepertinya sedang tertidur. Biar saya yang membuatkan Anda minum."
"Apa, tidur?" Yang nampak berdecak, lalu kemudian berkata, "Kau pulang saja, biar aku yang membangunkan gadis itu!"
Dengan tertatih, Yang Pou Han berjalan dan mengabaikan asisten Lie Am yang mencemaskan keadaannya. Dia menoleh dan menatap kesal ke arah asisten Lie. "Sudah kubilang pulang, ya pulang! Apa aku perlu memeriksakan telingamu ke dokter, hah!" bentaknya dengan kasar.
Asisten Lie mengangguk patuh. Dia segera pergi meninggalkan Yang Pou Han untuk pulang kembali ke rumahnya.
next...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Umaila
kayak nya bakal terjadi sesuatu
2022-10-27
1
Sunarty Narty
aduh apa ada insiden nanti
2022-10-24
0
Calon Mayat
aku suka...dpt rekom dr fb..makasih
2022-04-30
0