"Di mana dokumenmu? Bawa sini!" Yang Pou Han duduk dengan memasukkan persyaratan dokumen-dokumen penting untuk persiapan menikah.
Nindy mengangguk, seraya berkata, "Tunggu sebentar. Akan kuambil."
Dia segera pergi ke kamarnya. Mengambil sebuah map yang berisi dokumen berharga miliknya. Tanpa memilih dan memilah lagi, Nindy membawa semuanya untuk diberikan kepada Yang Pou Han.
Lelaki itu menerimanya, lalu membolak-balik dokumen yang dibutuhkan untuk dikumpulkan menjadi satu.
"Ini ijazahmu?" Netra sipit Yang Pou Han menatap foto yang tersemat di atas lembaran ijazah itu. Dia terkekeh kemudian. "Ternyata kau sudah jelek dari dulu."
Dengan kesal Nindy merampas ijazah miliknya dari tangan Yang Pou Han. Mulutnya mengerucut, mendengar sebutan jelek yang selalu ditujukan kepadanya. "Siapa yang menyuruh menikah dengan wanita jelek. Kau 'makin hari semakin menyebalkan, ya," ucapnya seraya memasukkan ijazah itu ke dalam map yang disediakan Yang Pou Han.
"Karena aku sudah bosan melihat wanita cantik. Mungkin jika istriku jelek, aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya perawatannya."
Oh, watak pelitnya tidak berubah.
Nindy memutar bola mata, enggan menanggapi perkataan Yang Pou Han. Sesaat mereka hanya sibuk memilah apa saja yang dibutuhkan untuk keperluan pernikahan, tetapi pertanyaan Yang Pou Han selanjutnya membuat Nindy sedikit menahan malu.
"Apa ini? Kertas ujian matematika?" Yang mengambil lembaran hasil ujian matematika anak sekolah dasar dengan soal penjumlahan yang terselip di antara dokumen-dokumen Nindy. Seketika Nindy berangsur mengambilnya secara paksa dari tangan Yang Pou Han. "Jangan diapa-apakan! Itu barang berhargaku."
Dia memasukkan lembar jawaban ujian itu ke dalam map pribadinya. Menatap kesal ke arah Yang Pou Han.
"Barang berharga? Hei, itu hanya nilai ulangan sekolah dasar. Untuk apa masih disimpan? Dasar gadis aneh."
Dia menghembuskan napas kasar seraya merapikan dokumennya yang tercecer karena ulah Yang Pou Han. "Kau tidak mengerti apa-apa. Aku bilang berharga, ya berharga. Meskipun kujelaskan, kau tidak akan mengerti."
"Apa yang tidak aku mengerti? Coba katakan!" Yang mengangkat dagu, merasa kecerdasannya tertantang untuk memahami sesuatu.
Fyuuuh ....
Nindy menghela napas kemudian. "Sudahlah, aku malas menjelaskannya. Adanya kau nanti menertawakanku. Ini adalah rahasiaku, seharusnya kau tidak perlu tahu."
Perkataan Nindy berhasil menorehkan sedikit luka pada harga diri Yang Pou Han. Lelaki itu beranjak dari duduknya, melangkah ke arah Nindy. Dia berdiri tepat di sofa panjang yang Nindy duduki. Tubuhnya membungkuk kemudian, membuat Nindy seketika memundurkan tubuh hingga punggungnya terhentak ke sandaran sofa. Bukannya pergi, lelaki itu justru semakin mendekat dengan merendahkan tubuhnya menutupi tubuh Nindy yang menghimpit di ujung.
Nindy nampak menelan ludah, menyadari wajah lelaki itu begitu dekat dengannya. Hingga hembusan napas Yang Pou Han terasa panas menerpa wajahnya. "K-kau mau ... apa, Yang?"
Mata mereka bersirobok dengan jarak sedekat itu. Bola mata Nindy nampak bergerak ke kanan dan ke kiri gugup, tetapi lelaki itu tak peduli. Ada desiran asing tak kasat mata yang melingkupi di sudut hatinya. Hingga netra sipit milik Yang Pou Han mengalihkan perhatian ke arah hidung lalu bibir.
Bibir mungil itu nampak bergetar dengan sedikit basah di bagian bawah, karena Yang sempat melihat Nindy menggigitnya ketika gadis itu merasa tak nyaman.
Bibir berwarna pinkish itu terlihat menggoda seolah memanggil-manggil untuk meminta dikulum, digigit atau dilum*** habis-habisan olehnya. Yang menelan ludah kemudian. Hanya melihat bibir saja rasanya dia mulai gelisah.
Tahan, Yang. Ada harga diri yang dipertaruhkan di sini.
Dia tidak boleh merasa terganggu dengan kedekatan itu. Nindy bukanlah gadis yang menarik, dia sama sekali bukan seleranya. Harga diri bisa turun jika Yang Pou Han merasa tergoda dengan apa yang ada pada diri Nindy.
Hingga kesadaran Yang Pou Han berhasil tertarik ke permukaan. Matanya mengerjab dua kali, lalu menghembuskan napas sekali yang terasa hangat di permukaan wajah Nindy. "Katakan rahasia apa itu?"
Kendati jawaban Nindy sudah tidak penting lagi, karena otaknya memikirkan hal lain dan sudah tidak peduli dengan alasan Nindy, tetapi dia harus menanyainya sebagai alasan tujuan utamanya menggertak Nindy.
"A-Aku ...."
Ketika bibir Nindy terbuka mencoba menjawab pertanyaan Yang Pou Han, pandangan lelaki itu berubah berkabut. Perhatiannya kembali terfokus ke arah bibir mungil yang terbuka itu.
Pikiran liarnya kembali bekerja, membayangkan lidahnya menelusup di sela-sela bibir yang terbuka itu. Mencecapnya dan membuat gerakan menggoda di dalamnya dengan suara lenguhan yang pasti akan keluar bersamaan dengan sedikit desahan nikmat yang berbaur dengan sepercik hasrat yang mulai berkobar.
Yang menelan ludah sekali lagi, mengerjabkan matanya kemudian. Berharap jiwanya tetap sadar akan posisinya membuat lelaki itu segera bangkit, menegakkan badan sebelum semuanya terlambat. Dia menggelengkan kepala kemudian, mengusir pikiran kotor yang mulai merambat merasuk ke dalam jiwa.
Sudah lama sekali dia tidak berhubungan dengan wanita setelah perceraiannya dengan Emelie. Bahkan lelaki itu nampak tak berselera melihat wanita. Rasa sakit hati dikhianati oleh wanita yang ia cintai membuatnya tak sanggup untuk berdekatan dengan wanita lain. Hingga ia berakhir di sini. Terjebak dalam permainannya sendiri bersama Nindy. Gadis aneh yang sama sekali jauh dari selera Yang Pou Han.
Lelaki itu duduk di sofa yang berbeda sembari bersedekap dada. Menyamarkan detak jantungnya yang bekerja terlalu keras untuk menahan gejolak yang telah lama terkubur.
Wajah Nindy nampak memerah, dia menundukkan pandangannya kemudian. Syok dengan apa yang baru saja dilakukan Yang Pou Han kepadanya.
Hingga semuanya telah aman terkendali, gadis itu membuka suara.
"Itu adalah nilai matematikaku yang terbaik selama menjadi siswa. Dan itu nilai terbaik yang sempat dipuji oleh ibuku."
Nampak lelaki itu terkekeh, hanya soal mudah Nindy hanya bisa meraih nilai delapan puluh lima? Lalu bagaimana dengan nilai yang lain, pasti sangat buruk dan tidak pantas untuk dilihat.
"Jadi, kau tidak pernah mendapatkan nilai di atas itu setelahnya?" tanya Yang Pou Han kemudian.
"Heeemm, nilaiku selalu di bawah tujuh puluh. Kau pasti mengira aku bodoh, 'kan? Padahal sebenarnya aku cerdas, hanya saja aku tidak menyukai perhitungan. Menurutku, dengan belajar matematika membuatku menjadi orang yang pelit. Seperti ... engkau." Sedikit terkekeh Nindy setelah mengatakannya.
Bukannya marah, lelaki itu ikut tertawa. Dia sudah mulai terbiasa mendengar Nindy menyebutnya pelit dan itu sama sekali tidak mengganggunya.
"Dasar bodoh!" ucap Yang Pou Han kemudian.
********
Yang Pou Han baru saja keluar dari kamarnya. Lelaki itu berniat membuat susu hangat untuk dirinya karena di luar udara terasa sangat dingin.
Dia berjalan memasuki area dapur. Membuka lemari es, Yang mengambil botol bening yang berisi susu sapi murni. Dia tuangkan susu mentah itu ke dalam panci susu untuk dipanaskan dengan temperatur tertentu.
Lelaki itu nampak memindahkan cairan putih itu ke dalam cangkir keramik berwarna senada. Berniat membawa ke kamar, matanya justru teralihkan ketika melewati kamar Nindy.
Apakah gadis itu sudah tertidur? Dia menggeleng perlahan. Mengapa harus memikirkan gadis aneh itu? Namun, hatinya penasaran dengan pertanyaan itu. Hingga tanpa Yang Pou Han sadari, tangannya sudah memutar kenop pintu kamar Nindy, dan ... terbuka.
Dia meneguk ludah. Jika gadis itu menangkap basah Yang Pou Han memasuki kamarnya, pasti suara berisiknya itu akan terdengar memusingkan kepala. Sebutan pria mesum, cabul, tidak tahu malu yang biasa Nindy sematkan untuknya membuat Yang Pou Han kesal. Dia bukan lelaki seperti itu, emmm ... setidaknya dia sudah berubah. Bukan lelaki hidung belang seperti dulu lagi. Sehingga sebutan yang kerap kali Nindy ucapkan untuknya mengganggu harga diri Yang.
Akan tetapi, untuk saat ini, jiwa ingin tahunya terasa menggelitik. Apakah Nindy benar-benar sudah tertidur?
Hingga langkahnya tanpa terasa sudah memasuki kamar yang tidak terlalu luas itu. Dia menyapukan pandangan di semua sudut kamar Nindy, tetapi dia tak menemukan sosok wanita itu. Bahkan Yang sempat memeriksa kamar mandi dan Nindy tidak juga ditemukan. Sungguh jiwa penasarannya semakin meronta.
Dan sampailah ketika pikirannya menangkap sebuah praduga, lelaki itu tersenyum. Tidak salah lagi, Nindy berada di sana.
Langkahnya ringan ketika kaki jenjang Yang Pou Han menapak anak tangga, melangkah satu per satu dengan perlahan hingga berada di bibir pintu yang terbuka.
Senyum simpul seketika muncul di bibirnya. Sesuai dugaan, gadis itu sedang menyendiri di atas rooftop rumah. Dia mengenakan Sweater rajut tebal ala Korea dengan jilbab berwarna peach yang senada dengan warna Sweater yang ia kenakan.
Yang Pou Han melangkah mendekat, dengan langkah ringan dan senyap. Tangannya masih memegang secangkir susu panas yang baru saja ia buat. Hingga posisinya sudah sejajar dengan Nindy, lelaki itu menyapa. "Belum tidur?"
Dia menoleh, lalu menggeser duduknya. "Belum. Kau juga?"
Dia tak menjawab, memilih duduk beriringan dengan Nindy dan meletakkan secangkir susu panas itu di antara mereka. "Apalah kau sedang memikirkan sesuatu?"
Nampaklah gadis itu meniup sesuatu yang ada dalam genggaman tangannya. Sepertinya Nindy juga sedang menikmati susu hangat sembari melihat langit malam.
Disesapnya cairan putih itu sedikit, hingga membuat bercak putih di ujung bibir atasnya. Dia meletakkan kembali cangkir susu itu tepat di sebelah kanan cangkir milik Yang Pou Han.
"Yang, apakah kau yakin dengan pernikahan ini. Kau belum mengenalku. Kau juga tidak tahu siapa aku. Asal-usulku. Apakah kau tidak takut jika aku menipumu?" tanya Nindy kemudian dengan serentetan pertanyaan kepada Yang Pou Han.
"Untuk apa aku harus tahu semua itu? Kau juga tidak tahu aku siapa, 'kan?" Alih-alih menjawab, Yang justru memberinya pertanyaan.
Nindy terlihat menghela napas berat. Pandangannya menerawang ke atas. "Kau adalah pengusaha kaya yang pernah mengalami perceraian dua tahun yang lalu. Sama sekali tidak ada yang buruk akan hal itu. Sementara aku .... Bukankah perbedaan kita terlalu senjang jika memutuskan untuk bersama? Apalagi kau dan aku sama sekali tidak saling mencintai. Bukankah setiap orang ingin menikah dengan orang yang mereka cintai? Lalu kenapa kau mau menikah denganku sementara kau sangat membenciku? Bahkan kau mengatakan tidak ada yang menarik dalam diriku?"
Lelaki itu menampilkan senyum tipis di bibirnya. "Karena aku ingin melakukannya. Tidak perlu mencari banyak alasan untuk menikahi seseorang. Jika aku ingin, maka akan aku lakukan." Jawaban yang terdengar aneh di telinga Nindy.
"Tapi pernikahan tetaplah pernikahan, Yang. Aku tidak ingin ada perselingkuhan di dalam pernikahan kita. Apakah kau sanggup melakukan itu?"
Yang Pou Han menoleh seketika, menatap Nindy yang juga sedang menatapnya. Dia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Nindy, membuat gadis itu muemundurkan kepala menjauh. "Aku tidak akan berselingkuh. Karena aku membenci perselingkuhan. Kau bisa memegang perkataanku."
"Heeemm, aku akan mempercayaimu."
Dia menegakkan kembali tubuhnya, menatap ke depan. Menikmati secangkir susu yang sudah mulai menghangat itu sembari memandang hamparan bintang-bintang di angkasa.
Keduanya larut dengan perasaan masing-masing. Perasaan yang entah apa itu. Begitu sulit diartikan dan didefinisikan. Karena keduanya tidak menyadari jika cinta sudah mulai tumbuh setitik di sudut hati yang terdalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
siti zulifat
suka alur ceritanya.... cukup untuk orang dewasa... tidak terlalu menunjukkan ke vulgar an.... berbeda dg cerita lain ny... keren
2023-07-08
1
Sunarty Narty
y Allah mudah mudahan lancar
2022-10-24
0
Lek Ita
besok aku promoin thor
2022-02-13
1