Mereka pun terdiam beberapa saat. Hingga keheningan tercipta di antara mereka.
Nindy menengadah, mengedarkan pandangannya ke atas langit yang nampak memesona dengan kilauan bintang yang bertabur menghiasi. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman tulus yang kemudian menular kepada lelaki di sampingnya.
Cukup lama keheningan itu terjadi. Hingga pada akhirnya suara Nindy terdengar, memecah kesunyian. "Lihatlah bintang itu!"
Lelaki itu ikut menengadah, mencari bintang yang dimaksudkan Nindy.
"Bintang yang menyala paling terang. Kau melihatnya?" imbuhnya kemudian.
"Tidak ada yang spesial. Semua bintang sama saja."
Nindy melirik sekilas ke arah Yang Pou Han, lalu mengukir senyum di sana. "Iya, semua nampak sama. Namun, ada kalanya orang hanya melihat sesuatu yang paling mencolok di antara yang lainnya. Seperti bintang itu."
Dia mengikuti ke mana jari telunjuk Nindy mengarah. "Dia paling besar, dan cahayanya paling terang. Berdiri sendiri, tetapi hampir menyita perhatian semua orang." Gadis itu melanjutkan.
Yang mengalihkan perhatiannya ke arah Nindy. Gadis itu nampak masih memertahankan senyum di bibirnya.
"Kau seperti bintang itu, Yang. Di mana pun kau berpijak, semua orang pasti mengarahkan perhatiannya kepadamu. Di antara banyak orang yang berkerumun, mereka justru memusatkan perhatiannya kepadamu. Kendati kau sendiri pun, tak luput dari perhatian banyak orang. Kau sangat beruntung."
Dia menoleh, bersitatap dengan netra sipit lelaki itu.
"Menjadi pusat perhatian bukanlah sebuah keberuntungan. Itu semua ada kerja keras yang harus dilakukan."
"Yeah, aku tahu. Pasti sebelumnya kau bekerja sangat keras hingga berada di titik ini. Namun, terkadang kerja keras juga membutuhkan sebuah keberuntungan. Aku yakin, semua keberhasilan dan keberuntungan yang kau dapat tak luput dari doa orang tuamu."
Wajah Nindy nampak sayu, dia menunduk. "Kau sangat beruntung, 'kan?"
Lelaki itu mengangguk kemudian, dia bahkan tak memikirkan hal itu sebelumnya. Dia merasa semua yang ia dapat memang hanya karena hasil jerih payahnya sendiri.
"Menurutmu begitu?"
Dia tersenyum lagi, dan kini sedikit melebar. "Apakah kau melihat bintang yang di sana?"
Telunjuknya mengarah ke tempat yang berbeda, di mana ada bintang yang sinarnya paling kecil di antara yang lain. Bintang itu menyendiri, hanya sebuah dengan mengerlip redup.
"Dia sinarnya paling redup. Dia jauh dari yang lain, bahkan keberadaannya mungkin tak diperhitungkan. Mungkin juga dilupakan atau dianggap tidak ada. Dia muncul atau tidak, sama sekali tidak ada yang peduli. Dan bintang itu ... sama sepertiku."
Dia menunduk setelah mengatakannya. Tatapan Nindy nampak kosong dengan sesuatu yang tak kasat mata melingkupi pikirannya. Yang Pou Han bisa melihat itu semua.
"Kau dan aku memiliki banyak perbedaan. Anehnya kita malah bisa duduk bersama di sini. Apakah itu bisa dikatakan sebagai keberuntunganku?" imbunya kemudian.
Sempat terbesit rasa kasihan di benak Yang Pou Han terhadap Nindy. Namun, pikirannya yang cerdas menunjukkan kemungkinan yang akan terjadi lantaran perkataan Nindy. Hingga ketika pikirannya memberikan sinyal perkiraan maksud Nindy, dia tersenyum miring.
"Jangan berharap dengan memujiku hukumanmu akan berkurang, ya?"
Nindy seketika menoleh ke arah Yang Pou Han, menunjukkan deretan gigi putihnya. "Tidak mempan, ya?"
"Usaha yang bagus," ucap Yang kemudian.
Dia terkekeh, menatap ke langit di mana hamparan bintang itu berada. Tangannya mengusap lengan kanan dan kiri yang berbalut pakaian panjang dengan posisi menyilang secara bersamaan.
"Sudah malam. Masuklah! Di luar sangat dingin," ucap Yang Pou Han setelah memperhatikan gadis di sampingnya yang nampak kedinginan.
"Heeem, masuklah dulu. Aku masih ingin di sini."
Lelaki itu beranjak dari duduknya, menatap Nindy sekilas yang masih setia menikmati langit malam. Bibirnya tertarik ke atas, lalu mengucapkan kalimat perpisahan. "Jangan terlalu lama. Aku tidak ingin kau sakit lagi."
Seketika gadis itu menoleh ke arahnya. "Kau mencemaskanku?"
"Mungkin atau lebih tepatnya, aku mencemaskan esok tidak bisa sarapan karena kau beralasan sedang sakit."
Nampak Nindy mendengkus seraya memutar bola matanya. "Yeah. Seharusnya aku tahu itu. Kau tidak mungkin sebaik itu mencemaskanku." Dia mengangguk kemudian, "Aku akan segera turun. Kau tidak perlu khawatir, Yang."
Lelaki itu mengangguk, lalu berbalik arah untuk turun dari atas rooftop. Namun, ketika dia hampir masuk ke dalam pintu, dia menoleh sejenak ke arah Nindy. Bibirnya tersenyum sekilas lalu segera menuruni anak tangga untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Benar, aku adalah bintang yang redup itu, Yang. Bahkan keberadaanku di dunia ini tidak diperhitungkan sama sekali. Tiada yang menginginkan dan terlupakan. Selalu sendiri, tidak memiliki teman bahkan keluarga."
Nindy beranjak dari duduknya, bangkit berdiri. Menatap sejenak langit yang luas itu dengan tersenyum cerah.
"Kau juga sendiri, 'kan? Dan kau baik-baik saja. Tidak ada salahnya dengan kesendirian. Buktinya kita masih tetap ada di dunia ini," ucap Nindy dengan melihat bintang yang redup itu.
Dia berbalik, bergegas masuk ke rumah lalu menutup pintu rooftop itu dari dalam.
***********
"Kau tidak bisa masak yang lain selain roti?" Yang Pou Han nampak kesal karena menunya tiap hari masih sama yaitu roti panggang bertabur selai di atasnya.
"Tapi ini selainya berbeda. Kemarin selai strawberi, lalu coklat dan selalu berganti setiap harinya sehingga kau tidak akan bosan. Bukankah aku sangat cerdas?" Dengan tidak tahu malu Nindy menyebut semua yang dilakukannya adalah cerdas.
Dia menggelengkan kepala, "Aku tidak mau tahu. Aku ingin makan yang lain. Cepat, masakkan aku yang lain!"
Nindy menghela napas berat. Tak ayal diambilnya juga roti panggang itu dari meja Yang Pou Han. Kembali ke dapur untuk membuatkan menu yang lain.
"Okey, telur. Mungkin aku bisa membuat soft omelette."
Gadis itu nampak sibuk membuat omelette yang sempurna. Hampir sekilo telur ia habiskan, tetapi semuanya tidak berhasil dengan baik. Dia memang payah dalam hal memasak. Beruntung persediaan telur terakhir berhasil dimasak dengan sempurna.
Tekstur yang lembut, dengan warna kuning cerah. Nindy menaburkan oregano di atasnya.
"Sempurna," ucapnya memuji hasil karya sendiri.
Dengan percaya diri ia menyajikan soft omelette itu di depan meja Yang Pou Han. Dan lelaki itu nampak mengernyitkan dahi. "Kau butuh waktu setengah jam hanya untuk memasak satu buah telur?"
Nindy hanya meringis, tanpa ingin berdebat dengan Yang Pou Han. Lelaki itu tidak perlu tahu jika Nindy menghabiskan persediaan telur di dapur.
"Kerjamu benar-benar lelet, seperti siput."
Oh, kemarin kura-kura. Sekarang siput. Besok apa lagi?
Nindy hanya bisa tersenyum sambil mengatai Yang dalam hati.
Sabar Nindy, sabar.
Sembari menunggu Yang Pou Han makan, gadis itu menanyakan sesuatu. "Tuan, apakah saya bisa berangkat naik bus karyawan saja. Tuan bisa menurunkan saya di halte."
Lelaki itu menatap sekilas ke arah Nindy, lalu melanjutkan makannya. "Tidak boleh."
Bibirnya mengerucut, "Bukankah Tuan tidak setiap hari datang ke tempat kerja saya? Tuan akan kerepotan jika harus mengantar saya terlebih dulu."
Lelaki itu nampak berpikir. Benar juga, karena Yang Pou Han tidak mungkin setiap hari datang ke tempat wisata karena kantor pusatnya berbeda arah dengan "The Miracle Ocean Garden."
"Baiklah, mulai besok kau boleh naik bus karyawan." Akhirnya diputuskan seperti itu.
Nindy tersenyum kemudian. "Terima kasih, Yang. Ooops, maksudku Tuan."
**********
Di tengah atraksi mamalia laut dengan banyaknya pasang mata yang menonton, Nindy begitu sibuk membantu melayani pengunjung yang ingin memberi makan anjing laut dari dekat.
Ya, ada fasilitas seperti itu, jika pengunjung mau membayar lebih. Nindy dan beberapa rekannya yang lain memberi arahan kepada pengunjung yang kebanyakan anak-anak agar melakukan kegiatan itu secara aman.
"Nindy!" suara seseorang memanggil membuat Nindy segera menoleh ke arahnya.
Tampaklah Salwa beserta Sean dan juga putranya yang tampan sedang berada di area belakang tempat pertunjukan. Nindy melepas sarung tangan karetnya, lalu meminta izin kepada temannya untuk menghampiri ketiga orang tersebut.
"Hai!" sapanya ramah dan dibalas senyuman oleh Salwa.
Wanita berhijab itu meletakkan kedua tangannya di atas bahu Kinan, sang buah hati. "Maaf merepotkanmu. Kinan ingin ikut memberi makan anjing laut. Apakah kau bisa membantunya?"
"Tentu saja. Aku akan sangat senang melakukannya."
Salwa tersenyum kemudian, menyerahkan Kinan kepada Nindy. Dan tepat ketika Nindy ingin menggandeng tangan Kinan, Sean segera menahannya. "Jaga dia baik-baik. Kau mengerti!" ucap Sean dengan peduh penekanan.
"Ba-ik, Tuan." Sampai saat ini, Nindy selalu takut jika berhadapan langsung dengan Sean Paderson. Dia masih penasaran, bagaimana seorang wanita yang baik dan begitu lembut seperti Salwa bisa berakhir menikah dengan lelaki menyeramkan seperti Sean Paderson.
Nindy yakin, Salwa pasti banyak mengalami tekanan batin dalam rumah tangganya. Buru-buru Nindy menggelengkan kepalanya. Tidak baik rasanya jika dia membayangkan perihal rumah tangga orang lain.
Bergegas ia mengajak Kinan menuju tempat di mana bocah tampan itu bisa leluasa memberi makan si mamalia laut.
Hampir dua puluh menit Kinan dan Nindy bersama. Tampaknya keduanya bisa cepat akrab dilihat dari interaksi mereka. Hingga acara usai, Nindy mengantar Kinan untuk kembali kepada kedua orang tuanya.
"Bagaimana, Sayang. Sudah puas mainnya?" tanya Salwa dengan membungkuk, menyejajarkan tinggi badannya dengan tinggi badan Kinan.
Nampak anggukan dari anak itu seraya tersenyum senang. "Selu, Buna!"
Salwa mencium pipi gembul Kinan, lalu mengusap kepala anak sulungnya itu. Dia beralih menatap Nindy. "Terima kasih, Nindy. Maaf sudah merepotkanmu."
"Tidak, ini sudah menjadi tugasku. Kalau begitu saya permisi," ucap Nindy berpamitan dengan ketiga orang itu.
"Thank you, Aunty!" teriak Kinan dengan lantang sembari melambai-lambaikan tangan kanannya.
Nindy menoleh dan mengangguk, kemudian berlalu menghilang dari kerumunan.
*********
"Nindy, bisakah kau mengantarkan anak ini ke ruang pengaduan? Dia kehilangan orang tuanya."
Nindy menatap seorang anak perempuan menangis tengah dibujuk oleh teman setimnnya. Mereka nampak kesulitan menenangkan bocah kecil itu.
"Baiklah, aku akan mengantarnya."
Nindy membungkuk, mengelus pipi gadis kecil itu. "Namamu siapa?"
Tiada jawaban, gadis kecil itu justru bertambah menangis. Nindy akhirnya mengajak gadis itu untuk menuju ke ruang pengaduan dalam kondisi menangis.
"Tenanglah, Aunty akan menemukan orang tuamu," ucap Nindy berusaha menenangkan.
Dengan penuh kesabaran, akhirnya Nindy berhasil membawa gadis kecil itu memasuki ruang pengaduan. Namun, sayang tidak ada petugasnya di sana.
Nindy nampak berdecak, tangis gadis itu makin nyaring membuat suara bising yang memekakkan telinga.
"Sabar ya, Aunty akan memanggilkan orang tuamu," bujuk Nindy kepada gadis itu.
Nindy berusaha mencari-cari tombol on pada benda di depannya itu. Sebuah microphone sudah berada di depannya, tetapi ia kesulitan mencari tombol yang dimaksudkan. Banyak sekali tombol di sana, dan Nindy tidak tahu cara mengoperasikannya.
Hingga sebuah suara derap sepatu terdengar mendekat ke arahnya. Nindy menoleh, dan terlihat Yang Pou Han datang kepadanya.
Lelaki itu nampak kesal dengan berjalan mendekat ke arah Nindy.
"Aku sudah menghubungi beberapa kali, tetapi kau tidak mengangkatnya. Kau sudah mulai berani, ya?" Suara Yang Pou Han terdengar membentak dan hal itu membuat si gadis kecil semakin ketakutan.
Merasa lelaki itu berbahaya untuk si bibi yang baik hati, gadis itu dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Yang Pou Han dari belakang, hingga lelaki itu tersungkur ke depan dan tertimpa tubuh Nindy.
Tepat di saat yang bersamaan Nindy menahan tangannya di atas meja, tanpa diduga justru menggeser tombol yang sedari tadi dicarinya hingga microphone itu dalam posisi "on".
Yang Pou Han terkejut mendapat dorongan dari arah belakang, menahan tubuhnya yang roboh menggunakan kedua telapak tangannya. Namun, telapak tangan itu tidak mendarat di tempat yang pas melainkan tepat di atas area pribadi tubuh Nindy. Seketika gadis itu membulatkan mata, marah.
"Dasar mesum, cabul, tidak tahu malu". Nindy berteriak dengan mendorong tubuh Yang Pou Han lalu memukuli lelaki itu.
"Aku tidak sengaja. Lagi pula itu sama sekali tidak ada rasanya. Kau tidak perlu berlebihan," kilah lelaki itu tidak mau kalah.
"Apa kau bilang?" Nindy mendelik seketika.
"Tubuhmu terlalu kurus, tidak berisi. Kau sama sekali tidak menarik di mataku."
Nindy ternganga. Dia mendaratkan pukulan kembali di tubuh Yang Pou Han. "Dasar mesum, tidak tahu malu. Atau jangan-jangan kau diam-diam menyelinap tidur satu ranjang denganku sudah meraba-raba tubuhku!" teriaknya dengan tetap memukuli lelaki itu menggunakan tangannya.
"Apa? Kalian pernah tidur seranjang?" Suara Sean yang tiba-tiba terdengar mengalihkan perhatian keduanya.
Bukan hanya Sean yang datang, melainkan banyak orang yang menyaksikan pertengkaran keduanya. Bahkan para pengunjung ikut melihat dan mendengar perselisihan antara Nindy dan Yang Pou Han.
Suara mereka terdengar dengan jelas oleh seluruh pengunjung "The Miracle Ocean Garden". Dan siapa sangka pertengkaran itu justru membawa Nindy dan Yang Pou Han berada dalam masalah besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sunarty Narty
😂😂😂😂😂😂😂😂
2022-10-24
1
Qiza Khumaeroh
nah loh Yang,, eemmm kira2 kisahy salwa dn sean ada nggak ya thoorrr
2022-04-20
0
Charlie Saree
🤣🤣🤣🤣
2022-04-16
0