Dia nampak menahan tawa ketika melihat tubuh Nindy sudah bersembunyi di dalam selimut tebal. Kakinya melangkah ringan, menapaki karpet bulu itu yang terasa lembut mengenai telapak kakinya yang telanjang.
Ternyata menikah dengan gadis aneh itu tidak terlalu membosankan. Dia seperti memiliki mainan baru di rumahnya. Sikap Nindy yang selalu memberontak, tak mau mengalah dan sedikit pemalu membuat lelaki itu ingin selalu menggodanya.
Dan lihatlah sekarang! Nindy lebih mirip seekor kepompong raksasa daripada seorang pengantin.
Yang Pou Han menipiskan bibir, menahan senyum yang akan bertengger di bibirnya. Kakinya sudah menaiki ranjang yang sama, berselonjor dengan tubuh menghadap miring ke arah Nindy. Tangan kanannya menopang kepala dengan posisi menekuk.
"Hai, jangan pikir karena hari ini kau seorang pengantin, kau bisa menguasai selimutku sendiri, ya?"
Yang ingin menarik selimut itu dari tubuh Nindy, tetapi gadis itu manahannya. Membiarkan tubuhnya dibelit oleh selimut tebal itu. Kendati rasa panas juga kegerahan terasa menyiksa, Nindy tak mau melepas selimut itu.
"Ini selimutku, ayo berikan!" Dengan tidak tahu malu Yang Pou Han meminta selimutnya kembali. Hingga tubuh Nindy sedikit berguling, membuat selimut itu terlepas dari tubuhnya.
Dia memekik, hampir saja handuk yang ia kenakan terlepas. Tangannya segera menyilang ke depan, menghalau pandangan nakal lelaki di depannya itu dari tubuhnya yang hanya berbalut handuk. Matanya menatap kesal bercampur geram.
Alih-alih membalas tatapan Nindy, lelaki itu justru memindai sosok tubuh di sampingnya.
Nindy memang kurus, tetapi dia cukup berisi di bagian-bagian tertentu. Sampai ketika pandangan Yang Pou Han mengarah ke bagian tengah di mana ujung handuk itu terselip, dengan jelas belahan dada itu membentuk dan nampak menggoda.
Dia mematri setiap inchi tubuh yang berbalut handuk itu. Dari atas kepala hingga sampai mata kaki. Dia sama sekali tak menduga jika gadis itu memiliki bentuk tubuh yang indah. Terlalu sering mengenakan pakaian panjang dan kedodoran berhasil menyembunyikan keindahan tubuh yang sesungguhnya dari pandangan lelaki lain.
Hingga ketika Nindy ingin segera bangkit untuk mengambil pakaian, lelaki itu menahannya. Tak mengizinkan Nindy untuk menjauh darinya.
Dia memosisikan dirinya di atas, sedikit mengimpit tubuh kurus itu, menindihnya hingga tertahan di bawahnya. Hingga dia terkunci dengan kedua lutut Yang Pou Han berada di antara kakinya yang terbuka.
Gadis itu nampak membulatkan mata, terkesiap dengan apa yang dilakukan Yang Pou Han kepadanya.
"Mau ke mana?" bisiknya parau di telinga Nindy. Menahan hidungnya di ceruk leher gadis itu, menciptakan rasa geli dan gelenyar aneh yang merambat ke seluruh tubuh.
Hingga ketika bibir itu melakukan kecupan-kecupan kecil di leher, tubuhnya menegang.
"Kau ... mau apa, Yang?"
Dia tak menyahut, lebih memilih membuat gigitan-gigitan kecil di bahu dan leher Nindy. Aroma alami gadis itu terasa menyenangkan di indra penciumannya, hingga dia tak menyadari bahwa terlalu lama kepalanya di posisi itu.
"Yang!" Nindy tampak mendesah, ketika lelaki itu tak menghentikan pergerakan bibirnya di leher. Entah bagaimana rupa leher gadis itu nantinya, seolah Yang Pou Han tidak peduli dengan bekas yang sudah ia ciptakan. Telinganya nampak memerah, pun merambat hingga ke wajah, membiaskan warna merona di permukaannya. Antara malu, geli bercampur nikmat. Mungkin seperti itulah yang Nindy rasakan saat ini.
"Apa ... yang kau lakukan, Yang?"
Pertanyaan Nindy berhasil menyadarkan lelaki itu. Dia menghentikan kegiatannya, menghadiahi kecupan hangat di leher gadis itu. "Tentu saja menidurimu."
Dia menundukkan wajah, menyatukan keningnya dengan kening Nindy, hingga hidung mereka saling bersentuhan. Embusan napas yang saling menerpa terasa hangat di wajah, memercikkan gairah yang seketika muncul di dalam jiwa. Sampai gadis itu merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
Dia semakin gelisah, takut dengan apa yang akan terjadi. Wajah lelaki itu sangat dekat dengannya, dia tak mampu untuk kabur atau melarikan diri. Tubuhnya sudah terkunci dan tak bisa berkutik lagi. Hingga satu pertanyaan yang dilontarkannya membuat Yang Pou Han sedikit berbelas kasihan. "Apakah ... akan sakit?"
Pandangan Yang seketika meredup. Ada sesuatu kelegaan ketika Nindy mengatakan hal itu. Dia tidak menyangka seumur hidupnya akhirnya bisa menemukan wanita yang belum pernah melakukan hubungan badan dengan lelaki lain. "Aku ... takut, Yang." Nindy melanjutkan perkataannya.
Senyuman itu muncul di bibir Yang Pou Han. Dia tidak menyangka gadis keras kepala seperti Nindy takut melakukan kegiatan seperti itu. "Kenapa kau takut. Tidak akan sakit. Mungkin kau akan ketagihan nantinya."
Wajah Nindy bertambah merona mendengar ucapan lelaki itu. Dentuman di dada terasa semakin kencang, hingga ia takut jika Yang Pou Han bisa mendengarnya dengan jarak sedekat itu. Tepat ketika tangan Yang mulai merangkak menyentuh pengait handuk Nindy yang berada di tengah, suara ponselnya berdering cukup nyaring.
Dia mendesah kasar. Siapa yang berani mengganggunya kali ini. Netranya menatap ponsel itu dengan geram. Baru saja ingin menjamah sang istri, tetapi ada gangguan teknis.
"Angkat saja dulu. Mungkin penting." Nindy memberi pengertian kepada suaminya itu. Ya, dia bisa mengulur waktu untuk mempersiapkan diri.
Tanpa berpindah dari tubuh Nindy, Yang menjulurkan tangannya, menggapai ponsel itu yang diletakkan di atas nakas. Dan matanya seketika membulat setelah melihat siapa yang telah meneleponnya.
"Nyonya Bay!"
Dia beralih menatap Nindy. Gadis itu berpura-pura tak melihatnya, meskipun Yang tahu jika Nindy tak melepas pengawasan darinya.
Dia menggeser icon hijau itu untuk menjawab telepon. Keningnya berkerut kemudian, mendengar apa yang sedang dibicarakan seseorang yang bernama Nyonya Bay itu. Kepalanya mengangguk mengerti, lalu sebuah jawaban yang ia berikan membuat Nindy seketika menoleh ke arahnya. "Aku akan ke sana." Dia mengakhiri panggilannya.
"Aku harus pergi. Apakah kau tidak apa kutinggal? Ada sesuatu yang penting yang harus kukerjakan."
Perkataan Yang bernada halus, tetapi entah mengapa terasa menusuk di hati Nindy. Namun, dia hanya bisa mengangguk kemudian tanpa bertanya akan ke mana lelaki itu akan pergi.
Dia mengambil selimut yang tergeletak di bawah kakinya, menutupkan selimut itu ke tubuh Nindy. "Pakailah pakaianku, gunakan mana saja yang kau mau. Besok aku akan menyuruh pelayan menyiapkan pakaianmu disini."
Dia menggenggam tangan Nindy ketika mengucapkannya, lalu menghadiahi kecupan hangat di kening gadis itu sebelum tangan itu akhirnya terlepas.
Seharusnya Nindy merasa senang, bukan? Tetapi ternyata tidak. Ada perasaan tak rela ketika tangannya terlepas dari genggaman tangan Yang Pou Han. Ada sesuatu yang terasa menusuk di sudut hatinya yang terdalam, perasaan yang terasa mengganggu ketenangannya. Hingga tanpa terasa air matanya menetes ketika punggung lelaki itu telah keluar dari kamarnya.
Mungkin Nindy merasa terluka karena dia ditinggalkan di saat malam pengantin mereka.
Ayolah, Nindy. Sadar. Kalian tidak saling mencintai.
Dia menghapus air mata itu, menghentikan buliran lain yang hampir keluar juga dari sudut matanya.
Dia membuka selimut itu seketika. Turun dari ranjangnya. Melangkah menuju lemari pakaian dan memilih pakaian yang bisa dikenakannya.
Untuk saat ini, mungkin sebaiknya dia tidur. Tak memikirkan hal lain, karena hari esok akan menanti dengan suasana baru dan lembaran baru.
*******
Malam itu terasa dingin, hingga semua orang lebih memilih berlindung di balik selimut. Meringkuk di dalamnya, berlindung dari hawa dingin yang terasa menusuk ke tulang.
Lelaki itu baru kembali dari rumah keluarga Bay. Rumah wanita tua yang sudah ia anggap sebagai neneknya sendiri. Dia adalah mantan nenek mertua Yang Pou Han. Dia hidup sendiri tanpa anak dan juga saudara. Mantan istri Yang Pou Han masih dirawat di rumah sakit jiwa, kendati sudah mulai membaik tetapi dokter mengharuskan pasien agar dirawat di sana. Tidak mungkin membiarkan nyonya Bay yang sudah tua merawat cucunya yang mengalami gangguan mental.
Wanita tua itu mengabari Yang Pou Han jika Emelie malam ini mencoba bunuh diri. Dan seketika itu pula Yang Pou Han dengan berat hati meninggalkan Nindy di malam pertama mereka. Ada rasa tidak rela ketika hasrat sudah menggebu, tidak tersalurkan karena masalah lain. Dia sudah lama berpuasa menyentuh wanita, dan malam ini ketika dia akan melakukannya, nyonya Bay justru mengganggunya dengan memberikan berita yang mengejutkan.
Emelie menyayat nadinya sendiri dan dilarikan ke rumah sakit. Hingga ketika lelaki itu sudah berada di rumah sakit tempat Nindy dirawat, dia menatap pedih kondisi mantan istrinya yang nampak kacau itu.
Emelie yang dulu selalu menomor satukam penampilan, sekarang terlihat menyedihkan. Rambut kusut dan acak-acakan, tubuh kurus tak terawat.
Melihat nyonya Bay yang menangis di samping tubuh cucunya, membuat hati Yang Pou Han terluka. Dia memang kecewa dengan Emelie, pengkhianatannya tidak dimaafkan, tetapi bagaimanapun wanita itu pernah lama singgah di hatinya. Kendati dia merasakan sakit hati yang teramat sangat, dia sudah menganggap keluarga Emelie sebagai keluarganya sendiri.
"Terima kasih sudah datang. Maaf mengganggumu malam-malam." Wanita tua itu berkata sembari mengusap bulir bening yang menetes di sudut matanya.
Dia mengangguk, menunjukkan senyum simpul di bibirnya. "Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja."
Lelaki itu meninggalkan nyonya Bay kemudian, beralih mencari dokter yang menangani Emelie. Menanyakan kronologi kejadian yang menimpa mantan istrinya itu.
Hampir tiga jam lamanya Yang Pou Han berada di rumah sakit, dan memutuskan kembali ke rumah setelah semuanya tenang dan aman terkendali.
Hingga ketika dia sudah memasuki kamar pengantin yang sempat ia tinggalkan, tampaklah Nindy sudah tertidur lelap dengan mengenakan kemeja miliknya.
Dia menghela napas kemudian. Seharusnya malam ini dia bisa menyalurkan hasrat yang sudah tak terbendung, yang selama ini sudah ditahannya. Namun, dia harus kecewa karena Nindy tak menunggu kedatangannya.
Dia tak menyalahkan gadis itu, karena dia yang meninggalkan Nindy di malam pertama mereka.
Yang Pou Han memilih melepas pakaiannya, menyisahkan celana panjang yang membalut kaki jenjangnya. Dia menaiki ranjang, memasukkan tubuhnya ke dalam selimut yang sama, memeluk tubuh gadis itu dari belakang, membenamkan wajahnya di antara rambut panjang istrinya.
"Selamat malam," bisiknya kemudian seraya menutup mata untuk bersiap masuk ke dalam buaian mimpi.
Tanpa lelaki itu sadari, Nindy tersenyum kemudian. Merasakan tangan kekar itu memeluk perutnya, lalu kembali memejamkan mata. "Selamat malam, Yang," gumam Nindy yang hanya terucap dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sunarty Narty
yah gagal deh,pagi2 bisa yang
2022-10-24
1
Qiza Khumaeroh
knp emili bsa gila
2022-04-21
0
Aqila N.L.
knpa nama nya harus Yang, jdi aku baca nya Sayang
2021-12-13
1