Dengan penuh drama dan bujuk rayu, akhirnya Nindy bisa ikut makan bersama dengan sepasang suami istri itu.
Mobil berhenti ketika memasuki area parkiran sebuah restoran mewah di area Queen’s Road Central, Hong Kong.
Sebuah rumah makan Perancis yang sudah mendapat predikat bintang tiga Michelin Star menjadi destinasi mereka. L’Atelier de Joël Robuchon, begitulah yang tertulis di lampu huruf yang menyala di area depan restoran.
Nindy membuka pintu mobil, dan segera disambut oleh petugas dengan membawa payung merah besar untuk melindungi tamu mereka dari derasnya hujan.
Pun dengan sepasang suami istri pemilik mobil itu. Mereka disambut dengan baik oleh karyawan restoran. Ketiganya berkumpul di depan lobby, sementara mobil sudah menghilang dari pandangan untuk diparkirkan di tempat yang aman.
Nindy terkesiap ketika tanpa sengaja memandang suami Michella yang kini sedang berdiri sembari memeluk pinggang perempuan itu. Nindy tidak menyangka akan bertemu seseorang yang berpengaruh dalam kondisi yang menyedihkan seperti saat ini.
Dia terlalu sibuk dengan pikirannya, hingga tidak menyadari siapa sosok yang bersanding dengan teman wanitanya itu.
"Tuan Paderson," ucapnya kemudian dan segera menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangan.
Ucapan singkat itu membuat baik Sean Paderson juga Michella menoleh kepadanya.
"Kamu mengenal suamiku. Ah, sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan kalian, karena kalian ternyata saling mengenal."
Tepat setelah perempuan itu menyelesaikan perkataannya, Sean segera menyelanya. "Tidak, aku tidak mengenalnya. Aku juga tidak ingin berkenalan dengannya. Ayo masuk!"
Lelaki itu menatap Nindy dengan dingin, auranya begitu gelap, hingga membuat Nindy merasa dalam bahaya ketika Netra biru itu mengarahkan pandangan ke arahnya.
Secara implusif, kaki Nindy melangkah mundur, memperpanjang jarak antara dirinya dan lelaki itu. Dia tidak pernah melihat kilatan tajam yang bisa langsung menghunus ke dalam jiwa.
Lelaki itu nampak berbahaya.
"Mas, aku ingin ke toilet. Sudah tidak tahan lagi."
Wajah lelaki itu berubah sejuk seketika, di saat pandangannya mengarah kepada istrinya. Sorot mata tajam dan mematikan dalam sekejab berubah teduh dan penuh cinta.
Tangan lelaki itu mengusap pipi Michella, menyunggungkan senyum tipis di bibir. "Aku antar, ya?"
Dia menggeleng, melirik Nindy yang sedang menunduk, takut.
"Aku akan pergi bersama Nindy. Dia kedinginan, sebaiknya segera berganti pakaian," ucapnya sembari menunjukkan tas plastik berwarna abu-abu tua di tangan.
"Aku antar. Jangan terlalu mudah percaya dengan orang lain! Apalagi kamu baru bertemu dengannya sekali. Siapa tahu dia ternyata orang jahat yang berpura-pura baik."
Perkataan yang terlontar dari mulut Sean Paderson itu sangat menusuk hati Nindy.
Ternyata di dunia ini, lelaki bermulut pedas tidak hanya si tuan pemarah, tetapi lelaki di depannya ini memiliki lidah yang lebih tajam dan bermulut pedas yang dengan mudah menggoreskan luka di relung hatinya.
Pastilah perempuan yang menjadi istrinya adalah perempuan yang sangat sabar, hingga mampu bertahan dengan lidah tajam dan pedas seorang Sean Paderson.
"Saya tidak akan mencelakai siapa pun, Tuan. Percayalah!" ucap Nindy berusaha membela diri.
Tatapan dingin itu kembali mengarah kepada Nindy, "Siapa yang menyuruhmu bicara!"
Nindy terdiam, takut untuk berkata-kata lagi.
Dan sampailah Michella berbicara, menjadi penengah antara ketakutan Nindy dan sikap dingin Sean Paderson.
"Mas, sudahlah. Jangan berlebihan. Aku sudah tidak tahan. Aku akan segera kembali bersama Nindy," sela Michella dengan wajah kemerahan menahan hasrat untuk buang air kecil.
Lelaki itu menunduk, menatap istrinya lagi. Melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Michella, bibir Sean mendarat tepat di bibir perempuan itu, hingga membuat Nindy segera berpaling ke arah lain.
Mereka berciuman. Tidak, lebih tepatnya si pria yang begitu agresif mencium istrinya.
Oh, tidak bisakah mereka menahan diri. Di sini ada jomlo yang menjerit.
Nindy bagaikan penjual kacang yang terabaikan di tengah dua insan yang dimabuk asmara.
Ciuman selamat tinggal untuk sesaat, apakah perlu? Sepertinya mereka terlalu berlebihan jika hanya berpisah untuk masuk ke dalam toilet saja.
"Jaga istriku! Jika terjadi apa-apa, aku akan membuat perhitungan denganmu." Suara itu mengagetkan Nindy. Sebuah pesan singkat, tetapi sarat akan ancaman.
Michella nampak menghela napas, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tersenyum ke arah Nindy, menunjukkan rasa tidak enak kepada temannya itu.
"Ayo, Nindy. Ganti bajumu. Aku sudah menyiapkannya untukmu."
Menganggukkan kepala, Nindy mengikuti ke mana Michella pergi.
*********
"Namaku Salwa, bukan Michella. Kau bisa memanggilku Salwa. Ingatanku sudah pulih."
Nindy membasuh muka di air kran yang mengalir di wastafel sembari mendengarkan cerita teman wanitanya itu.
Mereka tanpa sengaja bertemu, ketika Michella dalam kondisi sakit. Dia mengalami amnesia sekitar dua tahun yang lalu. Takdir mempertemukam Nindy dan Michella di salah satu pusat perbelanjaan di distrik Kowloon, di mana Nindy bekerja sebagai pelayan toko. Siapa sangka saat ini, ketika Nindy sedang dalam kondisi terpuruk dan hampir putus asa telah dipertemukan kembali dengan wanita baik ini.
Andai malam ini Nindy tidak bertemu dengan wanita itu, entah apa yang akan terjadi dengannya. Mungkin dia akan mati kedinginan sambil menahan rasa lapar yang menyiksa jiwa. Sungguh akhir yang sangat mengenaskan.
"Jadi namamu bukan Michella? Oh, maaf. Aku tidak tahu. Tapi aku turut senang, akhirnya kamu mengingat semuanya."
Perempuan itu tersenyum, mengangsurkan handuk kecil kepada Nindy.
"Tidak masalah. Kamu mau ke mana malam-malam begini?"
Dia menunduk, menyeka air yang menetes di wajah dengan handuk kecil itu. Menyelipkan rasa sesak di hati, agar tidak muncul ke permukaan.
Salwa gadis baik. Nindy cukup beruntung karena dipertemukan dengan wanita itu. Namun, tidak baik rasanya jika dia menceritakan masalahnya dengan Salwa. Mereka baru bertemu dan menjadi teman. Sungguh tidak etis jika karena masalah yang Nindy tanggung menyebabkan Salwa ikut terbebani, bukan?
Nindy tersenyum, menatap pantulan wajah di cermin panjang yang membentang di atas wastafel bewarna hitam legam dengan semburat warna emas di atasnya.
"Aku ingin pindah kontrakan. Mencari yang lebih nyaman," tuturnya seraya membenarkan posisi hijabnya.
"Oh, begitu. Apakah sudah dapat? Jika belum, kamu bisa tinggal di tempat kami."
Sungguh baik sekali wanita ini. Padahal suaminya terlihat menyeramkan.
"Tidak, Salwa. Mana mungkin aku melakukan itu. Aku akan mencari tempat tinggalku sendiri. Terima kasih, kamu sangat baik."
Salwa tidak memaksa, mungkin itu hanya sekedar basa-basi atau juga sebuah tawaran singkat dan tidak harus disetujui.
"Emm, baiklah. Jika butuh sesuatu, jangan sungkan memberitahuku. Apa kamu sudah selesai? Ayo kita keluar! Mungkin makanan telah selesai dihidangkan."
Nindy mengangguk. Keduanya keluar dari ruang toilet secara beriringan. Menapakkan kaki mereka di lantai marmer bernuansa elegan.
Rumah makan itu nampak mewah dengan dominasi warna merah dengan furniture kayu bercorak gelap tertata di sepanjang sudut ruangan.
Nindy sempat terperangah untuk beberapa saat. Dia sudah lama tinggal di negara ini, tetapi tak sempat terpikirkan olehnya untuk memasuki tempat semewah itu.
Salwa nampak tersenyum kepada seseorang yang sudah menunggunya di dalam, tetapi seseorang berseragam pelayan menghentikan langkahnya untuk masuk ke area yang lebih dalam.
"Maaf, Nyonya. Restoran ini sudah di-booking. Silakan meninggalkan tempat."
Nindy dan Salwa saling melempar pandang. Namun, wanita itu segera mengatakan sesuatu. "Saya ingin menemui suami saya dulu di dalam."
"Maaf, Nyonya. Semua pengunjung sudah pulang. Saya mohon agar Nyonya bekerja sama untuk tidak memperumit masalah." Tampak ketakutan di wajah pelayan itu. Tangannya sedikit mendorong bahu Salwa juga Nindy agar bergegas meninggalkan tempat.
Tepat di saat tangan itu menyentuh sedikit bahu Salwa, Sean Paderson datang menghampiri dengan wajah berang yang nampak mengerikan. "Singkirkan tanganmu! Dia istriku. Apakah kau ingin cari mati?"
Pelayan itu terkesiap, terkejut dengan kedatangan Sean yang tiba-tiba. Diteguknya saliva yang terasa seperti bongkahan batu besar hingga ia kesulitan untuk menelannya.
Dia salah orang.
"Maaf, saya tidak tahu, Tuan. Mari, Nyonya. Silakan, kami sudah menyiapkan segalanya."
"Mau dipecat apa!" bentak Sean lagi yang segera digandeng lengannya oleh Salwa.
"Sudahlah, Mas. Aku tidak apa-apa," tutur Salwa seraya mengusap dada suaminya.
Masih merasa marah, dia menatap tajam ke arah pelayan yang sebelumnya sempat mendorong bahu Salwa.
"Dia mendorongmu. Kalau terjadi apa-apa dengan anak kita, bagaimana?"
Pelayan itu nampak gemetar. Takut sekaligus terkejut, tetapi ucapan Salwa membuatnya sedikit tenang. "Dia baik-baik saja. Bukankah anak kita sangat kuat."
Salwa menengadah, menyentuhkan telapak tangan Sean ke arah perutnya yang belum membesar. Membuat pria itu menghela napas lega.
Sembari tersenyum lembut, ia berkata dengan sedikit manja. "Aku sudah lapar. Apakah kita bisa mulai makan?"
"Tentu saja. Aku tidak mungkin membiarkan anak dan istriku kelaparan." Dia merangkul bahu Salwa, mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam, di mana makanan sudah tersaji di atas meja dan mengabaikan Nindy yang masih berdiri mematung di bibir pintu.
Nindy ingin bergabung, tetapi malu. Apa yang harus ia lakukan?
Perutnya sudah sangat lapar, tetapi rasa sungkan kepada sepasang suami istri yang saling merangkul itu juga besar. Dia menghela napas lesu. Mungkin dia memang ditakdirkan akan selalu kelaparan.
Netranya tak lepas dari lantai berwarna merah yang berkilat itu, menahan rasa malu bercampur salah tingkah. Menantikan panggilan Salwa untuk mengikuti jejaknya.
"Nindy, kenapa diam saja? Ayo masuk!"
Bagaikan angin segar. Ajakan Salwa kepadanya membuat harapan baru baginya. Malam ini dia akan makan lezat.
Bibir itu tersenyum, menganggukkan kepala, Nindy gegas menyusul Sean dan Salwa untuk duduk di meja makan.
Semua makanan tampak lezat dan menggoda. Tak henti-hentinya Nindy menelan saliva agar tak sampai keluar dari mulutnya. Perutnya sudah mulai berkumandang, membuat irama merdu, tetapi menyiksa jiwa.
Dan ketika Nindy ingin mendaratkan pantatnya di kursi di samping Salwa, Sean segera mencegahnya.
"Hai, mejamu di sana. Bukan di sini."
Kepalang malu, Nindy sudah hampir menyentuhkan bokongnya ke atas kursi, tetapi dia harus berdiri lagi menuju tempat yang ditunjukkan Sean kepadanya.
Merasa tidak enak, Salwa membujuk Sean agar Nindy tetap berada di tempat.
"Tidak apa, Salwa. Kalian akan lebih leluasa jika aku tidak di sini."
"Bagus, jika kau mengerti."
Ucapan sinis itu membuat Nindy merasa tidak enak. Dia ingin pergi, tetapi dia juga butuh makan. Dan saat ini ajakan Salwa untuk makan sangat membantu kelangsungan hidupnya. Meskipun dia harus menekan rasa malu dengan menahan diri dari sikap dingin Sean Paderson kepadanya.
Nindy berpindah dari rempat duduknya, melangkah ke depan di mana meja lain sudah menunggu dengan hidangan lezat yang cukup dinikmati untuk satu orang.
"Mas, jangan terlalu keras. Sepertinya dia sedang ada masalah, hanya saja dia tidak mau menceritakannya."
Tangan itu mengusap kepala Salwa, dengan netra biru memandang lembut ke arah wanita berbadan dua itu. "Kau ingin aku bagaimana? Apakah kau ingin aku bersikap lembut dengannya?"
"A-ku ...." Salwa sedikit bingung untuk menjawab, tetapi rentetan kalimat yang Sean ucapkan selanjutnya membuat perempuan itu mengerti dan merasa bersyukur.
"Kita tidak pernah tahu apa maksud orang lain kepada kita. Sedikit rasa antisipasi juga diperlukan. Banyak hubungan pernikahan kandas karena seorang laki-laki memperlakukan perempuan lain dengan sikap baik dan lembut hanya demi mendapatkan predikat suami yang baik di mata orang. Dan suamimu ini tidak membutuhkan penghargaan seperti itu. Aku hanya ingin menjaga hati seorang wanita yang sudah rela mengandung dan melahirkan anak-anakku untuk tetap tenang dan tidak terlalu memikirkan suaminya akan berpaling dengan wanita lain."
Salwa mengangguk seraya tersenyum penuh haru. Tidak menyangka jika Sean memikirkannya hingga seperti itu. "Terima kasih, Mas. Aku bersyukur memilikimu."
Sejenak Salwa ingin melanjutkan perkataannya, tetapi pandangannya mengarah ke arah meja-meja lain yang terlihat masih banyak makanan yang belum selesai dihabiskan oleh pemiliknya. Dia baru menyadari jika Sean sengaja memesan seluruh tempat itu untuk keperluan makan malam mereka.
"Mas, apakah tadi banyak orang yang telah makan di sini? Kenapa mereka tidak menghabiskan makanan mereka, bahkan banyak yang sepertinya masih belum disentuh sama sekali."
Sean tersenyum, dengan entengnya dia berkata. "Sudah diusir semua."
"Apa? Lalu makanan mereka? Mereka belum selesai makan, 'kan?" Salwa nampak tidak setuju dengan tindakan suaminya yang merusak kenyamanan orang lain demi kepentingannya sendiri.
"Mas 'kan kaya, jadi terserah Mas mau usir siapa. Sudahlah jangan dipikirkan, lebih baik kita makan."
Jawaban apa itu? Tapi, ya sudahlah. Sulit untuk menasihati masalah berperilaku menghargai orang lain kepada suaminya itu.
Hampir satu jam mereka duduk di meja makan sembari bercengkrama dengan beberapa kali melempar canda. Nindy sudah menyelesaikan makan malamnya sejak tiga puluh menit yang lalu, tetapi ia masih menunggu sepasang suami istri itu yang masih betah berlama-lama di meja makan.
Dia merasa beruntung sekaligus kesal. Ya, siapa yang tidak kesal melihat keromantisan yang dipamerkan di depan matanya langsung. Dia hanya bisa menopang dagu sambil memalingkan muka berkali-kali ketika dua orang itu terus saja membuat jiwa kesendiriannya merasa perlu dikasihani. Hingga kepala Nindy yang sebelumnya hanya memikirkan masalah perut, kini mulai meningkat ke arah jodoh.
Ah, jodoh. Kapan kamu akan datang?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Siti Amanah
♥️full setahun AQ cari ini thor
2024-10-12
0
Siti Amanah
setelah lama ku cari akhirnya ketemu tentang Arthur sean aku suka ceritamu Thor cerita anak ny Arthur ua AQ baca sampai tamat ternoda sebelum akad aq suka banget sampe ku baca berulang2 audio jg AQ cari Kisa emak ny UD Nemu tapi menghilang katany pinda kesebelah judulnya AQ lupa pake bahasa inggris AQ akan baca abis tp
2024-10-12
0
Qiza Khumaeroh
yuuhhuuu
2022-04-20
1