Yang Pou Han dan Nindy saling beradu tatap. Keduanya secara bersamaan meneguk saliva, terkejut setelah melihat banyaknya orang yang sedang menonton pertengkaran mereka.
Sean masuk ke ruang pengaduan, melangkah mendekat ke arah Yang Pou Han. Seketika tinju melayang di wajah lelaki itu. Nindy berteriak ketakutan, menutup mulut menggunakan kedua telapak tangan. Bergerak ke samping, menyeret gadis kecil yang tadi sempat mendorong Yang Pou Han.
"Apa yang kau lakukan, Sean?"
Lelaki itu tidak menjawab, memilih mencengkram kerah kemeja Yang Pou Han, lalu melesatkan pukulan kembali ke wajah lelaki itu.
"Aku bilang jangan kau apa-apakan gadis itu. Lalu apa sekarang? Kau malah menidurinya. Kepar*t!" Sekali lagi pukulan menghantam wajah Yang Pou Han membuat semua orang gemetar melihat kemarahan lelaki bertubuh jangkung itu.
Yang Pou Han mengatur napas. Menahan rasa sakit di wajah, lelaki itu memilih tidak membalas pukulan Sean kepadanya. "Kau salah paham. Aku tidak melakukan apa pun kepadanya."
Sean nampak berang, menghentakkan tubuh Yang Pou Han menghimpit ke dinding dengan mencengkram pakaian bagian atas lelaki itu. "Jangan berkilah, Yang. Aku sudah mengenalmu sejak lama. Kau sama sekali tidak berubah. Dan sekarang, aku ingin kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu kepada gadis itu."
Sorot mata Sean menajam, merasuk langsung ke kedalaman bola mata Yang. Memberikan intimidasi melalui tatapan, membuat lelaki itu meneguk ludahnya.
Mengapa Sean bisa semarah itu?
"Aku tidak mau. Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya." Yang berteriak membela diri.
Tepat di saat Sean ingin mendaratkan pukulan kembali di wajah Yang Pou Han, Salwa buru-buru datang melerai keduanya. "Mas, cukup! Hentikan!"
Wanita itu memeluk suaminya dengan erat, mencoba memadamkan kemarahan Sean yang sudah meledak.
Dia nampak mengatur napasnya, membalas pelukan sang istri sembari menatap Yang Pou Han dengan penuh kemarahan.
"Kalian berdua. Ikut aku ke ruang rapat!" perintah Sean dengan melingkarkan tangannya di pinggang Salwa, mengajak wanita itu untuk menemaninya ke ruang rapat untuk mengeksekusi Nindy juga Yang Pou Han.
********
Ruangan itu terasa sunyi, hingga hanya detak jarum jam saja yang terdengar di indra pendengaran. Semua orang nampak menunduk, gurat ketegangan tergambar jelas di wajah mereka. Tak satu pun berniat memecah kebisuan itu, hingga waktu bergulir cukup lama.
Sean mengatur emosinya yang sempat kalap saat itu. Tangannya masih memertahankan Salwa di sampingnya. Entah apa yang terjadi jika perempuan itu tak segera mencegahnya, mungkin Yang akan berakhir di rumah sakit saat itu juga.
Jemari keduanya saling terpaut, menumbuhkan sepercik rasa damai yang kemudian mengguyur emosi Sean yang sempat terbakar.
Hingga sampailah Salwa bersuara, memecah keheningan itu menjadi sebuah perdebatan sengit. "Apakah benar kalian pernah tidur bersama?"
"Tidak, itu tidak benar." Yang Pou Han segera menyela sebelum Nindy angkat bicara.
Gadis itu diam, tak berkata sepatah kata pun. Mereka memang pernah tidur seranjang, tetapi Nindy tidak tahu apa yang sudah Yang Pou Han lakukan kepadanya. Yang Nindy ingat hanyalah ketika matanya terbuka, mereka saling berpelukan.
"Kau, katakan sesuatu. Jangan diam saja!" bentak Sean kepada Nindy, yang segera mendapatkan tarikan di lengan oleh Salwa.
Gadis itu nampak tersentak, gugup. Bingung dengan apa yang akan ia katakan. Tepat di saat Nindy sedang memikirkan jawaban yang tepat, Salwa berbicara lagi.
"Jangan terlalu keras, Mas. Kau membuatnya takut," ucapnya seraya mengusap dada suaminya itu. Dia tahu apa yang dirasakan oleh suaminya.
Sejak Sean sudah meninggalkan dunia kelamnya, lelaki itu banyak belajar agama. Bagaimana cara memperlakukan seorang wanita dengan baik, dan mengenai hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak dibenarkan jika belum ada status sah.
Tanpa mengalihkan tangannya dari tubuh Sean, Salwa bertanya kepada Nindy. "Apakah benar yang dikatakan Yang Pou Han, Nindy?"
Dan sebuah gelengan kepala telah menjawab semuanya. Begitu pelan Nindy menjawabnya, tetapi mereka semua masih bisa mendengarnya. "Dia masuk ke kamarku secara diam-diam. Dan saat aku terbangun, dia telah tidur sambil memelukku."
Yang Pou Han nampak menelan ludah. Dia ternganga dengan jawaban yang terlontar dari bibir Nindy. "Hanya sebatas itu, aku tidak melakukan hal lain. Hei, katakan jika aku tak menyentuhmu!"
"Mana aku tahu apa yang sudah kau lakukan padaku. Aku sedang tidur saat itu. Lalu kenapa kau mendatangiku malam-malam secara sembunyi-sembunyi?" teriak Nindy disertai tangis yang tertahan. Antara malu dan emosi yang mencoba dia redakan, Nindy berusaha tetap tenang.
"Dasar bodoh. Aku tidak pernah menyentuhmu." Yang kembali menyela dan kali ini menggunakan suara keras.
"Cukup!" Sean sudah tidak tahan melihat perdebatan mereka, hingga lelaki itu angkat bicara. "Apa kau yakin tidak menyentuh gadis itu? Bagaimana bisa kau berada dalam kamarnya saat itu?"
Wajah Yang Pou Han terlihat kebingungan, lantaran pertanyaan terakhir yang terucap oleh Sean. Dia tidak sanggup menjawabnya, karena dia juga terlupa apa yang sebenarnya terjadi. "Aku tidak tahu, aku mabuk saat itu."
Sean menghela napas kemudian. Dia menatap Salwa penuh permohonan. "Ajak gadis itu keluar. Aku akan berbicara empat mata dengan Yang Pou Han."
Wanita itu nampak menunjukkan kecemasan di hatinya. Bagaimana jika mereka berkelahi lagi?
"Aku hanya ingin berbicara, tidak ingin menghajarnya," imbuh Sean kemudian seolah mengerti apa yang dicemaskan oleh Salwa.
Dia mengangguk seraya menyunggingkan senyum. Menuruti permintaan Sean untuk mengajak Nindy keluar dari ruangan itu.
Dan tinggallah dua orang lelaki berbeda perawakan dan latar belakang. Lelaki berdarah Kanada itu berdiri, melangkah ke arah jendela kaca yang masih tertutup oleh tirai. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara tangan yang lain digunakan untuk mengusap dagu. Ekor matanya menatap ke arah depan, mencoba mengatur emosi yang sempat keluar.
Dia menghela napas panjang, lalu mengerjapkan kelopak mata sekali. "Aku tahu jika sejak awal kau tertarik dengan gadis itu."
Perkataan Sean yang di luar dugaan Yang sukses membuat lelaki itu beranjak dari duduknya, ikut berdiri. "Apa katamu? Mana mungkin aku bisa tertarik dengan gadis seperti itu?"
Nampak Sean tersenyum sinis ke arah Yang Pou Han. "Kau boleh menyangkal semaumu, tetapi kau sama sekali tidak bisa menyembunyikan semuanya kepadaku, Yang."
Lelaki itu berdecih kemudian, mencoba berspekulasi dengan apa yang sebenarnya dia inginkan. "Banyak wanita di luaran sana yang mengantri untuk menjadi kekasihku. Untuk apa aku harus tertarik kepada gadis seperti dia. Apa kau pikir seleraku turun serendah itu?"
Sean membalikkan tubuh, menatap lelaki berdarah Chinese itu dengan tatapan penuh. "Kau tertarik dengannya, hampir sama seperti saat kau tertarik kepada istriku." Dua langkah dia maju mendekat. "Dia menolakmu, 'kan? Dia tidak melihat hartamu, bahkan mungkin dia tidak peduli akan hal itu. Jadi kau tertarik dengannya karena kau selama ini selalu mendapatkan penerimaan dari banyak wanita. Sementara gadis itu, berbeda."
"Tidak, itu tidak benar. Aku hanya sedang menghukumnya karena dia telah melanggar peraturan," kilah Yang lagi. Dia masih tidak setuju dengan perkataan Sean.
Lelaki itu mendesis, menunjukkan ekspresi mengejek yang kentara di wajahnya. Dia sama sekali tidak berniat melakukan kamuflase terhadap ekspresinya ketika menatap Yang Pou Han dengan tatapan mencemooh.
"Hukuman yang berakhir dengan perjanjian konyol yang kau buat itu. Kau berniat menghukum dengan menyiksanya secara perlahan dengan menyuruh semua asisten rumah tangga yang kau pekerjakan untuk cuti selama satu bulan agar dia kelelahan mengerjakan semua pekerjaan yang ada di rumahmu. Namun, tanpa kau sadari, hatimu menginginkan jika dia tetap berada di dekatmu. Kau menyukai saat dia menentangmu. Kau semakin tertarik untuk menjinakkannya, sehingga kau membuat segala macam cara agar wanita itu takluk dan tak berkutik di depanmu. Apakah kau yakin, setelah satu bulan tinggal bersamanya, kau akan mampu untuk melepaskannya sesuai kesepakatan yang kalian lakukan?"
Sean menatap netra kecoklatan itu dengan tajam. "Jika tidak ada kejadian ini, mungkin kau membuat alasan lain agar dia tetap tinggal di rumahmu. Dan hal itu akan berlarut-larut sampai kau sendiri bingung dengan apa yang sebenarnya kau inginkan."
Yang Pou Han masih terdiam, memikirkan apa yang telah Sean ucapkan. Apakah benar dia menyukai Nindy?
"Jadi, keputusan ini akan membantumu menemukan jawabannya." Dia menepuk bahu kanan Yang Pou Han. "Nikahi dia!"
*********
》Sabar yaak.. masih diketik 😜😜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sunarty Narty
keren Sean,sampe perjanjiannya pun Sean tau.wah gimana klu udh nikah nanti yang ma nindy
2022-10-24
1
Qiza Khumaeroh
sean kerreennn,, infone mbaakkee kisahy sean dn salwa ad ngga yaa
2022-04-21
1
HanumHanum
wah wah gercep mas sean
2021-09-07
0