Nindy mendesah kesal melihat tas ransel yang sebelumnya penuh dengan makanan ringan juga softdrink telah habis tak bersisa. Bukan karena telah laku terjual, melainkan tuan pemarah itu telah menyitanya tanpa sedikit pun menyisahkan untuknya.
Suara perut Nindy mulai keroncongan dengan rasa perih mulai terasa menyiksa. Dielusnya perut yang kempis itu, menahan rasa tidak nyaman di perutnya.
Seharusnya hari ini dia mendapat untung banyak dengan berjualan makanan ringan di tempat rekreasi itu, tetapi tuan pemarah itu malah mengacaukan segalanya.
Kembali terdengar desahan lesu dari bibir gadis itu. Tangannya membuka dompet lusuh yang setia menemani hari-harinya yang suram. Hanya tersisa tiga lembar uang puluhan dollar Hong Kong. Bibirnya mengerucut mengingat uang yang sebelumnya ia jadikan modal membeli makanan ringan dan minuman untuk dijualnya itu raib begitu saja.
Dia merobohkan tubuhnya di atas kasur busa yang sudah penyet tak berbentuk lagi. Tangannya merentang dengan mata menatap langit-langit kamar kontrakannya.
Ahh, sakit sekali.
Rasa perih di perut kembali menyiksa. Ia ingin segera makan, tetapi tidak ada satu pun makanan yang ia temukan. Mulutnya beberapa kali menelan ludah, berharap rasa kenyang itu menghampiri lambungnya.
Nindy menatap tiga lembar uang puluhan dollar itu yang berada di genggamannya. Dia hanya bisa membeli nasi putih saja untuk beberapa hari ke depan dengan menggunakan uang itu. Untuk lauk, sepertinya dia hanya bisa membayangkannya saja.
Setidaknya rasa perih di perut itu harus segera sirna dari tubuhnya. Bagaimanapun caranya, malam ini dia harus segera makan sebelum rasa tidak nyaman itu akan beralih menjadi penyakit yang lebih serius.
Dengan sekuat tenaga, Nindy akhirnya beranjak dari tidurnya, melangkah keluar dari kamar kontrakannya.
Dilihatnya tetangga kontrakan sedang menikmati makan malam dengan lahapnya. Ayam goreng tepung yang digigit dengan beberapa serpihan crunchy terjatuh berserak di lantai membuat Nindy menelan air liurnya lagi.
Mereka hanya tersenyum melihat Nindy lewat sembari tetap menyantap hidangan makan malam mereka.
Sial! Tidak adakah yang berniat menawarinya makanan?
Dengan raut muka yang nampak kesal, Nindy segera berlalu dari hadapan tetangga yang tidak punya perasaan itu.
Dia terus berjalan, melangkah dengan sedikit cepat menggunakan tenaga yang masih tersisa. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Biasanya ada penjual makanan keliling di area kontrakan sempit itu. Meskipun mereka tinggal di negara metropolitan tak menjadikan mereka hidup enak dengan fasilitas terjamin.
Bisa tidur dengan ruang sepetak, lemari pakaian kecil yang berhimpit dengan kasur busa lusuh itu sudah patut disyukuri.
Ah, dia sepertinya sudah tidak tahan lagi. Kakinya melangkah lebih lebar dengan sedikit berlari. Rumah makan cepat saji ada tak jauh dari sini. Bukan rumah makan cepat saji yang terkenal itu, melainkan rumah makan rumahan dengan menu yang hampir sama meskipun rasanya jauh berbeda.
Tekstur yang lebih alot dengan warna yang lebih coklat, karena si pemilik kedai tidak mau rugi dengan menggoreng kembali ayam tepungnya yang tidak laku untuk dijual keesokan harinya. Setidaknya harganya lebih bersahabat di kantong dan bisa mengenyangkan perut.
Untuk rasa, itu adalah prioritas ke dua. Oh tidak, bukan ke dua melainkan ke sepuluh, atau mungkin tidak diprioritaskan sama sekali. Karena saat ini, Nindy hanya mampu membeli sekepal nasi putih saja tanpa lauk ayam goreng crunchy yang seperti dinikmati tetangganya itu.
Tak apalah ia menahan rasa ingin makan enaknya. Mungkin suatu saat kesabarannya akan berbuah manis, jika Tuhan menghendaki.
Dan untuk besok, dia harus meminta keringanan kepada tuan pemarah itu. Dia bisa mati kelaparan jika terus seperti ini setiap hari.
Mungkin, Nindy bisa meminjam uang atau meminta digaji separuh saja. Ah, sangat sial sekali nasibnya setelah berjumpa kembali dengan tuan pemarah itu.
********
Nindy sudah bersiap dengan seragamnya. Dia menunggu bus yang bertugas menjemput karyawan di mana ia bekerja dengan suka rela itu. Tangannya sibuk berselancar di dunia maya. Mencari lowongan pekerjaan tentunya.
Matanya teralihkan ketika bus yang ditungguinya sudah berada di depan mata. Desahan lesu kembali terdengar lirih dari bibir gadis itu. Sedikit malas ia menaikkan kakinya untuk menapak di lantai berbahan besi itu.
Dia memilih duduk di dekat kaca jendela. Menikmati pemandangan yang tak jauh dari bangunan gedung tinggi yang menjulang hampir di seluruh perjalanan.
Tangannya merogoh tas ransel berbahan kanvas dengan warna yang sudah jauh berbeda dengan pertama kali saat dibelinya dulu. Mencari benda mungil yang menjadi andalannya ketika sedang dilanda masalah.
Sebuah earpiece yang sudah tertambal-tambal dengan selotip di bagian kabelnya telah ditemukan terselip di antara barang-barang yang dibawanya di dalam tas lusuh itu. Senyumnya tertarik dengan tangan menyingkap sedikit kerudungnya untuk menyelipkan earpiece itu di kedua telinganya.
Sebuah lagu diputar, mengalun merdu menemani perjalanan Nindy menuju ke tempat kerja. Matanya terkatup menikmati setiap nada, melodi dan alunan suara penyanyi wanita kesayangannya yang berasal dari Indonesia.
Siapa lagi kalau bukan Rossa.
...Ku menangis...
...Membayangkan...
...Betapa kejamnya dirimu atas diriku...
Bukan dirimu yang kejam, melainkan dunia yang telah kejam kepadanya.
Nindy merasa dunia telah memperlakukannya tidak adil. Entah bagaimana bisa, sejak orok hingga berusia hampir seperempat abad dia hidup tak jauh dari kata 'kekurangan'. Belum pernah ia merasakan hidup berkecukupan, makan enak dengan tidak memikirkan jatah makan untuk esok hari. Oh, bukan untuk esok hari, melainkan untuk malam nanti pun dia tak tahu akan bisa makan atau tidak. Mengenaskan, bukan?
Sudah terbiasa mengalami hal seperti itu, tidak membuat tekad Nindy luntur untuk menggapai cita-citanya. Nindy memiliki cita-cita?
Tentu saja, setiap orang pasti memiliki cita-cita yang sudah diimpikannya sejak kecil. Menjadi seorang wanita hebat, karir cemerlang dan hidup mapan. Otaknya digunakan untuk mengatur bisnisnya yang sudah membesar dan menghasilkan omset jutaan dollar perbulannya.
Apakah benar seperti itu? Ah, itu terlalu tinggi bagi seorang Nindy. Dia sadar akan kemampuan otaknya yang terbatas. Dia bukanlah gadis pintar, hanya saja dia selalu optimis dan bersemangat. Lantas, apa cita-cita Nindy sebenarnya?
Cita-citanya cukup sederhana dan tidak muluk-muluk. Dia ingin memasok banyak bahan makanan di rumahnya. Tak perlu mencemaskan esok makan apa? Dan tentunya dia tidak harus menahan lapar hingga hari menjelang pagi.
Nindy juga memiliki keinginan tidur di tempat yang nyaman. Kasurnya sudah tipis dan tak berbentuk lagi, membuat badannya terasa kaku setelah menyelesaikan tidur malamnya. Tubuhnya yang kurus tidak bisa membuatnya nyaman dengan tempat tidur yang kondisinya seperti itu.
Bukan karena menahan bebannya yang terlalu berat, melainkan dia mendapatkan kasur itu dalam kondisi tak jauh beda dengan saat ini. Ya, dia mendapatkan kasur bekas dari tetangga kontrakannya.
Apakah ada lagi sesuatu yang menjadi keinginan Nindy?
Pasti. Bukan hanya banyak makanan dan tempat tidur yang nyaman. Nindy juga bercita-cita membeli beberapa pasang pakaian dalam untuk dikenakan sehari-hari. Sesuatu yang sedeehana, tetapi sangat penting bagi seorang wanita. Entah semua keinginannya itu kapan akan terjadi? Yang jelas untuk saat ini, Nindy harus berpuas diri dengan kondisi yang ada.
Bagaimana dengan keluarga Nindy?
Kebetulan dia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang dibesarkan di panti asuhan. Setelah dewasa ia mencoba peruntungan merantau di negeri orang. Sayangnya, kehidupan keras negara beton itu telah mengombang-ambingkan dirinya hingga berakhir seperti ini.
Mata Nindy terbuka setelah mendengar suara memanggilnya. Dengan malas ia menatap seseorang yang sudah mengganggu lamunannya.
Seorang pria yang mungkin seumuran dengannya tiba-tiba mengambil duduk di sebelahnya.
"Hai," sapanya ramah yang disambut senyuman tipis oleh Nindy.
Tangannya melepas ear piece yang terpasang di kedua telinganya. Bersikap menghargai, Nindy membalas sapaan pria itu.
"Hai," sapanya sembari menyunggingkan senyum ramah. Digesernya posisi duduknya lebih menghimpit ke arah jendela, membuat jarak dengan pria di sampingnya itu.
"Apakah kau bekerja di 'The MOG'?" Nama singkatan dari The Miracle Ocean Garden.
Oh, yeah. Seharusnya dia tidak perlu menjawabnya. Karena pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban. Ayolah, mereka sekarang sedang menaiki bus karyawan, bukan naik bus umum. Jadi, semua penumpang di sini memiliki status yang sama yaitu karyawan dari The Miracle Ocean Garden.
"Iya, bukankah ini bis karyawan?"
Lelaki itu nampak menggaruk belakang kepalanya yang mendadak gatal. Menyadari pertanyaan konyolnya kepada gadis di sampingnya itu.
Mencoba mengalihkan dari pertanyaan bodoh yang sempat terlontar, lelaki itu memperkenalkan diri.
"Namaku Zang Nan. Dari divisi marketing. Sepertinya aku baru melihatmu. Apakah kau baru bergabung?"
Dia mengangguk, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menatap lurus ke depan yang terhalangi punggung kursi lain di depannya. "Iya, baru bergabung."
"Siapa namamu?" Lelaki itu bertanya, karena Nindy tak kunjung memberi tahukan namanya.
Dia menoleh, menatap lawan bicaranya sekilas. Menarik bibirnya tipis, menyunggingkan senyum ringan yang nyaris tak terlihat. "Nindy. Panggil saja aku Nindy."
"Nama yang cantik, sesuai dengan si pemilik nama."
Nindy mengangkat sebelah alisnya. Baru kali ini ada yang mengatakan bahwa dirinya cantik. Sebutan aneh yang sering disematkan orang kepadanya membuatnya terlupa jika dirinya adalah perempuan yang merindukan panggilan cantik.
"Terima kasih." Hanya itu yang bisa Nindy ucapkan. Menurutnya, sebutan cantik tidak terlalu menggoda karena tidak bisa membuatnya kenyang.
"Di area mana kau bertugas?" tanya Zang Nan mencoba mengakrabkan diri.
Samar terdengar desahan dari bibir Nindy, "Memberi makan anjing laut."
"Oh, pasti sangat menyenangkan, bukan? Bisa bermain dengan hewan lucu seperti itu?"
"Yeah, sepertinya. Aku akan menyesuaikan diri dengan baunya."
Menutup mulutnya, Zang Nan terkekeh mendengar jawaban dari Nindy. "Kau akan terbiasa, percayalah. Tugasmu tidak terlalu buruk."
Bis sudah memasuki area 'The Miracle Ocean Garden'. Terpampanglah tulisan itu dengan gagahnya berpenyanggah dua tiang besar yang nampak sangat kokoh.
Bus terhenti tepat di parkiran khusus karyawan. Nindy beserta semua penumpang menuruni bus untuk kemudian berkumpul di area breafing. Supervisor melakukan breafing kepada seluruh tim The MOG sebagai persiapan awal sebelum pengunjung berdatangan.
Dengan seksama mereka mendengarkan setiap ucapan si supervisor. Hanya berlangsung selama sepuluh menit breafing selesai dilakukan. Semua bubar dengan teratur, kembali kepada pos masing-masing untuk mulai menjalankan tugasnya.
Zang Nan menyapa Nindy sejenak, dan ditanggapi oleh gadis itu dengan mengangguk sembari mengulas senyum. Keduanya pun berpisah setelahnya.
Nindy memasangkan sarung tangan itu di kedua tangannya hingga sebatas siku. Mempersiapkan ikan-ikan kecil yang akan dia gunakan untuk memberi makan anjing laut juga hewan air lainnya.
Dipisahkannya ikan-ikan kecil itu dalam beberapa wadah, yang nantinya akan dibagikan sesuai dengan porsinya masing-masing. Tangannya cukup cekatan melakukan itu setelah kemarin mendapatkan arahan dari teman rekan setimnya.
Matanya sesekali mencuri pandang ke arah luar. Seperti rencana awal, dia akan menemui si tuan pemarah untuk mengajukan banding. Mengubah klausul yang tak tertulis itu menjadi sebuah kontrak kerja di atas kertas dengan tanda tangan dari kedua belah pihak.
Hukuman yang Nindy terima sama sekali tidak masuk akal, sehingga gadis itu bertekad untuk memperjuangkan nasibnya dengan menuntut tuan pemarah itu untuk mengubah hukumannya menjadi sebuah perjanjian tertulis.
Senyum Nindy terbit, ketika netranya melihat seseorang yang sejak tadi ditungguinya. Tanpa melepas apron dan sarung tangan karena terlampau tergopoh, Nindy bergegas berlari sebelum si tuan pemarah itu menghilang dari pandangannya.
Langkahnya kian melebar, mencoba menyusul lelaki itu yang hampir sampai di gedung perkantoran The MOG bersama asisten setia, yang berjalan mengekor di belakangnya.
Gegas kedua tangan Nindy yang berbalut sarung tangan itu merentang di depan Yang Pou Han, menghentikan langkah lelaki itu sebelum mencapai pintu masuk area lobby.
Asisten Lie Am terperangah, melihat tingkah seorang karyawan yang telah berani menghalangi jalan atasannya.
Dia ingin menarik lengan gadis itu, tetapi dengan cepat Yang mengangkat sebelah tangannya penuh isyarat agar asisten Lie Am membiarkannya.
Mengangguk patuh, asisten Lie Am mundur ke belakang, kembali ke tempat semula.
"Apa yang kau inginkan?" Sorot mata tajam diarahkan ke arah Nindy, membuat nyali gadis itu yang semula berkobar mendadak menciut seketika.
"Sa-ya ingin bicara kepadamu, Tuan." Terbata-bata Nindy mengucapkannya, menghindar dari tatapan Yang dengan menundukkan wajah.
"Katakan!"
Mengangkat kepala, menengadah, Nindy membalas tatapan Yang kepadanya, lalu berganti menatap asisten Lie Am yang masih menunjukkan ekspresi datar.
Dia meneguk ludah, pembahasan yang ingin dia lakukan adalah hal yang serius. Bagaimana bisa mereka membicarakan hal serius dengan posisi berdiri di depan pintu masuk kantor?
"Apakah kita bisa bicara di tempat lain?"
"Katakan di sini, atau singkirkan tanganmu!"
Nindy mengatur napasnya, sangat gugup melihat banyak orang yang sedang memperhatikannya. Mungkin semua karyawan menganggap dia terlalu memaksakan nyali untuk menentang seorang Yang pou Han.
"Saya ingin membuat sebuah kesepakatan denganmu."
Yang menoleh sekilas ke arah asisten Lie Am. Dalam sekejab, pria itu melangkah ke arah Nindy dan menyingkirkan gadis itu agar tidak menghalangi Yang Pou Han.
Nindy berontak. Dengan kasar ia menghempaskan lengan asisten Lie Am, tetapi sepertinya tidak cukup kuat, hingga ia menggigit tangan yang sedang mencekal lengannya itu.
Terlepas, Nindy segera berlari. Menarik lengan Yang Pou Han, membuat lelaki itu berbalik kepadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Bzaa
semangat nindi💪💪
2023-04-17
1
Sunarty Narty
Nindy berani bgt
2022-10-24
0
Yulie
sedikit mirip rangkuman pelajaran
jarang ada percakapannya
2022-05-29
0