Rafa duduk dengan tenang di kursi makan, menatap semua makanan yang sudah tersaji di atas meja. Perutnya masih kenyang karena Avram sudah mentraktir makanan kesukaannya.
Quenby duduk di kursi lain berhadapan dengan Rafa, di sampingnya Livian yang tengah asik menyantap makan malamnya.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Quenby menatap tajam ke arah Rafa.
"Iya Mom!" sahut Rafa lalu mengambil sendok di atas piring.
"Habiskan makan malammu." Perintah Quenby.
Quenby kembali terdiam memperhatikan Rafa, terlihat jelas kalau Rafa tidak berselera menyantap makan malamnya.
"Brakk!!"
Quenby menggebrak meja, membuat Livian dan Rafa terkejut menatap ke arahnya.
"Ada apa lagi? bisa tidak, kalian tenang?" kata Livian meletakkan sendok di atas piring lalu mengambil air mineral dalam gelas lalu meminum air itu hingga tersisa setengah gelas.
"Setiap hari kalian ribut, tidak pernah ada tenangnya." Kata Livian lagi lalu berdiri dan beranjak pergi.
"Maafkan aku, Mom..tapi aku sudah kenyang." sela Rafa kepalanya tertunduk.
"Aku yang mengandungmu selama 9 bulan, aku yang melahirkanmu, meski aku tidak merawatmu karena ketidak tahuanku yang menganggap kau telah tiada. Aku tidak minta apa apa darimu, hargai apa yang aku lakukan buatmu Rafa. Aku juga ingin kau bisa sedekat seperti kedekatanmu bersama Dady mu." Ungkap Quenby matanya berkaca kaca.
"Momy..jangan bicara seperti itu, bukan maksudku tidak menghargai. Tapi aku sudah kenyang mom.." jawab Rafa.
"Harusnya kau tahu, setiap malam aku buatkan makanan ustimewa buatmu. Kenapa kau tidak pulang secepatnya tapi kau sengaja habiskan waktu bersama Avram!!" bentak Quenby.
"Maafkan aku, Mom.." jawab Rafa lalu berdiri menghampiri Quenby, menggenggam erat tangannya namun Quenby menepisnya dengan kasar.
"Pergilah bersama Avram!"
"Momy..." ucap Rafa terisak.
"Pergi kau!" bentak Quenby lagi. Lalu ia beranjak pergi meninggalkan Rafa.
"Mom..aku tahu bagaiamana perasaanmu. Kau tidak benar benar marah padaku kan?" ucapnya dengan deraian air mata. Lalu ia berjalan dengan gontai menuju kamar pribadinya.
Sementara Quenby mencari keberadaan Livian untuk mengajaknya kembali makan. Namun Livian sudah pergi dari rumah karena kesal selalu terjadi pertengkaran antara Quenby dan Rafa.
Quenby duduk di bangku taman, menatap langit yang terlihat gelap. Angin sepoi sepoi terasa dingin menusuk ke tulang.
"Apa yang kau pikirkan?" suara berat tapi terdengar lembut mengalihkan perhatian Quenby.
"Avram? bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanya Quenby.
"Jangan kau tanyakan itu, jawab pertanyaanku. Apa yang membuatmu sedih?" tanya Avram lagi, tetap berdiri dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
Quenby berdiri tegap dan berkata. "Sok tahu, siapa yang sedih?" jawab Quenby ketus.
"Apa yang tidak kuketahui tentangmu, Quen? kau selalu berpura pura tegar dan kuat." timpal Avram.
Quenby menundukkan kepalanya sesaat, "bukan urusanmu."
"Tapi ku akui kau wanita kuat, mandiri juga tegar meski kau cengeng juga kalau sudah berhadapan dengan putramu." Avram tersenyum dan berusaha menggoda Quenby supaya hatinya tenang.
"Kau tidak perlu menghiburku!" jawab Quenby ketus.
"Siapa juga yang menghiburmu, kurang kerjaan kalau aku menghibur istri orang. Lebih baik aku hibur wanita lain."
"Apa kau bilang? beraninya kau bicara seperti itu di hadapanku!" bentak Quenby.
"Apa yang salah? aku single dan tidak ada masalah bukan?" balas Avram.
Quenby terdiam, lalu tertawa kecil sambil menepuk keningnya sendiri.
"Aku lupa, kau kan bukan suamiku!"
"Dasar bodoh!" rutuk Avram.
"Maaf.." ucap Quenby tersenyum.
"Sudah malam, masuklah ke dalam. Lihatlah putramu dalam keadaan tidur, kau pasti mengerti maksudku." Kata Avram.
Quenby menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku masuk ke dalam."
Quenby melangkahkan kakinya meninggalkan taman. Langkahnya terhenti menoleh ke belakang, ia masih melihat Avram dalam kegelapan melambaikan tangannya. Kemuduan Quenby kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menuju kamar Rafa.
Sesampainya di depan pintu, ia buka pintu kamar lalu masuk ke dalam dan menutup kembali pintu kamar Rafa.
Ia berdiri tegap memperhatikan Rafa yang tengah tertidur pulas. Lalu ia naik ke atas tempat tidur, mengusap lembut pipi Rafa. Membenarkan rambutnya yang menghalangi wajah Rafa.
"Maafkan aku..maafkan aku yang sudah memarahimu.."
Quenby tersenyum, lalu mencium pipi Rafa cukup lama. Lalu ia membaringkan tubuhnya di samping putranya dan memeluk tubuh Rafa dengan erat.
Setiap Ibu akan menyesal sudah memarahi putranya atau putrinya saat melihat sang buah hati tertidur lelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ribka Margaretha Soling
mati aja kau quen.itu karmamu
2021-10-20
1
Risma Rahmawati
jujur sampai seni masih belum memahami maaf kan aku author karena masih bingung dengan cerita nya, tapi tetap suka ko
2021-07-29
1
Adriana Bulan Juk Hat
Quenby egois
2021-07-25
0