Genap usia Rafa 11 tahun. Sudah dua minggu ia sekolah di Senior High School. Perawakannya yang tinggi, wajahnya yang rupawan, rambutnya gondrong, tidak satu pun murid di sekolah itu yang tahu kalau Rafa baru berusia 11 tahun.
Selain kecerdasannya, tapi wajahnya yang rupawan menjadikannya anak paling populer di sekolah itu, menyaingi Joy anak sang jutawan.
Anak perempuan di sekolah itu, termasuk Audrey, mencoba mendekati dan mencuri perhatian Rafa, yang di kenal dingin bak es antartika. Tidak sedikit anak perempuan yang iri melihat kedekatan Rafa dan Elena.
Elena sendiri masuk ke sekolah elit itu karena mendapatkan bea siswa, bukan dari kalangan orang kaya. Itu sebabnya tidak ada yang ingin berteman dengan Elena selain Rafa, pewaris tunggal kekayaan yang tak terhingga.
Anak perempuan yang berada di halaman sekolah berdecak kagum dan saling berbisik saat melihat Rafa keluar dari dalam mobil. Tas yang menggantung di pundaknya, earphone di kepala, jas sekolah yang menggantung di pundak kanan. Berjalan dengan santai dengan tatapan tajam ke arah anak perempuan.
Ada yang melempar senyum, melambaikan tangan atau sekedar menyapa menyebut namanya. Meski tidak ada tanggapan sama sekali, namun mereka selalu mengulangnya setiap berpas pasan dengan Rafa.
"Rafa!"
Rafa melirik ke arah sumber suara, nampak Audrey murid perempuan yang paling cantik dan seksi, melambaikan tangan menghampirinya. Namun Rafa tidak memperdulikannya, ia terus berjalan menuju kelasnya.
"Rafa tunggu!"
Audrey menarik tangan Rafa mundur ke belakang berhadapan dengannya.
"Pantas saja kau tidak dengar!" ucap Audrey menatap earphone.
Rafa hanya diam dengan tatapan tajam. Lalu ia melepas earphone di kepalanya.
"Apa?"
"Pulang sekolah, kau ada waktu tidak?" tanya Audrey tersenyum manis.
"Kenapa?" tanya Rafa balik.
"Antarkan aku ke toko buku mau tidak?" tanya Audrey ragu ragu.
"Pergi saja sendiri." Kata Rafa sambil berlalu dari hadapan Audrey.
"Rafa!" seru Audrey menghentakkan kaki kirinya, lalu berlari mengejar Rafa. "Dengar dulu!"
"Apalagi? apa kau tuli?" jawab Rafa dingin hingga menusuk hati Audrey.
"Rafa, kau-?" Audrey tidak melanjutkan ucapannya, raut wajahnya cemberut.
"Ada apa Audrey?" sapa Joy dari arah belakang. "Hey, jangan kau ganggu dia. Kau tahu, dia kekasihku!" bentak Joy lalu mendorong bahu Rafa hingga mundur ke belakang.
"Joy! kamu apa apan sih!" balas Audrey membela Rafa.
"Kau kenapa Audrey? jelas dia mengganggumu." Ungkap Joy asal menuduh. "Kau, Rafa! sekali lagi aku lihat kau dekati Audrey, huh!" Joy mengepalkan tangannya ke wajah Rafa.
Rafa hanya diam tanpa ekspresi, lalu ia berlalu dari hadapan mereka berdua.
"Rafa!" seru Audrey hendak mengejar Rafa, namun tangannya di tarik Joy.
"Ikut aku!"
"Lepaskan aku!" Audrey menepis tangan Joy lalu berlari mengejar Rafa.
"Rafa, awas kau ya!" ancam Joy dalam hati.
***
Bel berbunyi tanda jam sekolah telah selesai. Semua anak anak berhamburan keluar kelas, Rafa dan Elena masih di dalam kelas membereskan buku ke dalam tas.
"Rafa, aku lapar sekali. Tapi aku tidak punya uang, apa kau mau mentraktirku?" tanya Elena, melirik ke arah Rafa dan tersenyum lebar sembari menggaruk kepalanya.
"Boleh, kita makan di mana?" tanya Rafa balik.
"Terserah kau saja!" sahut Elena lalu berdiri di ikuti Rafa.
"Ayo kita makan di luar." Ajak Rafa lalu mereka berdua beranjak dari kursi.
Namun baru saja mereka melangkahkan kakinya. Nampak Joy dan kedua temannya menghampiri Rafa dan mencengkram kerah bajunya.
"Jangan coba coba merayu kekasihku, atau tamat riwayatmu Rafa!" ancam Joy lalu mendorong dada Rafa hingga mundur ke belakang dan menubruk tubuh Elena.
"Manusia bebal! kau pikir hebat?!" sindir Elena.
"Diam kau! lihat dirimu? anak miskin sekolah di sini hanya mengandalkan bantuan orang lain, jangan ikut campur atau kau menyesal!" ancamnya pada Elena.
"Kau pikir aku takut? kalau pun aku harus kelaur karena membela yang benar, aku nggak rugi!" balas Elena maju lalu menampar Joy cukup keras.
"Plakkk!!"
"Berani sekali kau menamparku!" Joy mengangkat tangannya hendak menampar balik wajah Elena.
"Grepp!!" Rafa mencengkram kuat tangan Joy. Meski Joy berusaha lepas dari cengkraman tangannya, semakin ia berusaha lepas semakin kuat cengkraman tangan Rafa dan menyakiti pergelangan tangannya.
"Berani kau menyakiti dia, mahal harganya kawan." Ucap Rafa setengah berbisik di telinga Joy.
"Lepas!" seru Joy.
Rafa melepaskan cengkraman tangannya, lalu tersenyum sinis menatap tajam Joy.
"Awas kau!" tunjuk Joy ke arah Rafa dan Elena. Lalu mereka bertiga berlalu dari hadapan Rafa dan Elena.
"Terima kasih, tapi tidak perlu kau membelaku, aku bisa sendiri menghadapi si Joy itu. Ayo kita cari makan, aku sudah lapar!" Elena menarik tangan Rafa keluar dari dalam kelas.
"Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu Joy, kau harus membayar mahal berani menyentuhku." Ucap Rafa dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
epifania rendo
rafa
2023-09-04
0
suli sulimah
rafa.. Quenby..livian.. heheh bingung sndri hehe
2021-08-16
0
Hermin Retno
kenapa dari dulu sampai sekarang queenby tdk pernah bisa jujur.... cobalah jujur dgn syami dan anakmu queen dan dekatilah rafa dari hati ke hati
2021-06-10
1