Sepanjang jalan menuju rumah, Rafa terus memikirkan kata kata Elena. Karena ia belum paham apa maksud gadis itu, Rafa akhirnya bertanya pada Acar.
"Paman, boleh aku bertanya?" tanya Rafa menoleh ke arah Acar.
"Silahkan Tuan!" sahut Acar.
"Cinta itu apa, paman?"
"Ehem!" Acar terbatuk mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Rafa.
Acar mengulum senyumnya sambil tetap fokus menatap ke jalan.
"Cinta itu seperti...seperti apa ya?" Acar tertawa kecil. "Gini Tuan, memang siapa yang bilang cinta?" tanya Acar balik karena ia bingung menjawabnya.
"Sahabatku, Elena. Dia bilang cinta padaku." Jawab Rafa tanpa beban.
Acar kembali tertawa kecil. "Oh, itu tandanya kalau Elena menyukai, mencintai Tuan muda seperti Nyonya sayangi Tuan muda. Mungkin begitu Tuan secara garis besarnya." Jelas Acar lalu ia tertawa karena ia sendiri sulit menterjemahkan arti cinta itu sendiri.
Rafa ikut tertawa melihat Acar tertawa. "Oh, jadi Elena itu seperti Momy.."
Acar semakin tertawa terbahak bahak mendengar penuturan Rafa. Ia menjadi bingung sendiri bagaimana harus menjelaskan. Di saat mereka tengah tertawa, tiba tiba saja Rafa meminta Acar menepikan mobilnya tepat di depan sebuah cafe.
"Tuan muda mau kemana? tanya Acar.
"Aku hendak membeli sesuatu, paman tunggu saja di sini." Jawab Rafa raut wajahnya berubah dingin.
"Baik Tuan!" sahut Acar, lalu ia menepikan mobilnya di tepi jalan raya, tepat di depan sebuah cafe.
Kemudian Rafa keluar dari pintu mobil, melangkahkan kakinya memasuki cafe tersebut. Matanya ia edarkan keseluruh ruangan cafe dan tertuju pada sosok yang ia kenal. Rafa tersenyum sinis ke arah Joy yang baru saja memesan kopi untuk teman temannya lalu berpamitan ke toilet. Rafa bergegas mengikuti Joy dari belakang menuju lorong cafe.
Joy berhenti di depan toilet lalu membuka pintu tersebut, saat ia hendak menutup pintunya kembali, ia terkejut melihat Rafa sudah berdiri di depannya.
"Rafa? mau apa kau kesini?" tanya Joy lalu ia menutup pintu namun Rafa mendorong pintu tersebut sekuat tenaga lalu ikut masuk ke dalam.
Joy mundur beberapa langkah menatap tajam ke arah Rafa yang menutup pintu toilet dan menguncinya.
"Apa maumu?" tanya Joy terus melangkah mundur. "Rafa stop!"
"Rafa? apa aku salah dengar? bukankah kau sebut aku si anak haram?" ucap Rafa dengan tatapan tajam. Tersungging senyum seringai melihat Joy ketakutan.
"Aku minta maaf, sekarang tinggalkan aku!" seru Joy semakin melangkah mundur.
"Maaf? kau bilang maaf?" balas Rafa terus berjalan mendekati Joy.
Joy terus mundur, untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain dari Rafa. Selama ini Joy berpikir kalau Rafa hanyalah anak biasa yang mudah ia buly seperti anak lainnya.
"Stop Rafa!" seru Joy dengan nada bergetar.
Namun Rafa mengabaikan semua ucapan Joy, semakin anak itu ketakutan. Semakin membuat hati Rafa senang, ia terus melangkah mendekati Joy.
Joy terus mundur hingga mepet ke arah wastafel. Tangannya meraba apa saja untuk mencari barang yang bisa di gunakan untuk memukul Rafa. Tangannya menyentuh kran wastafel dan menyalakannya. Air mengalir memenuhi wastafel tersebut hingga airnya terus mengalir ke bawah lantai.
Rafa semakin menikmati ketakutan Joy. Senyum seringai terlihat jelas di sudut bibir Rafa.
"Bukk!!"
Rafa melayangkan tinju ke wajah Joy hingga oleng ke samping. Tanpa memberikan kesempatan, Rafa menarik kerah baju Joy lalu mengangkat kepalanya ke atas wastafel.
"Rafa hentikan! aku minta maaf!" seru Joy berusaha menghentikan aksi Rafa.
Namun Rafa yang sudah di kuasai amarah, menekan kepala Joy kuat kuat di masukkan ke dalam wastafel yang penuh dengan air. Joy mulai gelagapan, lalu Rafa menariknya keluar sesaat dan kembali menekan kepala Joy ke dalam wastafel. Rafa terus mengulanginya hingga Joy tidak dapat bernapas lagi. Setelah puas ia lepaskan kepala Joy dan memberikannya kesempatan untuk bernapas.
"Kurang ajar!" pekik Joy balik badan hendak melayangkan tinju ke wajah Rafa. Namun sayang, lantai yang sudah basah oleh air dari wastafel membuat kaki Joy tergelincir dan terjatuh ke lantai kepalanya terantuk keramik dinding.
"Dukkk!!"
"Aaahkh! erang Joy memegang kepalanya yang berdarah, detik berikutnya ia tidak sadarkan diri.
Rafa tersenyum sinis, lalu ia beranjak pergi dari dalam toilet. Ia berjalan dengan santai keluar dari cafe tanpa ada beban bahkan tidak ada rasa takut apapun seolah olah tidak terjadi apa apa.
"Kita pulang paman!" perintah Rafa lalu duduk di kursi mobil.
"Baik Tuan!" sahut Acar lalu ia melajukan mobilnya tanpa ada rasa curiga apapun.
***
Sesampainya di halaman rumahnya, Rafa bergegas keluar dari dalam mobil, lalu melangkahkan kakinya. Namun langkahnya terhenti di depan teras saat melihat Anna, wali kelasnya tengah berbincang dengan Livian.
"Bu Anna?" sapa Rafa.
Anna dan Livian menoleh ke arah Rafa, lalu keduanya tersenyum dan suasana berubah menjadi kikuk.
"Rafa? aku pikir kau sudah ada di rumah. Makanya aku datang ke rumahmu. Dari mana saja? bukankah jam pelajaran usai sejak satu ham lalu?" kata Anna sambil melirik jam tangannya.
"Di mana Momy?" tanya Rafa menatap ke arah Livian.
"Ibumu belum pulang masih ada urusan, mungkin sebentar lagi pulang." Jelas Livian.
"Bu Anna ada apa datang ke rumahku?" tanya Rafa melirik ke arah Anna.
"Aku hanya ingin berbincang dengan kedua orang tuamu. Tapi sepertinya ibumu tidak ada di rumah." Jawab Anna.
"Rafa, sebaiknya kau masuk dan bersihkan dirimu. Jangan lupa kau makan siang." Perintah Livian.
Rafa menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam rumah menuju kamar pribadi. Tak lama kemudian, terlihat mobil milik Quenby memasuki halaman rumah.
"Bu Anna? kau di sini?" tanya Quenby lalu duduk di kursi.
"Nyonya, aku ingin berbicara dengan kalian mengenai Rafa." Jawab Anna menjelaskan kedatangannya.
"Rafa?"
Anna menganggukkan kepalanya, kemudian mereka terlibat perbincangan mengenai Rafa di sekolah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
suli sulimah
anna ngapaink rumh Quenby..
2021-08-17
0
novita setya
wiiiih syerem..
2021-06-30
1
Unyu Unyu 😍
kapok kapok lah si roy 🤣
2021-06-17
1