Entah sudah berapa lama Quenby duduk melamun di kursi balkon kamar, menatap langit yang gelap tanpa ada cahaya bintang. Berkali kali ia mendesah kecewa, menarik napas dalam dalam. Hingga suara langkah kaki membuyarkan lamunannya.
Quenby menoleh ke belakang dan terkejut melihat kedatangan Livian tanpa ada kabar terlebih dahulu.
"Kau sudah pulang?" sapa Quenby berdiri lalu tersenyum samar menatap ke arah Livian yang berdiri di hadapannya dengan membawa setangkai mawar merah yang di sodorkan ke arah Quenby.
"Apa ini?".tanya Quenby mengambil bunga mawar di tangan Livian lalu menghirup aroma bunga mawar dalam dalam.
"Sebagai permintaan maafku karena selama ini telah salah paham akan sikapmu," jawab Livian.
"Benarkah? jadi kau sudah tahu kalau aku sakit?" tanya Quenby berjalan lebih dekat.
"Kau lupa? kau pernah menceritakan sakitmu pada Ibu? dan aku tahu dari Ibumu." Ungkap Livian.
"Maaf, aku tidak berani jujur padamu." Kata Quenby menundukkan kepalanya.
Livian mengangkat dagu Quenby supaya menatap ke arahnya.
"Kau jangan putus asa, aku yakin kau bisa sembuh. Kalau Rafa saja bisa sembuh, kenapa kau tidak bisa?" Livian mencoba menyemangati Quenby.
"Tapi kata Dokter-?"
"Dokter bukan Tuhan, percayalah kau bisa sembuh." Kata Livian terdiam sejenak meski ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya, namun hanya itu yang bisa di lakukan supaya Quenby punya semangat lagi.
"Kemarilah!"
Livian menarik tangan Quenby lalu memeluknya dengan erat, membisikkan kata kata yang membuat Quenby tenang dan kembali menemukan semangat hidup.
"Aku akan melakukan yang terbaik agar kau sembuh, sahabatku di Amerika memiliki yayasan kanker, kau bisa berobat kesana di tangani tim medis terbaik. Dengan begitu kau bisa sembuh dan kita bisa hidup dengan tenang, meniliki anak anak untuk menemani Rafa." Jelas Livian panjang lebar.
"Kalau aku pergi ke sana, bagaimana dengan Rafa?" tanya Quenby.
"Aku akan mencari orang yang bisa menemani, merawat dan menyediakn kebutuhan Rafa selama kau tidak ada," jawab Livian.
"Apa kau juga ikut bersamaku?" tanya Quenby lalu melepas pelukan Livian dan kembali duduk di kursi.
"Aku tidak bisa menemanimu setiap hari, tapi aku pastikan seminggu sekali aku akan datang, kau tahu bukan? pekerjaanku juga banyak." Livian berjalan mendekati Quenby lalu duduk di kursi.
"Baiklah, tapi aku butuh waktu untuk berpikir, karena aku tidak mau meninggalkan Rafa" Kata Quenby.
"Akan kuberikan waktu, untukmu berpikir." Livian menggenggam erat tangan Quenby dan menciumnya sekilas. "Aku sangat mencintaimu, dan tidak ingin kehilanganmu. Kau juga harus memikirkan Rafa. Bagaimana kau bisa merawatnya sementara kau sakit."
"Baiklah, aku setuju!" sahut Quenby lalu memeluk erat Livian.
"Aku lapar, bagaimana kalau kita makan di luar? tawar Livian. "Kita ajak Rafa, sudah lama kita tidak makan bersama"
"Rafa pasti senang, kebetulan dia belum tidur."
Quenby berdiri, lalu di ikuti Livian. Mereka berjalan bersama menuju kamar Rafa. Sesampainya di depan pintu, Quenby mengetuk pintu lalu membuka pintu lebar lebar.
"Apa aku mengganggumu? sapa Quenby lalu berjalan bersama mendekati Rafa yang tengah duduk di depan layar monitor.
"Tidak Mom, aku belum tidur. Ayah, kau sudah kembali?" tanya Rafa pada Livian.
"Sudah Rafa, aku mau ajak kau makan malm bersama kami, apa kau bersedia?" tanya Livian.
"Tidak Ayah, aku punya tugas sekolah. Kalian pergi saja berdua. Bukankah ayah sudah lama tidak membahagiakan momy?"
"Deg!"
Livian menoleh ke arah Quenby sesaat, lalu tersenyum ke arah Rafa.
"Maaf, aku sedang banyak pekerjaan. Bukan maksudku mengabaikan momy."
"Ayah, kau tidak perlu menjelaskan apa apa padaku. Aku cukup membaca isyarat tubuhmu saja. Pergilah, momy pasti bahagia bisa makan bersama lagi." Kata Rafa.
"Baiklah sayang, kalau kau tidak mau. Kami pergi dulu, apa kau mau sesuatu? tanya Livian.
"Terserah ayah, apapun yang kalian beri akan aku makan!" sahut Rafa tersenyum.
"Oke!"
Livian membungkukkan badan menciym puncak kepala Rafa bergantian dengan Quenby, lalu mereka berdua berjalan bersama meninggalkan kamar Rafa.
"Aku hanya ingin kau bahagia Mom.." ucap Rafa dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
suli sulimah
hti2 livian slah lngkah rafa psti brtindk.. smga livian setiap sm Quenby
2021-08-17
0
Rose Mustika Rini
kenapa rafa g terlalu suka ya sama ayah sambungnya...padahal baik aja ko sama rafa
2021-08-02
0
Anfit Annisa Fitri Tangka
Thor aq gak suka di bab ini, ada bawang yg tersembunyi yg kmu kasih di sini thor 😢
2021-07-30
1