Sekolah mulai sepi, hanya terlihat mobil polisi yang masih ada di sekitar sekolah. Semua murid sudah kembali pulang ke rumahnya masing masing.
Tinggal Rafa sendirian menunggu Quenby menjemputnya. Berkali kali ia melirik jam tangannya, mencoba untuk lebih sabar dan memahami kalau Ibunya sibuk.
"Rafa.."
Rafa menoleh ke arah sumber suara, ia tersenyum melihat Avram sudah berdiri di belakangnya.
"Dad!" Rafa berlari lalu memeluk tubuh Avram dengan erat.
"Apakah Mom belum menjemputmu?" tanya Avram.
Rafa menggelengkan kepalanya, "mungkin Momy sibuk."
"Ya sudah, biar kuantar kau pulang." Avram menghela napas dalam dalam.
"Hem!"
Rafa dan Avram menoleh ke arah suara, Avram menganggukkan kepalanya.
"Bu Anna!" sapa Rafa.
"Kau belum pulang sayang?" tanya Anna lalu ia alihkan pandangannya pada Avram. "Anda siapanya Rafa?"
"Aku, ayahnya. Avram!" Avram mengulurkan tangannya.
"Ayah? bukankah ayah Rafa yang kemarin datang bersama istrinya?" ucap Anna dalam hati seraya mengulurkan tangannya.
"Anna, aku wali kelas Rafa." Anna memperkenalkan diri.
"Apakah Rafa nakal Bu?" tanya Avram.
"Oh tidak, Rafa anak yang baik dan cerdas." Jawab Anna.
"Baik Bu, saya ucapakan terima kasih!" Avram membungkukkan badannya.
"Tuan Avram, jika anda tidak keberatan. Bisakah kita bicara di kantor ku, besok siang?" tanya Anna.
"Tentu Bu, bisa!" sahut Avram.
"Terima kasih, oya Rafa. Sebaiknya kau pulang sayang bersama ayahmu. Atau, mau ibu antarkan pulang?" tawar Anna.
"Tidak perlu Bu, biar aku pulang bersama Dad!" jawab Rafa.
"Baiklah Rafa, hati hati di jalan sampai ketemu besok." Anna tersenyum menatap wajah polos Rafa.
"Mari Bu!" Avram membungkukkan badannya, lalu melangkahkan kaki. Baru saja dua langkah, nampak mobil milik Quenby menepi lalu ia keluar dari dalam mobil.
Tatapannya tertuju pada Anna lalu beralih menatap Avram.
"Avram dan guru itu? sedang apa mereka?" ucap Quenby dalam hati. "Rafa sayang, ayo kita pulang!"
Rafa menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam mobil. Quenby menoleh lagi ke arah Avram dan Anna, lalu ia masuk ke dalam mobil.
"Rafa, aku minta maaf terlambat menjemputmu. Aku ada urusan mendadak." Quenby menjelaskan.
"Tidak apa apa Mom!" sahut Rafa, lalu tengadahkan wajahnya menatap Quenby.
"Momy menangis?" tanya Rafa.
"Tidak sayang, kenapa harus menangis?" jelas Quenby lagi. Namun Rafa tidak dapat di bohongi, nampak jelas mata Quenby sembab. Namun Rafa enggan bertanya lagi, ia memilih diam memperhatikan jalan raya.
***
Malam ini Quenby duduk termenung sendiri di kamarnya. Sementara Livian sejak tadi siang berangkat ke luar kota karena ada urusan pekerjaan. Masih terngiang apa yang di katakan Dokter tadi siang, rupanya Quenby menemui Dokter untuk memeriksakan dirinya yang sering mengeluhkan sakit di perutnya dalam beberapa hari ini, itulah sebabnya ia terlambat menjemput Rafa.
"Anda terkena kanker rahim stadium 3 Nyonya"
"Ya Tuhan.." ucap Quenby pelan. "Bagaimana dengan Rafa, dia masih membutuhkanku.."
Sejak Quenby sering mengeluhkan sakit di perut dan lain lainnya, Livian tak pernah menyentuh Quenby lagi. Karena setiap Livian mengajaknya berhubungan, Quenby selalu menolak dengan berbagai alasan.
Livian seringkali menuduh Quenby masih mengharapkan Avram karena penolakan itu, sementara Quenby sendiri belum siap mengatakan yang sejujurnya kepada Livian.
Bukan tanpa alasan Quenby menolak menikah dengan Avram dan memilih Livian. Antara cinta dan benci sama besarnya terhadap Avram, pria yang telah menodainya dan kini Quenby harus mendapatkan resiko akibat dulu ia mengkonsumsi obat obatan supaya menggugurkan kandungannya, bahkan segala cara ia coba namun sang janin tetap tumbuh di perutnya.
"Mengapa harus aku yang menanggung ini semua, kenapa harus putraku yang menjadi korban. Bukan aku tak tahu apa yang terjadi dengan putraku. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini." Gumam Quenby, matanya berkaca kaca.
I learned to lough, I learned to cry,
Will i learn to say good bye?
Alunan musik instrumental Kiss the rain terdengar menyedihkan, terasa sunyi dan menyakitkan yang di iringi alunan suara Rafa.
I learned to lough, I learned to cry,
Will I learn to say good bye?
Quenby mengusap matanya, lalu berdiri melangkahkan kakinya keluar kamar, menatap kebawah lantai. Memperhatikan Rafa bermain piano.
Quenby tersenyum samar, lalu turun ke lantai dasar menghampiri Rafa dan duduk di sampingnya. Menghayati setiap alunan nada yang Rafa mainkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Aufa Aqli,.😍
kunci masalahnya emng dri Queenby semua
2021-09-15
0
Indrajaya Harefa
lnjut tidak
2021-08-30
0
suli sulimah
Knpa Quenby gk prnh jujur. yng akhirny mnjdi mslah dn slah pham.. psti nnti livian selingkuh..
2021-08-16
0