Waktu terus berlalu, malam telah berganti pagi. Perlahan Rafa membuka matanya, menoleh ke arah Quenby yang masih tertidur pulas. Ia tersenyum, tangannya terulur mengusap lembut pipi Quenby lalu ia turun dari atas tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi.
Tiga puluh menit berlalu, Rafa telah selesai membersihkan diri dan sudah berpakain rapi. Tas yang menggantung di pundaknya, rambutnya yang gondrong ia biarkan tidak tertata rapi. Kemudian mendekati Quenby dan mencium pipinya sekilas.
"Mom, aku berangkat sekolah dulu."
Rafa kembali berdiri tegap lalu melangkahkan kakinya keluar kamar menuju halaman rumah dan meminta Acar sang sopir untuk mengantarkannya ke sekolah.
Sepeninggal Rafa. Quenby terbangun dan mencari keberadaan putranya. Namun Rafa sudah tidak ada di kamar, lalu Quenby bergegas keluar kamar menemui asisten rumah tangga yang berada di ruang makan tengah menpersiapkan sarapan untuk semuanya.
"Mei Cin apa kau melihat Rafa?" tanya Quenby lalu duduk di kursi.
"Tuan Muda sudah berangkat ke sekolah, tapi Tuan tidak sarapan dulu, Nyonya." Jawab Mei Cin.
"Ya sudah, aku mau ke kamar dulu."
Baru saja Quenby bangun dari duduknya, ia melihat Livian masuk ke dalam ruangan lalu duduk di kursi. Quenby kembali duduk di kursinya menatap tajam ke arah Livian.
"Kau tidur di mana? jam segini baru pulang?" tanya Quenby.
"Aku tidur di rumah Ibuku." Sahut Livian melirik sesaat ke arah Quenby. "Bagaimana dengan usulku? Jadi bukan? berobat ke Luar Negeri?"
Quenby menarik napas dalam dalam, lalu ia hembuskan perlahan.
"Keputusanku sudah bulat, aku tetap berobat di sini. Hidup dan matiku, aku tidak akan meninggalkan Rafa. Apa kau keberatan?" tanya Quenby.
"Bukan masalah keberatan, aku juga menginginkan seorang anak. Adikku Shiba , istrinya tengah mengandung. Lalu bagaimana dengan aku? sementara Ibuku menginginkan cucu dariku juga." Sahut Livian lalu ia berdiri dan berlalu dari hadapan Quenby begitu saja.
Quenby hanya bisa diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Semua ucapan Livian terasa menyakitkan untuk di ucapkan. Di mana sosok Livian dulu? mengapa dia berubah dingin?
***
Sementara siang itu di sekolah, Rafa, Elena, Joy dan Albert begitu juga Avram. Sudah berkumpul di halaman sekolah. Albert memilih gedung yang tak terpakai di samping sekolah untuk di jadikan pertandingan antara Rafa dan salah satu pria ahli dalam menembak.
Semua murid di larang melihat acara itu, kecuali kepala sekolah yang di jadikan saksi pertandingan tersebut. Kemudian mereka bersama sama melangkahkan kaki menuju gedung tersebut.
Sesampainya di gedung itu, nampak seorang pria kekar dengan senjata api di tangannya, matanya di tutup sebuah kain putih.
Kemudian Albert meminta kepala sekolah dan Avram untuk di jadikan alat menyimpan buah apel di kepalanya. Tentu saja ide Albert di luar kesepakatan awal, dan membuat Avram marah.
"Apa kau sudah gila? putraku masih kecil. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal yang sudah biasa atlet itu lakukan!" bentak Avram mencengkram kerah baju Albert.
"Apa kau takut mati? ayolah jangan jadi pecundang!" cemooh Albert.
"Aku tetap tidak setuju!" cegah Avram karena ia khawatir putranya tidak bisa melakukannya.
"Dad!" Rafa menarik tangan Avram, lalu menganggukkan kepalanya. "Percaya padaku."
Avram terdiam menatap ke arah Rafa, ia mencoba untuk percaya pada putranya meski sebenarnya ia ragu. Karena selama ini, Avram tidak mengajari cara menembak seperti itu.
Tak lama pertandingan di mulai, pria yang memegang senjata api sudah bersiap melesatkan peluru menembak buah apel yang ada di atas kepala, Ku Cay.
Semua yang ada di dalam ruangan tidak merasa ragu saat pria tersebut melesatkan pelurunya.
"Dor!!"
Peluru melesat tepat menuju sasaran, buah apel yang ada di kepala Ku Cay jatuh ke bawah dan mengelinding. Kemudian Albert meminta Avram berdiri menggantikan posisi Ku Cay. Sebuah apel di letakkan di atas kepala Avram, lalu Albert menutup mata Rafa dengan kain putih, lalu ia berikan senjata api milik pria tadi kepada Rafa.
Semua orang yang ada di dalam ruangan, baik yang ada di luar ruangan yang menyaksikan pertandingan itu, menahan napas saat Rafa mulai mengangkat senjata apinya. Avram menutup mata dan siap dengan segala konsekwensinya seandainya Rafa gagal. Begitu juga Elena, berkali kali ia menggosokkan telapak tangannya karena berkeringat. Menahan napas memperhatikan Rafa dan terus berdoa di dalam hatinya.
Semua orang menahan napas saat tangan Rafa mulai menarik pelatuk. Rafa mulai menajamkan instuisinya, menajamkan pendengarannya.
"Klik!"Bersamaan dengan sebuah peluru melesat.
"Dor!!"
"Tring!" suara peluru terjatuh ke lantai di belakang Avram. Semua orang menatap tajam ke arah buah apel yang tertembus peluru tanpa menjatuhkan apel itu ke lantai seperti yang di lakukan pria tadi.
Semua orang yang ada di dalam atau di luar ruangan bersorak, saat Rafa berhasil melakukannya. Terdengar riuh tepuk tangan yang di berikan untum Rafa.
Avram mengambil apel di kepalanya, lalu berlari ke arah Rafa dan memeluknya erat. "Kau berhasil!" seru Avram bangga.
Albert dan atlet itu menatap tak percaya, anak seusia Rafa mampu melakukan hal yang tak pernah anak seusia Rafa lakukan.
"Jangan senang dulu, masih ada dua pertandingan lagi!" seru Albert lalu menarik tangan Joy meninggalkan gedung tersebut di ikuti pria tadi dan kepala sekolah.
"Rafa, kau belajar dari mana sayang?" tanya Avram ada rasa bangga bercampur khawatir dan ngeri.
Rafa hanya diam, lalu tersenyum. "Dad, aku lapar. Bolehkah aku makan sekarang?"
"Ayo, biar aku traktir kalian!" seru Avram lalu mereka berjalan bersama keluar dari gedung. Sepanjang langkah, Avram tidak berhenti memikirkan Rafa dan kemampuan yang menurut Avram sangat mengerikan di usia Rafa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Lusiana_Oct13
Albert tak ada orak kenapa gk ank ny aja yg di tanding kenapa mesti yg dah ahli untung rafa jago
2021-09-20
0
Dwi Rahayu
bumbu dapur lengkap semua ada di novel ini
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2021-08-23
0
Susan Lantong
tak di ragukan lagi dong ded,, rafa tdk beljar dri siapapun jelas aja ded n momy nya jago soal menembak,, 🤣🤣apa ded blm sadar bhwa ded n momy sering melakukan penembakan krn bnyk saingan🤦♀️🤦♀️dri situlah rafa belajar secara kan momy n ded mantan mafia😅😅😅luci bnget sih
2021-07-30
1