Pertandingan 1

Waktu terus berlalu, malam telah berganti pagi. Perlahan Rafa membuka matanya, menoleh ke arah Quenby yang masih tertidur pulas. Ia tersenyum, tangannya terulur mengusap lembut pipi Quenby lalu ia turun dari atas tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi.

Tiga puluh menit berlalu, Rafa telah selesai membersihkan diri dan sudah berpakain rapi. Tas yang menggantung di pundaknya, rambutnya yang gondrong ia biarkan tidak tertata rapi. Kemudian mendekati Quenby dan mencium pipinya sekilas.

"Mom, aku berangkat sekolah dulu."

Rafa kembali berdiri tegap lalu melangkahkan kakinya keluar kamar menuju halaman rumah dan meminta Acar sang sopir untuk mengantarkannya ke sekolah.

Sepeninggal Rafa. Quenby terbangun dan mencari keberadaan putranya. Namun Rafa sudah tidak ada di kamar, lalu Quenby bergegas keluar kamar menemui asisten rumah tangga yang berada di ruang makan tengah menpersiapkan sarapan untuk semuanya.

"Mei Cin apa kau melihat Rafa?" tanya Quenby lalu duduk di kursi.

"Tuan Muda sudah berangkat ke sekolah, tapi Tuan tidak sarapan dulu, Nyonya." Jawab Mei Cin.

"Ya sudah, aku mau ke kamar dulu."

Baru saja Quenby bangun dari duduknya, ia melihat Livian masuk ke dalam ruangan lalu duduk di kursi. Quenby kembali duduk di kursinya menatap tajam ke arah Livian.

"Kau tidur di mana? jam segini baru pulang?" tanya Quenby.

"Aku tidur di rumah Ibuku." Sahut Livian melirik sesaat ke arah Quenby. "Bagaimana dengan usulku? Jadi bukan? berobat ke Luar Negeri?"

Quenby menarik napas dalam dalam, lalu ia hembuskan perlahan.

"Keputusanku sudah bulat, aku tetap berobat di sini. Hidup dan matiku, aku tidak akan meninggalkan Rafa. Apa kau keberatan?" tanya Quenby.

"Bukan masalah keberatan, aku juga menginginkan seorang anak. Adikku Shiba , istrinya tengah mengandung. Lalu bagaimana dengan aku? sementara Ibuku menginginkan cucu dariku juga." Sahut Livian lalu ia berdiri dan berlalu dari hadapan Quenby begitu saja.

Quenby hanya bisa diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Semua ucapan Livian terasa menyakitkan untuk di ucapkan. Di mana sosok Livian dulu? mengapa dia berubah dingin?

***

Sementara siang itu di sekolah, Rafa, Elena, Joy dan Albert begitu juga Avram. Sudah berkumpul di halaman sekolah. Albert memilih gedung yang tak terpakai di samping sekolah untuk di jadikan pertandingan antara Rafa dan salah satu pria ahli dalam menembak.

Semua murid di larang melihat acara itu, kecuali kepala sekolah yang di jadikan saksi pertandingan tersebut. Kemudian mereka bersama sama melangkahkan kaki menuju gedung tersebut.

Sesampainya di gedung itu, nampak seorang pria kekar dengan senjata api di tangannya, matanya di tutup sebuah kain putih.

Kemudian Albert meminta kepala sekolah dan Avram untuk di jadikan alat menyimpan buah apel di kepalanya. Tentu saja ide Albert di luar kesepakatan awal, dan membuat Avram marah.

"Apa kau sudah gila? putraku masih kecil. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal yang sudah biasa atlet itu lakukan!" bentak Avram mencengkram kerah baju Albert.

"Apa kau takut mati? ayolah jangan jadi pecundang!" cemooh Albert.

"Aku tetap tidak setuju!" cegah Avram karena ia khawatir putranya tidak bisa melakukannya.

"Dad!" Rafa menarik tangan Avram, lalu menganggukkan kepalanya. "Percaya padaku."

Avram terdiam menatap ke arah Rafa, ia mencoba untuk percaya pada putranya meski sebenarnya ia ragu. Karena selama ini, Avram tidak mengajari cara menembak seperti itu.

Tak lama pertandingan di mulai, pria yang memegang senjata api sudah bersiap melesatkan peluru menembak buah apel yang ada di atas kepala, Ku Cay.

Semua yang ada di dalam ruangan tidak merasa ragu saat pria tersebut melesatkan pelurunya.

"Dor!!"

Peluru melesat tepat menuju sasaran, buah apel yang ada di kepala Ku Cay jatuh ke bawah dan mengelinding. Kemudian Albert meminta Avram berdiri menggantikan posisi Ku Cay. Sebuah apel di letakkan di atas kepala Avram, lalu Albert menutup mata Rafa dengan kain putih, lalu ia berikan senjata api milik pria tadi kepada Rafa.

Semua orang yang ada di dalam ruangan, baik yang ada di luar ruangan yang menyaksikan pertandingan itu, menahan napas saat Rafa mulai mengangkat senjata apinya. Avram menutup mata dan siap dengan segala konsekwensinya seandainya Rafa gagal. Begitu juga Elena, berkali kali ia menggosokkan telapak tangannya karena berkeringat. Menahan napas memperhatikan Rafa dan terus berdoa di dalam hatinya.

Semua orang menahan napas saat tangan Rafa mulai menarik pelatuk. Rafa mulai menajamkan instuisinya, menajamkan pendengarannya.

"Klik!"Bersamaan dengan sebuah peluru melesat.

"Dor!!"

"Tring!" suara peluru terjatuh ke lantai di belakang Avram. Semua orang menatap tajam ke arah buah apel yang tertembus peluru tanpa menjatuhkan apel itu ke lantai seperti yang di lakukan pria tadi.

Semua orang yang ada di dalam atau di luar ruangan bersorak, saat Rafa berhasil melakukannya. Terdengar riuh tepuk tangan yang di berikan untum Rafa.

Avram mengambil apel di kepalanya, lalu berlari ke arah Rafa dan memeluknya erat. "Kau berhasil!" seru Avram bangga.

Albert dan atlet itu menatap tak percaya, anak seusia Rafa mampu melakukan hal yang tak pernah anak seusia Rafa lakukan.

"Jangan senang dulu, masih ada dua pertandingan lagi!" seru Albert lalu menarik tangan Joy meninggalkan gedung tersebut di ikuti pria tadi dan kepala sekolah.

"Rafa, kau belajar dari mana sayang?" tanya Avram ada rasa bangga bercampur khawatir dan ngeri.

Rafa hanya diam, lalu tersenyum. "Dad, aku lapar. Bolehkah aku makan sekarang?"

"Ayo, biar aku traktir kalian!" seru Avram lalu mereka berjalan bersama keluar dari gedung. Sepanjang langkah, Avram tidak berhenti memikirkan Rafa dan kemampuan yang menurut Avram sangat mengerikan di usia Rafa

Terpopuler

Comments

Lusiana_Oct13

Lusiana_Oct13

Albert tak ada orak kenapa gk ank ny aja yg di tanding kenapa mesti yg dah ahli untung rafa jago

2021-09-20

0

Dwi Rahayu

Dwi Rahayu

bumbu dapur lengkap semua ada di novel ini
🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2021-08-23

0

Susan Lantong

Susan Lantong

tak di ragukan lagi dong ded,, rafa tdk beljar dri siapapun jelas aja ded n momy nya jago soal menembak,, 🤣🤣apa ded blm sadar bhwa ded n momy sering melakukan penembakan krn bnyk saingan🤦‍♀️🤦‍♀️dri situlah rafa belajar secara kan momy n ded mantan mafia😅😅😅luci bnget sih

2021-07-30

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Pulang
3 Di rumah
4 Senior High School
5 Buly
6 Buly 2
7 Cinta dan Benci
8 Si jenius
9 Sahabat
10 Ancaman.
11 Rencana
12 Makan malam.
13 Bayangan
14 Tantangan
15 Tantangan 2
16 Cemburu
17 Cemburu 2
18 Pertandingan 1
19 Nyatakan cinta
20 Pembalasan
21 Kabar duka
22 Jalan Jalan.
23 Senja
24 Kekaguman
25 Amarah
26 Penolakan
27 Terbongkar
28 Sandiwara
29 Makan malam
30 Pengakuan Avram
31 Pindah rumah
32 Ulang tahun.
33 Ego
34 Isyarat tubuh
35 Keguguran
36 Resmi bercerai
37 Cinta
38 Lamaran
39 Bukti.
40 2 keinginan terakhir
41 Lulus
42 Salam perkenalan.
43 Negosiasi
44 Oh Ayah.
45 Fakta mengejutkan.
46 Mr J?
47 Komedi?
48 Pesta orang bodoh
49 pesta orang bodoh 2
50 Vonis pengadilan
51 Detik detik eksekusi.
52 Psikopat
53 Sosok di masa lalu.
54 Cemburu
55 Terungkap
56 Pilihan Quenby.
57 Ayah dan Mataku
58 Terbiasa dengan luka
59 Jebakan
60 Di rumah sakit
61 Pulang
62 Kehangatan
63 Rindu
64 Usul Avram.
65 Merayu
66 Kue gosong
67 Bebas dari hukuman
68 Kecelakaan
69 Karma
70 Pov Livian Rey She Blak
71 Keinginan Elena
72 Memutuskan menikah
73 Kebohongan Elena
74 Balas dendam
75 Awal pertemuan
76 Bertemu lagi
77 Play game with me!
78 Segalanya telah hilang.
79 Happy Birthday Mom
80 Pembalasan 1
81 Pembalasan 2
82 Amnesia?
83 The Rest Of My Mom
84 Lost yourself
85 Rumah masa lalu
86 Enzi Alexi Ortama
87 Mengakhiri segalanya
88 Happy birthday Rava
89 POV AVRAM-ELENA
90 Kabar baik
91 Masih hidupkah?
92 Berjanjilah
93 Pengumuman
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Prolog
2
Pulang
3
Di rumah
4
Senior High School
5
Buly
6
Buly 2
7
Cinta dan Benci
8
Si jenius
9
Sahabat
10
Ancaman.
11
Rencana
12
Makan malam.
13
Bayangan
14
Tantangan
15
Tantangan 2
16
Cemburu
17
Cemburu 2
18
Pertandingan 1
19
Nyatakan cinta
20
Pembalasan
21
Kabar duka
22
Jalan Jalan.
23
Senja
24
Kekaguman
25
Amarah
26
Penolakan
27
Terbongkar
28
Sandiwara
29
Makan malam
30
Pengakuan Avram
31
Pindah rumah
32
Ulang tahun.
33
Ego
34
Isyarat tubuh
35
Keguguran
36
Resmi bercerai
37
Cinta
38
Lamaran
39
Bukti.
40
2 keinginan terakhir
41
Lulus
42
Salam perkenalan.
43
Negosiasi
44
Oh Ayah.
45
Fakta mengejutkan.
46
Mr J?
47
Komedi?
48
Pesta orang bodoh
49
pesta orang bodoh 2
50
Vonis pengadilan
51
Detik detik eksekusi.
52
Psikopat
53
Sosok di masa lalu.
54
Cemburu
55
Terungkap
56
Pilihan Quenby.
57
Ayah dan Mataku
58
Terbiasa dengan luka
59
Jebakan
60
Di rumah sakit
61
Pulang
62
Kehangatan
63
Rindu
64
Usul Avram.
65
Merayu
66
Kue gosong
67
Bebas dari hukuman
68
Kecelakaan
69
Karma
70
Pov Livian Rey She Blak
71
Keinginan Elena
72
Memutuskan menikah
73
Kebohongan Elena
74
Balas dendam
75
Awal pertemuan
76
Bertemu lagi
77
Play game with me!
78
Segalanya telah hilang.
79
Happy Birthday Mom
80
Pembalasan 1
81
Pembalasan 2
82
Amnesia?
83
The Rest Of My Mom
84
Lost yourself
85
Rumah masa lalu
86
Enzi Alexi Ortama
87
Mengakhiri segalanya
88
Happy birthday Rava
89
POV AVRAM-ELENA
90
Kabar baik
91
Masih hidupkah?
92
Berjanjilah
93
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!