Malam semakin larut, udara di luar terasa sangat dingin. Angin berhembus sepoi sepoi menusuk sampai ke tulang. Rafa terbangun dari tidur lelapnya karena merasakan dingin.
"Ya Tuhan, aku lupa menutup pintu balkon," ucap Rafa lalu turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya ke arah pintu.
Namun saat ia hendak menutup pintu, matanya tertuju pada sosok Livian yang berdiri di taman rumah. Rafa bergegas keluar dari kamarnya menuju taman di mana Livian berada.
Rafa berjalan mengendap lalu sembunyi di bawah bangku taman memperhatikan Livian yang berdiri seperti orang yang gelisah.
Tak lama kemudian dari balik kegelapan muncul sosok menggunakan mantel hitam dan penutup kepala. Rafa tak dapat mengenali sosok itu, tetapi Rafa bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Lima belas menit berlalu, perbincangan antara Livian dan sosok tak di kenal itu berakhir. Rafa bergegas kembali masuk ke dalam rumah sebelum Livian mengetahuinya, lalu ia duduk di kursi balkon kamarnya menatap ke arah Livian dan sosok itu kembali menghilang di antara gelapnya malam dan Livian kembali masuk ke dalam rumah.
"Hmm.." Rafa menarik napas dalam dalam, seketika hatinya merasakan sakit, kesedihan yang mendalam menyeruak di dalam dadanya.
Perlahan air matanya jatuh membasahi pipinya, ia terisak dalam diam. Ia tidak mengerti mengapa bisa sesakit itu hatinya. Kedua kakinya ia hentakkan ke lantai berkali kali untuk mengeluarkan rasa kesal dalam hatinya. Ia pukul kursi berkali kali untuk meredam kesedihan yang sama sekali ia belum pahami.
"Tuhan, kenapa kau biarkan aku hidup kalau harus menanggung ini semua. Aku mau mati saja, Tuhan!" Jeritnya pelan.
Ia biarkan air matanya terus mengalir, setiap butiran air mata yang jatuh terasa menyakitkan dan membuat dadanya sesak. Hingga ia kelelahan dan berhenti menangis.
Rafa mulai tenang, tersungging senyum seringai di sudut bibirnya. Entah mengapa yang ia rasakan saat ini. Rafa begitu menikmati rasa sakit di dalam hatinya. Ia menikmati setiap tetes air mata, kesendirian dan kesunyian.
Rafa tidak lagi mencari kebahagiaannya, tapi ia sangat bahagia dan menikmati ketika ia tersakiti atau melihat orang lain tersakiti adalah bagian dari kenikmatan yang hanya dirinya sendiri yang mengerti.
Waktu terus berputar, menit berganti jam. Malam berganti pagi, Rafa masih duduk termenung di kursi menyaksikan semburat orange di ufuk timur. Ia tak mampu lagi menikmati keindahan di pagi hari, aneka warna bunga dan kicauan burung. Yang ada dalam hatinya kini, menikmati setiap kesakitan dan kesunyian. Matanya sembab, jejak air mata masih tersisa di bulu matanya yang lebat.
"Rafa.."
Rafa menoleh ke belakang dan tersenyum ke arah Quenby.
"Momy.." sapanya.
"Kau sudah bangun sepagi ini? atau kau belum tidur sama sekali?" tanya Quenby lalu duduk di samping putranya.
"Aku tidak bisa tidur Mom.." jawab Rafa menyandarkan kepalanya di dada Quenby.
"Kenapa? apa kau memikirkanku?" tanya Quenby mengusap kepala Rafa. "Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sayang, hidup dan matiku akan tetap ada di sampingmu. Aku tidak akan pergi jauh.."
"Tapi Momy harus sembuh.." sahut Rafa tengadahkan wajah menatap Quenby.
"Kau tahu dari mana kalau aku sakit?" tanya Quenby.
"Maaf Mom, semalam aku tidak sengaja mendengar perbincangan Momy dan Ayah Livian. Hukum jika aku bersalah mom."
"Tidak sayang, kau tidak bersalah. Mungkin sudah saatnya aku jujur." Timpal Quenby.
Kemudian Quenby menceritakan penyakitnya, apa sebabnya hingga ia terkena penyakit itu. Meski ia harus jujur mengakui kalau dulu kehadiran Rafa sangat tidak di inginkan mengingat usianya yang masih di bawah umut. Tak terasa Quenby menceritakan tanpa ada yang harus ia tutupi lagi dari Rafa. Ada rasa nyaman dan lega saat ia bercerita pada putranya dan di akhiri dengan berpuluh puluh kata maaf terucap dari bibir Quenby.
"Maafkan aku..mungkin aku bukan ibu yang baik. Tapi berikan aku kesempatan kedua untuk merawat dan menjagamu selama aku masih bisa bernapas. Memberikan kasih sayang yang selama ini tidak kau dapatkan." Ungkap Quenby panjang lebar.
Rafa tersenyum, kembali ia benamkan wajahnya di dada Quenby. Entah terlambat atau tidak, begitu banyak peristiwa yang telah membentuk karakter Rafa memiliki kepribadian ganda. Namun dari lubuk hati yang paling dalam, dan hanya Rafa yang tahu. Tersimpan banyak cahaya, cinta kasih yang tulus. Siap Rafa berikan untuk orang yang ia sayangi segenap jiwa dan raganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Nenny
msvvvsssvsvvsvsav vvbvvv vs vsvvvvvvvvvvv mavsvsscssssassvssmvsmvvv sbb vvssvssvsvsassssvvvvvvvvvkaksvvvvvvvvvbvbvvvvvmav sbb vv sbb vv Alvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvksvvvvvvksv DD vvksv sbb Alvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvv vvvvvv vv sbb sbb avvv sbb vv vvvksvv vv sbb sbb v sbbvv vvvvvv vvvv vvvvvv vvvvvv vvvvvvvvvssskavsvss avvv vvvvvlv sbb vavv vv vv sbb vvvvvvvvvvs sbbvv vvvvvv v sbbvv vs Al vv sbb avvvvvvvvvvksv avvv vvvvvvvvvvv sbbvv vvvvvv vvvvvv sbb vv vvvvvvv sbb vvvvvv sbb vvvvvv sbbvv vvvvvv vvv vvvv vvvvvv vvv sbb vv sbbvvvvvv AA vvv sbb vvv sbbvv vvvv vv vv sbbvvvvvv vv avvv vvvvsv sbbvv vvvvvv vv sbbvv vv sbbvv vvv vvvvvv avvv v sbbvv vv vv v sbbvv vvvv SSB avvv vsv sbbvv v sbbvv vvvv v sbbvv vvvvvvv sbb v sbbvv avvv v sbbvv v sbbvv v sbbvvvv vvvvvvvvvv avvv vvvvvvvvvvv vvvv sbbvv vv sbbvv avvv vv sbb vvv vv avvv avvv vvv avvv vvvvv vvvvvv v sbbvv avvv vvvvvv vvv vv v sbb v sbbvv vvvvvv vvvvvvvvvv vvvvvv BB vvv Al vvvvvvvvvvvvvvv sbb vavvvv sbb vv vvvvvv Alvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvv sbb vvv Al vvvvvvvvvvksvbvv vs v sbb vvvvvv CV vksvvyvsvvvmsvvvvvvvssssvvss vvvvvvvvm
2022-01-19
0
Indrajaya Harefa
sedihnya
2021-08-31
0
Ayyara kim
jd penasaran apa yg diomongin Livian ma org misterius itu 🤔🤔🤔
2021-08-30
0