Hari mulai senja, di ufuk barat terlihat semburat oranye memberikan warna yang indah. Avram dan Rafa masih duduk di taman kota sejak siang tadi. Mereka habiskan waktu setelah pertandingan basket melawan Joy.
Rafa masih enggan pulang, ia masih ingin berada di samping Avram. Bercanda dan bercengkrama menghabiskan waktu bersama ayah tercinta.
"Lihat Dad!" tunjuk Rafa ke arah seekor induk kucing yang tengah menyusui anak anaknya di atas rumput.
Avram mengalihkan pandangannya ke arah kucing itu sekilas, lalu melirik ke arah Rafa.
"Apa arti seorang ayah dan ibu di matamu? apa perbedaan di antara keduanya?" tanya Avram serius.
Rafa melirik sesaat ke arah Avram. Menyandarkan tubuhnya di kursi, melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan ke arah langit lalu menarik napas panjang.
"Ibu dan Ayah bagiku tiada beda. Sama sama memiliki peran penting, saling melengkapi untuk membawa keluarga, putra putrinya menggapai mimpi. Ayah dan Ibu sama sama berkorban, berjuang, dengan cara berbeda meski peran ayah seringkali tak terlihat."
Penuturan Rafa membuat hati Avram tersentuh, matanya berkaca kaca. Di usianya Rafa yang masih berusia 11 tahun sudah dewasa sebelum waktunya. Meski kedewasaan tidak di tentukan oleh usia.
"Lalu apa bedanya Aku dan Livian?" tanya Avram hati hati.
rafa terdiam cukup lama, ia tidak buru buru menjawab pertanyaan Avram. Ia tersenyum sinis menarik napas dalam dalam lalu ia hembuskan secara perlahan.
"Secara tanggung jawab kalian tidak ada beda. Kasih sayang yang kalian miliki nilainya sama meski tujuannya beda. Tapi kalian sama sama menyayangi, entah untuk siapa rasa sayang itu di tujukan. Tapi terkadang, mata dan pendengaran kita sering menipu, menilai terlebih dahulu tanpa bisa mempertimbangkannya." Ungkap Rafa panjang lebar. Lalu ia menoleh ke arah Avram, menggenggam erat tangannya.
"Kau terlihat sangat dewasa sayang.." kata Avram menepuk neput tangan Rafa.
"Jangan kau tanyakan seberapa besar cintaku pada kalian, jangan kau tanyakan apakah aku menyayangi kalian. Aku punya cara berbeda untuk menyayangi kalian." Kata Rafa.
"Rafa..aku-?"
"Tidak perlu kau ucapkan, Dad..biar hatiku yang menilai. Aku sudah cukup lelah dengan omong kosong." Potong Rafa.
"Kau tidak marah padaku?" tanya Avram.
Rafa menggelengkan kepalanya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Avram. Keduanya menatap langit, pikirannya jauh mengembara.
***
Quenby berdiri di teras rumah dengan cemas, berkali kali ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 19:00.
Hari sudah gelap, namun Rafa tidak kunjung pulang. Meski Rafa sudah memberitahu Quenby sejak siang kalau Rafa sedang bersama Avram. Ada kecemburuan di hati Quenby pada Avram. Pria itu selalu berhasil mengambil hati putranya, dan putranya bisa berlama lama berada di sisi Avram.
Terbersit di benak Quenby rasa khawatir Avram akan mengambil Rafa kembali. Namun pikiran buruk itu kembali ia tepis mengingat penyakit yang ia derita. Mungkin lebih baik Rafa lebih dekat dengan ayahnya, jika suatu saat nanti ia harus pergi. Itu yang ada di dalam pikiran Quenby saat ini.
"Rafa masih belum pulang?" tanya Livian.
"Belum!" sahut Quenby tanpa menoleh sedikitpun ke arah Livian yang berdiri di sampingnya.
Tak lama terlihat sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumahnya. Nampak Rafa dan Avram keluar dari pintu Taksi. Kemudian Rafa berjalan memasuki halaman, sementara Avram hanya berdiri di depan gerbang menastikan Rafa telah sampai di runahnya. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam taksi meninggalkan rumah Quenby.
"Mom..Ayah.." Sapa Rafa tersenyum lalu menundukkan kepalanya. "Maaf, aku pulang terlambat."
"Mengapa kau selalu lupa waktu kalau sudah bertemu dengan Dad mu? nengapa kau tidak memikirkan perasaanku yang khawatir memikirkanmu, Rafa?" tanya Quenby di sertai nada kecemburuan.
"Mom..dia ayahku. Kenapa Momy harus khawatir? bukankah aku-?"
"Jangan membantah! masuk ke dalam kamarmu, bersihkan badanmu lalu kita makan bersama!" perintah Quenby.
"Mom..aku-?"
"Jangan bilang kau sudah kenyang." Kata Quenby
"Tidak Mom..baiklah, aku ke kamar dulu." Rafa berjalan masuk ke dalam rumah. Ia tidak ingin berdebat dan menyakiti perasaan Quenby. Rafa memilih diam dan ikut makan bersama meski sudah kenyang.
"Tenanglah, kau tidak perlu marah marah." Ucap Livian menenangkan Quenby.
"Sudahlah, ayo kita masuk!"
Livian hanya diam, memperhatikan punggung Quenby masuk ke dalam rumah. Lalu ia melangkah menyusul Quenby dan menutup pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Unyu Unyu 😍
queen jangan marah marah ☹️
2021-06-17
0
sri mamaBima
lanjut thor......
2021-06-13
1
Ri rin
😍😍😍
2021-06-13
0