Popularitas, kekayaan, tidak selamanya membuat hidup nyaman. Menjadi orang no satu di kota itu, dengan mudah menjadi konsumsi publik dan berbagai puji dan cemooh harus mereka tuai. Baik dan buruknya orang terkenal sebanding dengan hujatan dan pujian yang di terima.
Perkelahian dua anak kaya di pinggir jalan, hanya dalam hitungan detik menjadi konsumsi publik. Kedua orang ternama di kota itu menuai kritikan pedas karena di anggap tak mampu mendidik anaknya dan memberikan contoh buruk untuk anak anak lainnya.
Begitulah netizen, mudah menilai, menghujat, merasa diri paling benar dari pada yang di hujat. Merasa paling bisa dari pada yang di hujat.
Quenby sangat tidak percaya kalau Rafa bisa melakukan pemukulan seperti yang di beritakan media online. Rasanya ia ingin memarahi Rafa, tapi ia sadar akan dirinya sendiri sewaktu masih dalam asuhan Naga Hitam. Quenby hanya bisa menarik napas dalam dalam dan berusaha bicara pelan pelan.
"Jelaskan padaku Rafa.." pinta Quenby.
"Mom..apa momy percaya? harus berapa kali aku bilang, dia yang mulai bukan aku.." jawab Rafa tenang.
"Aku sangat percaya pada putraku sendiri, taoi bisakah kau mengontrol emosimu sayang?" pinta Quenby sangat hati hati.
"Aku coba mom..maafkan aku..maafkan aku..aku juga tidak ingin seperti ini, tapi-?" Rafa tidak melanjutkan kata katanya, ia terisak dan membenamkan wajahnya di dada Quenby.
Quenby kembali diam, tangannya mengusap rambut Rafa. Ia bingung dengan sikap Rafa yang terkadang tenang, emosi, marah tidak jelas.
"Aku mengerti sayang, seharusnya aku lebih mempercayaimu. Bisakah kita perbaiki hubungan kita?" tanya Quenby.
Rafa mengangkat wajahnya, menatap Quenby dengan perasaan hancur. "Bisakah aku mempercayaimu Mom?" tanya Rafa balik.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Quenby bingung dengan pertanyaan Rafa.
"Kau tidak perlu berjanji Mom..kau tidak perlu berkata apa apa..aku belum tahu apakah cara berpikirku salah atau benar. Tanpa momi minta, aku akan tetap menyayangimu tanpa batas waktu, aku akan selalu membelamu meski aku harus hancur, itu janjiku padamu Momi.."
Rafa berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Quenby tanpa bicara apa apa lagi. Quenby menundukkan kepalanya, menangkup wajahnya sendiri. Lelah fisik bisa di obati, tapi lelah hati apa obatnya? musuh nyata di hadapan masih bisa Quenby hadapi dengan tangan kosong, tapi musuh dalam diri? sesuatu yang tak nampak tapi menggerogoti? siapa yang mampu? selain waktu yang akan menjawabnya.
Alunan musik instrumental Kiss the rain yang Rafa lantunkan terdengar lebih menyakitkan hati Quenby. Di dalam kamar, Quenby menangis memikirkan dirinya dan putranya. Sementara Rafa mencoba menenangkan diri, berdamai dengan kenyataan lewat musik yang ia mainkan.
***
Keesokan paginya seperti biasa Quenby mengantarkan Rafa ke sekolah. Setelah itu ia kembali beraktifitas dengan pekerjaannya.
Rafa yang sudah berada di dalam kelas tidak menemukan Elena di bangku yang biasa ia duduki. Sampai bel berbunyi dan pelajaran di mulai, Elena masih belum terlihat. Sepanjang pelajaran di mulai, Rafa hanya memikirkan Elena, mengapa ia tidak masuk kelas? sakitkah?
Waktu terus berjalan, tak terasa bel berbunyi tanda istirahat. Rafa mencari keberadaan Elena dan bertanya kepada semua murid yang mengenal Elena. Tidak ada satupun yang tahu kemana Elena. Bahkan siswa laki laki terkesan takut berhadapan dengan Rafa, berbeda dengan anak perempuan yang sangat senang di sapa Rafa.
"Temanmu Elena di keluarkan dari sekolah!"
Rafa menoleh ke arah suara, nampak Anna berdiri di belakangnya. Rafa balik badan menghadap Anna.
"Apa salah Elena Bu?" tanya Rafa.
"Elena mengakui kesalahan, Elena yang menanggung semya kesalahanmu dan dia rela di keluarkan dari sekolah demi kau, Rafa." Ungkap Anna.
"Apa?" ucap Rafa lalu ia berlari meninggalkan Anna menuju ruang kepala sekolah dan mengabaikan panggilan Anna.
"Rafa!"
Sesampainya di pintu ruang kepala sekolah, Rafa mengetuk pintu lalu membukanya lebar lebar.
"Rafa?" sapa Ku Cay.
"Kenapa Bapak mengeluarkan Elena?" tanya Rafa dingin.
"Rafa, ini demi kebaikan sekolah. Jelas dia mengakui kesalahannya dengan memukul Joy." Jelas Ku Cay.
"Dia tidak bersalah!" seru Rafa sambil menggebrak meja membuat Ku Cay berjengkit kaget.
"Rafa! jaga etikamu!" seru Ku Cay.
"Akan kuberitahu kau sesuatu." Kata Rafa.
Kemudian Rafa berjalan mendekati Ku Cay, dan berbisik di telinga Ku Cay. Ku Cay mendengarkan dengan seksama kata kata Rafa di telinganya, sesekali ia mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Keringat dingin mengalir di kening Ku Cay selama Rafa berbisik di telinganya. Tak lama kemudian Rafa selesai berbisik dan berjalan menjauh dari Ku Cay.
"Baik, besok Elena bisa masuk ke sekolah lagi." Kata Ku Cay dengan nada bergetar.
Rafa tersenyum sinis, lalu beranjak pergi dari ruangan Ku Cay yang terlihat ketakutan.
"Ya Tuhan, aku masih mau hidup.." ucap Ku Cay dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Lusiana_Oct13
kepala sekolah nama nya Ku Cay kayak nama sayuran 😂😂😂😂
2021-09-20
0
PengagumRahasia😍
🤣🤣🤣🤣🤣🤣mantap Rafa
2021-08-26
0
suli sulimah
elena gemn sejti. smga kmbl iskolh..
2021-08-17
0