Bel tanda istirahat sudah berbunyi. Elena dan Rafa segera datang ke lapangan basket untuk memenuhi tantangan Joy. Sesampainya di lapangan, anak anak yang ingin menyaksikan pertandingan sudah berkumpul mengelilingi lapangan. Terlihat beberapa guru di antara para murid ikut menyaksikan pertandingan itu.
Sorak sorai terdengar riuh di lapangan, yel yel mereka nyanyikan untuk menyemangati Joy sebagai pemenang. Semua murid terdiam saat melihat Rafa berjalan dengan tenang memasuki lapangan basket. Tak ada satupun murid yang memberikan semangat selain Elena. Karena mereka tahu, selama ini Joy lah pemain basket handal di sekolah itu dan berkali kali mengikuti berbagai pertandingan.
"Ayo Rafa! kau pasti bisa!" seru Elena lantang.
"Duk duk duk!!"
Dengan angkuhnya Joy memainkan bola basken dan memandang remeh Rafa. Ia tersenyum sinis dan berkata.
"Akui saja kekalahanmu dari sekarang, sebelum kau malu pada akhirnya karena telah gagal dalam pertandingan ini."
Namun Rafa hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi menatap tajam ke arah Joy. Lalu ia membuka jas sekolah yang di kenakan lalu di letakkan di bawah. Setelah itu berjalan mendekati Joy yang tengah memainkan bola basket.
"Kau siap?" tanya Joy tersenyum mencemooh namun Rafa tetap diam tanpa memberikan jawaban apa apa.
Joy mulai memainkan bola dengan jarinya lalu melakukan dribbling menuju ring sementara Rafa berusaha untuk merebut bola itu namun usaha Rafa sia sia. Joy melakukan lay up dan mencetak poin berkali kali. Sorak tepuk tangan terdengar riuh, bahkan guru yang selama ini membimbing Joy bermain basket tersenyum bangga memperhatikkannya.
Elena menggigit bibir bawahnya memperhatikan jalannya pertandingan, dan ia sangat takut Rafa kalah dan harus menjadi kacung Joy. Sementara yang menyanggupi tantangan itu Elena sendiri. Ia semakin di kuasai rasa bersalah, karena Rafa tak dapat mencetak satupun poin. Waktu yang tersisa tinggal 15 menit terakhir.
Teriakan anak anak menyerukan nama Joy semakin membuat nyali Elena menciut. Namun di detik berikutnya, Rafa berhasil merebut bola di tangan Joy dengan mudah.
Rafa mulai melakukan gerakan menembak dengan teknik set shoot, posisi berdiri diam ditempat dengan satu tangan, menembakkan bola ke ring dan mencetak banyak poin. Hanya dalam waktu 10 menit Rafa mampu mencetak poin jauh dari poin yang Joy miliki.
"Horeeee!!!" Elena berteriak paling kencang, lalu berlari ke tengah mengambil jas rafa yang tergeletak di lantai.
"Rafa!" seru Elena lalu memeluk erat tubuh Rafa.
Joy, dan teman temannya lain menatap tidak percaya ke arah Rafa. Hanya dalam hitungan menit mampu menciptakan poin sebanyak itu, hanya dengan melakukan set shoot tanpa bergerak sama sekali. Termasuk guru yang selama ini membimbing Joy tersenyum kagum dengan kemampuan Rafa bermain basket.
"Kau berhasil!" kata Elena sambil melepas pelukannya.
"Terima kasih!" sahut Rafa.
"Bagaimana mungkin kau bisa melakukan itu?" ucap Joy.
"Aku sengaja membiarkan kau menang." Jawab Rafa.
"Kenapa?" tanya Joy.
"Supaya kau tidak malu di depan teman temanmu, dan perlu kau tahu. Aku tidak meminta kau menjadi kacungku hari ini. Suatu saat, akan aku tagih janjimu, Joy." Jelas Rafa panjang lebar, tersenyum menyeringai menatap benci wajah Joy.
"Ayo kita pergi!" ajak Elena seraya memberikan jas milik Rafa.
"Terima kasih! Rafa mengambil jas miliknya lalu mengenakan jas nya sambil melangkahkan kaki di ikuti Elena dari belakang. Tatapan kagum dari mata anak perempuan semakin besar menatap ke arah Rafa.
"Pertandingan belum berakhir! putraku belum menjadi kacungmu, anak kecil!!"
Rafa dan Elena menoleh ke arah suara, nampak Albert berdiri sejajar bersama Joy.
"Tuan, ini masalah kami. Kenapa orang dewasa selalu mencampuri dan bersikap seolah menjadi pahlawan!" rutuk Elena.
"Diam kau!" bentak Albert.
"Aku tidak akan lari Tuan!" sahut Rafa lantang,
Semua murid terdiam, begitu juga guru di sekolah itu. Karena mereka sangat mengenal dengan baik siapa Albert.
"Bagus, ternyata nyalimu cukup besar!" sindir Albert.
"Tantangan apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Rafa.
"Kau harus mengikuti 3 pertandingan dengan syarat mata tertutup!" tantang Albert.
"Hey Tuan, apa kau sudah tidak waras!!" umpat Elena, namun Albert mengabaikannya.
"Pertama kau harus melawan tiga pria yang selama ini juara bertahan dalam bidang menembak, balap motor, dan pertarungan sampai mati di atas ring!" tantang Albert.
"Tuan, kau memang sudah gila!" umpat Elena lagi.
"Tuan, saya mohon jangan lakukan itu. Rafa masih anak anak." Sela Ku Cay, kepala sekolah.
"Diam kau, atau kupecat!" bentak Albrert.
Ku Cay kembali terdiam, ia masih sayang nyawa dan pekerjaannya. Meski apa yang terjadj di depan matanya adalah sebuah ketidak adilan untuk Rafa Tapi ia tidak mampu berbuat apa apa buat Rafa.
"Putraku tidak akan mundur selangkahpun, Albert!"
Rafa dan yang lain menoleh ke arah suara, nampak terlihat Avram berjalan mendekati Rafa.
"Dad.." sapa Rafa.
"Iya sayang, apa kau mau memenuhi tantangannya?" tanya Avram.
Rafa tersenyum sinis melirik ke arah Albert. "Tentu Dad!"
"Apa jaminannya kalau putraku menang?" tanya Avram.
Albert meludah ke samping dan berkata. "Jika anakmu menang dalam tiga pertandingan. Sekolah elit ini menjadi milik putramu!"
"Deal!" Avram mengulurkan tangannya lalu di sambut oleh Albert.
"Deal! besok siang, aku tunggu kedatangan kalian di gedung pertandingan yang sudah aku sediakan!"
Setelah bicara seperti itu, Albert dan Joy beranjak pergi dari hadapan Rafa.
"Sayang, apa aku tidak berlebihan?" tanya Avram.
Rafa menggelengkan kepalanya, lalu memeluk Avram sekilas. "Dad, aku lapar. Elena juga lapar.."
"Aku traktir kalian makan!"
Rafa menganggukkan kepalanya, lalu mereka berjalan bersama meninggalkan lapangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
lily
kalo kesepakatan kaya gtu kira2 ada perjanjian tertulis hitam diatas kertas gak sih atau apa gtu ,,, jaga-jaga aja siapa tau Rafa menang tapi bapaknya Joy ingkar
2023-10-13
0
epifania rendo
siapa yang menang
2023-09-04
0
Indrajaya Harefa
llll asyik
2021-08-31
0