Di sebuah restoran ternama di kota itu, Livian dan Quenby makan malam. Nampak raut wajah bahagia terlihat di wajahnya, begitu juga dengan Livian. Di sela sela makannya, mereka saling mengingatkan awal awal pertemuan mereka.
Quenby tertawa lebar saat Livian mencetitakan kebiasaan buruk Quenby, begitu juga sebaliknya. Alunan musik terdengar syahdu mengiringi makan malam mereka berdua. Untuk sesaat, mereka melupakan semua beban yang menghimpit dada.
"Terima kasih untuk makan malamnya," ucap Quenby tersenyum.
"Kau tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya aku membahagiakanmu. Maaf selama ini aku bersikap kurang baik." Jawab Livian.
"Kita pulang, Rafa pasti sudah menunggu kita," ajak Quenby untuk segera pulang.
"Oya, kau tidak perlu belikan apapun buat Rafa. Karena aku punya hadiah istimewa buat Rafa. Aku yakin dia suka."
"Hadiah apa?" tanya Quenby.
"Sepatu basket dan kaosnya, aku belikan yang baru dan kualitas nomer satu." Kata Livian, lalu ia memanggil pelayan restoran dan membayar semua makanan yang sudah di pesan. Setelah itu mereka beranjak pergi keluar.
Namun baru saja mereka sampai di halaman restoran, Quenby dan Livian melihat sosok pria yang mereka kenal tengah berlari menyeberang jalan dan di belakang pria itu terdapat beberapa anggota Polisi yang mengejarnya.
"Avram?" ucap Quenby pelan. "Mengaoa ia di kejar Polisi?"
"Mungkin kita salah lihat, tidak mungkin Avram berurusan dengan Polisi." Kata Livian terus menatap ke arah seberang jalan raya.
"Kau benar, mungkin itu bukan Avram. Ayo kita pulang," ajak Quenby lalu masuk ke dalam mobil, di ikuti Livian.
Mobil mulai melaju meninggalkan halaman restoran, bersamaan terdengar sayup suara letusan peluru.
"Dor dor!!"
Quenby sempat menoleh ke seberang jalan, tapi ia tidak melihat apa apa.
***
Sesampainya di rumah, Quenby dan Livian bergegas menemui Rafa, ditangan Livian membawa kotak berukuran sedang, hadiah yang akan di berikan pada Rafa.
Namun sesampainya di kamar Rafa, mereka tidak menemukannhya. Quenby dan Livian bergegas keluar dari kamar dan mencarinya ke setiap ruangan rumah, namun Quenby tidak menemukannya, lalu ia bertanya pada asisten rumah tangga dan para penjaga, tapi tak seorang pun yang tahu.
Di antara keputus asaan Quenby, ia melihat Rafa muncul di kegelapan halaman rumah. Nampak ia berjalan dengan wajah tertunduk, di tangannya memegang ponsel.
"Sayang, kau dari mana? aku mencarimu!" seru Quenby berjalan mendekati Rafa lalu memeluknya.
"Rafa dari mana?" tanya Livian.
"Aku mau menelpon teman, tapi sinyal tiba tiba hilang. Jadi aku pergi keluar rumah." Jawab Rafa dengan kepala tertunduk.
"Ya ampun, aku sampai khawatir sayang.." kata Quenby lalu melepaskan pelukannya.
"Rafa, aku punya hadiah. Ini untukmu." Livian menyodorkan kotak ke arah Rafa.
"Hadiah?" kata Rafa lalu mengambil kotak itu dari tangan Livian. "Terima kasih Ayah!"
"Sekarang kita kembali ke rumah, dan kau bisa membuka hadiahnya." Ajak Livian lalu merangkul bahu Rafa masuk ke dalam rumah.
Livian dan Quenby kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Rafa dengan kotak hadiahnya. Sesampainya di kamar, buru buru Rafa membuka kotak hadiah itu. Ia tersenyum mengembang saat melihat ada sepatu dan kaos yang ia inginkan bergambar atlet basket yang sudah terkenal.
Rafa mendekap erat sepatu dan kaosnya lalu menghirup aroma barang tersebut. Senyum yang tadi mengembang menghiasi wajahnya berubah masam dengan tatapan tajam. Lalu ia lempar sepatu dan kaos itu ke lantai.
"Bau parfum perempuan, katanya masih baru." Gumamnya pelan. Lalu ia naik ke atas tempat tidur, menarik selimut dan membaringkan tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Lusiana_Oct13
Hmmmmmmmm kasian juga ya jd raffa
2021-09-20
0
Nani Sunarni
wah jangan jangan livian modusss nyuruh istrinya quinby berobat k amerika spy dia bebas ma istri yg baru...berarti Raffa dah curiga ya thorr
2021-09-13
0
suli sulimah
livian selingkuh.. kena dr awl memng sudh selingkuhin Quenby..hbis livian sm rafa
2021-08-17
0