“Paman kau harus mengajariku cara memasak makanan ini!” seru Pangeran Regar Virmilion saat menyantap gulai rendang daging buatan Setiawan itu.
“Makan saja pikiranmu, lari 50 putaran peternakan ini saja kau tak bisa!” sahut Setiawan. “Padahal sudah kubilang, itu belum disebut pemanasan dalam pelatihan militer di dunia kami,” katanya lagi.
“Iya-iya ... besok Aku akan lari 50 putaran!” sahut Regar yang sudah menghabiskan tiga piring nasi itu.
“Banyak sekali makanmu bocah!” Setiawan geleng-geleng kepala melihat porsi makannya.
“Habis sih, aku tak boleh menggunakan Mana, sehingga aku butuh banyak asupan karbohidrat!” sahut Regar yang melahap makanannya dengan cepat.
Setiawan hanya makan sedikit saja, karena makanan yang ia sajikan itu sudah hal lumrah baginya.
“Ah, kenyangnya ....” Pangeran Regar Virmilion memegang perutnya yang sudah kembung akibat menghabiskan empat piring nasi tadi. “Sisanya jangan dibuang, ya Paman. Nanti malam buat kumakan lagi.”
“Kau ini ... cepat berdiri!” Setiawan menempeleng kepala Pangeran terkutuk itu.
“Au, apa-apaan kau Paman?” Regar kebingungan dengan tindakan Setiawan.
“Ini belum seberapa kalau dibandingkan dengan pelatihan Militer di dunia kami,” kata Setiawan sambil senyum-senyum, padahal ia sengaja melakukan itu. Kemudian berkata, “Supaya kau terbiasa menerima rasa sakit. Jadi, saat kau memasuki dunia yang kejam ini, kau telah siap mental dan tak mudah goyah!” Setiawan memberikannya motivasi.
“Betul juga yang dikatakan oleh Paman ini, bila Aku nanti menjadi suami Ratu pasti banyak yang iri padaku,” guman Regar menyetujui pendapat dari Setiawan itu.
Keduanya kemudian kembali ke ranjang di gudang tua itu. Untuk Regar, ia tidur di lantai dengan beralaskan tikar. Ini pertama kalinya ia tidur begini, biasanya ia selalu tidur di kasur yang empuk.
“Paman!” seru Pangeran Regar Virmilion yang sudah membaringkan badannya dengan berbantal tangannya.
“Hmm ...” sahut Setiawan yang sedang membaca buku.
“Nanti kan, aku akan menjadi suami Ratu ...” katanya.
“Terus?” sahut Setiawan.
“Aku yakin, pasti banyak pihak yang tak suka dengan kehadiranku nanti. Menurut Paman tindakan apa yang harus kulakukan?”
Pangeran Regar Virmilion sadar diri, karena ia sudah kadung dijuluki sebagai Pangeran terkutuk, akibat memiliki rambut hitam dan mata coklat, serta telinga tak runcing seperti Ras Elf pada umumnya.
“Di duniaku ada macam-macam sistem pemerintahan yang terus berevolusi dari waktu ke waktu,” sahut Setiawan sambil meletakkan buku yang dibacanya kesebelahnya.
“Sistem pemerintahan di sana, ada yang seperti di sini, dipimpin oleh Raja atau Ratu. Pemimpin yang dipilih melalui pemungutan suara terbanyak dan banyak lagi macam-macamnya.” Setiawan menatap Regar yang antusias mendengarkan perkataannya.
Kemudian Setiawan berkata lagi, “Kalau melihat perlakuan mereka padamu, kurasa kau hanya perlu meniru para otoriter dari bumi. Singkirkan mereka yang menghalangimu dan lakukan pendekatan pada rakyat biasa, sehingga walaupun tak ada elite yang mendukungmu, kau akan tetap bisa berkuasa dengan mengerahkan mereka.”
“Mengerahkan mereka?” sahut Regar kebingungan.
“Iya kau akan membangun retorika, bahwa saatnya merubah sistem lama dengan yang baru. Mereka membutuhkan sosok Pahlawan yang dapat melindungi dan mengayomi mereka dari para elite yang selalu mencekik rakyat selama ini.”
“Dan sosok itu adalah aku hehehe ....” Pangeran Regar Virmilion tertawa lebar dengan saran dari Setiawan itu.
“Tapi kalau istrimu baik, kurasa kau tak usah melakukan revolusi. Itu membutuhkan waktu dan menguras tenaga serta pikiran juga,” sela Setiawan. Kemudian berkata lagi, “Tak semua revolusi berjalan lancar, banyak juga gagal ditengah jalan. Itu banyak faktor yang mempengaruhinya.”
“Betul juga, ya. Mudah-mudahan Ratu Kerajaan Sirius baik padaku, supaya aku tak berubah menjadi monster baginya,” kata Regar sambil tertawa lebar.
“Sudah-sudah istirahat dulu, besok pagi-pagi kita akan membuat Neraka baru untukmu!” seru Setiawan.
“Apaaaaaa! Padahal pemanasan saja belum lolos, mau lanjut ke tahap berikutnya lagi,” gerutu Regar. Ia kemudian memicingkan matanya untuk mulai tidur. Sedangkan Setiawan kembali membaca buku.
“Karena waktuku di sini tak banyak, takutnya aku tak bisa membalas jasamu yang telah menyelamatkan Aku. Walaupun sebentar, itu sudah cukup untuk menikmati sisa hidup ini,” guman Setiawan sambil tersenyum.
Pangeran Regar Virmilion tidur dengan lelap, karena tubuhnya sudah kelelahan tadi. Sejak kedatangan Setiawan, kini ia bersemangat untuk menjalani kehidupannya kedepan. Karena dengan adanya Setiawan, ia merasa akan baik-baik saja dengan bantuannya nanti.
***
“Bangun! Bangun! Bangun!” seru Setiawan sambil mendaratkan sepatu militernya ke perut Regar.
“Aaaaaa!”
Regar lansung terkejut, mimpi indahnya yang sedang dikelilingi wanita cantik lansung buyar, berubah dengan rasa sakit.
“Pa-paman ...” katanya sambil memegangi perutnya.
“Bangun!” Tendangan kembali mendarat di punggungnya. Sontak saja, Regar lansung bergegas bangun dan berlari ke luar gudang tua itu. Ternyata matahari saja belum muncul, namun suara ayam jantan terdengar berkokok di kejauhan.
“Dasar tentara sialan! Matahari saja belum muncul!” gerutu Regar sambil berlari mengelilingi peternakan itu.
Setiawan tersenyum, ia yakin Regar pasti sedang mengutuknya saat ini. Namun, demi mempercepat pelatihannya lah, Setiawan melakukan ini. Sekaligus mengasah mentalnya agar keras dan tak mudah goyah.
Regar berlari jatuh bangun, pandangannya berkunang-kunang, namun tetap ia paksakan. Ia meresapi petuah dari Setiawan, tak ada yang instan dalam hal apapun. Kecuali warisan orang tua, namun kalau menjadi pemimpin lemah akan diperalat dan dijatuhkan oleh orang lain juga.
“Bagus-bagus ... kau cepat memahami apa yang kumaksud!” seru Setiawan saat Regar akhirnya berhasil berlari 50 putaran peternakan itu.
“Hahaha ... ternyata aku lulus juga,” sahut Regar yang ngos-ngosan itu bangga dengan pencapaiannya.
“Lulus matamu! Kau baru selesai pemanasan tadi!” seru Setiawan lagi.
“Eeeeeee!” Pangeran terkutuk itu kaget bukan main, ternyata pelatihannya baru dimulai.
“Baiklah, pertama-tama kau ambil air dan memasak dulu. Kau buat sarapan pagi, setelah itu baru kita mulai Pelatihan yang sesungguhnya!” Perintah Setiawan.
Dengan langkah lemah, Regar berjalan ke dapur untuk mengambil ember untuk diisi dengan air dari sumur diluar gudang tua itu. Setelahnya Regar mulai memasak untuk sarapan pagi mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Nur Tini
Lari 50 keliling peternakan lumayan juga... Capek....
2022-07-27
0
Lurah Desa Konoha
Sippp
2022-04-04
0
Wedus Gembel
salam satu aspal tiga pedal
2022-04-03
0