Setelah semalaman berdiskusi dengan Guru Huo, hari ini Chi Wei berencana menemui kepala desa. Dengan ditemani Tao Ming, Yan San, dan si kembar Chi Meilin dan Chi Mexia, Chi Wei berjalan menyusuri desa.
Kehadiran mereka sangat menyita perhatian para penduduk desa, bagaimana tidak, kecantikan si kembar sudah dikenal luas penduduk desa Teratai Putih terutama di kalangan para remaja putra. Tidak sedikit pemuda yang menaruh hati kepada gadis kembar tersebut.
Tao Ming dan Yan San pun tidak kalah populer dari si kembar, dua pemuda tampan yang dikenal ringan tangan. Mereka berdua tidak segan membantu siapapun yang membutuhkan.
Saat ini kehadiran Chi Wei di antara mereka berempat membuat seluruh penduduk desa Teratai Putih yang dijumpainya terpesona atas keindahan paras pendekar muda tersebut.
Seorang pria gagah nan rupawan yang senantiasa tersenyum manis menyapa siapapun yang dijumpainya. Penampilannya yang begitu mencolok dengan rambut birunya, dengan kulit seputih giok berjalan penuh wibawa laksana seorang bangsawan.
Para gadis yang sebelumnya bersembunyi karena takut diculik kawanan perampok, satu persatu menampakan diri hanya untuk sekadar melihat sosok yang membuat warga desa gempar.
Sudah bisa diduga, mereka tak mampu mengalihkan pandangannya dari Chi Wei. Seakan sengaja menggoda mereka, Chi Wei tak henti-hentinya tersenyum memamerkan lesung pipinya.
"oh dewa...benarkah dia seorang manusia?" gumam salah seorang gadis yang berpapasan dengan pemuda berparas rupawan tersebut.
Pagi itu benar-benar berbeda dengan sebelumnya, kehadiran Chi Wei membuat para penduduk desa seakan lupa atas derita yang selama ini mereka rasakan.
Saat itu Chi Wei dan rombongannya sengaja melewati jalan yang agak memutar menuju kediaman kepala desa, dia ingin melihat keadaan desa sepenuhnya.
Di beberapa tempat Chi Wei menemukan bekas bangunan yang terbakar, baik itu rumah penduduk ataupun fasilitas umum.
Tak terasa Chi Wei dan rombongan pun sampai di kediaman kepala desa. Dengan senyuman khasnya kepala desa beserta istri menyambutnya dengan ramah.
"Selamat pagi Tuan kepala desa." Chi Wei memegang tinjunya serta membungkukkan badannya yang diikuti oleh Tao Ming, Yan San dan si kembar.
Kepala desa menyambut Chi Wei dengan pelukan hangat.
"Wei'er, aku sudah mendengar berita kepulangnmu, maaf belum sempat mengunjungimu." ucap kepala desa sambil memegang kedua lengan Chi Wei.
"Tidak apa-apa Tuan." balas Chi Wei sambil tersenyum canggung.
"jangan panggil aku seperti itu, kita ini keluarga. Panggil saja Paman Yun."
"Ia Wei'er, biar bagaimanapun kami ini kaka sepupu dari ibumu." ucap nyonya Xin Xia sambil mendekat ke arah si kembar. Dipeluknya kedua gadis kembar itu dengan penuh kasih sayang.
Setelah berbasa basi Tuan Yun Lou pun mengajak Chi Wei dan rombongannya masuk. Di dalam kediaman kepala desa, Chi Wei pun menyampaikan maksud kedatangannya tersebut.
Dengan meminta bantuan kepala desa dan seluruh warga desa Teratai Putih, Chi Wei berencana untuk membangun kembali seluruh bangunan yang rusak akibat ulah para perampok.
Tentu saja Tuan Yun Lou sangat mendukung rencana Chi Wei tersebut, namun yang jadi masalah adalah terbatasnya keuangan yang dimiliki desa Teratai Putih.
Sejak kehadiran para perampok, penduduk desa mengalami kesulitan keuangan. Jangankan untuk menyisihkan harta mereka, masih bisa makan pun mereka sudah sangat bersyukur.
Seakan mengerti dengan masalah yang dihadapi tuan Yun Lou, Chi Wei pun mengeluarkan 2 peti yang berisi jutaan koin emas dan perak dari cincin dimensi miliknya.
Seketika semua orang yang berada di tempat itu terkesiap dengan mulut ternganga. Mereka menyaksikan tiba-tiba 2 buah peti berukuran besar muncul dari ruang hampa.
"semoga ini cukup, Paman Yun. kalau masih kurang paman tidak perlu sungkan untuk mengatakannya kepadaku." ucap Chi Wei sambil tersenyum ramah.
"i.ini, banyak sekali Wei'er, bagaimana bisa paman menerima semua ini?" Tuan Yun Lou tampak ragu.
"Terima lah paman, semoga ini akan berguna untuk memulihkan ekonomi desa Teratai Putih, aku percaya Paman bisa menggunakannya dengan bijak." Chi Wei meyakinkan Tuan Yun Lou yang merasa ragu untuk menerima harta pemberiannya tersebut.
Selain itu, Chi Wei juga minta peta wilayah desa dan meminta kepala desa untuk menunjukkan letak markas para perampok yang berada di sekitar desa Teratai Putih. Tanpa basa-basi Tuan Yun Lou pun langsung memberikan apa yang diminta pendekar muda itu.
"O iya Paman, kalau Paman tidak keberatan aku ingin bertemu dengan Paman Yun Chan dan Paman Yun Hui."
"tentu saja boleh Wei'er, ayo, Paman antar menemui mereka."
Tuan Yun Lou pun mengajak Chi Wei menuju sebuah ruangan tempat Yun Hui terbaring lemah tak berdaya. Sementara itu nyonya Xin Xia menemani Tao Ming dan Yan San dan juga si kembar yang memutuskan untuk tidak mengikuti Chi Wei.
Sesampainya di ruangan tersebut, Tuan Yun Lou memperkenalkan Chi Wei kepada Yun Chan yang dengan telaten tengah merawat Yun Hui.
"Chan'er ini adalah Chi Wei, anak dari sepupuku yang dulu sempat menghilang selama beberapa tahun." Ucap Yun Lou kepada Yun Chan yang terlihat begitu terkejut saat Chi Wei memasuki ruangan pribadinya itu.
"Paman, bolehkah aku melihat keadaan Paman Yun Hui?"
"Silakan Wei'er."
Chi Wei pun berjalan mendekati Yun Hui yang tengah terbaring lemah tak berdaya. Setelah beberapa saat memperhatikan keadaannya, Chi Wei mengangkat sebelah telapak tangannya tepat beberapa centimeter diatas dada pria paruh baya tersebut. Telapak tangan Chi Wei nampak bercahaya, dan itu membuat Yun Lou dan Yun Chan saling tatap merasa heran.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja Yun Hui terbatuk dan memuntahkan gumpalan darah berwarna hitam pekat, dengan sigap Yun Chan mengambil sebuah kendi untuk menampung darah tersebut.
Tidak berselang lama setelah memuntahkan darah, wajah Yun Hui tampak lebih cerah dan napasnya pun kembali normal seperti sediakala.
"paman, telanlah pil ini." kata Chi Wei sambil memberikan sebuah pil berwarna emas kepada Yun Hui.
Yun Hui pun langsung menelan pil tersebut, lalu tiba-tiba tubuh Yun Hui bergetar hebat dan beberapa saat kemudian tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi Wei'er?" Tanya Yun Lou yang merasa panik melihat Yun Hui tak sadarkan diri.
"Paman tidak perlu khawatir, besok pagi Paman Yun Hui akan segera sadar dan sembuh seperti sebelumnya." jawab Chi Wei tenang.
"untuk saat ini biarkan paman Yun Hui beristirahat, saat besok dia bangun berikan buah ini kepada Paman Yun Hui dan suruh untuk memakannya. Buah ini akan membantu memulihkan tenaga dalamnya." kata Chi Wei sambil memberikan buah yang menyerupai apel namun berwarna biru gelap.
Tidak lama kemudian Chi Wei dan Tuan Yun Lou pun meninggalkan ruangan tersebut. Setelah menemui adik dan kedua sahabatnya, pendekar muda berparas tampan itu lalu pamit undur diri dari kediaman Tuan Yun Lou.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
herry bjb
dengan uang yang banyak dan letak desa yang di pelosok bagaimana ceritanya bisa untuk membangun sementara masih banyak perampok andai mau berpergian ke desa atau tetangga yg jauh letaknya...harusnya ceritanya tidak terburu buru dan di buat begitu mudah di luar logika..
2022-09-04
1
rajes salam lubis
terlalu muluk
2021-12-21
0
Anonymous
lanjut sebelum habis
2021-12-15
0