"kita masih berada di tempat yang sama Wei'er." Lung Huo menjawab pertanyaan muridnya tersebut.
"Semua kekuatan yang ada di tempat ini telah habis di serap oleh tubuhmu, termasuk pusaka pedang berlian dan kitab pusaka teratai putih. keduanya telah menyatu dengan jiwamu. jadi, Kau tidak perlu heran jika sekarang ruangan ini berubah warna menjadi sebening kristal."
"apakah itu benar guru"? Chi Wei masih merasa belum yakin sepenuhnya atas apa yang dijelaskan oleh gurunya itu.
"sekarang, coba buka telapak tanganmu dan konsentrasi!... bayangkan pedang berlian ada di tanganmu."
wushhhh.....
Tiba-tiba tangan Chi Wei menggenggam erat Pusaka Pedang Berlian. Mulutnya setengah terbuka seakan merasa tak percaya namun itu sebuah kenyataan.
Chi Wei pun melakukannya secara berulang-ulang hingga dia mulai terbiasa. hanya dengan satu tarikan napas, pedang pusaka itu akan langsung ada dalam genggaman jika ia menginginkannya.
"Wei'er, segera bersiaplah. Karena sebentar lagi kau akan melanjutkan latihanmu ke tahap berikutnya. Dan mungkin ini adalah latihan terakhir yang akan kau lakukan di tempat ini sebelum kau kembali ke alam nyata."
"Latihan seperti apa lagi Guru, bukankah aku sudah menjadi seorang pendekar hebat?... apa lagi sekarang aku memiliki pedang pusaka, sepertinya itu sudah lebih dari cukup?"
"buang jauh-jauh perasaanmu itu, perasaan itu hanya akan menghancurkan dan membunuhmu bahkan sebelum engkau bertarung."
"Baiklah... Aku mohon maaf guru." Chi Wei lekas bersujud di depan gurunya tersebut.
"Wei'er, minta maaflah pada dirimu sendiri." Lung Huo menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan.
"muridku, di mana pun kau berada selama ragamu bernyawa, kau harus terus berlatih, berlatih dan berlatih. Tak peduli sekuat dan sehebat apa pun kau saat ini."
"baik guru, aku akan selalu mengingat nasihat guru."
"bersiaplah..... latihanmu akan segera dimulai."
ctakkkk... Lung Huo menjentikkan jarinya. Tiba-tiba pandangan Chi Wei kembali menjadi gelap.
"konsentrasilah,,, sebentar lagi di hadapanmu akan muncul ribuan pendekar hebat. Lawan dan kalahkan mereka. Jangan pernah berhenti bertarung sebelum kau mampu membunuh mereka semua." Suara Lung Huo kembali menggema dalam pikiran Chi Wei.
Wushhhh...
Chi Wei merasa seolah berada di atas arena pertarungan. Di hadapannya muncul ribuan pendekar hebat dengan membawa berbagai macam jenis senjata pusaka.
Slassshhhh......wushhhh
Tiba-tiba salah satu pendekar tersebut menyerang Chi Wei dengan cepat dan membabi buta.
Boommmm.....
Pertarungan pun di mulai.
Sementara itu, Lung Huo dengan setia duduk bersila menyaksikan Chi Wei berlatih. Di hadapannya, Chi Wei melakukan gerakan yang menunjukkan kalau dia seolah-olah sedang melakukan pertarungan sengit.
Gerakan memukul, menendang dan gerakan lainnya dilakukan Chi Wei secara berulang-ulang. Tubuhnya meloncat dengan gesit ke sana ke mari. Sesekali tubuhnya melayang di udara sambil melakukan gerakan-gerakan yang sulit ditangkap oleh mata.
Diawal pertarungan, terlihat berkali-kali tubuh Chi Wei terlempar sambil meraung kesakitan. Seolah-olah saat itu dia terkena serangan yang mematikan.
Namun, seiring berjalannya waktu, kejadian itu mulai berkurang dan terus semakin berkurang. Hingga lambat laun Chi Wei nampak mendominasi pertarungan.
Dalam beberapa gerakan, Chi Wei terlihat seperti sedang menggunakan sebilah pedang sambil sesekali ditengah pertarungannya di tersenyum manis seakan menikmati pertarungan tersebut.
"jangan pernah berpikir untuk mengurangi kewaspadaanmu anak muda." suara Lung Huo menggema dalam pikiran Chi Wei yang entah untuk ke sekian kalinya dia ucapkan, terutama disaat Chi Wei nampak seperti meremehkan lawan-lawannya.
Dalam pandangan Chi Wei, para pendekar itu menyerang dengan jurus-jurus yang sangat mematikan. Mereka datang silih berganti baik secara individu ataupun kelompok.
Diawal pertarungan, Chi Wei bekali-kali terkena serangan pukulan, tendangan dan bahkan tebasan senjata tajam. Dia yang tidak memiliki pengalaman bertarung sama sekali, merasa kesulitan untuk memberikan perlawanan.
Dari rasa sakit yang ia dapatkan dari serangan lawan-lawannya tersebut, Chi Wei mulai berkonsentrasi untuk mempraktekkan apa yang telah ia serap dan pelajari dari kitab pusaka teratai putih.
Perlahan tapi pasti Chi Wei mulai mampu melakukan serangan balasan, dan mampu menangkis serangan yang datang tanpa henti.
Semakin lama dia semakin menikmati latihannya tersebut. Satu persatu lawan-lawannya itu mampu dikalahkannya. Dari setiap tubuh pendekar yang mampu ia kalahkan, akan muncul sebuah cahaya dan langsung masuk ke dalam tubuh Chi Wei.
Chi Wei berlatih selama berhari-hari tanpa henti. Selama proses latihan tersebut, tubuh Chi Wei memancarkan kilatan-kilatan petir berwarna biru keemasan. Semakin kuat serangan yang ia lancarkan, maka kilatan-kilatan petir itu semakin besar dan terang.
Hingga akhirnya tubuh Chi Wei terdiam melayang di udara dengan napas yang sedikit memburu. Perlahan-lahan penglihatannya pun kembali seperti sebelumnya. Lekas dia pun turun menghampiri Guru Huo yang telah berdiri tegap sambil mendongak menatap dirinya. Sejenak senyuman bangga terukir di bibirnya.
"guru ...." Chi Wei membungkukkan badan yang langsung disambut Lung Huo dengan tepukan lembut di pundaknya.
"Wei'er,,,Duduk lah."
Mereka berdua pun duduk bersila saling berhadapan.
Ctakkkk....
Lung Huo menjentikkan jarinya lagi, dan seketika mereka telah kembali ke tempat pertama kali Chi Wei tersadar. Namun bedanya saat ini sudah tak ada lagi kerlap kerlip cahaya yang menghiasi ruangan tersebut.
"sudah aku katakan sebelumnya Wei'er, semua yang ada di sini tercipta untuk kau miliki." Kata Lung Huo membuyarkan kebingungan Chi Wei.
"apa itu artinya aku sudah bisa kembali ke alam nyata Guru?"
"belum, ada beberapa benda yang harus kau ambil sebagai bekal kehidupanmu di masa depan."
Cling.....
Tepat di hadapan Chi Wei melayang sebuah cincin berwarna perak berhiaskan batu berlian berwarna biru yang sama dengan warna rambutnya.
"ambil dan pakailah cincin itu. itu adalah pusaka cincin dimensi. Di dalam cincin itu terdapat sebuah ruang tanpa batas yang bisa kau gunakan untuk menyimpan harta benda yang kau miliki. dan dengan cincin itu pula kau bisa pergi kemana pun kau mau."
"masih banyak kegunaan dari cincin itu, kau bisa menanyakannya kepada kitab pusaka teratai putih termasuk bagaimana cara menggunakannya."
"baik guru." balas Chi Wei sambil memasang cincin tersebut di jari manis tangan kirinya.
"Wei'er, sebelum kau kembali ke alam nyata, ada beberapa hal yang perlu kau ketahui. Termasuk sedikit gambaran tentang kehidupanmu di masa depan dan tentunya tentang siapa aku sebenarnya."
Chi Wei mengangguk pelan sambil menunggu apa yang hendak disampaikan oleh gurunya tersebut. Ada rasa penasaran yang cukup besar dalam benaknya. Namun dia tidak berani bertanya kepada Lung Huo, yang dilakukannya hanya menunggu sambil memperhatikan gurunya yang menutup mata sambil menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan sedikit kasar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Ardi Provision
mana tingkat kultivasi nya dan ditingkat apa mc sekarang??
2024-12-31
0
Dedy Indra Prasetya
udah baca aja...cepet kuat biar seru
2024-04-26
0
rajes salam lubis
kok enak bener menjadi pendekar pilih tandingnya thor
2021-12-21
0