"Guru, sebelum guru menjelaskan apa yang ingin guru sampaikan kepadaku, ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepada Guru?"
"baiklah, apa yang ingin kau tanyakan Wei'er?"
"sebelumnya guru pernah mengatakan kalau aku tidak akan pernah merasakan kelelahan, tapi kenapa setelah bertarung tadi rasanya aku sangat lelah, bahkan aku belum pernah selelah itu sebelumnya?"
"Wei'er,,, aku lihat sedikit pun tak ada rasa lelah di tubuhmu, namun tidak demikian dengan hati dan pikiranmu."
"aku tahu, sebelumnya kau tidak pernah menjalani pertarungan hidup dan mati, atau bahkan hanya sekadar perkelahian biasa. disaat kau menerima serangan mendadak yang mematikan, sudah di pastikan saat itu kau merasa cemas, takut dan lain sebagainya. Berbagai macam pikiran-pikiran negatif merasuki jiwamu. tanpa kau sadari bahwa sebenarnya itulah yang menjadi penyebab kau merasakan lelah yang belum pernah dirasakan sebelumnya."
"dalam sebuah pertarungan, kita tidak hanya menggunakan kekuatan fisik semata. Hati dan pikiran kita pun ikut terlibat di dalamnya. Semakin kita tenang, musuh sehebat apa pun akan mampu kita kalahkan, begitu juga sebaliknya. maka jangan heran jika nanti kau menemukan musuh yang berusaha memancing amarah dan merusak ketenanganmu hanya demi meraih kemenangan dalam sebuah pertarungan."
"jika amarahmu terpancing, dan ketenanganmu telah hilang maka saat itu sejatinya kau telah kalah."
"ingatlah Wei'er, musuh terberatmu bukanlah pendekar no satu, musuh terberatmu adalah dirimu sendiri, dan ini berlaku untuk segala hal bukan hanya terjadi dalam sebuah pertarungan semata."
"karena,,,pada hakikatnya, setiap detik kehidupan yang kita jalani, sesungguhnya kita tengah berada dalam sebuah pertarungan besar, yaitu; kita bertarung melawan diri kita sendiri."
"kau mengerti maksudku Wei'er?" Tanya Lung Huo yang dibalas anggukan kepala oleh Chi Wei.
"aku mengerti guru."
"Wei'er, saat ini tepat 10 hari kau berada di sini. Dan perlu kau ketahui, satu hari di sini sama dengan satu tahun di alam nyata. Yang artinya kurang lebih 10 tahun engkau pergi meninggalkan kehidupanmu di sana."
"sudah tentu, dalam kurun waktu selama itu banyak sudah peristiwa-peristiwa yang terjadi yang menimpa keluargamu dan orang-orang yang ada di desa Teratai Putih."
"10 tahun, lalu apa yang sudah terjadi dengan mereka Guru?"
"nanti aku akan menjelaskannya kepadamu, tapi sebelumnya ada beberapa hal yang perlu kau ketahui termasuk sumber kekuatan yang engkau miliki saat ini."
Lung Huo pun mulai menjelaskan apa yang perlu Chi Wei ketahui setelah sebelumnya menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan.
"hhh..."
Ribuan tahun silam, Lung Huo adalah seorang pendekar pengelana yang berilmu tinggi. Berbagai macam ilmu bela diri ia kuasai, berbagai jenis senjata pusaka ia miliki.
Lung Huo memperdalam ilmu bela diri hanya demi kesenangan semata, ia tak akan segan membunuh siapapun yang menghalangi kesenangannya.
Tak terhitung bangsawan yang telah ia bunuh dan harta kekayaannya ia ambil tanpa sisa. Entah berapa gadis dari berbagai kalangan yang telah ia renggut kesuciannya.
Jika ada sebuah sekte yang menjalankan misi untuk membunuh Lung Huo, maka sudah dipastikan sekte tersebut akan rata dengan tanah, baik sekte itu beraliran putih, netral atau bahkan sekte beraliran hitam.
Berbagai macam tempat yang berada di tujuh kekaisaran di daratan benua bintang telah ia kunjungi. Kesenangan demi kesenangan ia lakukan tanpa henti. Tak ada satu orang pun yang mampu membendung kekuatan Lung Huo, semakin sering di membunuh seorang pendekar maka kesaktiannya semakin bertambah.
Tak ada mata yang sanggup menatap matanya, tak ada tangan yang mampu menyentuh tubuhnya, dan tak ada senjata yang mampu menggoreskan luka di kulitnya.
Hingga suatu ketika, disaat Lung Huo berada di sebuah hutan belantara yang berada di wilayah kekaisaran Han, ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang tak ada kata umpama yang mampu mengibaratkan kesempurnaan tubuhnya.
Keindahan tubuh gadis tersebut mampu membangkitkan gairah kelelakian Lung Huo, seketika itu ia pun berhasrat untuk "menikmati" keindahan itu.
Namun tanpa ia duga, gadis tersebut bukanlah gadis biasa, gadis itu ternyata seorang pendekar yang sangat hebat. Tapi itu tidak menyurutkan niat Lung Huo untuk segera melampiaskan hasratnya yang semakin lama semakin membakar akal sehatnya.
Lung Huo pun bertarung sengit dengan gadis itu. Ribuan jurus ia kerahkan demi mengalahkan pendekar cantik tersebut.
Ada keanehan yang Lung Huo rasakan selama pertarungan berlangsung, disaat ia melesatkan atau menangkis sebuah serangan maka saat itu juga kesaktiannya menurun drastis.
Hingga akhirnya, setelah bertarung selama 99 hari tanpa henti, Lung Huo bertekuk lutut di hadapan pendekar jelita itu. Kekalahan pertama yang menyakitkan dan sungguh memalukan untuk seorang pendekar besar seperti Lung Huo. Segala kesaktiannya seakan tak berguna dihadapan seorang gadis kemarin sore yang masih bau kencur tersebut. Ia menolak untuk percaya atas apa yang menimpa, tapi dia harus bisa menerima jika itu adalah sebuah kenyataan yang terasa sangat menyakitkan.
Pertarungan dua pendekar hebat tersebut, membuat hutan belantara itu luluh lantak dan menyisakan sebuah kawah yang sangat besar. Kawah tersebut yang kelak akan berubah menjadi sebuah danau, yang di mana setiap seribu tahun sekali dari dasar danau tersebut akan muncul setangkai bunga teratai putih yang sangat cantik. Dan setiap kali bunga itu mekar, maka akan menebarkan aroma wangi yang mampu mendatangkan ketenangan jiwa.
Dengan hanya menempelkan jari telunjuknya di kening Lung Huo, pendekar cantik itu mampu melihat apa saja yang pernah dilakukan Lung Huo selama ini.
Gadis itu pun merasa sangat geram, dia beranggapan bahkan sebuah kematian pun tak akan cukup untuk membalas kejahatan-kejahatan yang telah Lung Huo lakukan.
Akhirnya, dengan kesakitannya pendekar cantik itu mencabut roh Lung Huo dan menyegelnya di sebuah tempat yang tak akan mampu di tembus oleh mahluk dari dimensi mana pun.
Sementara, jasad Lung Huo dipotong menjadi 6 bagian lalu gadis itu menyebarkannya ke seluruh kekaisaran yang ada di daratan benua bintang, kecuali kekaisaran Han.
Selama rohnya disegel, Lung Huo ditugaskan untuk mengumpulkan segala sumber daya dan energi sebagai bentuk hukuman atas apa yang telah ia lakukan.
Sumber daya dan energi tersebut nantinya akan Lung Huo berikan kepada seorang pemuda yang kelak akan menjadi suami dari pendekar yang telah mengalahkannya.
"Wei'er..." gumam Lung Huo membuyarkan lamunan Chi Wei.
"i.i.iya guru."
"kau tahu, senjata yang digunakan untuk memotong-motong jasadku adalah pedang pusaka yang saat ini telah menyatu dengan tubuhmu itu."
Chi Wei hanya mampu membuka mulutnya menanggapi apa yang disampaikan gurunya tersebut.
"Lalu, di mana pendekar wanita itu sekarang Guru, dan kalau boleh tahu, siapa nama pendekar itu?"
Rasa penasaran mulai menguasai pikiran Chi Wei, dari penuturan Lung Huo tadi, ia berkesimpulan bahwa dirinyalah yang kelak akan menjadi suami pendekar wanita tersebut.
Lung Huo tersenyum tipis menikmati reaksi muridnya tersebut.
"pendekar wanita itu bernama Lin Ling."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Andy Awaludin Khusofi
kok terbalik ya? bukannya biasanya di dunia kecil itu perbandingan waktunya lebih banyak dari dunia asli.. misal di dunia asli goyang jam. di dunia kecil bisa berjalan satu hari. jadi utk latihan lebih efektif
2022-12-25
0
rajes salam lubis
agak aneh sih
2021-12-21
0
Anonymous
lanjut
2021-12-15
0