Tao Ming dan Yan San bisa memaklumi atas respon para penduduk desa. Bertahun-tahun mereka hidup dalam bayang-bayang ketakutan, membuat mereka sangat berhati-hati atas kehadiran orang asing.
Pun demikian dengan Chi Wei, ia tidak merasa terganggu dengan reaksi para penduduk yang ia jumpai sejak memasuki desa Teratai Putih. Dalam batinnya Chi Wei berjanji, ia akan mengakhiri situasi ini secepatnya dan akan mengembalikan kedamaian desa Teratai Putih seperti dulu lagi.
Tak terasa mereka bertiga pun sampai di kediaman Chi Wei. Di sana mereka di sambut oleh Xin Yia yang sejak dari tadi telah menunggu kehadiran sosok pemuda asing yang di sebut-sebut mirip dengan putra kesayangannya itu.
Sesampainya di kediaman Chi Wei, Tao Ming dan Yan San membungkukkan badannya memberi hormat kepada Xin Yia.
"Ming'er, San'er, si...siapa dia?" Xin Yia menunjukkan rasa terkejutnya menyaksikan sesosok pemuda gagah nan tampan yang wajahnya begitu tidak asing di matanya.
Bruk.....
Tiba-tiba Chi Wei bersujud di kaki Xin Yia.
"Ibu,,, aku kembali, Bu." Chi Wei bersimpuh sambil berusaha menahan tangis.
"Ming'er, San'er?" Xin Yia menatap kearah Tao Ming dan Yan San seakan bertanya kepada mereka berdua. Xin Yia berusaha untuk tetap tenang namun nampak jelas bulir-bulir bening di kedua matanya.
Tao Ming pun menganggukkan kepala. "Benar Bibi, dia adalah Sahabat kami, dia adalah Chi Wei putra Bibi."
Xin Yia semakin tak kuasa membendung air matanya, sekujur tubuhnya bergetar hebat. Perlahan ia membungkukkan badannya dan meraih pundak Chi Wei.
"Bangunlah!..."
Kini pemuda yang tingginya melebihi tingginya itu berdiri tegap di depannya. Perlahan tangan Xin Yia menyentuh lembut wajah Chi Wei, ditatapnya lekat-lekat paras tampan putranya itu. Bulir-bulir bening tak mengurangi keindahan bola mata Chi Wei.
"Wei'er, Putraku, benarkah ini kamu, Nak?"
Chi Wei hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.
Bruk!...
Tanpa ba bi bu lagi Xin Yia memeluk erat tubuh putranya tersebut. Lidahnya kelu tak mampu lagi berkata apa-apa. Yang terdengar hanya isak tangis penuh haru dan bahagia yang tiada tara.
Chi Wei membiarkan ibunya melepaskan segala beban di dadanya. Tangannya yang kekar mendekap erat tubuh mungil ibunya tersebut. Suasana pun semakin haru, Tao Ming dan Yan San pun terhanyut dalam suasana tersebut. Tanpa mereka sadari air mata sudah tak mampu lagi mereka bendung.
Beberapa orang penduduk desa yang juga menyaksikan peristiwa tersebut, tidak bisa menahan rasa haru mereka. Seketika, kabar tentang kembalinya Chi Wei menyebar luas ke seluruh pelosok desa. Tentu ini menjadi sedikit berita bahagia di tengah rasa takut yang selama ini menghantui mereka.
"maafkan ibu Wei'er, ibu terlalu egois hingga tak membiarkanmu beristirahat dulu." Xin Yia berkata lembut sambil perlahan melepaskan dekapannya.
"tidak apa-apa Bu." jawab Chi Wei lembut sambil mengusap air mata yang membasahi wajah ibunya tersebut.
Sementara itu, merasa tidak enak hati Tao Ming dan Yan San pamit undur diri dari kediaman keluarga Chi Wei. Mereka berdua sempat ditahan oleh Chi Wei, namun Tao Ming dan Yan San bersikukuh pulang dengan dalih tidak mau mengganggu istirahat Chi Wei.
Selepas kepergian Tao Ming dan Yan San, Chi Wei menanyakan keberadaan si kembar. Xin Yia menjelaskan kalau saat ini si kembar berada di tempat rahasia yang hanya diketahui oleh dia dan kedua sahabat Chi Wei, Tao Ming dan Yan San.
Dulu, sejak kekacauan melanda desa Teratai Putih, hampir setiap hari terjadi perampokkan dan penculikan.
Atas perintah kepala desa dalam sebuah pertemuan rahasia, seluruh warga desa Teratai Putih diharuskan membangun sebuah tempat rahasia. Tempat tersebut nantinya akan digunakan sebagai tempat penyimpanan harta benda mereka termasuk hasil bumi. untuk mengakali para perampok yang selalu datang merampas harta benda para penduduk desa sampai habis tanpa sisa.
Sejak saat itu para penduduk tak lagi mengalami musibah kelaparan, bagi mereka yang punya anak gadis tempat rahasia tersebut juga jadi tempat menyembunyikan anak gadis mereka. Termasuk salah satunya si kembar.
Itu menjadi jawaban dari pertanyaan Chi Wei saat mendapati ruang rahasia bawah tanah di beberapa ladang milik warga desa.
"Lalu, si kembar Ibu sembunyikan di mana? Bukankah kata ibu tadi mereka di sembunyikan hanya di saat para perampok itu datang ke tempat ini?"
Xin Yia tersenyum kecut, lalu menjelaskan bahawa saat dia mendapat kabar ada seorang pemuda asing datang bersama Tao Ming dan Yan San menuju kediamannya, Xin Yia langsung menyuruh si kembar untuk bersembunyi. Karena menurut perhitungannya, para perampok tersebut akan datang dalam waktu dekat ini.
Chi Wei hanya menggaruk kepalanya yang mendadak gatal menanggapi penjelasan ibunya tersebut.
Xin Yia pun mengajak Chi Wei menuju ruangan belakang, di sana tepat di bawah sebuah meja usang terdapat sebuah pintu rahasia yang dibuat sedemikian rupa agar tidak diketahui orang lain.
Setelah pintu itu dibuka, terdapat sebuah ruangan bawah tanah berukuran sekitar 6 meter persegi. Di dalamnya terdapat beberapa hasil bumi yang Xin Yia simpan sebagai persediaan cadangan makanan.
"kamu tunggu di sini, biar ibu yang masuk memanggil si kembar." Ucap Xin Yia sebelum akhirnya masuk kedalam ruangan rahasia tersebut.
Chi Wei pun mengikuti arahan ibunya tersebut. Tidak berselang lama Xin Yia pun keluar dari ruangan itu di susul dua gadis belia yang sangat cantik.
"ibu, siapa orang ini?" tanya salah satu gadis tersebut kepada Xin Yia.
Chi Wei hanya berdiri mematung sambil tersenyum kikuk melihat tingkah sikembar yang merengek-rengek bertanya kepada ibunya.
Lalu Xin Yia pun menjelaskan bahwa pemuda tersebut adalah Chi Wei kakak mereka yang menghilang beberapa tahun yang lalu.
Chi Wei bisa memaklumi jika kedua adiknya itu tidak mengenalinya sama sekali. Sebab, saat Chi Wei menghilang mereka berdua masih sangat kecil.
"kakak Chi Wei?" Ucap mereka bersamaan setengah berteriak.
Keduanya pun berlari menubruk dan memeluk Chi Wei dengan erat.
"maafkan kaka yang terlalu lama meninggalkan kalian." ucap Chi Wei sambil membalas pelukan kedua gadis cantik tersebut.
Suasana haru kembali menyelimuti kediaman Chi Wei. Xin Yia membiarkan ketiga anaknya tersebut untuk saling melepas rindu.
Sejenak terlintas dalam benaknya akan sosok suaminya. "lihat anak-anak kita suamiku, mereka begitu cantik dan tampan."
Lalu Tiba-tiba...
Brak!.....
"Keluar kau perempuan sialan! serahkan gadis kembar itu atau aku bakar rumah ini!"
Terdengar seseorang masuk ke dalam rumah Chi Wei sambil berteriak-teriak meminta Xin Yia keluar dan menyerahkan si kembar.
Xin Yia dan si kembar bergetar ketakutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Ismail Kelana
salah satu tanda cerita yang baik dan bermutu adalah, para pembacanya ikut terbawa arus seperti cerita ini dalam pertemuan Ci Wei dan ibunya dan adiknya serta temannya, terus terang aku jujur saja akupun terharu dan air mata mengalir disudut mataku.
selamat sukses untuk penulisnya.
👍👍👍
2022-08-02
1
Anonymous
lanjut lah
2021-12-15
0
Wedus Gembel
josssssss gandos
2021-12-06
0