Angin sepoi-sepoi yang berembus semakin menghanyutkan Tao Ming terlelap makin dalam. Sementara Yan San, semakin jauh membayangkan keuntungan besar jika dia dan ayahnya mampu membudidayakan jenis ikan langka yang baru saja ia ketahui.
Tidak terasa waktu pun bergulir cepat, matahari semakin condong ke arah barat. Yan San pun mulai merasa aneh, sudah lebih dari dua jam Chi Wei tak kunjung kembali dari sungai. Tao Ming tidak biasanya dia tertidur di tengah hutan begitu lama.
Tersadar dari segala lamunannya, Yan San bergegas membangunkan Tao Ming.
"Tao Ming...bangun...cepat bangun." seru Yan San sambil menggoyang-goyangkan tubuh Tao Ming.
"hmmm....apa sih Yan San...aku masih ngantuk." jawab Tao Ming sambil mengubah posisi tidurnya miring ke kanan.
"kamu sudah tidur lebih dari dua jam, Chi Wei juga belum kembali dari sungai."
"huaaahhhh...masa iya aku sudah tidur selama itu?" tanya Tao Ming sambil menguap.
"buka mata mu, lihat tuh matahari sudah mau terbenam. lagian tidak biasanya kamu tidur di hutan begitu lama?"
"huaaaaahhhhh...ayo kita susul Chi Wei" Tao Ming beranjak bangun lalu melangkah pergi menuju sungai. Sementara Yan San menyusul di belakangnya kebingungan.
"Wei....Chi Wei!!!....."
"Chi Wei lesung!!!......"
Tao Ming dan Yan San bergantian memanggil-manggil Chi Wei setelah beberapa saat mencari namun tidak juga bertemu dengan sahabatnya itu.
"hmmm...apa mungkin Chi Wei sudah pulang lebih dulu?" Yan San bertanya sambil melirik ke arah Tao Ming.
"dia tidak mungkin meninggalkan kita di sini" sergap Tao Ming sambil terus melemparkan pandangannya menyusuri sungai untuk mencari keberadaan Chi Wei.
Seketika Tao Ming teringat betapa Chi Wei menyayangi mereka berdua. Dia rela melakukan apa pun asal kedua sahabatnya tersebut merasa senang. Bahkan Chi Wei berani masuk ke hutan malam-malam hanya untuk mencari tanaman herbal untuk mengobati Yan San yang saat itu keracunan hingga tak sadarkan diri.
Rasanya tidak mungkin Chi Wei pulang lebih dulu dan meninggalkan mereka berdua di tengah hutan belantara.
Hari yang semakin sore membuat Tao Ming dan Yan San mulai dilanda rasa khawatir. Mereka semakin panik setelah menemukan baju dan tas berukuran sedang punya Chi Wei. Baju dan tas tersebut di simpan diatas batu dipinggir sungai yang di sana terdapat air terjun.
Tas yang terbuat dari anyaman rotan itu biasa Chi Wei bawa saat mereka berburu. Di dalam tas itu terdapat beberapa tanaman herbal dan buah-buahan segar yang Chi Wei dapatkan selama menyusuri hutan Timur.
Air terjun tersebut tidak terlalu besar, tingginya hanya beberapa meter saja, namun debit airnya cukup besar. Debit air yang cukup untuk menghanyutkan tubuh anak-anak seusia mereka bertiga. Namun Tao Ming dan Yan San sepakat, dengan kemampuan berenang Chi Wei yang diatas rata-rata anak seusianya rasanya tidak mungkin dia tenggelam dan hanyut terbawa arus sungai.
Namun begitu, pikiran-pikiran jelek itu mulai merasuki isi kepala Tao Ming dan Yan San. Setelah berpencar menyusuri area air terjun, mereka berdua tetap tidak menemukan apa-apa. Hingga akhirnya Tao Ming memutuskan untuk masuk berenang di bawah air terjun.
"Yan San, kamu tunggu di sini. aku akan berenang di bawah air terjun, untuk memastikan keberadaan Chi Wei di sana. Aku takut terjadi hal buruk yang pastinya sangat tidak kita harapkan menimpa sahabat kita." Cerocos Tao Ming sambil melepaskan baju dan langsung masuk ke sungai di bawah air terjun. Sementara Yan San hanya membalasnya dengan anggukan kepala pelan.
Setelah beberapa saat berenang menyusuri sungai di bawah air terjun, Tao Ming tidak juga menemukan apa-apa di sana. Di satu sisi dia merasa senang karena artinya Chi Wei tidak tenggelam di situ, sementara di sisi lain dia juga masih merasa cemas akan keberadaan Chi Wei yang tak kunjung mereka temukan.
Kubangan air sungai yang membentuk sebuah kolam di bawah air terjun tersebut tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu dalam. Lebarnya hanya sekitar 15 meter, kedalaman sungai tersebut juga hanya setinggi orang dewasa. Dan tepat di tengah-tengah bagian yang terdalam di bawah air terjun itu, terdapat batu yang cukup besar. Batu itu cukup unik karena kalau di injak rasanya seperti menginjak permukaan lantai ubin. Lebar dan rata.
Sehingga kalau ada orang dewasa berdiri tepat di atas batu itu, maka permukaan air sungai itu persis ada di ubun-ubun orang dewasa tersebut.
Tao Ming pun bergegas menghampiri Yan San dipinggir sungai yang setia menunggunya.
"Bagaimana...apa kamu menemukan sesuatu di sana?" Yan San bertanya seraya memegang kedua lengan Tao Ming.
"aku tidak menemukan apa-apa, selain ikan kanibal sialan yang menggerogoti kakiku." Tao Ming meringis menahan perih menunjukkan beberapa luka gores bekas gigitan ikan kanibal di kedua betisnya.
"Lalu,,,apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"sebaiknya kita pulang dan segera memberitahu paman Chi Fan dan semua penduduk desa, mungkin dengan begitu kita akan lebih cepat menemukan Chi Wei." ...Meski dilanda rasa cemas, Tao Ming berusaha untuk tetap tenang.
"iya, kamu benar Tao Ming, lagi pula sungai ini kan mengalir ke desa bagian utara, kalau memang Chi Wei hanyut terbawa arus sungai harusnya dia sekarang ada di sana."
Tao Ming dan Yan San pun bergegas pulang meninggalkan hutan Timur, mereka berlari semampu yang mereka bisa, agar bisa secepatnya memberi tahu orang tua Chi Wei.
Berlari dengan diliputi rasa khawatir, membuat mereka berdua beberapa kali terjatuh. Rasa sakit akibat luka yang mereka dapatkan saat jatuh berkali-kali seakan tak terasa tertutup kekhawatiran akan keberadaan sahabat terkasih yang sudah mereka anggap layaknya sodara sendiri.
Berlari pontang panting tanpa henti dengan napas tersengal-sengal, membuat para penduduk desa yang ditemui mereka merasa heran diliputi begitu banyak pertanyaan. Terlebih mereka berlari keluar dari arah hutan Timur hanya berdua, sementara seluruh penduduk desa Teratai Putih tahu dimana ada Tao Ming dan Yan San di situ pasti ada Chi Wei.
Rasa khawatir mulai merasuki para penduduk desa tersebut, saat mereka menangkap mimik cemas dari wajah Tao Ming yang berlari sambil membawa baju dan tas anyaman rotan milik Chi Wei.
Tiga anak kecil yang bersahabat itu, sangat populer dikalangan penduduk desa Teratai Putih. Terutama Chi Wei, bocah berusia 7tahun yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Bocah pemilik senyum manis yang tanpa ragu menolong orang lain meski itu diluar batas kemampuannya.
Terlebih Chi Wei merupakan keponakan dari Tuan Yun Lou kepala desa Teratai Putih. Nyonya Xinn Yia ibu Chi Wei adalah sodara sepupu dari nyonya Xin Xia istri dari Tuan Yun Lou.
Tao Ming dan Yan San tak bergeming atas tatapan heran dari para penduduk desa yang dilalui mereka. Keduanya terus berlari menuju kediaman orang tua Chi Wei.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Dzikir Ari
ini awal aku .... Tor lanjut .......
2023-04-12
0
rajes salam lubis
ok
2021-12-21
0
Roma Rio Farhan Wibowo
👍
2021-12-14
0