Tao Ming menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. Lalu ia melemparkan pandangannya ke arah air terjun.
"hhhhhhh... Wei'er, desa Teratai Putih sudah banyak berubah. kedamaian yang dulu kita rasakan kini hanya tinggal kenangan."
Tao Ming menatap tajam Chi Wei, kemudian ia pun melanjutkan ceritanya. menjelaskan semua yang ia ketahui tentang apa saja yang terjadi selama ini.
Semua penjelasan Tao Ming sama persis dengan apa yang Chi Wei saksikan saat masih berada di alam roh.
"Wei'er, apa kau baiak-baik saja?" tanya Tao Ming yang merasa heran atas sikap Chi Wei yang terkesan biasa saja, terutama setelah ia menceritakan apa yang menimpa keluarganya.
"ya, tentu, aku baik-baik saja, bahkan aku merasa sangat baik. kenapa, apa ada masalah?" Chi Wei bertanya balik kepada Tao Ming.
"apa kau tidak merasa sedih setelah tahu apa yang menimpa keluargamu? terutama apa yang terjadi dengan Paman Chi Fan?" Tanya Yan San yang juga merasakan hal yang sama dengan Tao Ming.
"hhhhhhh... sahabatku, maaf jika aku mengecewakan kalian. tapi apa yang harus aku tunjukkan kepada kalian? apa aku harus marah, nangis, atau berteriak-teriak melampiaskan amarah di depan semua orang?"
"apa dengan begitu semuanya akan kembali seperti dulu? hhhhhh... sebagai manusia biasa tentu aku merasakan hal yang sama dengan kalian. Marah, sedih, bahkan dendam."
"Tapi kita tidak boleh gegabah membiarkan amarah menguasai diri kita yang akhirnya hanya akan mengantarkan kita ke lembah penderitaan yang lebih dalam."
"Semua yang terjadi merupakan takdir yang tidak mungkin kita hindari. Memang sangat menyakitkan, tapi seburuk apa pun itu pasti ada nilai-nilai baik yang bisa kita petik. Tugas kita sekarang adalah, bagaimana caranya mengembalikan kedamaian desa Teratai Putih seperti dulu lagi."
"kita?..." Tao Ming dan Yan San bertanya bersamaan.
"ya, kalau bukan kita, siapa lagi? ini mungkin tidak akan mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Pilihan ada di tangan kita sendiri, bergerak melawan atau diam dan membiarkan semuanya semakin memburuk?"
Tao Ming dan Yan San hanya mampu saling tatap tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka seakan melihat sosok lain dari diri Chi Wei.
"Baiklah, hari sudah sore sebaiknya kita kembali ke desa, tapi sebelumnya aku ingin kalian mengantarku ke tempat di mana ayahku di makamkan."
"Baik, sebaiknya kita berangkat sekarang, sebentar lagi hari beranjak malam." Tao Ming setuju dengan ajakan Chi Wei yang dibalas anggukan kepala oleh Yan San.
Mereka bertiga pun bersiap berangkat menuju desa Teratai Putih.
"Wei'er,,, sepertinya kau harus sedikit menunjukkan kehebatanmu." tiba-tiba suara Lung Huo menggema dalam pikiran Chi Wei.
"Baik guru." jawab Chi Wei membatin sambil tersenyum tipis.
Tao Ming dan Yan San merasa sedikit aneh melihat Chi Wei tersenyum sendiri tanpa sebab.
Tiba-tiba Chi Wei memegang pinggang Tao Ming dan Yan San, lalu bergerak lompat secepat kilat dari pohon satu ke pohon yang lain. Tao Ming dan Yan San yang tidak siap hanya tersentak kaget dan pasrah atas apa yang dilakukan pendekar tampan itu.
Dalam hitungan detik mereka tiba di sebuah area pemakaman umum. Area tersebut terletak di sebuah kaki bukit tidak jauh dari area terluar hutan Timur.
Sesampainya ditempat itu, Tao Ming dan Yan San terhuyung ambruk berlutut ke tanah sambil terbatuk mengeluarkan isi perut mereka.
Menyaksikan kedua sahabatnya tersebut Chi Wei hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis.
"maaf jika aku mengagetkan kalian, hahaha." ucap Chi Wei sedikit meledek.
"uhuk, uhuk....lain kali jangan kau ulangi lagi atau kami akan mati mendadak." jawab Tao Ming mendengus kesal.
"baiklah... sekarang tunjukkan di mana makam ayahku!"
Kemudian Yan San yang keadaannya sedikit lebih baik dari Tao Ming mengajak Chi Wei menuju sebuah batu nisan berwarna hitam yang terletak di bawah pohon kemboja berukuran sedang.
Yan San pun beranjak pergi meninggalkan Chi Wei yang berlutut di depan batu nisan tersebut. Ia pun menghampiri Tao Ming yang duduk bersandar di sebuah batu besar sambil mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
Dari jarak beberapa meter Tao Ming dan Yan San menyaksikan Chi Wei yang masih berlutut di depan makam ayahnya, saat itu mereka menyadari ada yang aneh dengan rambut Chi Wei.
"Ming'er, apa ada yang salah dengan mataku? sepertinya ada yang aneh dengan rambut Wei'er?" Bisik Yan San kepada Tao Ming yang perlahan napasnya mulai berangsur normal.
"kau baru menyadari hal itu? aku bahkan sudah melihatnya sejak masih di air terjun." jawab Tao Ming sedikit kesal.
"entah lah, terlalu banyak hal aneh dari diri Wei'er yang sekarang. selain tubuhnya yang sangat gagah, parasnya pun jadi semakin tampan. sepertinya mulai saat ini dia akan menjadi pria paling tampan di desa Teratai Putih." Yan San berkata dengan penuh rasa kagum.
Sementara itu dari kejauhan Chi Wei yang mampu mendengar percakapan Tao Ming dan Yan San hanya tersenyum tipis.
"kalau kalian sudah merasa lebih baik, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibuku dan si kembar." Chi Wei berkata sambil berjalan mendekati Tao Ming dan Yan San yang masih duduk bersandar sambil berbincang.
"Baiklah Wei'er, tapi dari sini kita lanjutkan dengan berjalan kaki saja. Bagaimana menurutmu San'er?" tanya Tao Ming sambil menepuk pundak Yan San.
"Tentu saja aku setuju, lagi pula jaraknya juga sudah cukup dekat." jawab Yan San penuh semangat.
Menanggapi kedua sahabatnya tersebut Chi Wei hanya tertawa pelan. Seakan mengerti alasan sebenarnya.
"hahahahaha... Baiklah, mari kita berangkat!"
Mereka bertiga pun kemudian melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Sesekali suara gelak tawa terdengar di sela perjalanan mereka.
Sesampainya di pinggiran desa, mereka bertiga menyaksikan beberapa orang petani yang masih sibuk di ladang masing-masing. Dengan mata sakti yang di milikinya, Chi Wei melihat ada beberapa ladang yang di bawahnya terdapat seperti sebuah ruang bawah tanah yang berisi berbagai macam hasil bumi. Namun dari atas nampak seperti permukaan tanah biasa yang di tutupi dengan berbagai macam tanaman bahkan rumput liar.
Chi Wei merasakan banyak keanehan saat dia mulai memasuki wilayah desa Teratai Putih. Suasana damai yang dulu ia rasakan kini seakan hilang tak berbekas. Suasana desa terasa begitu dingin dan mencekam.
Dengan cepat berita kedatangan Tao Ming dan Yan San bersama seorang pemuda asing mulai menyebar ke seluruh pelosok desa. Mereka yang merasa penasaran dengan sosok pemuda asing tersebut mengikuti Tao Ming dan Yan San dari kejauhan.
Namun tak sedikit pula yang merasa ketakutan dan memutuskan pulang dan bersembunyi di rumahnya masing-masing.
Seketika suasana desa menjadi riuh ramai oleh penduduk desa yang membicarakan kehadiran sosok pemuda gagah nan berparas tampan itu.
Kabar tersebut pun sampai ke telinga Xin Yia yang tak lain adalah ibu kandung Chi Wei. Yang membuat Xin Yia sangat penasaran adalah kabar bahwa pemuda asing tersebut memiliki paras yang mirip dengan Chi Wei. Putra tercintanya yang tiba-tiba menghilang beberapa tahun yang lalu.
Xin Yia menunggu di bale-bale rumahnya dengan penuh rasa penasaran. Karena menurut kabar yang beredar di antara penduduk desa, pemuda asing itu datang bersama Tao Ming dan Yan San dan kini sedang berjalan menuju ke arah tempat tinggal Xin Yia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Albet Jalius
siiip lanjut....
2022-09-21
0
Rob&son🤗
komen
2022-03-11
1
Yasdin Syam
lanjutttt thorrrr
2021-12-28
0