Saat Chi Wei membuka mata, dia telah berada di tempat yang berbeda. Dia kini berada di sebuah ruangan yang berbentuk menyerupai sebuah kubah yang setiap permukaannya terbuat dari kristal berwarna putih susu.
Di setiap permukaan ruangan itu, terdapat kilatan-kilatan cahaya petir berwarna kuning keemasan. Sementara di tengah-tengah lantai ruangan itu ada sebuah sumur kecil berdiameter kurang dari satu meter.
Sumur tersebut dipenuhi air yang sangat jernih, sehingga dasar dan dinding sumur bisa terlihat dengan jelas.
Lung Huo pun membawa Chi Wei mendekati sumur tersebut.
"apa yang akan kita lakukan di sini Guru?"
"badanmu bau mengkudu, jadi kau harus berendam di dalam sumur ini...hahahahaha...." Lung Huo menjawab sambil terbahak.
Chi Wei hanya bisa mengangkat salah satu alisnya saja menanggapi jawaban gurunya tersebut.
"Tapi sebelum kau masuk ke dalam sumur, telanlah dulu pil ini!" kata Lung Huo sambil memberikan sebuah pil berwarna emas kepada Chi Wei.
Chi Wei pun menerima pil tersebut dan langsung melemparkannya kedalam mulut. Saat pil itu menyentuh lidahnya, rasa pedas yang teramat sangat segera memenuhi seluruh rongga mulutnya.
Dengan mata yang hampir loncat dari tempatnya, Chi Wei membuka mulutnya lebar-lebar sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya.
"Telan!..." bentak Lung Huo saat mengetahui Chi Wei hendak memuntahkan pil berwarna emas itu.
Dengan sangat terpaksa Chi Wei pun menuruti perintah gurunya itu.
"kau seperti anak perempuan saja." ledek Lung Huo.
"maaf Guru, kalau untuk urusan makan yang pedas-pedas sepertinya kita laki-laki harus mengakui kehebatan kaum perempuan." Balas Chi Wei sambil menggaruk jakunnya.
"Diam kau bocah kecil, tahu apa kau tentang mereka?.....sudah jangan diteruskan. aku tidak suka membahas mahluk yang paling sulit dipahami itu."
"cepat kau masuk kedalam sumur itu!" lanjut Lung Huo menyuruh Chi Wei untuk segera masuk kedalam sumur kecil yang terdapat di ruangan tersebut.
Tidak mau membuat Lung Huo semakin kesal, Chi Wei pun langsung menuruti perintah gurunya itu.
Saat tubuh Chi Wei sudah masuk seluruhnya ke dalam sumur, ubun-ubun Chi Wei berada tepat sejajar dengan permukaan air yang ada di dalam sumur itu. Namun anehnya, Dia masih bisa bernapas secara normal.
"masukan kedua tanganmu ke dalam lubang yang ada di samping kanan dan kirimu itu." suara Lung Huo menggema dalam pikiran Chi Wei. Dengan cepat Chi Wei pun melakukan perintah gurunya tersebut.
Sementara itu, Lung Huo duduk bersila di bibir sumur. Dia menempatkan sebelah telapak tangannya tepat di atas ubun-ubun Chi Wei. Dari telapak tangan Lung Huo muncul cahaya berwarna hijau.
Dari dasar sumur perlahan muncul gelembung udara yang semakin lama semakin banyak, seolah air di dalam sumur itu mendidih.
Tubuh Chi Wei bergetar hebat, rasa panas yang teramat sangat seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Dari tubuh Chi Wei muncul kilatan-kilatan cahaya petir berwarna kuning keemasan.
Ingin rasanya Chi Wei berteriak menahan rasa sakit yang teramat sangat. Namun yang bisa dia lakukan hanya merapatkan giginya hingga bentuk tulang rahangnya terlihat jelas di wajahnya.
Proses itu berjalan selama tiga hari tiga malam tanpa jeda. Selama proses itu berjalan air sumur yang sebelumnya jernih, perlahan-lahan berubah menjadi keruh. Dan di hari ketiga bertepatan dengan berakhirnya proses tersebut, air itu pun berubah warna menjadi hitam pekat.
"bangunlah Wei'er!...." Lung Huo berkata lembut sambil meletakkan sebuah kain berwarna biru di depan Chi Wei.
Selama proses itu berjalan, Lung Huo tidak dapat membayangkan betapa tersiksanya tubuh Chi Wei. Ingin rasanya dia menangis seakan ikut merasakan apa yang di rasakan muridnya itu.
Namun tidak ada pilihan lain, itulah proses yang harus dilalui Chi Wei demi menjalankan sebuah tanggung jawab besar yang kelak akan dipikulnya.
Perlahan Chi Wei membuka matanya, setelah kesadarannya pulih secara utuh, dia baru menyadari kalau sumur yang sebelumnya menelan seluruh tubuhnya kini permukaan air sumur tersebut berada tepat di atas pusarnya.
Awalnya dia tidak menghiraukan kain yang diletakkan Lung Huo, namun setelah dia mencoba mengangkat sebelah kakinya dia baru menyadari kalau bagian bawah tubuhnya ternyata polos tanpa pelindung. Secepat kilat Chi Wei pun menurunkan lagi kaki yang sudah diangkatnya tadi.
"hehehe .... maaf guru, bisakah guru berbalik badan untuk sebentar?..." Chi Wei memohon sambil tersenyum canggung.
"ya ya ya...." balas Lung Huo sambil balik badan membelakangi muridnya tersebut.
Dengan cepat Chi Wei pun naik dari sumur dan segera mengenakkan kain yang diberikan gurunya tadi dan ternyata itu sepotong celana.
"sudah selesai guru." kata Chi Wei sambil berjalan ke arah Lung Huo.
Lung Huo pun membalikkan badan.
"Kau sungguh gagah Wei'er." Ucap pria sepuh itu mengagumi perubahan fisik muridnya itu.
Lalu, Lung Huo mengibaskan sebelah tangannya ke arah sebelah kanan. Seketika itu muncul sebuah cermin.
Chi Wei pun berjalan mendekati cermin itu.
"apakah itu aku guru?"
Tanya Chi Wei sambil memandangi cermin yang memantulkan bayangan sosok pemuda gagah nan tampan bertubuh putih dan atletis.
"memang kau pikir itu siapa?" jawab Lung Huo bernada sedikit kesal.
"apa benar aku setampan itu?" gumam Chi Wei sambil menampar pelan wajahnya sendiri.
"lalu, apa yang terjadi dengan rambutku?" Chi Wei bertanya setelah mendapati rambut hitamnya kini berubah warna menjadi biru gelap.
"sudahlah,,, itu tidak penting Wei'er, aku harap kau mampu menjaga paras tampanmu itu. Jangan sampai ketampananmu melukai hati banyak wanita...hahahaha."
"kemana lesung pipiku?"
"haduhhhhh..." geram Lung Huo sambil menepuk jidatnya sendiri.
"coba kau tersenyum!!!.... Lung Huo membentak gemas.
"hehehe......eh iya masih ada guru." kata Chi Wei sambil senyum-senyum sendiri di depan cermin.
wusssshhhhhh....tiba-tiba cermin itu menghilang.
"Wei'er,,,apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya Lung Huo sambil menatap Chi Wei dengan lembut.
"entahlah guru, aku juga bingung menjelaskannya. Yang pasti, tubuhku terasa ringan dan sangat bertenaga." jawab Chi Wei sambil memamerkan senyum manisnya.
"hhhmmm.....kau baru saja menjalani proses penempaan tubuh, selain mengganti seluruh bagian ragamu dengan yang baru dan sangat kuat, saat ini di dalam tubuhmu terdapat tenaga dalam yang tak terbatas. Dengan adanya tenaga dalam tersebut, Kau tidak akan pernah merasakan kelelahan."
"selain itu, mulai saat ini tak akan ada satu pun senjata pusaka yang mampu menggores kulitmu."
Chi Wei hanya menyimak apa yang dijelaskan gurunya itu sambil sesekali mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"apakah itu artinya latihanku sudah selesai guru?"
"tentu saja belum Wei'er, masih ada beberapa proses yang harus kau jalani."
"perlu kau ketahui, setinggi dan sekuat apa pun ilmu yang kau miliki, jangan pernah berpikir untuk berhenti berlatih. Tidak ada kata selesai dalam proses belajar."
"Baik Guru."
Ctakkkkk...Lung Huo menjentikkan jarinya. Dengan sekejap mata, mereka berdua berpindah tempat ke ruangan lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Albet Jalius
siiip.,..
2022-09-21
0
Anonymous
Cerita yang menarik dan seru!
2022-03-03
0
Dikky Ptatama
bahkan pria sekaliber guru lung Huo pun kena mental dengar chi wey bahas yg namanya ........!
2021-12-11
0