Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan berganti bulan, dan waktu terus berjalan. Namun, penduduk desa Teratai Putih tidak pernah bosan dan menyerah untuk terus melakukan pencarian.
Bahkan Tuan Yun Lou membentuk tim khusus yang bertugas secara bergantian mencari di mana keberadaan Chi Wei.
Meski hasilnya tetap sama, tapi mereka tidak pernah mengeluh untuk terus membantu Chi Fan mencari anak sulungnya tersebut.
Semua yang mereka lakukan malah membuat ikatan persaudaraan terasa semakin erat. Di balik rasa sedih atas kehilangan keponakannya, Tuan Yun Lou merasa sangat bangga menyaksikan kebersamaan warganya yang tidak membiarkan sodaranya mengalami musibah berjuang sendirian.
Setiap malam selepas si kembar terlelap tidur, Xin Yia akan masuk ke kamar Chi Wei berbaring di ranjang tempat biasa anaknya tidur sambil memeluk benda apa pun milik putra sulungnya tersebut. Hingga ia pun terlelap membawa rasa rindu akan kehadiran sosok putera yang senantiasa membuatnya tersenyum bangga.
Menyaksikan kebiasan baru wanita yang sangat dicintainya itu, Chi Fan hanya bisa menghela napas panjang. Sambil membelai rambut dan mengecup kening Xin Yia dengan penuh kasih sayang. Berharap itu bisa sedikit memberi ketenangan jiwa Xin Yia.
***
Di suatu malam
Tuan Yun Lou dan istrinya datang berkunjung ke kediaman Chi Fan. Mereka berbincang hangat sambil menikmati olahan sayur yang di masak oleh Xin Yia.
Menjalani hari-hari sebagai petani sayur, membuat Xin Yia sangat pandai mengolah sayuran tersebut menjadi hidangan yang begitu lezat.
"kakak sepupu, kakak ipar, menurutku sebaiknya pencarian Wei'er dihentikan saja." kata Xin Yia di tengah perbincangan mereka.
"Tapi kenapa adik ipar, kami ikhlas membantu kalian, sebagai kepala desa tentu aku sangat bertanggung jawab atas semua yang terjadi di desa kita, termasuk mencari Wei'er sampai berhasil kita temukan." sahut tuan Yun Lou merasa heran.
"mmm.....Tuan Kepala Desa, kami merasa tidak enak hati jika terus menerus merepotkan seluruh penduduk desa. Kami tidak mau berhutang budi terlalu banyak." Chi Fan pun turut memberi penjelasan.
"Kami sekeluarga sudah bisa menerima dengan ikhlas atas apa yang menimpa putera kami, mungkin ini sudah menjadi takdir kami. Lagi pula kita semua punya kegiatan dan kesibukan masing-masing, kami tidak mau merepotkan kalian lebih lama lagi sementara hingga saat ini hasilnya selalu sama." lanjut Chi Fan meyakin kan Tuan Yun Lou dan Nyonya Xin Xia yang tetap bersikukuh untuk tetap melanjutkan pencarian.
Xin Yia pun meyakinkan Tuan Yun Lou dan Nyonya Xin Xia bahwa mereka baik-baik saja. Menerima dengan lapang dada bahwa Chi Wei sudah tidak mungkin ditemukan lagi. Mereka pun tidak mau terus menerus larut meratapi kehilangan putera sulungnya tersebut. Biar bagaimana pun hidup harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mereka tidak mau menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga hanya untuk melakukan hal yang hasilnya selalu sama, gagal.
"hhhhhhhhhhhh....baiklah kalau begitu. kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, secepatnya aku akan mengungumkannya kepada semua penduduk desa." Balas tuan Yun Lou yang tidak lama setelah itu dia dan istrinya pamit undur diri dari kediaman Chi Fan.
Dalam sebuah pertemuan, Tuan Yun Lou pun mengumumkan bahawa pencarian Chi Wei resmi dihentikan.
Berbagai reaksi datang dari para penduduk desa, ada yang setuju, ada yang menanggapinya biasa saja. Namun tak sedikit pula yang tidak setuju dan akan tetap terus melakukan pencarian. Entah mengapa mereka merasa sangat yakin kalau Chi Wei masih berada di wilayah desa Teratai Putih dalam keadaan baik-baik saja.
Diantara mereka yang masih tetap melakukan pencarian adalah dua orang sahabat Chi Wei sendiri, yaitu Tao Ming dan Yan San. Setelah selesai belajar, berlatih dan membantu orang tua masing-masing, Tao Ming dan Yan San akan pergi menuju air terjun di hutan Timur. Dan akan kembali pulang ke desa setelah hari mulai senja.
Selain berburu mereka berdua akan banyak menghabiskan waktu di pinggir sungai dekat air terjun tempat dimana dulu Chi Wei menghilang untuk sekadar berbincang sambil terus berharap tiba-tiba Chi Wei hadir kembali datang di tengah-tengah mereka.
Kegiatan itu mereka lakukan setiap hari, sebagai bentuk pertanggung jawaban mereka yang selalu merasa bersalah atas menghilangnya Chi Wei.
Lambat laun para penduduk desa Teratai Putih pun semakin terbiasa atas kebiasaan Tao Ming dan Yan San tersebut.
Meski hidup di kelilingi gunung dan hutan belantara yang di dalamnya terdapat banyak hewan buas dan siluman, entah kenapa mereka sedikitpun tidak pernah merasa takut. ini yang membuat para penduduk desa Teratai Putih merasa bersyukur sekaligus merasa aneh, karena selama ini tidak pernah sekali pun terjadi kasus hewan buas atau siluman yang menyerang bahkan membunuh penduduk desa.
Bahkan pernah suatu ketika ada seorang warga desa yang kesulitan menangkap seekor rusa saat berburu. Tiba-tiba datang seekor harimau menangkap rusa tersebut, lalu kemudian harimau itu menoleh kearah pemburu tadi seakan menyuruhnya untuk segera mengambil rusa yang telah ditangkapnya. Setelah itu harimau tersebut pergi menghilang entah kemana.
Kabar itu pun sempat menjadi buah bibir dikalangan warga desa Teratai Putih untuk waktu yang cukup lama. Mereka pun bersyukur bisa hidup damai berdampingan dengan alam liar.
Jika ada penduduk atau warga desa yang melakukan pelanggaran, termasuk salah satunya merusak kehidupan alam bebas, maka kepala desa tidak akan segan memberikan hukuman yang sangat berat. Mulai dari hukuman penjara sampai diusir dan diasingkan dari desa Teratai Putih. Tergantung tingkat pelanggarannya.
Sewaktu-waktu Tao Ming dan Yan San akan selalu datang berkunjung ke kediaman keluarga Chi Wei, selain melepas rindu kepada si kembar, tentunya mereka selalu ketagihan olahan sayur nyonya Xin Yia.
Chi Fan dan Xin Yia pun senantiasa menyambut kehadiran mereka dengan penuh kasih sayang. Kedua bocah tersebut tidak pernah sungkan membantu Chi Fan di kebun sayur miliknya, terutama ketika musim panen tiba. Tak hanya Tao Ming dan Yan San, bahkan kedua orang tua mereka pun datang untuk membantu.
Begitu pun sebaliknya, jika keluarga Tao Ming dan Yan San membutuhkan bantuan, Chi Fan dan Xin Yia tidak sungkan untuk mengulurkan tangan.
Mereka pun mulai terbiasa melewati hari-hari tanpa kehadiran Chi Wei.
Hingga suatu ketika, kedamaian desa Teratai Putih mulai terusik oleh kehadiran perampok dan kelompok pendekar aliran hitam. Desa yang sebelumnya penuh dengan ketenangan kini perlahan-lahan berubah jadi mencekam.
Tiada hari yang terlewati tanpa jerit tangis kesedihan penduduk desa. Satu persatu kebahagiaan mereka direnggut oleh orang-orang berhati iblis.
Perampokan, penculikan dan pembunuhan terus datang silih berganti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
S P Lani
ini terlalu biasa kalau begini ceritanya
2025-02-01
0
Albet Jalius
siip....
2022-09-21
0
rajes salam lubis
masih kurang thor
2021-12-21
0