Dari apa yang telah Chi Wei dengar, terbesit sebuah pertanyaan nyeleneh yang membuat Lung Huo tertawa terpingkal-pingkal.
Sebuah tawa yang sempat melunturkan kewibawaan Lung Huo meski itu hanya sesaat saja.
"kalau aku tidak salah mengambil kesimpulan, berarti kelak aku lah yang akan menjadi suami dari pendekar wanita itu, apakah itu benar Guru?"
"ya....kau benar Wei'er."
"kalau begitu, berarti nanti aku akan menikah dengan seorang nenek-nenek keriput, Guru?" tanya Chi Wei sambil memajukan bibir bawahnya.
"Hahahahahaha...." Lung Huo tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya sendiri.
"yang penting dia masih gadis...hahaha."
"Tapi bagaimana bisa........... Guru?"
Chi Wei semakin kesal merasa telah dikerjai oleh Lung Huo.
"Ceritaku belum selesai anak muda...uhuk...uhuk...uhuk."
"huhhhh..... baiklah, kalau begitu lanjutkan ceritanya Guru." lanjut Chi Wei disertai sorot mata yang berbinar antusias.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Lung Huo kembali melanjutkan ceritanya.
Dengan kesaktian yang dimilikinya, Lin Ling menyegel dan mengunci roh Lung Huo dengan menggunakan kekuatan Pusaka Pedang Berlian.
Selain berfungsi sebagai pengunci tempat di mana roh Lung Huo disegel, kekuatan dari Pusaka Pedang Berlian juga secara otomatis membersihkan segala kesaktian yang dimiliki Lung Huo dari pengaruh kekuatan iblis. dan semua kekuatan itu, menyatu bersama sumber daya dan kekuatan yang terkumpul di tempat itu.
Namun, saat Pusaka Pedang Berlian terpisah dari tubuh Lin Ling, saat itu juga kesaktian Lin Ling akan terus berkurang setiap hari. Hingga tepat dihari ke 100, Lin Ling kehilangan seluruh kekuatannya.
Lin Ling pun kembali menjadi seorang wanita biasa yang tak punya kekuatan apa-apa, dan akhirnya dia meninggal di usia di bawah 30 tahun dalam keadaan masih suci.
Namun, kelak di setiap seribu tahun sekali Lin Ling akan kembali terlahir bertepatan dengan munculnya setangkai bunga teratai putih di sebuah danau yang terbentuk dari kawah sisa pertarungan antara Lin Ling dan Lung Huo.
Dalam setiap kelahirannya, Lin Ling akan muncul sebagai manusia biasa yang berasal dari berbagai macam kalangan dengan nama yang berbeda-beda. Namun selama periode tersebut kecantikan dan keindahan tubuhnya akan terus meningkat.
Tapi, dari semua gadis yang terlahir sebagai reinkarnasi Lin Ling, ada satu kesamaan diantara mereka, yaitu; mereka akan meninggal diusia yang masih muda dalam keadaan masih suci tanpa sekalipun pernah tersentuh oleh laki-laki.
Hingga suatu saat, dikelahiran Lin Ling yang berikutnya akan terlahir seorang pemuda tampan yang ditakdirkan untuk menjadi pemilik dari pusaka Pedang Berlian. Dan pemuda tersebut juga telah ditakdirkan untuk menjadi suami Lin Ling.
Dia bersama Pusaka Pedang Berlian akan membantu Lin Ling untuk mendapatkan kembali seluruh kekuatannya. Lalu, mereka berdua akan bersama-sama diberikan tanggung jawab besar untuk menjaga kedamaian di seluruh daratan benua bintang.
ekhm..... ekhm..... ekhm.....
"Bagaimana Wei'er, apa kau masih minat untuk menikahi Nenek Lin Ling?" Lung Huo menggoda Chi Wei sambil mengedipkan sebelah matanya.
"hmmm....... sepertinya aku tidak bisa menolaknya, bukankah itu sudah menjadi takdir hidupku, Guru?
Lung Huo memejamkan kedua matanya sambil mengelus-elus janggutnya.
"Wei'er, jangan kau anggap apa yang baru saja kau dengar adalah satu hal yang pasti terjadi. Ingatlah, kita ini hanya manusia biasa dengan begitu banyak keterbatasan. Tak ada satu mahluk pun yang mampu memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Kalau pun kelak apa yang baru saja aku katakan benar-benar terjadi dalam kehidupanmu, percayalah itu hanya sebuah kebetulan"
Cling.....
Tiba-tiba Chi Wei mengeluarkan Pedang Berlian.
"Bukankah Pedang Berlian ini salah satu bukti kebenaran dari apa yang baru saja Guru sampaikan"?
"Wei'er, dengan apa yang kau miliki saat ini, maka secara otomatis kau telah resmi menjadi seorang pendekar. Dalam dunia persilatan, kehidupan seorang pendekar tak akan pernah waktu berjalan tanpa mengalami sebuah pertempuran."
"Tapi semuanya itu kembali tergantung pada dirimu sendiri, apakah kau akan menjalani hidup sebagai seorang pendekar, atau tidak?"
"maksud Guru...?"
"tidak ada paksaan bagi seorang manusia yang memiliki ilmu bela diri untuk melakukan sebuah pertarungan. Namun meski demikian, dengan kemampuan yang kau miliki saat ini, apakah kau akan diam saja jika ada sebuah tindak kejahatan terjadi di depan matamu sendiri? terlebih jika kejahatan itu menimpa orang-orang yang kau sayangi."
Ada rasa dilema yang saat ini muncul di benak Chi Wei. Secara pribadi, dia sangat menghindari terjadinya sebuah pertikaian apa lagi sampai harus melakukan pertarungan. Tapi di sisi lain, dengan kekuatan yang ia miliki saat ini, rasa-rasanya sangat lah tidak pantas jika seorang pendekar hebat seperti dirinya menutup mata atas terjadinya sebuah tindak kejahatan.
"kau tidak perlu menjawabnya Wei'er, kelak, waktu yang berjalan akan membantumu menentukan sikap."
"baiklah guru, terimakasih atas semua bimbingan yang telah guru berikan. Aku akan senantiasa mengingatnya."
"hmmm..." balas Lung Huo sambil menganggukkan kepalanya pelan.
Wushhhh.....
Dengan mengibaskan telapak tangannya Lung Huo memunculkan sebuah cermin berukuran besar di hadapan mereka berdua.
"Wei'er, sekarang waktunya kau mengetahui apa yang terjadi dengan orang-orang di desa Teratai Putih selama kau berada di sini."
Chi Wei pun langsung memusatkan perhatiannya ke arah cermin tersebut.
Perlahan-lahan dari cermin itu muncul sebuah gambaran peristiwa-peristiwa yang terjadi di desa Teratai Putih.
Di mulai dari menghilangnya Chi Wei di hutan Timur, penduduk desa Teratai Putih yang berbondong-bondong mencari keberadaannya, sampai apa yang sedang terjadi di desa Teratai Putih saat ini.
Kejadian demi kejadian menghadirkan perasaan dan ekspresi yang berubah-ubah di hati dan wajah Chi Wei.
Hingga, ada sebuah peristiwa yang membuat pendekar muda itu merasa geram dan sangat marah saat menyaksikannya, sekujur tubuhnya bergetar hebat dan berakhir dengan sebuah tangisan.
Dimana saat itu, Chi Wei menyaksikan ayahnya terbunuh dengan cara yang sangat kejam demi melindungi ibu dan dua adik kembarnya. Hatinya terasa begitu hancur saat menyaksikan bagaimana ayahnya meregang nyawa. dan seketika itu dari tubuhnya muncul kilatan-kilatan cahaya petir berwarna biru keemasan berselimut aura berwarna merah yang sangat pekat.
Sebuah aura yang menggambarkan bahwa ia tengah dikuasai amarah.
Sebuah aura yang memunculkan ***** membunuh yang sangat kuat, hingga membuat Lung Huo terpaksa mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi dirinya dari tekanan aura tersebut.
"Aaaaarrrrrggggghhhhhhh....."
Chi Wei berteriak sangat keras membuat ***** membunuhnya semakin kuat, sehingga membuat para siluman yang mendengar teriakan Chi Wei berlari ketakutan.
Bahkan ada beberapa siluman yang tubuhnya hancur menjadi debu karena tidak sanggup menahan tekanan aura yang mengandung kekuatan yang sangat dahsyat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Albet Jalius
siip lanjut thor.,...
2022-09-21
0
Tut Mas Lgs
mantap
2022-03-07
0
rajes salam lubis
entahlah
2021-12-21
0