Di sebuah hutan belantara, tepatnya di hutan Timur, tiga orang anak kecil berusia kurang lebih tujuh tahun sedang asik berbincang di bawah rindangnya rumpun bambu sambil menikmati masing-masing satu ekor daging kelinci bakar.
Bernama hutan Timur, dikarenakan letaknya berada di kaki gunung yang berada di sebelah timur desa Teratai Putih.
Meraka adalah Chi wei bersama dua sahabatnya Tao Ming dan Yan San.
"kenapa kau menolak belajar di ibu kota?" tanya Tao Ming kepada Chi Wei.
"memang kenapa, kau sudah bosan berteman denganku? hah!" jawab Cihi Wei melotot sambil menyumpal mulut Tao Ming dengan kepala kelinci bakar yang masih utuh.
"bbbbffffrrrrrrrttttt....bukan begituuuu.......lesung!" balas Tao Ming sambil berbalik nyumpelin kepala kelinci tadi ke lesung pipi Chi Wei.
Sementara Yan San hanya tersenyum tipis menyaksikan tingkah laku ke dua sahabatnya itu. Memang di antara merekam bertiga, Yan San lah yang paling jarang bicara.
"terus kenapa, memangnya kau tidak bosan terus menerus menanyakan hal itu?" Chi Wei balik bertanya kepada Tao Ming.
"ya....kata orang-orang hidup di kota besar itu enak, apa saja tersedia di sana."
"enak bagi mereka yang memiliki banyak harta. memangnya di sini kurang apa?...mau makan daging tinggal berburu, mau makan buah-buahan tinggal metik di kebun ayahmu, mau makan ikan tinggal mancing di kolam ayahnya Yan San.........."
"mau makan sayuran enak, tinggal pura-pura kelaparan saja di depan ibumu....hahahahaha."
Tao Ming dan Yan San kompak memotong kata-kata Chi Wei sambil memegang perut tertawa terbahak-bahak.
"haaaaahhhhh....sialan!" umpat Chi Wei sambil beranjak menuju sungai yang terletak tidak jauh dari tempat mereka bertiga beristirahat.
"hei ... kau mau kemana?" Tao Ming berteriak sambil berusaha menahan tawa menikmati kekesalan yang dirasakan Chi Wei.
"mau mandi...terlalu lama dekat denganmu membuat badanku bau mengkudu." Chi Wei menjawab tanpa menoleh sambil terus melangkahkan kakinya menuju sungai.
Tao Ming melirik ke arah Yan San dengan mulut menganga, lalu dia berusaha untuk mencium aroma badannya sendiri.
"Yan San...coba kau jawab dengan jujur, apa benar badanku bau mengkudu?"
Yan San hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggeser bibir bawahnya ke depan.
"ngomong-ngomong, mengkudu itu hewan jenis apa?" Yan San bertanya sambil menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
"dasar bodoh, mengkudu saja tidak tahu."
"justru karena tidak tahu makanya aku bertanya."
"hmmm...baiklah aku beri tahu, mengkudu itu jenis ikan langka yang harganya sangat mahal."
"ikan langka yang sangat mahal...hmmm ciri-cirinya seperti apa?" tanya Yan San antusias dan semakin penasaran.
"ciri-cirinya, ikan mengkudu muda berwarna hijau dan di sekujur tubuhnya terdapat bintik-bintik berwarna coklat tua. sementara ikan mengkudu yang sudah tua, warna hijau di tubuhnya akan berubah menjadi warna kuning." jawab Tao Ming sambil berusaha keras menahan tawa dan memasang muka serius.
"oooo....begitu. kenapa ayahku tidak pernah memberi tahu...hmmmmmmm."
"mungkin karena ayahmu juga belum tahu."
"bisa jadi seperti itu, aku harus segera memberi tahu ayahku." Yan San bergumam sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Byurrrrr.........
Terdengar suara benda jatuh kedalam air dari arah sungai tempat yang di tuju Chi Wei. Tentu saja Tao Ming dan Yan San tidak merasa aneh, mereka yakin kalau itu adalah suara Chi Wei yang melompat ke sungai dan berenang di sana.
Tao Ming mulai nyerah melawan rasa ngantuknya, dia pun terlelap di sebelah Yan San yang duduk bersandar di sebuah batu sambil terus memikirkan jenis ikan langka yang baru saja diketahuinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Albet Jalius
siip lanjut...
2022-09-21
0
Rob&son🤗
Bukannya mengkudu itu buah, ko disini ikan?
2022-03-11
1
rajes salam lubis
lanjutttt
2021-12-18
0