Hari di mana ketika Chi Wei menghilang
Rasa lengket dibadannya membuat Chi Wei bergegas melangkah pergi menuju sungai meninggalkan Tao Ming dan Yan San. Dia sudah tak lagi menghiraukan kedua sahabatnya itu yang terus menertawakannya.
Sesampainya di bibir sungai, Chi Wei berjalan menuju sebuah air terjun. Setelah hampir seharian bermandikan keringat, rasanya ingin sekali memberikan kesegaran pada tubuhnya dengan berenang di bawah air terjun tersebut.
Tanpa ba bi bu lagi, Chi Wei membuka baju dan meletakkannya di atas sebuah batu bersama tas anyaman rotan yang selalu ia bawa ketika berburu.
Dengan hanya bertelanjang dada, perlahan Chi Wei menurunkan kakinya ke dasar sungai. Seketika itu sensasi kesejukan menjalar keseluruh tubuh meski pun saat itu hanya sebatas pinggangnya saja yang tenggelam masuk kedalam air.
Setelah selesai membasuh setiap jengkal tubuhnya, Chi Wei memutuskan untuk masuk ke dasar sungai yang berada tepat di bawah air terjun.
Byurrrr....Chi Wei pun melompat meluncur ke dasar sungai. Namun ketika sampai di dalam sana, tiba-tiba ada seekor ular berwarna hijau dengan ukuran sebesar paha orang dewasa yang panjangnya entah berapa meter, ular tersebut dengan cepat menangkap dan melilit sekujur tubuh Chi Wei.
Dengan tubuh kecilnya itu, Chi Wei hanya bisa pasrah tanpa bisa melakukan perlawanan apa-apa. Seketika dia teringat orang-orang yang disayanginya. Ayah, Ibu, si kembar, dan tentunya dua sahabatnya yang saat ini sedang menunggunya di bawah rumpun bambu. Tidak lama kemudian Chi Wei pun perlahan mulai kehilangan kesadarannya. Dan akhirnya semua terlihat begitu gelap dan pekat.
"uhuk...uhuk..."
Perlahan Chi Wei membuka mata, sekujur tubuhnya terasa sangat dingin. Bola mata Chi Wei bergerak memutar memperhatikan sekeliling. Namun yang terlihat hanya dinding dan langit-langit sebuah lorong goa berwarna emas kecoklatan berhias bercak-bercak sinar menyerupai cahaya bintang berwarna putih keperakan. Pelan-pelan kesadarannya mulai kembali secara utuh, kaget, takut, dan berbagai macam perasaan bercampur menjadi satu saat Chi Wei mendapati dirinya tengah terbaring di atas sebuah batu hitam legam berbentuk lingkaran dengan diameter yang sama persis dengan tinggi badannya.
"Di mana ini?"...Chi Wei membatin.
Pelan-pelan dia bangun dan duduk bersila di atas batu tersebut.
"selamat datang anak muda." tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunan Chi Wei.
Secara spontan Chi Wei pun menoleh ke arah sumber suara tersebut yang berada persis di belakangnya. Betapa kaget dia saat melihat seberkas sinar berwarna hijau yang sangat menyilaukan mata.
"sssssiapa kau...?" tanya Chi Wei dengan terbata-bata.
Cling......
Seketika saja cahaya itu berubah menjadi sosok seorang pria tua yang alis, kumis, jenggot dan rambutnya berwarna putih bersih. Pria tua itu mengenakan jubah warna hijau dengan motif seekor ular berwarna perak.
"ma...maaf tuan, kalau boleh tahu, siapa tuan sebenarnya, dan di mana aku berada sekarang?...
Chi Wei berusaha bersikap tenang sambil terus berusaha untuk mencerna apa yang tengah dia alami saat ini.
"Aku Lung Huo,Kau bisa memanggilku Guru Huo, dan kau tidak perlu takut anak muda. Tak ada yang bisa mencelakaimu di sini." Jawab pria tua tersebut dengan penuh wibawa.
"saat ini kau berada di alam roh." lanjutnya sambil tersenyum ramah.
"Alam Roh?..." Chi Wei berkata lirih.
"ya, alam di mana kau berada sebelum engkau dilahirkan ke dunia nyata."
"lalu,,,kenapa aku harus memanggil tuan dengan panggilan Guru Huo?...bukankah tidak ada hubungan apa-apa diantara kita?" Chi Wei bertanya dengan mimik muka dipenuhi tanda tanya.
"tentu,,,kau benar anak muda. sebelumnya memang tak ada hubungan apa-apa diantara kita, tapi mulai saat ini kau adalah muridku."
"kalau aku tidak mau menjadi murid tuan Huo bagaimana?"
"kalau kau tidak mau menjadi muridku, maka selamanya kau akan terkurung di sini. karena hanya dengan menyerap semua yang terkandung di tempat ini kau bisa kembali ke kehidupanmu di alam nyata." Jawab Lung Huo dengan senyum kemenangan.
"hhhhhh......dasar licik." gumam Chi Wei mendengus kesal.
"hahahahahaha....... istirahatlah anak muda, biasakan dirimu dengan tempat ini. jika nanti sudah siap, kau akan segera berlatih."
"memangnya, apa yang akan tuan ajarkan kepadaku?"
"semuanya anak muda, aku akan mengajarkan segala apa yang kau butuhkan untuk menjadi seorang pendekar hebat."
"anda tidak tidak perlu repot-repot tuan Huo, aku tidak suka berkelahi, aku sangat mencintai perdamaian dan aku tidak mau menjadi seorang pendekar."
"kau sungguh naif anak muda, sayangnya aku sangat suka memaksa...hahahahahahahaha."
Cling...
Sosok Lung Huo tiba-tiba menghilang dari pandangan Chi Wei yang sontak kaget celingak-celinguk mencari keberadaan pria tua tersebut.
"huhhhh...dasar orang tua tidak tahu diri, datang dan pergi sesuka hati, memangnya aku ini dianggap apa.........eh." umpat Chi Wei yang tentunya hanya berani berucap dalam hati.
Chi Wei beranjak dari duduknya, menyusuri setiap jengkal ruangan itu. Ada rasa kagum saat ia menyaksikan kerlap kerlip cahaya yang begitu indah.
Menyadari tidak ada yang bisa dilakukannya di tempat itu, dia pun kembali duduk di atas batu hitam bulat tempat di mana ia terbaring tadi.
Saat Chi Wei duduk termenung, tiba-tiba secara otomatis tubuhnya bergerak sendiri diluar kendalinya. Tubuh Chi Wei bergeser ke tengah-tengah batu tersebut dengan posisi bersila menyerupai seseorang yang sedang bermeditasi.
Pelan-pelan mata Chi Wei mulai tertutup, dan secara perlahan tubuh Chi Wei membimbingnya untuk mengolah pernapasan. Meski diliputi dengan berbagai macam pertanyaan, Chi Wei tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah mengikuti keinginan tubuhnya.
Disetiap tarikan napasnya yang dalam, ada sensasi hangat yang terasa begitu nyaman. Sensasi yang memberikan kedamaian seperti disaat ia menghirup aroma teratai putih, namun bedanya sensasi yang saat ini ia rasakan jauh lebih kuat dari apa yang dia rasakan sebelumnya.
Sensasi yang mampu menghancurkan segala prasangka buruk yang sebelumnya ia rasakan ketika baru sampai di tempat itu.
Raut wajahnya telah berubah menjadi lebih baik, di sana terukir jelas sebuah ekspresi yang menggambarkan bahwa dia sudah jauh lebih tenang. Sebuah pertanda jika Chi Wei telah siap untuk berlatih dan menyerap segala apa yang ada di tempat itu.
Chi Wei terhanyut jauh terlempar semakin dalam, menikmati sensasi damai yang ia rasakan. Kedamaian yang dia rasakan semakin meyakinkan hatinya bahwa tidak ada alasan untuk dia menolak atas apa yang di tawarkan oleh Lung Huo. Tawaran yang perlahan dia yakini sebagai takdir hidup yang harus ia jalani.
"sepertinya kau sudah siap berlatih anak muda?" tiba-tiba suara Lung Huo menggema dalam pikiran Chi Wei.
Chi Wei pun mengangguk pelan.
"baiklah, sudah saatnya kau berlatih. Bukalah matamu anak muda."
Lagi-lagi Chi Wei terperanjat kaget, di saat dia membuka mata, dia telah berada di tempat yang berbeda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Dzikir Ari
moga tambah nenarik
2023-04-12
0
Ge-man
udah pake baju belum itu si chi Wei mau berlatih😆😆😆
2022-10-27
0
Albet Jalius
siip lanjut
2022-09-21
0