Di sebuah negara paling utara yang terletak kawasan Amerika Utara, terlihat Allen sudah mulai terbiasa dengan kehidupannya di Kanada dan dia bisa berbaur dengan anak lain dengan cukup baik. Negara yang memiliki jumlah imigran banyak ini tidak membuat Allen merasa berbeda. Mereka menerima Allen dengan baik dan hal itulah yang membuatnya cukup mudah untuk beradaptasi.
Meski dapat beradaptasi dengan baik, Allen merasa tidak terlalu senang disini karena tidak ada hal yang menarik baginya. Sebenarnya ada satu hal yang menarik, namun tidak sampai membuatnya ingin terus berada disini.
Sudah setahun lamanya ia tidak pulang ke Elisien. Terakhir kali dia di Elisien hanya untuk menghadiri pesta anniversary perusahaan keluarganya. Dia merasa terkejut ketika bertemu dengan Liyuna di sana. Sejauh yang ia ketahui, Liyuna bukanlah tipe orang yang suka menghadiri acara pesta yang membosankan seperti itu. Liyuna adalah orang yang memiliki tatapan dingin dan selalu bertingkah seolah-olah orang lain hanyalah tembok. Makanya, saat ia tidak sengaja melukai Liyuna, Allen merasa terkejut karena Liyuna berbeda dari apa yang ia ketahui.
Allen pernah tidak sengaja bertemu dengan Liyuna di lorong sekolah, sebelum kecelakaan itu terjadi dan kesan pertamanya terhadap Liyuna adalah Ice Princess. Dibanding Ratu yang Tak Tersentuh, julukan Putri Es lebih cocok untuknya. Liyuna bukannya tidak bisa disentuh, orang-orang saja yang merasa takut menyentuhnya. Namun kesan dingin yang dipancarkan Liyuna memang benar adanya. Anehnya, Liyuna ia temui setelah kecelakaan memancarkan aura yang sedikit berbeda. Tatapan matanya pun tidak sedingin dulu. Dia memiliki kesan jauh untuk diraih dan menatap orang lain seperti melihat acara di televisi. Apapun yang mereka katakan tentang Liyuna, dia bersikap seolah itu tidak ada hubungan dengannya.
Mungkin saja, dari dulu Liyuna juga memiliki pemikiran seperti itu. Namun, dia tutupi dengan tatapan mata yang dingin dan sikapnya yabg menganggap orang lain adalah tembok.
Allen sendiri juga terkejut ketika Liyuna mau berbicara dan berhubungan dengannya setelah apa yang ia lakukan dulu. Yah, namun saat ini itu tidaklah terlalu penting. Apa yang dia katakan pada Liyuna saat di pesta bukanlah kebohongan. Dia pasti akan kembali lagi ke Elisien, tapi sekarang bukan waktunya.
"Hei, Allen! Jangan melamun saja." Seorang anak laki-laki yang memakai pakaian rapi menepuk pundak Allen. Dia mencoba membuat Allen kembali fokus karena sejak tadi Allen hanya melamun melihat keluar jendela saja.
"Shut up, Vic! Leave me alone." Ucap Allen kesal karena diganggu.
Anak bernama Victor atau singkatnya Vic, adalah salah satu orang yang bisa menembus dinding baja milik Allen. Sejak kedatangan Allen di Toronto, dia selalu menganggu Allen karena merasa penasaran dengan negara tempat Allen berasal. Ya, siapa juga yang tidak penasaran dengan negara yang memiliki banyak penghuni kaya raya. Meski berisik dan menganggu, Allen tidak pernah benar-benar mengusirnya.
"Heyy, jangan seperti itu. Jika kau terus bersikap seperti ini orang-orang nanti akan menjauhi mu."
Meski bisa beradaptasi dan bergaul dengan anak-anak lain, sifat buruk Allen yang kasar masih tetap tidak berubah. Hampir setiap saat dia terlihat kesal dan akan marah jika diganggu. Untung ada Victor yang bisa membuatnya berubah walau hanya sedikit.
Victor terlihat menaikkan kacamata bulat yang dipakainya ke tulang hidungnya yang mancung. Ditangannya ada sebuah buku tentang IT, melihat anak berumur 7 tahun membawa buku sulit seperti itu cukup mengejutkan. Namun, Allen sudah terbiasa dan dia juga tahu kalau Victor cukup pandai untuk memahami isi buku tersebut.
"Ayo kita ke kafeteria saja." Ajak Victor yang saat ini sedang merasa lapar. Dia ingin memakan makanan manis, seperti macaron atau meringue cookie. Membayangkannya saja sudah membuat air liur Victor menetes.
"Kau pergi sendiri saja."
"Kau tidak mau tahu ke lanjutan misi yang kau berikan kemarin?" Tanya Victor dengan nada menantang.
Beberapa minggu yang lalu, Allen memintanya untuk mencoba meretas ponsel seseorang tanpa diketahui orang tersebut. Tentu saja, Victor yang paham mengenai hal-hal seperti itu langsung mengiyakan karena merasa sangat seru.
Allen langsung berdiri mendengar ucapan Victor, lalu ia berjalan keluar kelas menuju ke kafeteria. Langkahnya tidak begitu cepat, jadi Victor bisa menyusulnya.
Melihat tingkah Allen, Victor tertawa terbahak-bahak. Temannya yang satu ini memang hanya akan bereaksi jika menyinggung tentang kakaknya.
Sesampainya di kafeteria, Victor memesan macaron dan segelas vanilla milk tea. Sedangkan Allen hanya memesan kentang goreng saja. Mereka duduk di kursi paling pojok yang jarang dipakai anak lain.
"Jadi bagaimana?" Tanya Allen dengan muka serius. Dia tidak ingin berbasa-basi dan langsung mengatakan apa yang membuatnya penasaran.
"Aku berhasil melakukannya." Ucap Victor dengan membusungkan dada. Dia sangat bangga pada dirinya sendiri karena berhasil melakukan peretasan untuk pertama kalinya.
"Bagaimana dengan jejaknya? Kau berhasil menghapus jejak mu, bukan?" Tanya Allen.
Allen merasa sedikit khawatir jika Victor akan tertangkap karena belum menghapus jejak yang ia tinggalkan saat meretas.
"Tentu saja sudah beres. Kakakmu itu tidak memasang pelindung yang rumit dan sepertinya dia jarang memakai ponsel."
"Dia bukanlah orang bodoh. Instingnya terlalu tajam untuk diabaikan. Untuk sementara, awasi pergerakan kakakku."
"Yes, boss."
"Jika kau merasa kakakku sadar, langsung hentikan penyadapan."
"Aku mengerti, tapi meski aku bilang berhasil, aku hanya bisa menyadap layar ponsel miliknya saja. Aku tidak berhasil menyadap kamera dan speakernya karena skill ku belum cukup. Jadi informasi yang aku ketahui hanya sebatas apa yang dia lakukan ketika layar ponselnya menyala." Jelas Victor.
Meski Victor tergolong sebagai anak yang pintar, dia tetap belum bisa melakukan banyak hal. Apalagi, dia baru tertarik tentang IT beberapa tahun yang lalu, karena ayahnya juga bekerja di bidang tersebut.
"Tidak masalah."
Victor menatap Allen sebentar lalu ia bertanya, "Sebenarnya kenapa kau bersikap seperti ini pada kakakmu?"
Mendengar pertanyaan sensitif keluar dari mulut Victor, membuat Allen tidak nafsu makan. Matanya menjadi sedikit menggelap jika teringat tentang kakaknya, Zion.
Bagi Allen, dia Zion bukanlah kakaknya. Orang seperti Zion tidak pantas ia sebut sebagai kakak. Allen tidak pernah peduli tentang Ravenray karena sejak awal dia datang ke keluarga ini bukan karena keinginannya sendiri. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk merebut semua yang dimiliki Zion, termasuk hak waris miliknya. Jika bukan karena Zion, Ibunya pasti masih ada di sisinya.
Allen tidak peduli seberapa lama waktu yang ia butuhkan untuk menurunkan Zion dari tahtanya. Jika memang dia harus menggunakan seluruh hidupnya untuk itu dia tidak masalah. Apapun akan dia korbankan untuk menjatuhkan orang itu. Ya, di dunia ini hanya dia yang akan dia targetkan.
"Aku tidak mau membahasnya."
Melihat respon Allen yang kurang positif, Victor langsung mengubah topik. Dia tidak mau membuat suasana menjadi keruh. Lagipula, bukan tipe orang yang akan mengorek masalah pribadi temannya sendiri. Jika suatu hari nanti Allen sudah mempercayai Victor, dia pasti akan menceritakan semua hal tentang dirinya dengan mulutnya sendiri. Untuk saat ini, Victor harus lebih bersabar.
Mereka berdua beranjak dari tempat duduk setelah selesai membicarakan tentang keberhasilan Victor dalam menyadap ponsel Zion. Mereka berjalan berdampingan dalam keheningan. Sejak pertama kali mengenal Allen, Victor tahu bahwa anak ini tidak suka jika diganggu saat mood nya sedang jelek. Apalagi setelah membicarakan tentang Zion. Makanya, dia juga tidak mengatakan apapun dan berusaha untuk memahami perasaan temannya.
Allen yang ternyata memiliki agenda tersendiri bukanlah hal yang mengejutkan. Sejak awal dia memang sudah menunjukkan rasa tidak sukanya pada Zion dan di dalam game pun, dia juga menggunakan Yuriel untuk menjatuhkan orang itu.
Namun, apakah semua akan berjalan sesuai seperti yang ada di dalam game? Tidak ada yang tahu tentang hal itu. Hanya waktulah yang bisa menjawab semuanya.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
Yukity
like😍
2022-02-02
0
Mega Ackerman
like
2021-09-20
1
shana 3108
lanjut lagi ya thor.
2021-07-29
1