Chapter 3- Si Menyebalkan Allen!

Setelah mataku terbuka, aku berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina ku dan juga berusaha mengatur pernapasanku karena dadaku terasa sedikit sakit ketika bernapas. Mungkin saja hal ini dikarenakan luka ketika aku jatuh.

Kau tidak tahu sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri, tapi badanku terasa sakit semua seperti habis dipukuli. Setidaknya tidak ada luka yang terbuka dan syukurlah aku masih hidup.

Padahal prolog saja belum dimulai, tapi aku sudah kena sial. Apa memang hidup Liyuna sesial ini? Huft.

Sambil menatap langit-langit kamar, aku mulai memikirkan Allen. Tidak salah lagi, dia adalah target dalam game. Tapi yang aku tidak habis pikir, ternyata Liyuna sudah bertemu dengannya bahkan sebelum Yuriel.

Dalam rute Allen diceritakan bahwa Liyuna adalah tunangannya sejak berumur 12 tahun dan Liyuna mencintainya sejak saat itu. Tapi dengan kejadian ini mungkin saja sebenarnya Liyuna sudah menyukainya sejak kecil, namun di game tidak diceritakan karena mustahil pembuat game menceritakan tokoh antagonis seperti Liyuna. Kalau begini caranya, tidak mungkin aku bisa menghindarinya.

"Sayangku, Yuna. Kamu sudah sadar? Mama akan segera panggilkan dokter."

Aku melihat Sara yang terbangun dari tidurnya, melihat mukanya sepertinya dia sangat kelelahan dan kurang tidur.

Belum sempat aku membalas ucapannya, Sara menekan tombol di sebelah kasurku. Tak lama kemudian dokter dan suster datang ke kamarku dan memeriksa lukaku.

"Nona Liyuna baik-baik saja, hanya saja tangannya mengalami dislokasi dan kepalanya sedikit gegar otak, jadi harus diperhatikan kegiatan sehari-harinya." Ucap dokter bermantel putih yang sedang melihat luka-luka ku.

"Terima kasih, dok." Ucap Sara berterima kasih kepada dokter yang selama ini merawatku, ia mengantar dokter keluar kamar pasien dan mengikutinya untuk berkonsultasi mengenai keadaanku.

"Badanku rasanya sakit semua," gumamku sedikit kesal karena susah sekali untuk menggerakkan tubuh.

Sepuluh menit berlalu dan Mama Sara belum juga kembali, padahal aku lapar sekali dan ingin minta dibelikan makanan.

Ceklek

Mendengar suara pintu yang dibuka, dengan wajah sumringah aku menengok kearah pintu dan berkata, "Mama, sudah selesai? Aku lapar sekali."

Ekspresi bahagiaku membeku ketika melihat siapa yang baru saja membuka pintu. Dia bukan Mama Sara ataupun Papa Karl. Rambut hitam, mata biru dongker yang mendekati hitam, kulit putih seperti salju, Allencio Ravenray. Salah satu target yang ada di Red String dan orang yang membuatku jatuh dari tangga.

"Oh, um ... selamat datang ...?" kataku dengan nada tidak yakin.

Tanpa sadar perkataanku keluar sebagai pertanyaan karena tidak yakin harus mengatakan apa karena sangat terkejut melihat kehadirannya. Aku tidak pernah menyangka dia akan menjengukku.

"Kau sudah sadar, ya? Ini aku bawakan makanan." ucapnya dengan nada yang sangat datar sembari meletakkan totebag berisikan bubur ayam dimeja yang ada di samping ranjangku.

Huh, jelas sekali dia tidak ingin datang kesini.

"Terima kasih."

Aku memperhatikan setiap gerak geriknya. Ia duduk di kursi yang ada di samping ranjangku dan menatapku dengan mata yang tidak bisa ku baca.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja, tanganku hanya mengalami dislokasi dan sedikit gegar otak saja."

Mendengar aku mengucapkan hal barusan dengan senyum kecil, Allen menatapku seperti aku orang aneh.

Benar, siapa juga orang bodoh yang mengatakan tangan yang mengalami dislokasi dan gegar otak itu hanya luka ringan. Tapi mau bagaimana lagi, semenyebalkan apapun dia, Allen tetaplah target yang harus ku perhatikan. Salah salah aku bisa saja mati sebelum prolog. Jika tidak bisa dihindari maka perlakukan saja dia dengan baik.

"Kau sedikit berbeda dari rumor yang beredar, ya?"

"Rumor?"

"Katanya kau ini pintar dan ratu yang tidak bisa disentuh. Sepertinya tidak seperti itu."

Sudut bibirku sedikit berkedut mendengar ucapannya. Secara tidak langsung dia mengatai ku bodoh, begitu kan?

"Rumor hanyalah sekadar rumor. Tidak perlu mempercayai hal yang belum tentu kebenarannya."

Aku masih menampakkan senyuman ku yang tentu saja tidak ikhlas.

"Kau benar, rumor hanyalah rumor."

"Ngomong-ngomong, kenapa kau kesini?"

"Kenapa? Apakah aneh jika orang yang melukaimu datang untuk menjenguk?"

"Bukan itu maksudku."

"Aku datang untuk meminta maaf."

"Maaf?"

"Maaf telah mendorongmu dan membuatmu terluka."

Wah, mendengarnya saja aku merasa ingin memukulnya. Benar-benar tidak ikhlas! Dia tidak berniat meminta maaf dan aku yakin pasti ia dipaksa melakukan ini semua.

"Kalau aku tidak mau memaafkan?" tanyaku penasaran.

Karena dia berani datang kesini untuk mengatakan "Maaf" yang tidak ikhlas, aku mencoba untuk menyerangnya balik untuk melihat ekspresinya, dan benar saja wajahnya yang dari tadi datar berubah menjadi menyeramkan. Dia terlihat sangat marah seperti ingin membunuh seseorang.

"Oh, kau berani tidak memaafkanku?"

"Kenapa tidak berani?"

Aku masih mencoba memberanikan diri untuk memprovokasinya. Aku hanya ingin tahu sejauh mana aku bisa memprovokasi orang ini dan menjadikannya catatan tambahan, siapa tahu di masa depan aku bisa menggunakannya untuk bertahan hidup.

Mendengar balasanku barusan, Allen mendengus tidak percaya. Sepertinya dia tidak pernah menyangka bahwa aku akan bereaksi seperti ini.

"Apa yang kau inginkan untuk memaafkanku?"

"Tidak ada, tidak ada yang ku inginkan."

"Ah, benar juga. Kau adalah putri dari keluarga Castris, pastinya tidak membutuhkan apapun karena sudah memiliki semuanya."

Mendengar ucapannya, aku sedikit kesal. Dia melukaiku tapi dia tidak mau meminta maaf dengan tulus dan malah mencoba untuk menyuap ku? Dasar bocah umur 6 tahun! Berani-beraninya dia melakukan hal seperti ini padaku. Jika ditambah dengan umurku di kehidupan sebelumnya, umurku saat ini sudah 24 tahun tahu! Pengetahuanku di kehidupanku yang sebelumnya juga tidak buruk, demi mempertahankan beasiswa aku selalu menjadi nomor 1 dalam peringkat, karena itu di kehidupan kali ini aku juga berusaha keras agar tidak tertinggal. Berbeda denganku yang harus belajar mati-matian untuk mengerti suatu materi, Liyuna sejak awal memang anak yang cerdas dan mudah mengerti banyak hal. Mendengar Allen menyinggung nama Castris jujur saja membuatku sedikit kesal. Seolah olah apa yang Liyuna miliki bukan hasil kerja keras namun karena ia putri keluarga Castris.

"Aku tidak butuh kata maaf yang tidak tulus darimu, jika tidak ada hal lain yang ingin kau katakan, silahkan keluar."

"Kau mengusirku?"

"Aku tidak mengusirmu. Aku mempersilahkan mu untuk keluar dengan sopan,–"

"Kau kesini pasti karena disuruh kakakmu kan, tidak usah melakukan hal ini. Aku akan mengatakan padanya bahwa kau sudah datang dan meminta maaf."

Ini adalah salah satu kartu yang bisa menyerang Allen, yaitu dengan menyebut kakaknya. Dari game aku tahu bahwa Allen sangat membenci kakaknya karena perlakuan orang tua mereka terhadap Allen. Allen adalah anak dari istri kedua yang telah meninggal dan dikatakan dalam game bahwa Zion pernah mengatakan hal kurang menyenangkan tentang ibu Allen.

"Kau mengenal kakakku?"

"Tidak juga, aku hanya pernah melihatnya di majalah."

Ceklek

"Nona Yuna! Aku dengar Nona sudah siuman?"

Seperti badai yang tiba-tiba datang, Yvette dengan tenaga berlebihnya masuk ke kamarku membawa banyak sekali keranjang buah-buahan.

"Wooah! Kenapa Allen ada disini?" tanyanya yang terkejut melihat ada Allen di dalam kamarku.

"Kalau begitu aku permisi." ucap Allen meninggalkan kamarku.

Aku yakin mood-nya menjadi tidak baik karena aku menyinggung nama kakaknya.

"Nona, apa yang dia lakukan disini?"

"Dia datang untuk meminta maaf."

"Meminta maaf? Si Allen? Haiss, mustahil."

"Terima kasih sudah datang, Yvette."

"Nona tidak perlu berterima kasih, tentu saja aku akan datang dan menjengukmu. Ini aku bawakan banyak sekali buah-buahan."

Aku dan Yvette berbincang-bincang mengenai apa saja yang terjadi setelah aku jatuh dari tangga dan ternyata peristiwa ini cukup menghebohkan disekolah sehingga pihak sekolah memutuskan untuk libur hingga aku pulih. Pihak sekolah merasa bersalah karena lalai dalam menjaga ketertiban dan keselamatan siswa mereka.

Tak lama kemudian Mama Sara datang dan bertukar sapa dengan Yvette. Lalu aku memintanya untuk menyuapiku bubur ayam yang tadi dibawa Allen dan bilang bahwa itu darinya. Mama Sara menanyakan dimana Allen sekarang dan aku bilang bahwa Allen sudah pulang setelah meminta maaf.

Aku masih harus berada di rumah sakit hingga 2 minggu ke depan, setelah itu aku bisa kembali bersekolah seperti biasa. Namun, ketika aku kembali ke sekolah, hal yang sangat mengejutkan terjadi.

TBC

Terpopuler

Comments

roti gepeng

roti gepeng

thor sudut pandangnya jangan diganti ganti ya

2024-01-19

1

louise

louise

gas robek palanya biar adil 🙂

2021-12-16

6

senja

senja

soalnya disini dia negasin kl usianya 24, jadi kaget aja di bab depan bilang 18 lagi

2021-08-22

5

lihat semua
Episodes
1 Prologue
2 Chapter 1 - Aku Mengambil Alih Tubuh Liyuna?!
3 Chapter 2 - Masih Hidup
4 Chapter 3- Si Menyebalkan Allen!
5 Chapter 4 - Kepindahan Allen Yang Tiba-Tiba
6 Chapter 5 - Munculnya Karakter Baru?!
7 Chapter 6 - Orang-Orang Bersetelan Hitam
8 Chapter 7 - Lucas Obelian si Ekstra
9 Chapter 8 - Mata Monster Beracun
10 Chapter 9 - Kesan Yang Membaik
11 Chapter 10 - Pesta I
12 Chapter 11 - Pesta II
13 Chapter 12 - Pesta III
14 Chapter 13 - Musim Semi Pertama
15 Chapter 14 - Havelian Park
16 Chapter 15 - Keputusan Lucas
17 Chapter 16 - Pulang ke Rusia
18 Chapter 17 - Obelian's Circle
19 Chapter 18 - Insiden Pengeboman
20 Chapter 19 - Allen dan Victor
21 Chapter 20 - Yuda Harvenhelt
22 Chapter 21 - Liburan Musim Panas I
23 Chapter 22 - Liburan Musim Panas II
24 Chapter 23 - Kalung Kupu-Kupu
25 Chapter 24 - Pulang
26 Chapter 25 - Sleepover
27 Chapter 26 - Perasaan
28 Chapter 27 - Eksplor
29 Chapter 28 - Penghuni Rumah Matahari
30 Chapter 29 - Berita Kematian
31 Chapter 30 - Topeng Yuda
32 Chapter 31 - Menulis Ingatan
33 Spesial Q&A
34 Chapter 32 - Kedatangan Yuriel I
35 Chapter 33 - Kedatangan Yuriel II
36 Chapter 34 - Ikatan & Kepercayaan
37 Chapter 35 - Orang Itu Adalah?
38 Chapter 36 - Hidden Target
39 Chapter 37 - Hajun
40 Chapter 38 - Yuriel di Sekolah I
41 Chapter 39 - Yuriel di Sekolah II
42 Chapter 40 - Yuriel di Sekolah III
43 Chapter 41 - Mimpi
44 Chapter 42 - Menyembunyikan Sesuatu
45 Chapter 43 - Keadaan
46 Chapter 44 - Altzion Ravenray
47 Chapter 45 - Ravenray
48 Chapter 46 - Wanita dalam Lukisan
49 Chapter 47 - Luka yang Dimilikinya
50 Chapter 48 - Masa Lalu Yuda
51 Chapter 49 - Persiapan
52 Chapter 50 - Pemeran Utama
53 Chapter 51 - Kegembiraan dan Keceriaan
54 Chapter 52 - Sebuah Janji
55 Chapter 53 - Kembali
56 Chapter 54 - Musim Semi Keenam
57 Chapter 55 - Tempat Persembunyian
58 Chapter 56 - Konfrontasi
59 Chapter 57 - Mimpi yang Terlihat Nyata
60 Chapter 58 - Ketua OSIS
61 Chapter 59 - Mirror of the World
62 Chapter 60 - Munculnya Tokoh Berbahaya
63 Chapter 61 - Liyuna Asli!
64 Chapter 62 - Perkumpulan
65 Chapter 63 - Hari Pertama
66 Chapter 64 - Seperti Biasa
67 Chapter 65 - Menjadi Anggota Resmi
68 Chapter 66 - Perasaan Yuriel
69 Chapter 67 - Emosi yang Tidak Stabil
70 Chapter 68 - Liburan Bersama Allen
71 Chapter 69 - Pembunuh Bayaran
72 Chapter 70 - Liyuna dalam Bahaya
73 Chapter 71 - Menyelamatkan Diri
74 Chapter 72 - Kembali ke Vila
75 Chapter 73 - Bala Bantuan Datang!
76 Chapter 74 - Recovery
77 Chapter 75 - Malam Natal Berdarah
78 Chapter 76 - Berita Duka
79 Chapter 77 - Penyelidikan
80 Chapter 78 - Almera Menemukan Kebenaran
81 Chapter 79 - Pemakaman
82 Chapter 80 - Ketakutan Melanda
83 Chapter 81 - Belum Waktunya
84 Chapter 82 - Musim Semi Kesepuluh
85 Chapter 83 - Kembalinya Lucas
86 Chapter 84 - Lama Tidak Bertemu
87 Chapter 85 - Reuni
88 Chapter 86 - Ilusi atau Ingatan?
89 Chapter 87 - Bertemu Dengannya
90 Chapter 88 - Mimpi Atau Premonisi?
91 Chapter 89 - Kesan Pertama (Allen's POV)
92 Chapter 90 - Pesta Anniversary
93 Chapter 91 - Terima Kasih Tehnya
94 Chapter 92 - Allen dan Zion
95 Chapter 93 - Pentas Seni
96 Chapter 94 - The Romancers
97 Chapter 95 - Backstage
98 Chapter 96 - Insiden Besar Terjadi
99 Chapter 97 - Cerberus
100 Chapter 98 - Kebenaran yang Disembunyikan
101 Chapter 99 - Wanita yang Selalu Menghantui
102 Chapter 100 - Alasan (Zion's POV)
103 Chapter 101 - Aku yang Berasal Dari Dunia Lain
104 Chapter 102 - Januari
105 103 - Lucas dan Hajun
106 Chapter 104 - Istirahat Sejenak
107 Chapter 105 - General Manager
108 Chapter 106 - Hasil Dari Sebuah Pilihan
109 Chapter 107 - Insiden Frozen December
110 Chapter 108 - Tekad yang Bulat
111 109 - Awal Mulai Dari Time Loop (Allen's POV)
112 Chapter 110 - Kedatangan Victor
113 Chapter 111 - Akhir Dari Ravenray
114 Chapter 112 - Pemindahan Kekuasaan
115 Chapter 113 - Awal Dari Sebuah Cerita (Yuriel's POV)
116 Chapter 114 - Allen dan Yuriel
117 Chapter 115 - Mulai Bergerak
118 Chapter 116 - Panti Asuhan Astraea
119 Chapter 117 - Noel dan Panti Astraea
120 Chapter 118 - Tidak Kondusif
121 Chapter 119 - Bertemu Lucas
122 Chapter 120 - Tamu Tak Diundang
123 Chapter 121 - Sesuatu Terjadi Pada Lucas
124 Chapter 122 - Kita Harus Membantu Lucas
125 Chapter 123 - Menyelinap Ke Obelian's Circle
126 Chapter 124 - Pergi ke Rusia
127 Chapter 125 - Menyusun Rencana
128 Chapter 126 - Persiapan
129 Chapter 127 - Keributan
130 Chapter 128 - Irina
131 Chapter 129 - Basement
132 Chapter 130 - Ketahuan?!
133 Chapter 131 - Kakak Lucas
134 Chapter 132 - Meninggalkan Obelian's Circle
135 Chapter 133 - Kembali Elisien
136 Chapter 134 - Daun Mulai Berguguran
137 Chapter 135 - Diintai
138 Chapter 136 - Kecelakaan
139 Chapter 137 - Red Diamond
140 Chapter 138 - Pencarian
141 Chapter 139 - Kalung Kupu-Kupu II
142 Chapter 140 - Tersadar
143 Chapter 141 - Dia adalah Pamanku?
144 Chapter 142 - Gudang Penyimpanan
145 Chapter 143 - Barang Lelang
146 Chapter 144 - Identitas Pemimpin Cerberus
147 Chapter 145 - Barang Terakhir
148 Chapter 146 - Harrioth Aerian Castris
149 Chapter 147 - Pasukan Penyelamat
150 Chapter 148 - Meninggalkan Red Diamond
151 Chapter 149 - Liyuna
152 Chapter 150 - Perubahan
153 Chapter 151 - Kebenaran
154 Chapter 152 - Keluarga Castris
155 Chapter 153 - Keluarga Castris (2)
156 Chapter 154 - Keluarga Castris (3)
157 Chapter 155 – Karl dan Harry
158 Chapter 156 - Karl dan Harry (2)
159 Chapter 157 – Karl dan Harry (3)
160 Chapter 158 – Retakan
161 Chapter 159 – Retakan (2)
162 Chapter 160 - Pamanmu, Harrioth
Episodes

Updated 162 Episodes

1
Prologue
2
Chapter 1 - Aku Mengambil Alih Tubuh Liyuna?!
3
Chapter 2 - Masih Hidup
4
Chapter 3- Si Menyebalkan Allen!
5
Chapter 4 - Kepindahan Allen Yang Tiba-Tiba
6
Chapter 5 - Munculnya Karakter Baru?!
7
Chapter 6 - Orang-Orang Bersetelan Hitam
8
Chapter 7 - Lucas Obelian si Ekstra
9
Chapter 8 - Mata Monster Beracun
10
Chapter 9 - Kesan Yang Membaik
11
Chapter 10 - Pesta I
12
Chapter 11 - Pesta II
13
Chapter 12 - Pesta III
14
Chapter 13 - Musim Semi Pertama
15
Chapter 14 - Havelian Park
16
Chapter 15 - Keputusan Lucas
17
Chapter 16 - Pulang ke Rusia
18
Chapter 17 - Obelian's Circle
19
Chapter 18 - Insiden Pengeboman
20
Chapter 19 - Allen dan Victor
21
Chapter 20 - Yuda Harvenhelt
22
Chapter 21 - Liburan Musim Panas I
23
Chapter 22 - Liburan Musim Panas II
24
Chapter 23 - Kalung Kupu-Kupu
25
Chapter 24 - Pulang
26
Chapter 25 - Sleepover
27
Chapter 26 - Perasaan
28
Chapter 27 - Eksplor
29
Chapter 28 - Penghuni Rumah Matahari
30
Chapter 29 - Berita Kematian
31
Chapter 30 - Topeng Yuda
32
Chapter 31 - Menulis Ingatan
33
Spesial Q&A
34
Chapter 32 - Kedatangan Yuriel I
35
Chapter 33 - Kedatangan Yuriel II
36
Chapter 34 - Ikatan & Kepercayaan
37
Chapter 35 - Orang Itu Adalah?
38
Chapter 36 - Hidden Target
39
Chapter 37 - Hajun
40
Chapter 38 - Yuriel di Sekolah I
41
Chapter 39 - Yuriel di Sekolah II
42
Chapter 40 - Yuriel di Sekolah III
43
Chapter 41 - Mimpi
44
Chapter 42 - Menyembunyikan Sesuatu
45
Chapter 43 - Keadaan
46
Chapter 44 - Altzion Ravenray
47
Chapter 45 - Ravenray
48
Chapter 46 - Wanita dalam Lukisan
49
Chapter 47 - Luka yang Dimilikinya
50
Chapter 48 - Masa Lalu Yuda
51
Chapter 49 - Persiapan
52
Chapter 50 - Pemeran Utama
53
Chapter 51 - Kegembiraan dan Keceriaan
54
Chapter 52 - Sebuah Janji
55
Chapter 53 - Kembali
56
Chapter 54 - Musim Semi Keenam
57
Chapter 55 - Tempat Persembunyian
58
Chapter 56 - Konfrontasi
59
Chapter 57 - Mimpi yang Terlihat Nyata
60
Chapter 58 - Ketua OSIS
61
Chapter 59 - Mirror of the World
62
Chapter 60 - Munculnya Tokoh Berbahaya
63
Chapter 61 - Liyuna Asli!
64
Chapter 62 - Perkumpulan
65
Chapter 63 - Hari Pertama
66
Chapter 64 - Seperti Biasa
67
Chapter 65 - Menjadi Anggota Resmi
68
Chapter 66 - Perasaan Yuriel
69
Chapter 67 - Emosi yang Tidak Stabil
70
Chapter 68 - Liburan Bersama Allen
71
Chapter 69 - Pembunuh Bayaran
72
Chapter 70 - Liyuna dalam Bahaya
73
Chapter 71 - Menyelamatkan Diri
74
Chapter 72 - Kembali ke Vila
75
Chapter 73 - Bala Bantuan Datang!
76
Chapter 74 - Recovery
77
Chapter 75 - Malam Natal Berdarah
78
Chapter 76 - Berita Duka
79
Chapter 77 - Penyelidikan
80
Chapter 78 - Almera Menemukan Kebenaran
81
Chapter 79 - Pemakaman
82
Chapter 80 - Ketakutan Melanda
83
Chapter 81 - Belum Waktunya
84
Chapter 82 - Musim Semi Kesepuluh
85
Chapter 83 - Kembalinya Lucas
86
Chapter 84 - Lama Tidak Bertemu
87
Chapter 85 - Reuni
88
Chapter 86 - Ilusi atau Ingatan?
89
Chapter 87 - Bertemu Dengannya
90
Chapter 88 - Mimpi Atau Premonisi?
91
Chapter 89 - Kesan Pertama (Allen's POV)
92
Chapter 90 - Pesta Anniversary
93
Chapter 91 - Terima Kasih Tehnya
94
Chapter 92 - Allen dan Zion
95
Chapter 93 - Pentas Seni
96
Chapter 94 - The Romancers
97
Chapter 95 - Backstage
98
Chapter 96 - Insiden Besar Terjadi
99
Chapter 97 - Cerberus
100
Chapter 98 - Kebenaran yang Disembunyikan
101
Chapter 99 - Wanita yang Selalu Menghantui
102
Chapter 100 - Alasan (Zion's POV)
103
Chapter 101 - Aku yang Berasal Dari Dunia Lain
104
Chapter 102 - Januari
105
103 - Lucas dan Hajun
106
Chapter 104 - Istirahat Sejenak
107
Chapter 105 - General Manager
108
Chapter 106 - Hasil Dari Sebuah Pilihan
109
Chapter 107 - Insiden Frozen December
110
Chapter 108 - Tekad yang Bulat
111
109 - Awal Mulai Dari Time Loop (Allen's POV)
112
Chapter 110 - Kedatangan Victor
113
Chapter 111 - Akhir Dari Ravenray
114
Chapter 112 - Pemindahan Kekuasaan
115
Chapter 113 - Awal Dari Sebuah Cerita (Yuriel's POV)
116
Chapter 114 - Allen dan Yuriel
117
Chapter 115 - Mulai Bergerak
118
Chapter 116 - Panti Asuhan Astraea
119
Chapter 117 - Noel dan Panti Astraea
120
Chapter 118 - Tidak Kondusif
121
Chapter 119 - Bertemu Lucas
122
Chapter 120 - Tamu Tak Diundang
123
Chapter 121 - Sesuatu Terjadi Pada Lucas
124
Chapter 122 - Kita Harus Membantu Lucas
125
Chapter 123 - Menyelinap Ke Obelian's Circle
126
Chapter 124 - Pergi ke Rusia
127
Chapter 125 - Menyusun Rencana
128
Chapter 126 - Persiapan
129
Chapter 127 - Keributan
130
Chapter 128 - Irina
131
Chapter 129 - Basement
132
Chapter 130 - Ketahuan?!
133
Chapter 131 - Kakak Lucas
134
Chapter 132 - Meninggalkan Obelian's Circle
135
Chapter 133 - Kembali Elisien
136
Chapter 134 - Daun Mulai Berguguran
137
Chapter 135 - Diintai
138
Chapter 136 - Kecelakaan
139
Chapter 137 - Red Diamond
140
Chapter 138 - Pencarian
141
Chapter 139 - Kalung Kupu-Kupu II
142
Chapter 140 - Tersadar
143
Chapter 141 - Dia adalah Pamanku?
144
Chapter 142 - Gudang Penyimpanan
145
Chapter 143 - Barang Lelang
146
Chapter 144 - Identitas Pemimpin Cerberus
147
Chapter 145 - Barang Terakhir
148
Chapter 146 - Harrioth Aerian Castris
149
Chapter 147 - Pasukan Penyelamat
150
Chapter 148 - Meninggalkan Red Diamond
151
Chapter 149 - Liyuna
152
Chapter 150 - Perubahan
153
Chapter 151 - Kebenaran
154
Chapter 152 - Keluarga Castris
155
Chapter 153 - Keluarga Castris (2)
156
Chapter 154 - Keluarga Castris (3)
157
Chapter 155 – Karl dan Harry
158
Chapter 156 - Karl dan Harry (2)
159
Chapter 157 – Karl dan Harry (3)
160
Chapter 158 – Retakan
161
Chapter 159 – Retakan (2)
162
Chapter 160 - Pamanmu, Harrioth

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!