Setelah mataku terbuka, aku berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina ku dan juga berusaha mengatur pernapasanku karena dadaku terasa sedikit sakit ketika bernapas. Mungkin saja hal ini dikarenakan luka ketika aku jatuh.
Kau tidak tahu sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri, tapi badanku terasa sakit semua seperti habis dipukuli. Setidaknya tidak ada luka yang terbuka dan syukurlah aku masih hidup.
Padahal prolog saja belum dimulai, tapi aku sudah kena sial. Apa memang hidup Liyuna sesial ini? Huft.
Sambil menatap langit-langit kamar, aku mulai memikirkan Allen. Tidak salah lagi, dia adalah target dalam game. Tapi yang aku tidak habis pikir, ternyata Liyuna sudah bertemu dengannya bahkan sebelum Yuriel.
Dalam rute Allen diceritakan bahwa Liyuna adalah tunangannya sejak berumur 12 tahun dan Liyuna mencintainya sejak saat itu. Tapi dengan kejadian ini mungkin saja sebenarnya Liyuna sudah menyukainya sejak kecil, namun di game tidak diceritakan karena mustahil pembuat game menceritakan tokoh antagonis seperti Liyuna. Kalau begini caranya, tidak mungkin aku bisa menghindarinya.
"Sayangku, Yuna. Kamu sudah sadar? Mama akan segera panggilkan dokter."
Aku melihat Sara yang terbangun dari tidurnya, melihat mukanya sepertinya dia sangat kelelahan dan kurang tidur.
Belum sempat aku membalas ucapannya, Sara menekan tombol di sebelah kasurku. Tak lama kemudian dokter dan suster datang ke kamarku dan memeriksa lukaku.
"Nona Liyuna baik-baik saja, hanya saja tangannya mengalami dislokasi dan kepalanya sedikit gegar otak, jadi harus diperhatikan kegiatan sehari-harinya." Ucap dokter bermantel putih yang sedang melihat luka-luka ku.
"Terima kasih, dok." Ucap Sara berterima kasih kepada dokter yang selama ini merawatku, ia mengantar dokter keluar kamar pasien dan mengikutinya untuk berkonsultasi mengenai keadaanku.
"Badanku rasanya sakit semua," gumamku sedikit kesal karena susah sekali untuk menggerakkan tubuh.
Sepuluh menit berlalu dan Mama Sara belum juga kembali, padahal aku lapar sekali dan ingin minta dibelikan makanan.
Ceklek
Mendengar suara pintu yang dibuka, dengan wajah sumringah aku menengok kearah pintu dan berkata, "Mama, sudah selesai? Aku lapar sekali."
Ekspresi bahagiaku membeku ketika melihat siapa yang baru saja membuka pintu. Dia bukan Mama Sara ataupun Papa Karl. Rambut hitam, mata biru dongker yang mendekati hitam, kulit putih seperti salju, Allencio Ravenray. Salah satu target yang ada di Red String dan orang yang membuatku jatuh dari tangga.
"Oh, um ... selamat datang ...?" kataku dengan nada tidak yakin.
Tanpa sadar perkataanku keluar sebagai pertanyaan karena tidak yakin harus mengatakan apa karena sangat terkejut melihat kehadirannya. Aku tidak pernah menyangka dia akan menjengukku.
"Kau sudah sadar, ya? Ini aku bawakan makanan." ucapnya dengan nada yang sangat datar sembari meletakkan totebag berisikan bubur ayam dimeja yang ada di samping ranjangku.
Huh, jelas sekali dia tidak ingin datang kesini.
"Terima kasih."
Aku memperhatikan setiap gerak geriknya. Ia duduk di kursi yang ada di samping ranjangku dan menatapku dengan mata yang tidak bisa ku baca.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja, tanganku hanya mengalami dislokasi dan sedikit gegar otak saja."
Mendengar aku mengucapkan hal barusan dengan senyum kecil, Allen menatapku seperti aku orang aneh.
Benar, siapa juga orang bodoh yang mengatakan tangan yang mengalami dislokasi dan gegar otak itu hanya luka ringan. Tapi mau bagaimana lagi, semenyebalkan apapun dia, Allen tetaplah target yang harus ku perhatikan. Salah salah aku bisa saja mati sebelum prolog. Jika tidak bisa dihindari maka perlakukan saja dia dengan baik.
"Kau sedikit berbeda dari rumor yang beredar, ya?"
"Rumor?"
"Katanya kau ini pintar dan ratu yang tidak bisa disentuh. Sepertinya tidak seperti itu."
Sudut bibirku sedikit berkedut mendengar ucapannya. Secara tidak langsung dia mengatai ku bodoh, begitu kan?
"Rumor hanyalah sekadar rumor. Tidak perlu mempercayai hal yang belum tentu kebenarannya."
Aku masih menampakkan senyuman ku yang tentu saja tidak ikhlas.
"Kau benar, rumor hanyalah rumor."
"Ngomong-ngomong, kenapa kau kesini?"
"Kenapa? Apakah aneh jika orang yang melukaimu datang untuk menjenguk?"
"Bukan itu maksudku."
"Aku datang untuk meminta maaf."
"Maaf?"
"Maaf telah mendorongmu dan membuatmu terluka."
Wah, mendengarnya saja aku merasa ingin memukulnya. Benar-benar tidak ikhlas! Dia tidak berniat meminta maaf dan aku yakin pasti ia dipaksa melakukan ini semua.
"Kalau aku tidak mau memaafkan?" tanyaku penasaran.
Karena dia berani datang kesini untuk mengatakan "Maaf" yang tidak ikhlas, aku mencoba untuk menyerangnya balik untuk melihat ekspresinya, dan benar saja wajahnya yang dari tadi datar berubah menjadi menyeramkan. Dia terlihat sangat marah seperti ingin membunuh seseorang.
"Oh, kau berani tidak memaafkanku?"
"Kenapa tidak berani?"
Aku masih mencoba memberanikan diri untuk memprovokasinya. Aku hanya ingin tahu sejauh mana aku bisa memprovokasi orang ini dan menjadikannya catatan tambahan, siapa tahu di masa depan aku bisa menggunakannya untuk bertahan hidup.
Mendengar balasanku barusan, Allen mendengus tidak percaya. Sepertinya dia tidak pernah menyangka bahwa aku akan bereaksi seperti ini.
"Apa yang kau inginkan untuk memaafkanku?"
"Tidak ada, tidak ada yang ku inginkan."
"Ah, benar juga. Kau adalah putri dari keluarga Castris, pastinya tidak membutuhkan apapun karena sudah memiliki semuanya."
Mendengar ucapannya, aku sedikit kesal. Dia melukaiku tapi dia tidak mau meminta maaf dengan tulus dan malah mencoba untuk menyuap ku? Dasar bocah umur 6 tahun! Berani-beraninya dia melakukan hal seperti ini padaku. Jika ditambah dengan umurku di kehidupan sebelumnya, umurku saat ini sudah 24 tahun tahu! Pengetahuanku di kehidupanku yang sebelumnya juga tidak buruk, demi mempertahankan beasiswa aku selalu menjadi nomor 1 dalam peringkat, karena itu di kehidupan kali ini aku juga berusaha keras agar tidak tertinggal. Berbeda denganku yang harus belajar mati-matian untuk mengerti suatu materi, Liyuna sejak awal memang anak yang cerdas dan mudah mengerti banyak hal. Mendengar Allen menyinggung nama Castris jujur saja membuatku sedikit kesal. Seolah olah apa yang Liyuna miliki bukan hasil kerja keras namun karena ia putri keluarga Castris.
"Aku tidak butuh kata maaf yang tidak tulus darimu, jika tidak ada hal lain yang ingin kau katakan, silahkan keluar."
"Kau mengusirku?"
"Aku tidak mengusirmu. Aku mempersilahkan mu untuk keluar dengan sopan,–"
"Kau kesini pasti karena disuruh kakakmu kan, tidak usah melakukan hal ini. Aku akan mengatakan padanya bahwa kau sudah datang dan meminta maaf."
Ini adalah salah satu kartu yang bisa menyerang Allen, yaitu dengan menyebut kakaknya. Dari game aku tahu bahwa Allen sangat membenci kakaknya karena perlakuan orang tua mereka terhadap Allen. Allen adalah anak dari istri kedua yang telah meninggal dan dikatakan dalam game bahwa Zion pernah mengatakan hal kurang menyenangkan tentang ibu Allen.
"Kau mengenal kakakku?"
"Tidak juga, aku hanya pernah melihatnya di majalah."
Ceklek
"Nona Yuna! Aku dengar Nona sudah siuman?"
Seperti badai yang tiba-tiba datang, Yvette dengan tenaga berlebihnya masuk ke kamarku membawa banyak sekali keranjang buah-buahan.
"Wooah! Kenapa Allen ada disini?" tanyanya yang terkejut melihat ada Allen di dalam kamarku.
"Kalau begitu aku permisi." ucap Allen meninggalkan kamarku.
Aku yakin mood-nya menjadi tidak baik karena aku menyinggung nama kakaknya.
"Nona, apa yang dia lakukan disini?"
"Dia datang untuk meminta maaf."
"Meminta maaf? Si Allen? Haiss, mustahil."
"Terima kasih sudah datang, Yvette."
"Nona tidak perlu berterima kasih, tentu saja aku akan datang dan menjengukmu. Ini aku bawakan banyak sekali buah-buahan."
Aku dan Yvette berbincang-bincang mengenai apa saja yang terjadi setelah aku jatuh dari tangga dan ternyata peristiwa ini cukup menghebohkan disekolah sehingga pihak sekolah memutuskan untuk libur hingga aku pulih. Pihak sekolah merasa bersalah karena lalai dalam menjaga ketertiban dan keselamatan siswa mereka.
Tak lama kemudian Mama Sara datang dan bertukar sapa dengan Yvette. Lalu aku memintanya untuk menyuapiku bubur ayam yang tadi dibawa Allen dan bilang bahwa itu darinya. Mama Sara menanyakan dimana Allen sekarang dan aku bilang bahwa Allen sudah pulang setelah meminta maaf.
Aku masih harus berada di rumah sakit hingga 2 minggu ke depan, setelah itu aku bisa kembali bersekolah seperti biasa. Namun, ketika aku kembali ke sekolah, hal yang sangat mengejutkan terjadi.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
roti gepeng
thor sudut pandangnya jangan diganti ganti ya
2024-01-19
1
louise
gas robek palanya biar adil 🙂
2021-12-16
6
senja
soalnya disini dia negasin kl usianya 24, jadi kaget aja di bab depan bilang 18 lagi
2021-08-22
5