Chapter 14 - Havelian Park

Sesampainya di rumah, Liyuna langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat.

"Nona, makan malam sudah siap."

"Baik, aku akan segera turun."

Liyuna memilih pakaian rumahan yang simpel. Meski dikatakan simpel, pakaian yang Liyuna pakai memiliki harga yang cukup mahal. Sebenarnya tidak ada pakaian murah di lemari Liyuna, semua barang branded dan juga baju dari desainer terkenal.

"Mama!" Liyuna memeluk Sara yang sudah duduk di meja makan.

Sara yang tiba-tiba dipeluk putri kesayangannya merasa terkejut, namun ia langsung membalas pelukan putrinya dan tersenyum lembut.

"Bagaimana harimu?"

"Semua baik-baik saja, ma."

Mendengar jawaban positif dari Liyuna, Sara mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.

"Ayo cepat makan, kau pasti sudah lelah."

Liyuna dan Sara makan malam bersama. Seperti biasa, mereka hanya makan malam berdua karena Karl sangat sibuk di perusahaan dan jarang makan bersama. Namun mereka tidak merasa sedih atau kesepian karena Karl sangat menyayangi keluarganya. Ia selalu melakukan hal yang terbaik untuk kebahagiaan Liyuna dan Sara.

"Ma, hari minggu aku mau pergi ke Havelian Park." Ucap Liyuna sembari memasukkan daging panggang ke mulutnya.

"Havelian Park? Maksudmu taman hiburan yang baru saja dibuka itu?"

"Benar, ma. Yvette mengajakku ke sana dan aku juga merasa penasaran."

"Boleh saja, nanti minta Noel untuk mengantar karena lokasinya cukup jauh dari rumah kita."

"Tidak perlu, Ma. Aku dan Yvette akan naik kereta."

Mendengar penolakan putrinya, Sara merasa terkejut setengah khawatir karena Liyuna belum pernah pergi tanpa sopir pribadi.

"Yuna kan belum pernah naik kereta sendiri, nanti berbahaya. Minta antar Noel saja, ya?" Ucap Sara mencoba meyakinkan Liyuna, namun percuma saja Liyuna tetap tegas dengan pendiriannya.

"Kak Noel bisa mengantarku sampai stasiun, tapi setelahnya aku ingin naik kereta dengan Yvette."

"Tapi Yuna, nanti kalau ada apa-apa gimana? Mama merasa khawatir."

"Tidak usah khawatir, ma. Keamanan di negara kita kan cukup bagus. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa." Liyuna mencoba meyakinkan Sara. Walau tubuhnya adalah tubuh anak kecil sekarang, dia punya mental seperti orang dewasa. Jadi dia yakin kalau semua pasti akan baik-baik saja.

Sara membuang napas pasrah, dia tahu kalau dia tidak bisa meyakinkan Liyuna.

"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa segera hubungi Noel, mengerti?"

"Siap, dimengerti!"

Setelah meminta izin dan mendengar jawaban positif dari Sara, Liyuna merasa sangat senang. Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupannya, dia bisa pergi ke taman hiburan yang selama ini hanya menjadi mimpi saja.

Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Liyuna yang sudah menantikan hari ini, sudah sampai di stasiun terlebih dahulu sebelum Yvette maupun Lucas datang. Noel awalnya ingin menemani Liyuna hingga temannya datang, namun Liyuna menolak dan memilih menunggunya sendiri. Di dekat stasiun ada cafe jadi Liyuna memutuskan untuk membeli segelas matcha latte dingin dan sepotong kue red velvet.

Setelah menghabiskan snack-nya, Liyuna bergegas ke stasiun.

"Yuna!" Lucas yang baru saja datang langsung menyapa Liyuna ketika dia melihat Liyuna berdiri sendirian di depan stasiun.

"Kau sudah menunggu lama?"

"Tidak, aku juga baru saja sampai."

Liyuna sedikit berbohong pada Lucas karena dia tidak ingin Lucas dan Yvette tahu bahwa dia sudah datang sejak 1 jam yang lalu.

"Yvette belum datang, ya?" Gumam Lucas lirih sembari melihat ke kanan dan ke kiri.

Liyuna menatap Lucas dengan seksama. Ia terlihat begitu cocok memakai pakaian santai. Kemeja putih yang tidak dikancingkan dengan kaos hitam di dalamnya dan juga celana berwarna abu-abu. Benar-benar sangat cocok dengan Lucas.

Orang-orang yang lewat terdengar saling berbisik ketika melihat Lucas dan Liyuna yang sedang berdiri bersebelahan. Mereka berdua terlihat sangat cantik san menawan seperti boneka, benar-benar sangat cocok satu sama lain. Apa lagi, Liyuna memakai mini dress dan cardigan dengan warna senada dengan Lucas. Sekilas orang pasti akan berpikir mereka adalah pasangan.

"Senior, kau sangat menarik perhatian." Ucap Liyuna berusaha memecah keheningan.

"Kau juga sama saja." Sahut Lucas sambil terkekeh pelan.

Beberapa menit kemudian, Yvette datang menghampiri mereka.

"Apa? Kenapa kalian memakai baju senada? Kenapa tidak bilang padaku?" Protes Yvette sedikit kesal karena warna bajunya sangat berbeda.

"Ini kebetulan saja, kita tidak janjian." Ucap Liyuna berusaha menjelaskan.

"Benar, kau tidak perlu seheboh ini."

"Ah, menyebalkan. Yasudah, ayo kita beli tiket kereta."

Mereka bertiga membeli tiket kereta bersama. Di Elisien, kita dapat membeli tiket menggunakan kartu yang disebut Crello yang memang di khususkan untuk membeli tiket kereta. Kita hanya perlu memasukkan kartu ke dalam mesin dan memilih tiket yang diinginkan. Setelah berhasil membeli, tiket dan kartu akan diberikan dan dikembalikan secara otomatis.

Karena ini hari minggu, kereta cukup ramai dan hal ini mengharuskan Liyuna dan yang lainnya berdiri. Namun, mereka tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

Sesampainya di Havelian Park –mereka harus naik taksi 30 menit dari stasiun– Liyuna dan yang lainnya langsung pergi ke stand permen kapas.

"Yuna, ini mirip sekali denganmu." Ucap Lucas sambil menyodorkan permen kapas berwarna baby blue yang terlihat seperti mata Liyuna.

"Apa maksudmu?! Kalau begitu ini mirip denganmu." Kesal karena dimiripkan dengan permen, Liyuna juga menyodorkan permen kapas berwarna ungu dan putih ke arah Lucas.

Melihat hal ini, Yvette tertawa terbahak-bahak. Meski Lucas mengatakan permen kapas itu mirip Liyuna, tapi pada kenyataannya permen kapas yang dipegang Liyuna lebih mirip Lucas karena mata Liyuna berwarna biru safir, bukan baby blue.

Mendengar Yvette yang tertawa lepas, Liyuna juga ikut tertawa. Lucas yang melihat kedua temannya tertawa hanya bisa mengerucutkan bibirnya.

Pandangannya teralihkan pada wahana rumah hantu dan tanpa sadar menarik tangan Liyuna untuk pergi ke sana. Yvette yang sangat takut pada hantu berniat untuk menolak namun tidak jadi karena merasa malu.

Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam rumah hantu. Belum ada lima menit, Yvette sudah teriak ketakutan ketika mendengar suara gergaji mesin yang dinyalakan.

"Aaaaah! Yuna, senior, aku takut!!!"

Yvette memeluk Liyuna dengan erat. Liyuna yang memang tidak takut pada hantu membiarkan Yvette memeluknya. Lucas yang melihat Liyuna kesulitan berjalan karena Yvette yang memeluknya dengan erat, menggenggam tangan Liyuna dan berusaha membantunya berjalan.

"Yvette, kau membuat Yuna kesulitan berjalan."

"Pokoknya aku tidak mau melepaskan Yuna."

Mendengar hal ini, Liyuna terkekeh pelan.

"Iya, aku juga tidak akan melepaskan mu."

"Kau terlalu memanjakannya." Cibir Lucas yang melihat Liyuna selalu luluh dengan Yvette.

Setelah keluar dari rumah hantu, Yvette sudah tidak punya tenaga lagi. Akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat sebentar dan membeli minuman di vending machine.

"Ini." Ucap Lucas sembari menyodorkan minuman kearah Yvette dan Liyuna.

Setelah minum, Yvette merasa sedikit lega dan tenaganya terasa sedikit pulih.

"Ayo kit lanjut." Lucas tersenyum cerah kearah Yvette dan membuatnya ketakutan.

Jika Lucas mengeluarkan senyumannya yang terlihat tidak berbahaya, pasti hal buruk akan terjadi. Hal ini lah yang membuat Yvette sedikit ketakutan dan benar saja, Lucas mengajak mereka menaiki wahana tornado khusus untuk anak-anak. Walau khusus anak-anak pun, ini sudah terlihat sangat menakutkan. Yvette mulai merasa menyesal telah menyarankan pergi ke Havelian Park. Dia tidak menyangka kalau Lucas sangat gila dalam memilih wahana dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah Liyuna yang merasa senang naik wahana ekstrim, padahal dia memiliki tubuh yang lemah. Pada akhirnya Yvette memilih membiarkan mereka menaiki wahana ekstrim berdua saja dan menepi ke sebuah cafe milkshake untuk istirahat dan makan cemilan.

Liyuna merasa khawatir dengan Yvette karena dia tidak terlihat sedang bersenang-senang dan berniat untuk menemaninya namun, Yvette menolak dengan dalih dia hanya butuh waktu istirahat sebentar. Mendengar hal itu, Liyuna mengiyakan keputusan Yvette dan bermain bermacam-macam wahana dengan Lucas.

Tak terasa matahari sudah mulai terbenam, langit yang tadinya berwarna biru kini berubah menjadi jingga seperti kobaran api.

Untuk mengakhiri hari mereka di taman hiburan, Lucas mengajak Liyuna untuk naik bianglala. Ketika berada dititik tertinggi bianglala, Lucas terlihat menyipitkan matanya. Dia sedari tadi melihat kearah bawah terus menerus membuat Liyuna penasaran.

"Ada apa di bawah?" Tanya Liyuna penasaran. Dia juga ikut menengok ke bawah namun tidak melihat sesuatu yang istimewa, hanya melihat orang-orang berjalan memutari taman.

"Tidak ada." Jawab Lucas sembari tersenyum kearah Liyuna.

"Oh ya, Yuna. Ayo kita ambil foto bersama."

"Eh? Kenapa tidak nanti saja berama Yvette?"

"Nanti bisa ambil lagi kan?"

"Baiklah."

Lucas mengeluarkan ponselnya dan mereka melakukan selfie bersamanya. Saat itu, Liyuna tidak tahu kalau Lucas berusaha mengalihkan perhatiannya terhadap sesuatu yang sedari tadi mengganggunya. Ya, dimana pun Lucas berada, serangga-serangga milik ibunya selalu ada di dekatnya.

TBC

Terpopuler

Comments

louise

louise

🌈 indahnya yuri

2021-12-17

1

Mega Ackerman

Mega Ackerman

Like thor

2021-09-18

3

senja

senja

kayak gini pasti enak ya, harmonis, yg di rumah tau kl kepala rumah tangga beneran kerja n sayang, jd gak ada rasa kesepian n marah, karna saling support

2021-08-21

4

lihat semua
Episodes
1 Prologue
2 Chapter 1 - Aku Mengambil Alih Tubuh Liyuna?!
3 Chapter 2 - Masih Hidup
4 Chapter 3- Si Menyebalkan Allen!
5 Chapter 4 - Kepindahan Allen Yang Tiba-Tiba
6 Chapter 5 - Munculnya Karakter Baru?!
7 Chapter 6 - Orang-Orang Bersetelan Hitam
8 Chapter 7 - Lucas Obelian si Ekstra
9 Chapter 8 - Mata Monster Beracun
10 Chapter 9 - Kesan Yang Membaik
11 Chapter 10 - Pesta I
12 Chapter 11 - Pesta II
13 Chapter 12 - Pesta III
14 Chapter 13 - Musim Semi Pertama
15 Chapter 14 - Havelian Park
16 Chapter 15 - Keputusan Lucas
17 Chapter 16 - Pulang ke Rusia
18 Chapter 17 - Obelian's Circle
19 Chapter 18 - Insiden Pengeboman
20 Chapter 19 - Allen dan Victor
21 Chapter 20 - Yuda Harvenhelt
22 Chapter 21 - Liburan Musim Panas I
23 Chapter 22 - Liburan Musim Panas II
24 Chapter 23 - Kalung Kupu-Kupu
25 Chapter 24 - Pulang
26 Chapter 25 - Sleepover
27 Chapter 26 - Perasaan
28 Chapter 27 - Eksplor
29 Chapter 28 - Penghuni Rumah Matahari
30 Chapter 29 - Berita Kematian
31 Chapter 30 - Topeng Yuda
32 Chapter 31 - Menulis Ingatan
33 Spesial Q&A
34 Chapter 32 - Kedatangan Yuriel I
35 Chapter 33 - Kedatangan Yuriel II
36 Chapter 34 - Ikatan & Kepercayaan
37 Chapter 35 - Orang Itu Adalah?
38 Chapter 36 - Hidden Target
39 Chapter 37 - Hajun
40 Chapter 38 - Yuriel di Sekolah I
41 Chapter 39 - Yuriel di Sekolah II
42 Chapter 40 - Yuriel di Sekolah III
43 Chapter 41 - Mimpi
44 Chapter 42 - Menyembunyikan Sesuatu
45 Chapter 43 - Keadaan
46 Chapter 44 - Altzion Ravenray
47 Chapter 45 - Ravenray
48 Chapter 46 - Wanita dalam Lukisan
49 Chapter 47 - Luka yang Dimilikinya
50 Chapter 48 - Masa Lalu Yuda
51 Chapter 49 - Persiapan
52 Chapter 50 - Pemeran Utama
53 Chapter 51 - Kegembiraan dan Keceriaan
54 Chapter 52 - Sebuah Janji
55 Chapter 53 - Kembali
56 Chapter 54 - Musim Semi Keenam
57 Chapter 55 - Tempat Persembunyian
58 Chapter 56 - Konfrontasi
59 Chapter 57 - Mimpi yang Terlihat Nyata
60 Chapter 58 - Ketua OSIS
61 Chapter 59 - Mirror of the World
62 Chapter 60 - Munculnya Tokoh Berbahaya
63 Chapter 61 - Liyuna Asli!
64 Chapter 62 - Perkumpulan
65 Chapter 63 - Hari Pertama
66 Chapter 64 - Seperti Biasa
67 Chapter 65 - Menjadi Anggota Resmi
68 Chapter 66 - Perasaan Yuriel
69 Chapter 67 - Emosi yang Tidak Stabil
70 Chapter 68 - Liburan Bersama Allen
71 Chapter 69 - Pembunuh Bayaran
72 Chapter 70 - Liyuna dalam Bahaya
73 Chapter 71 - Menyelamatkan Diri
74 Chapter 72 - Kembali ke Vila
75 Chapter 73 - Bala Bantuan Datang!
76 Chapter 74 - Recovery
77 Chapter 75 - Malam Natal Berdarah
78 Chapter 76 - Berita Duka
79 Chapter 77 - Penyelidikan
80 Chapter 78 - Almera Menemukan Kebenaran
81 Chapter 79 - Pemakaman
82 Chapter 80 - Ketakutan Melanda
83 Chapter 81 - Belum Waktunya
84 Chapter 82 - Musim Semi Kesepuluh
85 Chapter 83 - Kembalinya Lucas
86 Chapter 84 - Lama Tidak Bertemu
87 Chapter 85 - Reuni
88 Chapter 86 - Ilusi atau Ingatan?
89 Chapter 87 - Bertemu Dengannya
90 Chapter 88 - Mimpi Atau Premonisi?
91 Chapter 89 - Kesan Pertama (Allen's POV)
92 Chapter 90 - Pesta Anniversary
93 Chapter 91 - Terima Kasih Tehnya
94 Chapter 92 - Allen dan Zion
95 Chapter 93 - Pentas Seni
96 Chapter 94 - The Romancers
97 Chapter 95 - Backstage
98 Chapter 96 - Insiden Besar Terjadi
99 Chapter 97 - Cerberus
100 Chapter 98 - Kebenaran yang Disembunyikan
101 Chapter 99 - Wanita yang Selalu Menghantui
102 Chapter 100 - Alasan (Zion's POV)
103 Chapter 101 - Aku yang Berasal Dari Dunia Lain
104 Chapter 102 - Januari
105 103 - Lucas dan Hajun
106 Chapter 104 - Istirahat Sejenak
107 Chapter 105 - General Manager
108 Chapter 106 - Hasil Dari Sebuah Pilihan
109 Chapter 107 - Insiden Frozen December
110 Chapter 108 - Tekad yang Bulat
111 109 - Awal Mulai Dari Time Loop (Allen's POV)
112 Chapter 110 - Kedatangan Victor
113 Chapter 111 - Akhir Dari Ravenray
114 Chapter 112 - Pemindahan Kekuasaan
115 Chapter 113 - Awal Dari Sebuah Cerita (Yuriel's POV)
116 Chapter 114 - Allen dan Yuriel
117 Chapter 115 - Mulai Bergerak
118 Chapter 116 - Panti Asuhan Astraea
119 Chapter 117 - Noel dan Panti Astraea
120 Chapter 118 - Tidak Kondusif
121 Chapter 119 - Bertemu Lucas
122 Chapter 120 - Tamu Tak Diundang
123 Chapter 121 - Sesuatu Terjadi Pada Lucas
124 Chapter 122 - Kita Harus Membantu Lucas
125 Chapter 123 - Menyelinap Ke Obelian's Circle
126 Chapter 124 - Pergi ke Rusia
127 Chapter 125 - Menyusun Rencana
128 Chapter 126 - Persiapan
129 Chapter 127 - Keributan
130 Chapter 128 - Irina
131 Chapter 129 - Basement
132 Chapter 130 - Ketahuan?!
133 Chapter 131 - Kakak Lucas
134 Chapter 132 - Meninggalkan Obelian's Circle
135 Chapter 133 - Kembali Elisien
136 Chapter 134 - Daun Mulai Berguguran
137 Chapter 135 - Diintai
138 Chapter 136 - Kecelakaan
139 Chapter 137 - Red Diamond
140 Chapter 138 - Pencarian
141 Chapter 139 - Kalung Kupu-Kupu II
142 Chapter 140 - Tersadar
143 Chapter 141 - Dia adalah Pamanku?
144 Chapter 142 - Gudang Penyimpanan
145 Chapter 143 - Barang Lelang
146 Chapter 144 - Identitas Pemimpin Cerberus
147 Chapter 145 - Barang Terakhir
148 Chapter 146 - Harrioth Aerian Castris
149 Chapter 147 - Pasukan Penyelamat
150 Chapter 148 - Meninggalkan Red Diamond
151 Chapter 149 - Liyuna
152 Chapter 150 - Perubahan
153 Chapter 151 - Kebenaran
154 Chapter 152 - Keluarga Castris
155 Chapter 153 - Keluarga Castris (2)
156 Chapter 154 - Keluarga Castris (3)
157 Chapter 155 – Karl dan Harry
158 Chapter 156 - Karl dan Harry (2)
159 Chapter 157 – Karl dan Harry (3)
160 Chapter 158 – Retakan
161 Chapter 159 – Retakan (2)
162 Chapter 160 - Pamanmu, Harrioth
Episodes

Updated 162 Episodes

1
Prologue
2
Chapter 1 - Aku Mengambil Alih Tubuh Liyuna?!
3
Chapter 2 - Masih Hidup
4
Chapter 3- Si Menyebalkan Allen!
5
Chapter 4 - Kepindahan Allen Yang Tiba-Tiba
6
Chapter 5 - Munculnya Karakter Baru?!
7
Chapter 6 - Orang-Orang Bersetelan Hitam
8
Chapter 7 - Lucas Obelian si Ekstra
9
Chapter 8 - Mata Monster Beracun
10
Chapter 9 - Kesan Yang Membaik
11
Chapter 10 - Pesta I
12
Chapter 11 - Pesta II
13
Chapter 12 - Pesta III
14
Chapter 13 - Musim Semi Pertama
15
Chapter 14 - Havelian Park
16
Chapter 15 - Keputusan Lucas
17
Chapter 16 - Pulang ke Rusia
18
Chapter 17 - Obelian's Circle
19
Chapter 18 - Insiden Pengeboman
20
Chapter 19 - Allen dan Victor
21
Chapter 20 - Yuda Harvenhelt
22
Chapter 21 - Liburan Musim Panas I
23
Chapter 22 - Liburan Musim Panas II
24
Chapter 23 - Kalung Kupu-Kupu
25
Chapter 24 - Pulang
26
Chapter 25 - Sleepover
27
Chapter 26 - Perasaan
28
Chapter 27 - Eksplor
29
Chapter 28 - Penghuni Rumah Matahari
30
Chapter 29 - Berita Kematian
31
Chapter 30 - Topeng Yuda
32
Chapter 31 - Menulis Ingatan
33
Spesial Q&A
34
Chapter 32 - Kedatangan Yuriel I
35
Chapter 33 - Kedatangan Yuriel II
36
Chapter 34 - Ikatan & Kepercayaan
37
Chapter 35 - Orang Itu Adalah?
38
Chapter 36 - Hidden Target
39
Chapter 37 - Hajun
40
Chapter 38 - Yuriel di Sekolah I
41
Chapter 39 - Yuriel di Sekolah II
42
Chapter 40 - Yuriel di Sekolah III
43
Chapter 41 - Mimpi
44
Chapter 42 - Menyembunyikan Sesuatu
45
Chapter 43 - Keadaan
46
Chapter 44 - Altzion Ravenray
47
Chapter 45 - Ravenray
48
Chapter 46 - Wanita dalam Lukisan
49
Chapter 47 - Luka yang Dimilikinya
50
Chapter 48 - Masa Lalu Yuda
51
Chapter 49 - Persiapan
52
Chapter 50 - Pemeran Utama
53
Chapter 51 - Kegembiraan dan Keceriaan
54
Chapter 52 - Sebuah Janji
55
Chapter 53 - Kembali
56
Chapter 54 - Musim Semi Keenam
57
Chapter 55 - Tempat Persembunyian
58
Chapter 56 - Konfrontasi
59
Chapter 57 - Mimpi yang Terlihat Nyata
60
Chapter 58 - Ketua OSIS
61
Chapter 59 - Mirror of the World
62
Chapter 60 - Munculnya Tokoh Berbahaya
63
Chapter 61 - Liyuna Asli!
64
Chapter 62 - Perkumpulan
65
Chapter 63 - Hari Pertama
66
Chapter 64 - Seperti Biasa
67
Chapter 65 - Menjadi Anggota Resmi
68
Chapter 66 - Perasaan Yuriel
69
Chapter 67 - Emosi yang Tidak Stabil
70
Chapter 68 - Liburan Bersama Allen
71
Chapter 69 - Pembunuh Bayaran
72
Chapter 70 - Liyuna dalam Bahaya
73
Chapter 71 - Menyelamatkan Diri
74
Chapter 72 - Kembali ke Vila
75
Chapter 73 - Bala Bantuan Datang!
76
Chapter 74 - Recovery
77
Chapter 75 - Malam Natal Berdarah
78
Chapter 76 - Berita Duka
79
Chapter 77 - Penyelidikan
80
Chapter 78 - Almera Menemukan Kebenaran
81
Chapter 79 - Pemakaman
82
Chapter 80 - Ketakutan Melanda
83
Chapter 81 - Belum Waktunya
84
Chapter 82 - Musim Semi Kesepuluh
85
Chapter 83 - Kembalinya Lucas
86
Chapter 84 - Lama Tidak Bertemu
87
Chapter 85 - Reuni
88
Chapter 86 - Ilusi atau Ingatan?
89
Chapter 87 - Bertemu Dengannya
90
Chapter 88 - Mimpi Atau Premonisi?
91
Chapter 89 - Kesan Pertama (Allen's POV)
92
Chapter 90 - Pesta Anniversary
93
Chapter 91 - Terima Kasih Tehnya
94
Chapter 92 - Allen dan Zion
95
Chapter 93 - Pentas Seni
96
Chapter 94 - The Romancers
97
Chapter 95 - Backstage
98
Chapter 96 - Insiden Besar Terjadi
99
Chapter 97 - Cerberus
100
Chapter 98 - Kebenaran yang Disembunyikan
101
Chapter 99 - Wanita yang Selalu Menghantui
102
Chapter 100 - Alasan (Zion's POV)
103
Chapter 101 - Aku yang Berasal Dari Dunia Lain
104
Chapter 102 - Januari
105
103 - Lucas dan Hajun
106
Chapter 104 - Istirahat Sejenak
107
Chapter 105 - General Manager
108
Chapter 106 - Hasil Dari Sebuah Pilihan
109
Chapter 107 - Insiden Frozen December
110
Chapter 108 - Tekad yang Bulat
111
109 - Awal Mulai Dari Time Loop (Allen's POV)
112
Chapter 110 - Kedatangan Victor
113
Chapter 111 - Akhir Dari Ravenray
114
Chapter 112 - Pemindahan Kekuasaan
115
Chapter 113 - Awal Dari Sebuah Cerita (Yuriel's POV)
116
Chapter 114 - Allen dan Yuriel
117
Chapter 115 - Mulai Bergerak
118
Chapter 116 - Panti Asuhan Astraea
119
Chapter 117 - Noel dan Panti Astraea
120
Chapter 118 - Tidak Kondusif
121
Chapter 119 - Bertemu Lucas
122
Chapter 120 - Tamu Tak Diundang
123
Chapter 121 - Sesuatu Terjadi Pada Lucas
124
Chapter 122 - Kita Harus Membantu Lucas
125
Chapter 123 - Menyelinap Ke Obelian's Circle
126
Chapter 124 - Pergi ke Rusia
127
Chapter 125 - Menyusun Rencana
128
Chapter 126 - Persiapan
129
Chapter 127 - Keributan
130
Chapter 128 - Irina
131
Chapter 129 - Basement
132
Chapter 130 - Ketahuan?!
133
Chapter 131 - Kakak Lucas
134
Chapter 132 - Meninggalkan Obelian's Circle
135
Chapter 133 - Kembali Elisien
136
Chapter 134 - Daun Mulai Berguguran
137
Chapter 135 - Diintai
138
Chapter 136 - Kecelakaan
139
Chapter 137 - Red Diamond
140
Chapter 138 - Pencarian
141
Chapter 139 - Kalung Kupu-Kupu II
142
Chapter 140 - Tersadar
143
Chapter 141 - Dia adalah Pamanku?
144
Chapter 142 - Gudang Penyimpanan
145
Chapter 143 - Barang Lelang
146
Chapter 144 - Identitas Pemimpin Cerberus
147
Chapter 145 - Barang Terakhir
148
Chapter 146 - Harrioth Aerian Castris
149
Chapter 147 - Pasukan Penyelamat
150
Chapter 148 - Meninggalkan Red Diamond
151
Chapter 149 - Liyuna
152
Chapter 150 - Perubahan
153
Chapter 151 - Kebenaran
154
Chapter 152 - Keluarga Castris
155
Chapter 153 - Keluarga Castris (2)
156
Chapter 154 - Keluarga Castris (3)
157
Chapter 155 – Karl dan Harry
158
Chapter 156 - Karl dan Harry (2)
159
Chapter 157 – Karl dan Harry (3)
160
Chapter 158 – Retakan
161
Chapter 159 – Retakan (2)
162
Chapter 160 - Pamanmu, Harrioth

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!