"Selamat datang, aku tidak menyangka kau akan datang kemari."
Mendengar ucapan Allen, Liyuna tersenyum, "Kenapa tidak? Kita kan tidak ada masalah antara satu sama lain. Jadi bukan hal aneh jika aku datang."
Tentu saja apa yang Liyuna katakan adalah bullshit. Tidak ada masalah antara satu sama lain? Itu adalah kebohongan yang sangat kentara. Siapa yang tidak tahu bahwa kedua orang ini pernah terlibat insiden yang cukup menghebohkan beberapa bulan yang lalu.
"Aku tidak tahu bahwa Nona Castris adalah orang yang murah hati." Lagi-lagi Allen berusaha menyindir Liyuna. Namun tentu saja, jiwa yang berada dalam tubuh Liyuna adalah orang yang lebih dewasa dari Allen jadi dia tidak mudah terpancing oleh provokasi seorang anak berumur enam tahun.
"Itu tidak benar, Tuan Muda Allen kan tidak sengaja melukaiku. Jadi untuk apa memperpanjang masalah."
Mendengar hal itu Allen terlihat sedikit terkejut. Dia tidak pernah tahu kalau Liyuna menganggap semua hanya kecelakaan saja, apalagi sebelumnya dia meminta maaf dengan sangat tidak tulus karena paksaan kakaknya.
"Kalian ini sedang apa? Kenapa memanggil satu sama lain dengan formal? Bukankah biasanya juga memanggil hanya dengan nama?"
Mendengar kedua teman sekolahnya yang saling memanggil dengan formal, Yvette tidak bisa diam saja dan akhirnya membuka suara.
Ternyata mendengar temannya memanggil satu sama lain dengan formal terdengar sangat aneh, pantas saja Liyuna memintanya untuk tidak memanggilnya Nona lagi.
"Sejak kapan kalian berdua dekat?" Tanya Liyuna mengalihkan topik pembicaraan. Dari tadi dia sudah sangat penasaran kenapa Allen dan Yvette bisa menjadi sangat dekat, padahal sebelumnya mereka tidak terlalu dekat dan hanya saling mengetahui nama saja.
"Tadi aku menunggu Yuna sendiri disini, terus Allen datang, mungkin dia ingin kabur dari orang-orang. Allen kan memang suka memberontak." Bisik Yvette ke telinga Liyuna.
Memang benar apa kata Yvette, Allen adalah anak yang suka memberontak dan bertindak sesuai dengan emosi dan perasaannya. Jadi tidak aneh jika dia kabur dari orang-orang yang berusaha mendekatinya. Di pesta seperti ini, bukan hal aneh jika orang-orang akan berusaha mencari koneksi dengan keluarga peringkat atas. Namun bagi Allen yang tidak suka hal seperti itu, lebih memilih untuk menghindari orang-orang yang mendekatinya dan memanfaatkan Yvette sebagai alasan.
"Temanku datang kesini, aku mau menyapanya."
Begitulah Allen meminta izin untuk undur diri kepada orang tuanya dan tentu saja itu hanyalah sebuah alasan.
Beberapa menit kemudian, Almer dan Eldo memulai pesta secara resmi dengan memberi sambutan dan ucapan terima kasih pada seluruh hadirin yang ada di ballroom. Setelah pesta dimulai, kelompok orkestra mulai memainkan musik dengan sangat indah dan tentu saja enak di dengar. Dengan adanya background musik, orang-orang mulai mencari dan membentuk koneksi satu dengan yang lainnya.
"Ngomong-ngomong kenapa kau pindah sekolah secara mendadak?" Tanya Yvette, ditangannya kini ad segelas jus jeruk yang baru saja ia ambil dari pelayan yang keliling membawa nampan berisi jus.
"Kedua orang tuaku ada bisnis penting di luar negeri dan aku disuruh ikut dengan mereka." Jawab Allen dengan muka datar seolah hal itu bukanlah hal yang penting.
"Gara-gara kau, Yuna menjadi sasaran rumor tak berdasar lagi, tahu!"
Liyuna yang mendengar Yvette mengatakan hal itu merasa tersentuh, dia merasa senang Yvette begitu memperhatikannya.
Allen masih memasang muka datar sembari meminum jus jeruk yang ada ditangannya.
"Kalau begitu aku minta maaf." Ucapnya.
"Tidak perlu meminta maaf. Rumor seperti itu bukan apa-apa bagiku." Ucap Liyuna berbohong.
Untuknya, rumor yang beredar beberapa waktu lalu disekolah membuatnya sedikit frustasi. Dia paham kalau image Liyuna memang tidak bagus di sekolah, tapi gara-gara rumor tentang kepindahan Allen, image nya semakin memburuk. Untung saja ada Lucas yang membuat image nya sedikit membaik dikalangan murid-murid.
"Tentu saja, bagi Nona Castris hal seperti itu pasti hanya seperti gonggongan anjing."
Liyuna tetap diam walau mendengar ucapan Allen yang menyindir. Dia tahu Allen sengaja mengatakan hal seperti itu padanya, entah karena alasan apa. Yang pasti sedari tadi dia terus mencoba untuk memprovokasinya. Dia jadi heran, bagaimana bisa di dalam game Liyuna menyukai orang seperti Allen.
Seingatnya, hanya Allen satu-satunya target yang Liyuna cintai pada pandangan pertama. Karena di rute Zion, Liyuna tidak langsung jatuh cinta padanya dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Liyuna mencoba melihat sekelilingnya, dia baru sadar kalau banyak orang yang melihat kearahnya. Mereka berbisik-bisik ketika melihat Liyuna dan Allen bersama, hal ini menimbulkan rumor tentang pernikahan antar keluarga yang Liyuna sangat benci. Dia tidak ingin bertunangan dengan Allen atau pun berniat memiliki hubungan percintaan dengan Allen karena Allen hanya milik Yuriel si heroine. Lagi pula, jika dia terlalu terlibat dengan target, bisa-bisa dia mati. Itu adalah hal yang ingin Liyuna hindari, mati karena plot dalam game.
"Yvette, aku mau ke ruang istirahat." Ucap Liyuna.
Sebelum pesta, Karl dan Sara memberitahu Liyuna jika dia lelah tapi masih ingin disini dia bisa pergi ke ruang istirahat yang sudah disiapkan di lantai dua. Liyuna yang tidak ingin mengganggu Sara dan Karl sudah pasti lebih memilih pergi ke lantai dua untuk kabur dari pada langsung pulang, dia tidak ingin terlalu merepotkan kedua orang tuanya.
"Aku ikut!" Ucap Yvette.
Liyuna mengiyakan permintaan Yvette untuk ikut karena tujuan awalnya kan memang untuk melindungi Yvette jika sesuatu terjadi.
"Aku akan mengantarkan kalian." Ucap Allen.
"Tidak usah." Liyuna menolak karena alasan utama dia ingin istirahat di lantai dua adalah untuk menghindari tatapan orang-orang dan juga Allen.
Allen yang mendengar penolakan dari Liyuna menatapnya dengan tajam. Matanya memincing karena merasa tidak senang.
"Aku tidak mau ditempat seperti ini sendirian." Ucapnya jujur.
Melihat Allen yang memasang muka tidak nyaman membuat Liyuna sedikit iba. Dia tahu kenapa Allen bersikap seperti ini. Allen tidak ingin berhubungan dengan orang-orang yang menginginkan koneksi dengan Ravenray, terlebih lagi bertemu dengan kakaknya yang saat ini sedang menyapa tamu satu persatu.
Meski sedari tadi Liyuna belum bertemu dengan Zion, dia tahu bahwa Zion juga sedang ada disini. Tentu saja, dia kan Tuan Muda Ravenray sekaligus pewaris utama, jadi mustahil dia tidak hadir. Namun, karena banyaknya tamu dan Liyuna sedari tadi hanya fokus pada Yvette dan Allen dia tidak bertemu maupun melihat Zion.
"Baiklah, ayo kita ke ruang istirahat bersama." Ucap Liyuna yang pad akhirnya memutuskan untuk memperbolehkan Allen ikut bersamanya.
Mereka bertiga berjalan bersama menuju lantai dua. Di tangga menuju lantai dua, ada seorang staff yang memberi mereka kartu yang nantinya harus mereka gesek agar pintu terbuka.
Ruang 202, letaknya cukup jauh di pojok apalagi dengan banyaknya lorong, Liyuna yakin dia akan tersesat jika tidak menghafal jalan dengan benar. Liyuna yang dari dulu sedikit buta arah merasa cemas.
Setelah memasuki ruang istirahat, mereka duduk di sofa besar yang ada dalam ruangan. Allen yang merasa sedikit lega karena jauh dari pandangan orang-orang, menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menutup kedua matanya.
"Hei, apa kau berniat tidur disini?" Tanya Yvette yang sedikit terkejut melihat Allen yang langsung rebahan di sofa.
"Iya, aku mau tidur sebentar." Balasnya singkat.
"Setidaknya lepas jas yang kamu pakai terlebih dahulu. Tidak nyaman tidur memakai jas." Saran Liyuna yang saat ini duduk di sofa yang masih kosong.
Tidak ada pilihan lain bagi Liyuna selain bersama dengan Allen. Mungkin dengan interaksi mereka saat ini, masa depan bisa sedikit berubah dan jika mereka bisa berteman seperti orang pada umumnya, mungkin Liyuna juga tidak akan mendapatkan bad ending.
'Yang terpenting adalah aku tidak boleh memiliki perasaan padanya dan harus mencomblangkannya dengan Yuriel.'
Allen tidak mendengarkan saran dari Liyuna karena dia sudah mulai terlelap di dunia mimpi.
"Cepat sekali dia tertidur." Komentar Yvette ketika melihat Allen yang sudah tertidur dengan sangat pulas.
"Biarkan saja, mungkin dia kelelahan."
"Aku mengerti."
Di dalam ruang istirahat, Liyuna dan Yvette hanya mengobrol biasa dan sesekali meminum air mineral yang disediakan di meja. Sampai akhirnya Liyuna merasa perlu menggunakan kamar mandi.
Liyuna pergi ke kamar mandi sendirian, awalnya dia ingin membangunkan Allen dan bertanya dimana letak kamar mandi, tapi dia mengurungkan niat ketika melihat Allen yang sudah tertidur pulas. Dia tidak enak membangunkan anak kecil yang kelelahan. Karena itulah dia memutuskan untuk mencarinya sendiri. Tapi sebelum itu, dia berusaha mengingat jalan menuju ruang 202. Karena bentuk pintu semua ruangan sama, Liyuna takut tersesat. Menang sih, di depan pintu ada tulisan nomor ruangan, tapi tetap saja dengan kompleksnya lorong yang ada, tidak menutup kemungkinan Liyuna bisa tersesat.
Liyuna mulai berjalan keluar, melewati lorong yang terlihat sama dan tidak ada bedanya dengan lorong lainnya. Namun, sudah tujuh menit Liyuna berputar-putar ke sana kemari masih saja tidak menemukan tanda toilet, sampai akhirnya dia melihat seorang anak laki-laki berdiri di depan salah satu pintu. Dia menatap layar ponselnya dengan cukup serius.
Liyuna memutuskan untuk bertanya padanya, siapa tahu dia bisa menunjukkan jalan yang benar padanya.
"Permisi, apa kakak tahu dimana letak toilet?" Tanya Liyuna.
Meski anak laki-laki itu terlihat masih muda, tetap saja dia lebih tua dari Liyuna makanya dia mencoba untuk bersikap sopan terhadap orang asing di depannya.
Rambut ash-brown anak itu terlihat berkilauan karena cahaya lampu, setelan berwarna abu-abu yang dia pakai juga terlihat sangat pas ditubuhnya.
Mendengar suara Liyuna, anak itu mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangannya pada Liyuna.
"Dari sini lurus saja, terus belok ke kiri dua kali, setelah itu belok ke kanan. Kau akan melihat tanda toilet setelahnya." Ucap anak itu mencoba menjelaskan arahnya pada Liyuna.
Liyuna yang mendengar penjelasan darinya langsung berterima kasih dan berjalan menuju toilet. Ketika melihat anak itu, Liyuna merasa tidak asing. Dia seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
Rambut berwarna ash-brown dengan mata amber yang memikat. Itu adalah perpaduan warna yang tidak mudah ditemukan dimana pun. Namun seberapa keras pun Liyuna memikirkannya, tetap saja tidak ada ingatan yang terlintas dalam otaknya.
'Dia jelas terlihat sangat familiar.'
Setelah keluar dari toilet, Liyuna bertemu dengan anak lakk-laki itu lagi. Dia masih berdiri ditempat yang sama namun kali ini dia bersama dengan pemuda lain yang memiliki rambut berwarna hitam yang sedikit ada kesan navy. Pemuda itu memakai jas dan vest berwarna navy dengan kemeja putih didalamnya.
Setelah Liyuna memperhatikan anak berambut ash-brown dengan seksama, kedua matanya membulat dengan sempurna. Ini adalah realita yang tidak ingin Liyuna anggap sebagai mimpi.
Dia adalah salah seorang target, Yuda Harvenhelt.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
🎤K_Fris🎧
lanjut
2022-01-27
1
Yukity
like👍🏼😍
2022-01-23
0
louise
gas sindir balik sampek kena mindbreak
2021-12-17
3