Setelah turun dari bianglala, Yvette berjalan mendekati Lucas dan Liyuna. Wajahnya sudah tidak terlihat sepucat tadi, namun masih menampakkan keletihan.
"Yvette, apa kamu sudah tidak apa-apa?" Tanya Liyuna khawatir.
"Iya, tapi rasanya masih sangat lelah."
"Ayo duduk dulu." Liyuna menggandeng tangan Yvette dan mengajaknya duduk di kursi yang ada di bawah pohon.
Saat kedua gadis itu tidak memerhatikan, Lucas diam-diam pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa aku harus menelpon kak Noel? Sepertinya kau sudah tidak ada tenaga untuk naik kereta."
"Maaf merepotkanmu, Yuna."
"Tidak masalah."
Setelah mendengar jawaban positif Yvette, Liyuna langsung menelpon Noel. Setelah terdengar bunyi tersambung Liyuna langsung mengutarakan apa yang ingin dia katakan.
"Kak Noel, bisa jemput Yuna di Havelian Park tidak?"
"Tentu nona, saya akan ke sana sekarang."
"Kalau bisa agak cepat ya, soalnya Yvette sedang tidak enak badan."
"Baik."
Meski Liyuna bilang untuk datang lebih cepat, dia sadar bahwa itu tidak mungkin karena jarak Havelian Park dan rumahnya cukup jauh. Mungkin jika naik mobil bisa mencapai 2 jam jika tidak macet. Namun meski begitu, ia ingin segera mengantar Yvette ke rumah karena dia kelihatan sangat letih sekali. Liyuna juga merasa tidak enak karena sedari tadi dia bersenang-senang dengan Lucas sedangkan Yvette sendirian. Lagipula, kenapa juga Yvette tidak bilang kalau dia tidak bisa naik wahana ekstrim. Seharusnya dia tidak perlu naik jika tidak bisa.
Ngomong-ngomong soal Lucas, Liyuna baru sadar kalau Lucas menghilang.
"Loh, Lucas kemana?" Ucap Liyuna terheran-heran, dia melihat ke kanan dan ke kiri namun tidak dapat menemukan Lucas.
"Bukannya tadi dia berjalan dibelakang kita, ya?"
Yvette yang juga baru saja menyadari Lucas yang menghilang juga ikut bertanya-tanya. Senior satu itu memang hobi sekali menghilang tiba-tiba.
"Apa mungkin dia ke toilet?"
"Mungkin saja."
***
Lucas terlihat berdiri di depan sebuah tempat yabg cukup gelap. Jika tidak dilihat dengan seksama, kita tidak akan tahu bahwa ada orang berpakaian serba hitam bersembunyi di sana.
"Keluarlah kalian." Ucap Lucas dengan suara yang begitu tegas. Kedua matanya menatap orang-orang berpakaian serba hitam dengan sangat dingin. Auranya yang sejak tadi seperti matahari kini berubah menjadi menakutkan dan mencekam. Jika tatapan bisa membunuh, orang-orang itu bisa dipastikan sudah mati.
Salah satu dari orang-orang berpakaian serba hitam itu berjalan keluar dari kegelapan, wajahnya tersinari cahaya jingga matahari sore dan wajahnya terlihat tidak menampakkan emosi apapun. Dihadapannya saat ini adalah putra dari Nyonya yang mereka layani dan meski dia masih berumur 9 tahun, auranya sudah terasa sangat menakutkan. Namun, dia harus bersikap profesional dan berusaha untuk tidak terintimidasi oleh Tuan Muda nya.
"Aku sudah sering bilang jangan mengikuti ku lagi." Ucap Lucas mencoba untuk memperingkatkan mereka.
"Maaf Tuan Muda, tapi kami tidak bisa melakukan itu. Nyonya secara langsung memberi kami perintah untuk selalu berada di dekat Tuan Muda."
"Kalian pikir aku ini siapa? Aku tidak perlu penjaga."
"Kehadiran kami tidak dimaksudkan untuk menjaga, namun untuk mengawasi."
Mendengar hal ini, aura Lucas semakin terasa menekan. Mata ungunya yang semakin mendingin terlihat seperti seekor ular beracun yang siap menerkam mangsanya.
"Pergilah, ini peringatan terakhir."
Mendengar ancaman dari Lucas, orang yang memakai pakaian serba hitam itu terlihat menghubungi seseorang dengan earphone yang terpasang di telinganya.
"Kami akan mundur untuk hari ini. Besok kami akan datang lagi." Ucap orang itu sembari kembali dalam kegelapan.
Lucas masih menatap orang-orang itu dengan sangat angkuh. Dia sangat membenci situasi seperti ini. Dia tidak suka dengan ibunya yang selalu ikut campur dalam segala urusannya padahal dia sudah menyerah untuk menjadi pewaris. Ibunya terllau keras kepala hingga membuatnya sakit kepala. Jika terus begini, orang-orang yang ada di dekatnya bisa terkena masalah. Sepertinya dia harus mulai bertindak sebelum kelakukan ibunya semakin menjadi-jadi.
Lucas mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Liyuna.
To : Yuna
From Lucas
Aku ada urusan mendadak. Kalian pulanglah tanpa ku.
Liyuna yang menerima pesan ini langsung membalas 'okay'. Dia tidak tahu urusan apa yang dibicarakan Lucas, namun jika dia bilang itu penting maka dia hanya bisa percaya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Noel sampai di Havelian Park dan membantu Yvette berjalan. Liyuna meminta Noel untuk mengantarkan Yvette terlebih dahulu. Untungnya rumah Yvette tidak terlalu jauh dengan rumahnya, mungkin hanya sekitar 40 menit saja.
Sesampainya dirumah, Yvette mengatakan terima kasih pada Liyuna karena sudah diantar. Karena besok hari senin, maka Liyuna meminta Yvette untuk langsung istirahat saja supaya tidak sakit.
Setelah itu, Noel kembali menyetir pulang. Dia menyetir cukup pelan agar Liyuna juga bisa istirahat di mobil.
"Dimana teman Nona yang satunya? Katanya Nona pergi bertiga?" Tanya Noel yang dari tadi penasaran kenapa Liyuna hanya berdua dengan Yvette.
"Lucas bilang ada urusan mendadak, dia sudah pulang duluan." Ucap Liyuna mencoba menjelaskan.
Setelah obrolan singkat itu, Liyuna tanpa sadar tertidur, mungkin karena dia terlalu lelah. Melihat hal itu Noel menaikkan suhu ac di mobil supaya Liyuna tidak kedinginan.
Perjalanan pulang mereka diselimuti oleh keheningan yang membuat siapapun merasa nyaman dan tidak canggung.
Sesampainya dirumah, Noel membukakan pintu mobil untuk Liyuna. Beberapa pelayan berbaris dengan sangat rapi untuk menyambut kedatangan Liyuna.
"Selamat datang, Nona."
Awalnya Liyuna merasa terkejut dan merasa tidak nyaman di sapa oleh banyak orang ketika masuk ke rumah, namun setelah waktu berjalan cukup lama, Liyuna akhirnya bisa membiasakan diri dengan kehidupan barunya.
Salah seorang pelayan mendekati Liyuna dan melepaskan cardigan yabg ia pakai sembari bertanya, "Kami sudah menyiapkan air hangat untuk Nona."
"Terima kasih."
Selama setahun ini, Liyuna menyadari bahwa kehidupannya sangatlah lurus. Tidak ada satu pun halangan yang bisa membuatnya kesulitan dan apapun yang dia inginkan pasti akan terwujud. Bahkan, untuk kehidupan sehari-hari saja Liyuna selalu dibantu oleh para pelayan. Benar-benar kehidupan layaknya seorang tuan putri. Mungkin, ini lah yang membuat Liyuna asli merasa tidak adil ketika semua perhatian orang-orang beralih pada Yuriel.
Jika kau terbiasa dimanjakan dan tiba-tiba saja diperlakukan bak orang biasa, sudah pasti hatimu akan menghitam.
Namun bagi Liyuna, semua itu tidak terlalu berarti. Dia sudah terbiasa dengan rasa susah di kehidupannya dulu, jadi kesenangan yang ia rasakan sekarang tidak akan berdampak apa-apa jika memang suatu nanti akan menghilang. Dia juga yakin kalau dia bisa bertahan hidup jika keluar dari keluarga Castris. Segala macam pekerjaan sudah pernah ia lakoni.
Setelah berendam air hangat, Liyuna langsung membasuh tubuhnya dengan air shower, setelah itu ia memakai piyama yang ada di dalam lemari. Tak lama kemudian, dia turun ke bawah untuk makan malam. Sepertinya Sara dan Karl sedang tidak ada dirumah, makanya Liyuna makan sendiri.
Saat ini Liyuna masih tidak tahu bahwa dia tidak akan bertemu dengan sahabatnya untuk waktu yang cukup lama.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
Amel Widya
mungkin agar tidak kepanasan
2022-01-14
2
Blue Twins
Apa yang terjadi dengan sahabatnya?
2021-09-23
2
shana 3108
lanjut lagi ya thor
2021-07-29
1