Keesokan harinya, Liyuna berangkat ke sekolah seperti biasa diantar oleh Noel. Hari ini Liyuna pergi ke sekolah sedikit lebih pagi dari biasanya karena ia bangun lebih pagi dari biasanya. Mungkin ini karena kemarin dia terlalu banyak pikiran sehingga sulit untuk tidur.
Karena itulah dia meminta Noel untuk menurunkannya beberapa ratus meter dari sekolah karena Liyuna ingin berjalan kaki agar merasa sedikit fresh. Noel awalnya menolak karena merasa berbahaya jika Liyuna berjalan sendirian di pagi hari, namun pada akhirnya Liyuna dapat meyakinkannya.
Liyuna memutuskan membeli segelas latte dingin dengan whipped cream yang banyak di sebuah coffee shop dekat sekolah karena Liyuna takut ketiduran di kelas makanya ia membeli kopi. Meski saat ini dia belum merasa mengantuk, pasti nanti siang dia akan merasakannya. Apa lagi di musim panas sangat enak untuk tidur siang.
Berbeda dengan sekolah yang ada di kehidupannya dulu, sekolah yang di masuki Liyuna ini tidak mengharuskan muridnya datang sebelum jam 7. Batas maksimal datang adalah jam 8 pagi, karena itulah siswa terbiasanya datang pukul 8 tepat. Karena kebanyakan siswa disini adalah seorang penerus, mereka terbiasa datang tepat waktu, tidak lebih dan tidak kurang karena mereka terbiasa memanfaatkan waktu mereka dengan se efisien dan sebaik mungkin.
Sekarang pukul 6 pagi, biasanya sekolah masih sepi dan hanya ada segelintir pegawai saja. Tidak terlihat satu pun murid maupun guru namun Liyuna tidak merasa takut atau pun khawatir. Di kehidupan sebelumnya, dia juga sering datang pagi ke sekolah untuk tidur karena bisanya dia kerja part-time sampai larut malam sehingga waktu istirahatnya kurang. Biasnya dia sengaja datang 1 jam lebih pagi agar bisa tidur dikelas karena jika ia tidur di kosan, bisa dipastikan kalau dia akan telat.
Tiba-tiba saja tubuh Liyuna terdorong ke depan dengan sangat keras karena seseorang menabraknya dari belakang hingga membuatnya menjatuhkan latte dingin yang ada di genggamannya.
Secara reflek Liyuna berteriak, "Ahhh, latte kuuu!!!"
Latte dingin yang baru diminum separuh olehnya jatuh ke tanah dan isinya tumpah kemana-mana, termasuk whipped cream nya. Liyuna sedikit merasa kesal karena tiba-tiba saja ditabrak dari belakang padahal jalanan cukup luas.
Tidak ingin tersangka utama kabur, Liyuna mencengkram baju orang yang baru saja menabraknya dan menariknya.
Liyuna berdiri dihadapan orang itu dan berkata dengan sangat kesal, "Hei kamu! Lihat apa yang kamu lakukan pada latte ku!
Mendengar suara kesal Liyuna anak laki-laki yang tidak sengaja menabraknya menatap Liyuna terkejut.
Dengan gerakan cepat, dia berdiri dan menarik pergelangan tangan Liyuna dan berlari.
"Hei, apa-apaan ini? Lepaskan aku!" Protes Liyuna berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman anak laki-laki itu.
"Kalau mau selamat, lari lah yang kencang." Ucap anak laki-laki itu sambil menatap Liyuna.
Liyuna sangat terkejut dengan penampilan anak laki-laki yang ada dihadapannya. Dia memiliki rambut perak bersinar yang memantulkan sinar matahari, matanya ungu seperti berlian dan terlihat sangat cantik.
'Tunggu... Apa di Red String ada karakter sepertinya?'
Mana mungkin ada extra yang memiliki penampilan semencolok ini? Bahkan Allen yang seorang target saja tidak memiliki penampilan mencolok sepertinya.
Apa-apaan rambut silver itu??
Padahal karakter utama di game ini saja hampir semua berambut hitam. Memang sih, Liyuna memiliki mata biru seperti langit dan Allen memiliki mata berwarna abu, tapi tetap saja jika dibandingkan dengan mata dan rambut si extra, perbedaannya jelas sekali. Dia sangat mencolok!!
"Huff... Huff..."
Liyuna sudah tidak kuat berlari lagi. Nafasnya mulai terengah-engah karena kelelahan. Yah, mau bagaimana lagi, tubuhnya memang lemah sejak kecil. Dia tidak bisa melakukan hal-hal yang melebihi kapasitas fisiknya. Melihat Liyuna yang kelelahan, anak laki-laki itu langsung memutuskan menggendong Liyuna dengan menaruh kedua tangannya di kaki Liyuna dan mengangkat tubuh kecil dan ringannya itu dengan mudah.
"Pegangan yang erat." Bisik anak laki-laki itu ke telinga Liyuna.
Dengan cepat, Liyuna melingkarkan kedua tangannya ke leher anak laki-laki tersebut dan dengan sangat mengejutkan anak itu bisa berlari dengan sangat mudah seolah dia tidak sedang membawa sebuah beban melainkan membawa sebuah kertas.
Akhirnya Liyuna bisa melihat dengan jelas mengapa anak ini menarik tangannya dan mengajaknya berlari. Ada sekelompok orang ber setelan hitam lengkap dengan kaca mata hitam dan walkie talkie sedang mengejar-ngejar mereka. Otak Liyuna langsung berputar dengan cepat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Kemungkinan pertama, mereka mengejar Liyuna karena uang.
Dan kemungkinan kedua, mereka mengejar anak laki-laki yang sedang menggendongnya entah karena apa.
Tidak mungkin ada kemungkinan lain selain itu. Karena orang yang menargetkan Liyuna harus siap dengan segala konsekuensi yang akan mereka dapat dari Castris.
"Kenapa orang-orang itu mengejar kita?" Tanya Liyuna yang semakin mempererat pegangannya.
Namun anak laki-laki itu tidak menjawab dan terus berlari kearah sekolah.
Jika diperhatikan, anak ini memakai seragam yang sama dengan Liyuna. Jadi, dia juga murid di sekolah ini.
'Tunggu dulu, hoodie ini ...'
Liyuna menatap hoodie yang terlihat familiar baginya.
'Ini kan hoodie anak laki-laki yang dikejar-kejar kemarin?'
Dalam hatinya, Liyuna merasa ia sedang mengalami kesialan yang tidak berujung. Bagaimana mungkin dia berurusan dengan anak bermasalah seperti ini. Kemarin dia tidak terlalu memperhatikan rambutnya, tidak disangka dia memiliki warna rambut yang sangat mencolok. Yah, walau Liyuna sendiri tidak terlaku memusingkannya karena ini adalah dunia game dan apa pun bisa terjadi.
Entah sudah berapa lama, akhirnya anak laki-laki itu menurunkan Liyuna. Setelah melihat sekitar, Liyuna menyimpulkan bahwa mereka ada di area sekolah.
"Kita aman kalau berada disini." Ucap anak laki-laki itu sembari membenarkan seragamnya yang berantakan.
Mendengar ucapan anak laki-laki itu, Liyuna merasa sangat kesal. Dia berulang kali mengumpat dalam hati saking kesalnya.
'Dasar extra sialan!'
Gara-gara dia Liyuna hampir saja terlibat masalah. Pikiran bahwa dia bisa saja mati bahkan sebelum cerita utama di mulai membuat Liyuna semakin ketakutan.
Hal ini membuatnya bertindak secara impulsif dengan menarik kerah seragam anak laki-laki yang hanya extra itu.
"Hei, kau! Jangan menarik orang lain ke dalam masalahmu!" Ucap Liyuna memperingatkan.
Karena sekolah sepi, suara Liyuna dapat terdengar dengan sangat jelas. Matanya memincing, menatap anak laki-laki itu dengan tajam.
Melihat Liyuna yang marah, anak itu malah menampakkan senyum cerah secerah matahari.
"Ah! Aku minta maaf karena tidak sengaja menyeretmu dalam masalahku." Ucapnya.
Melihatnya yang tersenyum sambil meminta maaf membuat Liyuna semakin kesal karena ia merasa anak laki-laki dihadapannya ini tidak merasa bersalah sama sekali bahkan tidak berniat untuk meminta maaf.
Liyuna menatap anak laki-laki itu dengan sangat dingin. Berbeda dari Liyuna yang biasanya jarang menampakkan ekspresi kesal secara terang-terangan, saat ini dia tidak bisa menahan perasannya.
Beberapa menit gang lalu, dia bisa saja terseret masalah anak dihadapannya ini dan skenario terburuknya dia bisa saja mati atau terluka parah. Bagaimana tidak, orang bersetelan hitam yang tadi mengejar mereka terlihat sangat terlatih dan terorganisir. Meski tubuhnya masih berumur 6 tahun, mental Liyuna saat ini setara dengan anak berumur 18 tahun dan dia termasuk orang yang pandai dalam membaca situasi karena di kehidupan sebelumnya dia harus selalu berhati-hati dengan segala perbuatannya, karena sekalinya ia berbuat salah tidak akan ada jalan keluar karena dia adalah seorang yatim piatu.
Melihat tatapan dingin Liyuna, anak laki-laki itu terlihat sedikit terkejut karena ia sering sekali mendengar rumor bahwa meski Liyuna orang yang sangat di takuti dan sebisa mungkin dihindari, dia tidak pernah menatap anak lain dengan tatapan dingin penuh amarah atau pun tatapan merendahkan. Liyuna menatap semua orang seolah mereka tidak ada dan selalu mengabaikan keberadaan anak-anak lain.
Sepertinya rumor itu salah, ternyata Nona dari keluarga Castris bisa menatap seseorang dengan sangat dingin. Ya, dia adalah seorang pewaris dari keluarga konglomerat, tentu saja dia harus bisa melakukan hal seperti ini.
Anak laki-laki itu menundukkan kepalanya, bibirnya membentuk senyuman misterius yang sulit untuk diartikan, tentu saja Liyuna tidak bisa melihatnya karena kepala anak itu menunduk.
"Saya benar-benar minta maaf Nona Liyuna. Saya yakin jika itu Nona, tidak akan ada satu pun yang berani menyentuh anda. Tapi jika memang anda berada dalam masalah karena saya, saya sendiri yang akan membereskan semuanya." Ucapnya sembari memegang tangan Liyuna dan mencium punggung tangannya.
Apa yang baru saja dilakukan anak laki-laki itu membuat Liyuna sedikit terkejut karena tiba-tiba anak itu berbicara dengan sangat sopan, bahkan menggunakan 'saya'. Itu adalah tata krama yang biasanya digunakan dalam pergaulan kelas atas saja, karena di sana mereka harus mencari koneksi sehingga sangat wajib mengikuti tata krama yang ada. Apalagi mencium punggung tangan adalah tanda hormat yang sering di lakukan oleh para anak laki-laki dari keluarga elit kepada putri keluarga elit lainnya.
Ini juga merupakan salah satu detail yang ada di dalam game, dimana biasanya anak laki-laki dari keluarga terpandang akan mencium punggung tangan putri keluarga terpandang lainnya sebagai tanda hormat dan salam. Namun tentu saja, tidak semua Nona dari keluarga terpandang bisa mendapatkan rasa hormat dan salam seperti itu, hanya orang yang dirasa sudah memenuhi kriteria saja yang biasanya bisa diperlakukan seperti itu. Salah satu kriterianya adalah keluarga Nona tersebut harus memiliki kekuasaan lebih besar dari si laki-laki, tentu saja jika masalah kekuasaan Liyun tidak akan kalah dari siapapun karena dia adalah seorang Castris.
Memang terdengar cukup menggelikan, tapi kebiasaan ini sudah ada sejak lama dan wanita yang sering mendapatkan perlakuan seperti ini hanyalah si heroine, Yuriel. Karena tidak hanga wajahnya saja yang cantik, dia juga sangat pintar dan elegan. Kesopanannya pun tidak bisa dibandingkan dengan Nona dari keluarga lain, karena itulah dia menjadi kupu-kupu dalam pergaulan kelas atas dan selalu menjadi sorotan ketika ada pesta.
"Kau akan membereskan semuanya? Bagaimana caranya?" Tanya Liyuna dengan nada suara sedikit meremehkan.
Dia hanyalah seorang extra yang bahkan tidak pernah disebutkan dalam game, sedangkan Liyuna adalah vilainess yang selalu berada disekitar heroine. Jadi, bagaimana cara dia membereskan semuanya tanpa bantuan Castris? Liyuna tidak percaya bahwa dia bisa melakukannya.
Liyuna berpikir kalau anak laki-laki itu pasti marah karena dia sudah diremehkan, namun berbeda dari apa yang Liyuna pikirkan, anak itu malah tersenyum lebar ke arah Liyuna.
"Rahasia,–" Ucapnya.
"Ngomong-ngomong, perkenalkan, aku Lucas Obelian." Lanjutnya, bibirnya masih tersenyum cerah seperti matahari.
Senyumannya terlihat sangat polos dan tidak berbahaya, membuat siapa pun yang melihatnya secara tidak sadar menurunkan dinding pertahanan mereka. Biasanya di dalam game, orang seperti ini selalu menyembunyikan sifat asli mereka.
'Lucas Obelian... Seingatku tidak ada karakter dengan nama itu di Red String.'
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
Blue Twins
Lucas Obelian, jadi keinget lucas yang ada di Kerajaan de alger obelia
2021-09-23
8
JW🦅MA
SEMNAGAT YA
BERKARAKTER
2021-08-09
2
Quora_youtixs🖋️
mantab
2021-07-26
4