Di kediaman Ravenray, Zion terlihat sedang menghabiskan waktunya di perpustakaan. Sejak pagi dia ada di perpustakaan, ditemani oleh ribuan buku yang ada di rak-rak dan beberapa buku yang dia ambil dan ia taruh di meja. Zion duduk di dekat jendela prancis besar dengan gorden putih polos. Cahaya matahari dapat masuk dengan baik karena kaca jendela tersebut berwana bening, membuat wajah Zion tersinari cahaya tersebut.
Sesekali terdengar suara Zion yang membalikkan halaman buku perlahan. Atmosfir di tempat ini sangatlah bagus, tenang dan damai. Entah waktu sudah berlalu selama apa, namun Zion akhirnya meletakkan buku yang sudah dia baca di atas tumpukan buku lainnya yang juga telah selesai ia baca. Zion meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku karena sejak tadi pagi dia duduk di perpustakaan. Sebagai anggota keluarga elit, Zion tidak perlu pergi jauh-jauh untuk membaca buku. Setiap bulannya, pelayan akan memesankan buku-buku yang baru terbit dan juga memesankan buku khusus jika ada permintaan. Hal ini membuat semuanya semakin mudah. Zion yang tidak suka membuang waktu untuk hal-hal tidak penting merasa senang terlahir dalam keluarga ini.
Sebenarnya akhir-akhir ini, pikiran Zion dipenuhi oleh masalah-masalah yang muncul setahun belakangan. Masalah mengenai kecelakaan-kecelakaan yang terus saja terjadi disekitar keluarga elit. Awalnya dia berpikir semua ini hanya kebetulan, namun hatinya merasa ada yang sedikit mengganjal. Meski dia belum tahu apa itu, ia yakin bahwa kecelakaan yang terjadi setahun belakangan ini memiliki maksud tersembunyi.
Zion berdiri dari tempat duduknya sembari membawa satu buku yang belum sempat ia baca dan meninggalkan buku lainnya di meja. Di dekat pintu perpustakaan ada seorang penjaga khusus untuk perpustakaan. Penjaga itu bekerja untuk mengorganisir perpustakaan dan membuat daftar buku apa saja yang keluar dan masuk.
"Tolong kembalikan buku yang ada di meja." Ucap Zion dengan suara monoton.
Meski terdengar sangat datar, penjaga perpustakaan bisa mendengar suara memerintah.
"Baik, Tuan Muda." Balas penjaga perpustakaan itu dengan sopan. Bagaimana pun juga, membereskan buku-buku juga tugasnya. Dia tidak mungkin menolak karena hanya dengan mengatur perpustakaan di kediaman Ravenray saja, dia sudah mendapat gaji yang besar. Ya, benar-benar keluarga kaya.
Langkah kaki Zion terdengar sangat halus karena saat ini dia sedang memakai sandal selop berbulu rumahan. Kita bisa melihat bayangannya terpantul di lantai yang terbuat dari batu marmer. Dengan langkah yang tegas dan berwibawa, Zion kembali ke kamarnya.
Zion menekan tombol elevator menuju lantai dua, dimana kamarnya berada.
DING
Pintu elevator terbuka, Zion keluar dari elevator dan berjalan melewati koridor panjang. Di sekelilingnya ada banyak sekali lukisan-lukisan vintage yang menambah kesan elegan.
Sesampainya di kamar, dia menaruh buku yang tadi ia bawa dari perpustakaan ke meja belajar yang ada di kamarnya lalu ia berjalan menuju rak buku yang ada di samping kasurnya dan memiringkan sebuah buku. Tiba-tiba saja rak buku tersebut bergerak, menampakkan sebuah ruangan kosong dibelakangnya. Zion berjalan memasuki ruangan tersebut, tidak lupa ia mengembalikan posisi rak buku seperti semula. Rak buku itu adalah pintu rahasia yang akan terbuka otomatis jika tombolnya ditekan, dalam hal ini buku yang tadi Zion miringkan ada tombol untuk membuka dan tombol untuk menutup ada di balik dinding sebelah kanan Zion.
Setelah tertutup, Zion menyalakan lampu agar ruangan itu menjadi terang. Ketika semuanya menjadi terang, kita bisa melihat banyak sekali potongan koran yang memuat kasus selama setahun terakhir. Potongan-potongan tersebut, Zion tempelkan ke dinding dan itu terlihat seperti sebuah penyelidikan. Ada coretan tinta berwarna merah dibeberapa kasus kecelakaan dan ada beberapa pula yang ditempeli sticky notes kotak berwarna kuning. Potongan kasus yang ada di ditengah saat ini adalah kasus terbaru, yaitu terjadinya pengeboman di Havelian Park yang menewaskan ratusan orang. Itu adalah berita yang cukup mengejutkan karena Havelian Park baru dibuka sekitar 3 minggu yang lalu.
Di tengah-tengah ruangan, ada sebuah kursi kerja dan juga meja yang menghadap potongan koran-korean tersebut dan di atas meja tersebut ada spidol merah dan juga sticky notes kuning.
Sejak kecil, Zion memiliki insting yang luar biasa kuat mengenai banyak hal. Karena itulah, tidak aneh jika dia yang berumur 27 tahun dalam game mampu menjadi Presdir muda. Apa yang saat ini berada di dinding, adalah hasil dari insting miliknya dan juga sedikit penyelidikan yang ia lakukan. Ada beberapa poin penting yang dapat dia dapatkan dari mengumpulkan semua kasus yang terjadi setahun belakangan ini, yaitu seseorang sengaja menargetkan keluarga elit yang tinggal di Elisien dan juga sengaja menyabotase mereka hingga terjadi banyak kasus kecelakaan.
Namun, untuk saat ini, penyelidikan yang dia lakukan tidak bisa dibuktikan.
***
Disebuah gang kecil yang gelap di Kota Elisien, terlihat seorang laki-laki sedang terengah-engah.
"Haaa... haaa... huff..."
Wajahnya terlihat begitu ketakutan seperti dikejar oleh binatang buas. Keringatnya pun mengucur dengan sangat deras seperti berada di sauna. Yah, itu tidak aneh karena dia baru saja berlari sekuat tenaga melebihi apa yang tubuhnya bisa lakukan.
Klik
Suara pengaman dari pistol revolver dilepaskan. Pria yang napasnya terengah-engah itu kembali berlari, namun kakinya sudah tidak kuat dan membuatnya terjatuh. Jantungnya berpacu semakin cepat, otaknya sudah tidak dapat berpikir lagi karena ia merasa sangat panik dan ketakutan. Dia tidak mau mati, dia ingin tetap hidup. Itulah yang bisa ia pikirkan saat ini.
"Maafkan aku." Ucapnya memohon. Ia bersujud dihadapan seseorang yang mengejarnya.
Orang itu membawa sebuah pistol revolver hitam. Pakaiannya terlihat sangat rapi dan sepatunya terbuat dari kulit. Di tangan kirinya terlihat sebuah jam Patek Philippe berwarna hitam dan emas. Dia memiliki proporsi tubuh yabg cukup tinggi, mungkin sekitar 185 cm dan dada yang cukup bidang. Karena setelan yang ia pakai sesuai dengan size miliknya, kita bisa mengetahui bahwa orang itu pasti rajin berolahraga dan merawat tubuhnya agar tetap sehat.
"Katakan siapa yang mengirimmu." Ucapnya. Dia masih berdiri dibawah bayangan, membuat wajahnya tidak terlihat.
"Aku tidak tahu."
DOR
"Aaaah..." Teriak pria yang sedang bersujud itu terkejut. Untungnya peluru tersebut tidak diarahkan padanya, melainkan ke tanah disebelahnya sebagai tanda peringatan.
"Sungguh, aku tidak tahu. Orang itu hanya menyuruhku menaruh bom ditempat itu."
"Kenapa tempat itu ditargetkan?"
Pria itu sedikit mendongak, berusaha melihat wajah orang yang sejak tadi mengejarnya, namun ia langsung menundukkan kepalanya lagi setelah melihat sorot mata orang itu yang begitu dingin dan menakutkan. Seumur hidupnya, dia tidak pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki tatapan mata seperti itu.
"Orang itu bilang, ada seorang anak yang pergi ke tempat itu."
"Katakan lebih spesifik."
"Aku tidak tahu siapa yang dia maksud, sungguh."
Suara tembakan kembali terdengar, pria itu berteriak kesakitan karena kakinya baru saja ditembak. Meski dia merintih kesakitan, orang yang ada dihadapannya saat ini hanya memasang wajah datar, dia tidak merasa bersalah sedikitpun menembak dirinya.
Pria yang memegang pistol itu mengambil ponsel pintarnya yang ada di saku celana. Dia berusaha mencari pesan dari seseorang, namun tidak berhasil menemukannya. Sejak seminggu yang lalu, dia tidak bisa menghubungi orang itu setelah ia pergi ke luar negeri. Ia menjadi khawatir namun tidak bisa berbuat apapun.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
AshidaAkane
[A/N] Timeline di chapter ini seminggu setelah Yuna dkk pergi ke Havelian Park
2021-06-27
9