"Yuna sayang, pelan-pelan saja makannya."
Wanita cantik yang ada di depanku ini adalah Sara Leingod dan dia adalah ibu dari Liyuna Aria Castris si wanita jahat dalam game.
"Iya, sayang. Tidak usah buru-buru."
Yang duduk disebelah Sara adalah Karl Erudian Castris, ayah Liyuna sekaligus orang yang membuat Yuna jatuh ke dalam kesengsaraan.
Ini terjadi sekitar seminggu yang lalu. Ketika aku terbangun, tiba-tiba saja aku sudah berada ditubuh Liyuna yang masih berumur 6 tahun. Awalnya aku mengira ini hanya mimpi karena sebelum tidur aku memainkan Red Strings. Tapi ternyata aku salah, ini bukanlah mimpi. Aku benar-benar berada ditubuh Liyuna saat ini.
Liyuna Aria Castris, wanita jahat yang selalu memiliki ending tragis. Sejak realita memukulku dengan keras, aku bertekad untuk mengubah takdir dari Liyuna.
Benar! Pokoknya aku harus selamat sampai akhir.
Lagi pula kesengsaraan Liyuna baru akan dimulai ketika ia berumur 8 tahun. Aku masih punya waktu 2 tahun lagi sebelum semua cerita prolog dalam game dimulai.
"Aku hanya tidak ingin terlambat, Pa, Ma." Ucapku dengan memberikan senyum sepolos mungkin.
Hal pertama yang harus aku lakukan adalah mengubah image Liyuna. Sebenarnya aku tidak tahu banyak mengenai Liyuna sebelum cerita prolog dimulai dan tidak ada informasi apapun mengenai Liyuna sebelum berumur 8 tahun. Namun aku harus bermain aman karena nyawaku taruhannya. Meski aku masih tidak tahu mengenai alasan kenapa aku bisa menjadi Liyuna, setidaknya aku harus bertahan hidupkan.
"Ya ampun, kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu. Terlambat pun para guru pasti akan memakluminya." Ucap Mama.
"Benar sayang, jika ada guru yang berani memarahi mu, katakan saja pada ayah. Kamu tidak perlu takut."
"Menurut Yuna, sebagai murid yang baik, kita harus mengikuti peraturan yang ada di sekolah. Papa dan Mama tidak perlu khawatir, Yuna baik-baik saja dan senang jika bisa mengikuti peraturan dengan baik."
Apapun yang Liyuna lakukan di sekolah, entah itu tertidur di kelas, bolos sekolah, ataupun terlambat masuk ke sekolah, tidak ada seorang pun yang berani menasehatinya. Alasannya? Karena ayah Liyuna adalah donatur terbesar di sekolah. Tentu saja, tidak ada yang berani menyentuh anak dari donatur terbesar di sekolah. Karena itulah selama seminggu ini aku jadi mengerti beberapa hal tentang Liyuna.
Yang pertama, julukannya di sekolah adalah Untouchable Queen.
Kedua, Liyuna hanya memiliki satu teman di sekolah karena semua orang berusaha menghindari bahkan melihat Liyuna dengan tatapan ketakutan.
Dan yang ketiga adalah kedua orang tua Liyuna sangat memanjakannya.
"Papa dan Mama senang, Yuna tumbuh menjadi anak yang pengertian, tapi Mama mohon tidak perlu memaksakan diri."
Sara adalah ibu yang sangat baik. Itu adalah kesimpulan yang kuambil setelah hidup selama seminggu bersamanya. Ia selalu mengkhawatirkan kondisi Liyuna karena menurutnya, Liyuna memiliki tubuh yang lemah dan mudah sakit-sakitan jika kelelahan. Ini juga salah satu hal yang baru ku ketahui setelah berada ditubuh Liyuna. Di dalam game, Liyuna selalu digambarkan sebagai wanita yang sangat kejam dan iri hati, selain itu ia juga disebutkan sebagai wanita yang cantik. Namun dalam game, tidak pernah sekalipun disebutkan bahwa Liyuna adalah wanita pesakitan. Dalam beberapa rute yang sudah ku selesaikan, dari happy end, normal end, dan bad end, tidak ada satupun kalimat yang menyebutkan bahwa tubuh Liyuna itu lemah. Jadi, informasi mengenai tubuh Liyuna yang lemah menjadi sangat berharga bagiku. Mungkin di suatu hari nanti, aku bisa memanfaatkan hal ini untuk menyelamatkan diri.
"Yuna baik-baik saja kok, Ma. Yuna malah senang jika bisa bersekolah seperti anak-anak normal lainnya."
Sejak aku mengambil alih tubuh Liyuna, aku selalu menegaskan pada orang tua Liyuna jika aku ingin seperti anak-anak biasa pada umumnya. Hal ini ku lakukan agar kedua orang tua Liyuna tidak terlalu memanjakannya sehingga nanti jika Yuriel muncul, aku juga tidak terlalu tersakiti. Yah, jika aku tidak punya ekspektasi terhadap sesuatu pasti rasa sakitnya tidak akan begitu terasa.
Setelah sarapan usai, Kak Noel –sopir pribadiku, mengantarku ke sekolah. Seperti yang sudah kalian duga, ketika aku datang semua orang langsung menghindari ku, bahkan beberapa ada yang berpura-pura tidak melihatku, sebagiannya lagi sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
Sekali lagi realita memukulku dengan sangat keras. Ini benar-benar dunia game. Jika di dunia nyata, hal seperti ini tidak mungkin terjadi.
Ngomong-ngomong, kelas Liyuna ada di lantai 2 dan tentu saja itu adalah kelas khusus para donatur sekolah yang pasti orang kaya. Aku jadi ingat pernah menonton drama dimana seorang anak miskin tiba-tiba bersekolah di sekolah anak orang kaya dan dia harus menyembunyikan identitasnya. Yah, dalam kasus ku aku tidak perlu menyembunyikan identitas ku karena aku termasuk orang paling kaya disini.
Sekadar informasi saja, Red String ini bersetting disebuah negara fiktif di Asia Timur dan memiliki sistem pemerintahan presidensial. Tapi entah kenapa developer game menamai tokoh mereka dengan nama kebaratan.
"Nona Yuna, selamat pagi!" Seorang gadis seumuran Liyuna menyapa.
Dia adalah Yvette Vlistha, satu-satunya orang yang selalu mengekori Liyuna dan orang yang ku sebut sebagai satu-satunya teman Liyuna. Yvette, entah karena alasan apa tidak takut pada Liyuna. Ia memanggil Liyuna dengan sebutan "Nona" dan selalu mengikuti kemanapun aku pergi.
"Selamat pagi!" Ucapku menyapa balik.
Kau mencoba ramah padanya dengan menyunggingkan senyum ketika balik menyapa, Yvette yang melihat hal ia tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya dan balas tersenyum lebar.
Setelah bertukar salam yang singkat tadi, kami kembali duduk di bangku masing-masing, aku duduk di bangku tengah yang ada di haris tengah juga, sedangkan Yvette berada di bangku paling depan baris sebelah kanan dekat pintu masuk.
Pelajaran masih belum dimulai karena ini masih cukup pagi dan murid lainnya juga masih ada yang berada di luar kelas. Karena bosan, aku mengambil buku pelajaran di tas dan membacanya, namun tak lama kemudian aku dapat mendengar suara yang cukup keras dari luar dan hal itu membuatku penasaran.
Aku menengok ke jendela luar dan melihat banyak sekali anak yang keluar dari kelas mereka menuju tangga.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku pada Yvette yang sepertinya juga akan pergi melihat apa yang sedang terjadi.
Ada suara seorang anak laki-laki yang berteriak, sepertinya ada perkelahian.
"Sepertinya Allen sedang bertengkar dengan seorang senior, Nona."
Allen?
Namanya tidak asing, aku seperti pernah mendengarnya.
Aku keluar dari kelas dan mencoba untuk melewati lautan manusia disekitar tangga dan tentu saja anak-anak lain akan langsung mempersilahkan Liyuna untuk lewat.
Dan aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat. Ada sekitar 5 sampai 7 anak dengan badge berwarna merah yang menandakan mereka adalah senior terkapar di lantai. Semua anak itu terlihat terluka dan orang yang masih berdiri hanyalah seorang anak laki-laki dengan badge yang sama denganku dan seorang senior lagi yang berusaha melawan namun kalah telak dan dipukuli habis-habisan oleh anak laki-laki itu. Dia memukul senior tersebut dengan sangat brutal. Karena membelakangi ku, aku tidak tahu dia berekspresi seperti apa namun sepertinya ia sangat marah dengan para senior.
"Berhenti! Hentikan! Aku minta maaf!" Teriak senior yang dihajar habis-habisan itu dengan suara memelas.
Ia memohon ampun pada junior yang memukulinya tanpa ampun, namun junior tersebut tidak menggubrisnya dan terus memukulinya hingga darah mulai keluar dari wajah senior tersebut.
"Gawat, dia lepas kendali lagi."
"Sepertinya senior itu akan masuk rumah sakit."
"Aku merasa kasihan pada senior itu."
"Dia benar-benar monster."
"Aku merasa puas senior itu dipukuli, senior itu selalu saja membully para junior seperti kita."
"Benar, senior itu pantas mendapatkannya."
Aku dapat mendengar orang-orang disekitar ku berbisik-bisik tentang anak laki-laki itu. Beberapa orang merasa takut dengannya, namun beberapa lainnya merasa senang dan sisanya merasa kasihan dengan senior yang dipukuli tersebut.
Lima menit berlalu, anak laki-laki itu masih saja memukuli wajah senior malang itu hingga wajahnya tak berbentuk karena penuh luka lebam. Jika dibiarkan, mungkin senior itu harus operasi plastik untuk memperbaiki wajahnya.
Sepertinya aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku harus menghentikannya atau dia akan benar-benar mati. Sebagai anak dari donatur terbesar, pastinya anak laki-laki itu akan mendengar ucapan ku bukan? Walaupun ini bukan urusanku, tapi memukuli orang hingga seperti hampir mati seperti itu tidak boleh dilakukan.
Benar-benar ya, apa sih yang membuatnya semarah itu sampai seperti ini.
Aku mengambil langkah pertamaku untuk menghentikan anak laki-laki itu. Semua orang terlihat sangat terkejut melihatku mendekatinya namun aku saat ini sedang tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentangku.
"Hentikan, kau bisa membuatnya mati jika terus memukulinya seperti ini." Ucapku dengan suara tegas.
Disaat seperti ini aku harus bisa bersikap tegas agar orang yang sedang gila ini mendengarkan ku.
Aku meletakkan tanganku di pundaknya, namun dia dengan sangat cepat memegang pergelangan tanganku dan mendorong tubuhku kesamping. Karena terlalu tiba-tiba, tubuhku terdorong ke samping dan jatuh tepat di tangga.
Mataku membulat sempurna ketika menyadari tubuhnya jatuh ke bawah.
Ah, sepertinya aku akan mati.
Meski hanya beberapa detik, aku dapat melihat bahwa anak laki-laki itu sempat melihat kearah ku yang saat ini terjun bebas ke bawah.
Allencio Ravenray. Dia adalah salah tau capture target dan sepertinya aku harus mulai sadar bahwa mungkin saja ini adalah pertanda bahwa nasib buruk Liyuna akan segera dimulai.
Mungkin saja aku sama sekali tidak punya waktu untuk menghindari takdir ini. Dua tahun, itulah waktu yang aku perkirakan jika melihat dari mulainya cerita prolog. Namun saat ini aku bisa mengatakannya dengan sangat yakin, takdir buruk Liyuna sudah dimulai sejak detik ini dan mustahil untuk menghindarinya.
Tubuhku terguling-guling di tangga hingga mencapai lantai bawah. Tubuhku terasa sakit sekali seperti orang yang baru saja dipukuli dan sepertinya kesadaran ku mulai menghilang. Sebelum semua inderaku hilang rasa, aku dapat mendengar suara teriakan para murid yang melihat kejadian ini.
Aku benar-benar ingin bertahan hidup hingga akhir.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
xz Gaming
hahaha ampun liyuna nasib mu sungguh naas
2022-05-02
1
Ririn Santi
ya ampyuuun....belum apa2 udah kena sial
2022-04-26
1
Nikodemus Yudho Sulistyo
PENDEKAR TOPENG SERIBU mampir.
2022-02-19
0