"Ayo, turun." Kenan kembali terkekeh melihat wajah polos Amartha. Amartha diam mematung, seperti tidak ada niat untuk melepaskan sabuk pengamannya. Kenan tersenyum kembali dan kemudian mendekat ke arah Amartha. Sontak membuat Amartha kaget dan spontan menjauhkan tubuhnya dari lelaki itu.
"Mau apa, Mas?" Tanya Amartha gugup diiringi jantungnya yang memompa lebih cepat.
"Hmmm......" Kenan semakin mendekat.
"Jauhan dikit, Mas" Amartha semakin terpojok. Dia belum pernah berada di posisi sedekat ini dengan laki-laki.
"Aku cuma mau ini.." Ucap Kenan menggantung.
Kenan meraih sabuk pengaman dan melepaskannya dari tubuh Amartha.
"Nah, sekarang udah lepas. ." Ucap Kenan sambil mengusap lembut pucuk kepala Amartha. Amartha yang melihat itu mengerjapkan matanya berkali- kai.
"Hey.....?" Kenan melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu yang masih terbengong.
"Hah? Iya mas...Eh...Apa?"
"Ayo turun." Ucap Kenan seraya kembali pada posisi duduk yang seharusnya. Amartha mengelus dadanya, bisa-bisanya dia berpikir Kenan akan melakukan sesuatu padanya. Bodoh!
Kenan hanya terkekeh melihat Amartha yang sedari tadi merutuki dirinya sendiri. Amartha keluar dari mobil dengan bibir monyong 5 senti. Lagi- lagi Kenan hanya bisa menahan tawanya.
Amartha dan Kenan masuk ke dalam restoran. Mereka memilih meja yang ada di pojokan, karena itu saja meja yang masih kosong. Restoran ini memang terkenal ramai, apalagi saat jam makan siang seperti saat ini.
Amartha dan Kenan menarik kursi dan duduk berhadap-hadapan. Tak lama, seorang pelayan menghampiri keduanya. Pelayan itu menyodorkan buku menu. Amartha kebetulan baru pertama kali datang ke restoran ini. Karena tentu saja dilihat dari luar saja bisa dipastikan, untuk makan di tempat ini menguras isi dompetnya. Sekali makan disini habislah uang makan selama seminggu. Pengunjung yang datang pun sebagian besar membawa mobil. Sama sekali tidak cocok untuk mahasiswi yang masih menjadi beban keluarga seperti dirinya ini.
Amartha bukannya menentukan makanan yang akan dia pilih, tapi dia malah sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kamu mau makan apa, Dek?" Tanya Kenan sembari melihat Amartha yang sepertinya sedang fokus membaca menu.
"Mampus! Muahallll banget! Liat harga jadi nggak selera makan. Nggak mikir banget ini yang nulis harga!" (Batin Amartha).
"Dek...?" Tanya Kenan lagi.
"Eh...Iya, Mas. Kenapa?" Tapi Bukannya menjawab Amartha malah balik bertanya.
"Kamu mau makan apa?" Kenan mengulas senyumnya. Dia mengulangi pertanyaannya.
"Ehm....Samain sama mas ajah." Jawab gadis itu tak mau ambil pusing. Kemudian dia menutup buku menu dan menaruhnya diatas meja.
"Ya udah...Mbak dua strawberry smoothies dan dua tenderloin steak. Ehm...Oh ya, satu french fries yang large, ya?" Ucap Kenan sembari menutup buku menu.
"Ada yang mau ditambah lagi?" Ucap pelayan itu.
"Udah itu dulu aja...." Sahut Kenan ramah. Kemudian pelayan mengambil buku menu dan meninggalkan mereka berdua dalam situasi yang canggung. Amartha masih tak sanggup melihat ke arah Kenan, rasanya dia begitu malu untuk menatap lelaki itu.
"Udah...Nggak usah malu...." Ucap Kenan dengan senyum sejuta makna.
"Emm...siapa juga yang malu?" Amartha melirik tak suka dengan lelaki yang kini tengah di hadapannya ini.
"Hahahhahah..." Kenan hanya tertawa renyah saat melihat gadisnya itu menautkan kedua tangannya diatas meja.
"Ih...jangan ketawa! " Ucap gadis itu disertai pelototan.
"Ngeselin deh..." Cicit Amartha dengan lirih namun masih terdengar oleh Kenan.
"Iya Iya.." Kenan berusaha menghentikan tawanya. Tapi tetap saja ekspresi Amartha saat ini membuatnya gemas ingin mencubit pipi itu.
.
.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang membawakan makanan yang Kenan pesan.
"Ayo, dimakan Dek." Ucap Kenan basa basi.
"Iya mas........" Amartha mulai menyeruput smoothies miliknya.
"Ini...."Kenan menukar piring steaknya yang sudah diiris dengan piring Amartha yang belum tersentuh sama sekali.
Amartha yang melihat itu, perasaannya kini mylai menghangat. Kenan memang sangat lembut padanya. Perlakuannya begitu manis, tapi dia masih bimbang untuk menerima cinta lelaki itu. Karena dia belum sekali pun menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Ini kedengarannya konyol memang, tapi ada rasa khawatir yang dia pun tidak tau kekhawatiran macam apa itu. Yang dia jalani sampai detik ini adalah menjadi gadis penurut yang nyaris tidak memiliki hal yang bisa dia putuskan sendiri. Semuanya telah diatur. Mengingat hal itu, Amartha menghela nafasnya.
"Kenapa Amartha?" Kenan menangkap hal yang aneh dari wajah gadis itu. Seperti banyak beban yang dia tanggung.
"Nggak apa- apa mas Kenan." Ucap Amartha.
"Beneran nggak apa- apa? Jangan bohong, Dek." Kenan menatap gadis itu.
"Ngomong aja....Nggak usah takut...Apa yang mengganggu pikiran kamu?" Tanya Kenan.
" Nggak apa - apa, Mas. Cuma....." Ucap Amartha menggantung.
"Cuma apa? " Kenan tak juga melepaskan pandangannya dari gadis yang didepannya itu.
"Aku takut ngecewain kamu...." Ucap Amartha lirih.
"Ngecewain aku? Maksudnya?" Kenan belum menangkap arah pembicaraan Amartha.
"Iya, mas udah baik banget sama aku. Sedangkan aku? Jujur aja, aku nggak ngerti sama perasaanku sekarang, Mas. Aku terbiasa diatur. Semua hal yang ada sama aku sudah diatur Papah....Dan saat ini aku nggak kenal lagi siapa diriku. Apa yang aku inginkan pun sekarang aku nggak tau, Mas." Jelas gadis itu. Dia menatap Kenan dengan sendu.
"Amartha.....Tentang perasaan aku, jangan terlalu dipikirin. Lakuin sesuai apa kata hati kamu. Aku akan menghormati itu..." Kenan mengusap punggung tangan Amartha dengan lembut.
Sejujurnya berat untuk Kenan mengatakan hal itu pada Amartha. Tapi, dia tidak mau gadis itu semakin tertekan. Karena dia tahu betul selama ini Amartha hidup dengan penuh aturan. Dia tidak mau menambah beban pikiran gadis yang selama ini dia perjuangkan. Jika melepaskannya adalah hal yang terbaik bagi Amartha, dia akan lakukan itu. Walaupun hatinya perih bukan main. Tapi apapun itu asalkan membuat Amartha bahagia, dia akan lakukan. Apapun itu!
"Mas......" Amartha tak bisa membendung lagi air matanya.
"Udah jangan nangis......Nanti cantiknya ilang loh." Kenan menghapus jejak air mata di pipi gadisnya itu.
"Cukup ikuti apa hati kamu, yah?" Kenan menggenggan tangan Amartha.
Saat tangan Kenan menyentuh tangan miliknya ada desir yang tak bisa dijelaskan. Bibirnya kelu....matanya masih saja tak bisa lepas dari wajah lelaki tampan didepannya itu. Tak bisa dipungkiri menyentuh tangan gadis itu, membuat Kenan seperti tersengat listrik.
"Makasih, Mas" Ucap Amartha dengan tatapan yang kembali sendu. Kemudian Kenan melepaskan genggaman tangannya dari gadis itu.
"Sekarang kita lanjutin makan ya? Karena jujur ajah, cacing di perutku udah pada demo, nih..." Ucap Kenan tiba-tiba.
"Ada- ada aja kamu, Mas." Sahut Amartha sembari tertawa kecil.
Kenan tersenyum melihat Amartha yang tertawa seperti itu. Keduanya melanjutkan makan siang yang sedari tadi tertunda.
"Tangan kamu masih sakit, Mas?" Tanya Amartha.
"Enggak kok...udah nggak sakit. Tenang aja..." Ucap Kenan sembari memberikan Amartha senyum termanisnya.
Ketika Amartha dan Kenan tengah menikmati santap siang mereka. Tiba - tiba seseorang menghampiri meja mereka.
"Ehem...." Seorang lelaki berdehem seraya menarik kursi di samping Amartha. Membuat Amartha dan Kenan melayangkan pandangan kepada si pemilik suara.
...----------------...
Bersambung dulu ya.....jgn lupa like nya 👍🏻👍🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
lina
pasti si itu tuh,
2021-10-11
0
Vina Eerrrrr
Siapa y kira2
PENASARAN
2021-09-08
0
Andrea
deuuuhhh...mechum!
2021-09-07
1