Setelah perbincangan yang menguras air mata di akhiri dengan pernyataan cinta dari Kenan. Kini kedua sejoli itu nampak canggung. Kenan lega sudah mengatakan hal yang sudah lama ingin dia katakan kepada Amartha. Sedangkan Amartha masih bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah ini cinta atau bukan?.
Amartha duduk di sofa sembari menyandarkan punggungnya yang pegal karena tidur di kursi di samping ranjang Kenan. Semalaman dia menjaga lelaki yang sudah menyelamatkan dirinya di malam naas itu. Namun, sepertinya sekarang Amartha sudah mulai tidak nyaman dengan baju yang sedang dikenakannya. Selain sudah dipakai semalaman, disitu juga terdapat banyak bekas darah.
Malam itu, polisi datang setelah beberapa saat para preman itu melarikan diri. Kemudian, Amartha langsung membawa Kenan ke rumah sakit. Sedangkan Vira, mengatakan dia harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Gadis itu pun belum mengabarinya sampai hari ini. Amartha menghela nafasnya panjang.
"Ehemmm..." Kenan berdehem membuyarkan pikiran Amartha yang sudah melanglang buana. Mendengar Kenan yang berdehem, Amartha lantas melihat ke arah ranjang Kenan.
"Ada apa, Mas?" Tanya Amartha canggung.
"Amartha ... itu koper aku, kan?" Kenan menunjuk koper Hitam yang terletak di dekat sofa.
"Hah?" Amartha berusaha mencerna kata- kata lelaki itu. Otaknya sungguh lemot sekarang. Ditambah lagi perutnya yang meronta ingin segera diisi. Para cacing sudah mulai bersenandung lirih di perutnya.
"Itu koper punya aku, kan?" Kenan mengulangi pertanyaannya dan tak lupa memberikan senyum termanisnya.
"Eh, ini? Hmmm ... iya, aku temuin di mobil Mas Kenan, mobilnya ada di parkiran rumah sakit, semalem dibantu sama pak pol gan-" Amartha menggantung kalimatnya.
"Apa?" Kenan mengerutkan keningnya.
"Eh, nggak! Mas mau ngambil apa di koper?" tanya Amartha.
"Ambil kaos ku yang ada di koper dan ganti baju kamu," titah lelaki tampan itu.
"Hmmmm, Emmm?" Amartha menimbang- nimbang apakah dia harus mengganti bajunya atau tidak. Bajunya kini memang terdapat bekas darah Kenan, dan jelas sudah semalaman dia pakai.
"Kenapa?" Kenan kembali bertanya ketika melihat gadis itu menggigit bibir bawahnya.
"Udah mikirnya nggak usah pake lama, ambil kaos yang ada disitu, terus kamu ganti baju, gih!" titah lelaki tampan itu.
"Hmm, ya udah, aku sekalian mandi ajah," Amartha kemudian mengambil satu kaos oblong warna biru dongker di dalam koper milik Kenan. Ada rasa sungkan pastinya karena bagaimanapun ini pertama kalinya dia menyentuh barang milik lelaki itu.
Setelah beberapa saat, Amartha keluar dengan tubuh yang terlihat segar, dengan kaos oblong biru dongker yang kebesaran di tubuh gadis itu. Kenan tertegun melihat kecantikan Amartha. Wajah naturalnya begitu cantik tanpa polesan make up.
Amartha berjalan ke arah sofa dan mendudukkan dirinya. Kemudian memasukkan baju kotornya yang sudah ia bungkus plastik ke dalam tas ungu miliknya yang tergeletak di atas sofa coklat itu.Gadis itu lantas menyimpan tasnya ke dalam lemari. Semua gerak-geriknya tidak lepas dari sepasang mata yang terus saja memperhatikannya.
Ting.
Sebuah chat masuk ke ponsel Amartha. Gadis itu langsung mengambil ponselnya yang berada diatas meja. Ternyata sebuah chat dari Vira.
💬Amartha, Kamu di rumah sakit mana?ruangannya apa?
Kemudian Amartha membalas chat dari sahabatnya itu.
💬Aku di Rumah Sakit Permata. Bougenvil Kamar VIP nomor 225 lantai 3.
Amartha lantas menutup chatnya dan berjalan ke arah lelaki tampan itu. Gadis itu menggeser kursi yang ada di samping ranjang pasien dan mendudukkan dirinya.
"Mas, Vira mau kesini," Amartha memberitahu perihal Vira yang datang ke rumah sakit.
"Vira? Vira siapa, Dek?" tanya Kenan bingung.
"Temen aku yang waktu itu boncengan sama aku, Mas ... dia katanya lagi perjalanan kesini..." jelas Amartha. Kenan menanggapi Amartha dengan senyuman yang membuat Amartha salah tingkah.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah 20 Menit berkendara. Akhirnya Vira sampai juga, di Rumah Sakit yang disebutkan Amartha dalam Chat nya.
Tok Tok Tok...
"Aku bukain pintu dulu ya, Mas?" Ucap Amartha yang dibalas anggukan oleh Kenan. Amartha berjalan kearah pintu dan memutar handle pintu itu.
"Eh, Vira ... masuk, Vir!" Amartha memberi jalan Vira untuk masuk ke dalam. Kemudian Amartha menutup kembali pintu. Vira berjalan ke arah ranjang dimana seorang lelaki tengah terbaring lemah. Sementara Amartha mengikutinya dari belakang.
Vira yang menggendong tas berwarna coklat terlihat begitu kerepotan. Kedua tangannya penuh dengan bawaan.
"Nih, berat tau! aku bawain baju ganti buat kamu, pokoknya lengkap! ada mukena dan handuk juga, minyak nyong-nyong juga ada, hahaha..." Vira menyerahkan tas ransel berwarna ungu kepada Amartha.
"Sembarangan! kamu tuh, yang pake minyak nyong-nyong!" Amartha berdecak kesal.
"Oy, nih sekalian bawa! bubur ayam, aku belinya di tempat biasa." Vira memanggil Amartha yang hendak menaruh tasnya. Gadis itu pun berbalik kembali dan meraih bungkusan yang ada di tangan Vira.
Vira mengipaskan tangannya yang terasa pegal setelah membawa tas milik sahabatnya itu.
"Kenalin, Mas ... ini Vira, sahabat aku disini, dan ini mas Kenan..." ucap Amartha memperkenalkan keduanya.
"Aku Vira, Mas ... salam kenal..." Vira hanya melambaikan tangannya. Sebagai kode perkenalan.
"Aku Kenan Vir, aku ... temen Amartha," Kenan lebih memilih kata 'teman' karena memang hubungan antara dia dan Amartha belum ada kejelasan.
"Temen? yakin nih temen?" Vira menggoda dua sejoli itu.
"Ih apaan sih kamu Vira!" mata Amartha melotot mengisyaratkan agar Vira berhenti menggodanya. Vira yang mendapat tatapan maut itu berpura-pura tidak melihatnya
"Duduk dulu, Vir..." Amartha menyuruh gadis dengan rambut sebahu itu untuk duduk di sofa. Sementara Amartha, Dia menyimpan Tas ranselnya di dalam lemari.
"Akhirnya kamu mempersilakan aku duduk, Ta ... pegel tau nggak nih kaki berdiri mulu!" ucap Vira tanpa filter.
Kenan yang melihat interaksi kedua sahabat itu hanya bisa terkekeh geli. Bagaimana bisa dua orang ini bisa berkawan baik?
"Oh ya, nanti aku ijinin kamu hari ini, aku bilang kalo kamu lagi nungguin sodara kamu di rumah sakit," kata Vira sambil melepaskan tas punggung coklat miliknya.
"Lah, terus kamu juga bolos? kok kesini pake jeans sama sweeter kayak gini?" Amartha ikut duduk disamping Vira seraya memperhatikan pakaian yang Vira kenakan.
"Ya terus akikah harus pakai gamis gitu? emangnya mau ke pengajian? nggak lah! kelasnya Bu Linda kan diundur jam 9 pagi, makanya baca tuh grup chat, jangan asik pacaran mulu," ucap Vira yang semakin membuat Amartha ingin membungkam mulut gadis yang duduk disampingnya ini.
"Vira! kamu bener-bener ya?!" Amartha berkata pelan dengan diiringi decakan kesal.
Sementara Kenan diabaikan seperti obat nyamuk dan kedua gadis itu malah melanjutkan perseteruannya.
"Udah diem? makanya aku kesini dulu, habis ini aku ke kosan lagi buat ganti seragam, di dalam tasmu itu aku bawakan juga baju seragam buat besok, nanti malam kan kamu pasti nginep disini lagi..." kata Vira sambil memainkan alis kanannya.
"Tunggu, tunggu ... ini kamu pakai kaos siapa, Ta? hmmm pasti kaosnya..." ucap Vira menggantung dan kini melirik sekilas ke arah Kenan.
Amartha menatap Vira dengan kesal. Bisa- bisanya dia meluncurkan kata- kata seperti itu, membuat Amartha malu setengah mati. Ingin sekali Amartha memberi seribu capitan di pinggang gadis itu.
"Kalau besok kamu nggak boleh bolos lagi, ada praktek soalnya!" ucap Vira layaknya bersikap sebagai seorang Ibu yang sedang menasehati anaknya.
"Hahahhahahah..." tawa Kenan pun pecah melihat kedua gadis itu yang tak kunjung berdamai.
Amartha dan Vira sontak melihat ke arah Kenan. Dan kedua gadis itu pun ikut tertawa. Lebih tepatnya menertawai kekonyolan mereka berdua.
"Semalem kamu gimana? jam berapa kamu nyampe kosan?" tanya Amartha setelah menghentikan tawanya.
"Aku jam berapa ya? jam 10 malem kayaknya...?" sahut Vira.
"Kok lama? " tanya Amartha lagi.
"Bikin laporan dulu di kantor polisi, mereka buronan polisi ternyata, katanya semalem udah pada ketangkep tuh, terus aku pulang dikawal dong ... Wuih! ganteng banget dah polisinya!" jawab Vira dengan sumringah.
"Ganteng? kayak siapa gantengnya?" tanya Amartha antusias.
"Ehemmm! hemmmm..." Kenan berdehem. Membuat kedua gadis itu menghentikan pembicaraannya.
"Eh, udah mau jam 8 nih, Ta ... aku pamit, ya..." ucap Vira seraya melihat arloji di tangan kirinya. Kemudian gadis itu bergegas bangkit dari duduknya dan menghampiri Kenan diikuti oleh Amartha.
"Mas Kenan, Vira pamit pulang, cepet sembuh ya?" pamit Vira.
"Ta, aku pulang, ya? kalau butuh apa -apa telfon aku ajah..." ucap Vira.
"Makasih ya, Vir?" Amartha mengantar Vira ke depan pintu. Lalu Amartha berbalik , berjalan kembali menuju kursi di samping ranjang lelaki yang sedang terbakar cemburu itu. Ada senyum yang nyaris tak terlihat di bibir gadis itu.
...----------------...
Segini dulu ya...Ntar disambung lagi..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Nurhalimah Ritonga
vidio poron
2023-11-30
0
Nurhalimah Ritonga
sex suwal
2023-11-30
1
Nur Hafni
serru banget Viera Ama Amartha. Vira best friend!
2022-02-20
1