"Yuuuuurrr, sayuuur! Bu Rosa sayur, Bu?" teriak kang sayur dari halaman rumah.
"Iyaaaa, sebentaaaaaarr!" suara Rosa tak mau kalah dari suara kang sayur.
Rosa mengambil dompet dan berjalan menuju gerobak sayur di depan rumah. Rosa berjalan seperti setengah berlari.
"Tahu sumedangnya bawa, nggak?" tanya Rosa sambil memilih sayur mayur dihadapannya.
"Bawa, mau bikin apa, Bu?" tanya kang sayur.
"Pengen bikin tahu gejrot, "
"Kangkungnya lagi bagus, terus ini tempenya juga ada yang pakai daun jati,"
"Nah gitu dong, bawanya tempe yang bungkusnya pake daun jati, tempenya lebih enak, tempenya dua ya? satunya seperempat kiloan, kan?" Rosa tanpa titik koma.
"Iya, satu gini seperempat, sayur sop, kangkung atau bayam, Bu? seger- seger semua nih sayurnya," Kang sayur lagi promosi jualan.
"Sayur bayam deh, tapi kencurnya kasih gratis ya? hahahaha" ucap Rosa sambil tertawa.
"Udangnya satu bungkus jangan lupa," lanjut Rosa.
"Semuanya jadi Rp.33.000, Bu Rosa." ucap kang sayur sopan sambil menyerahkan belanjaan kepada Rosa.
"Ini uangnya, makasih ya," Kata Rosa sambil memberikan uang sejumlah yang disebutkan kang sayur tadi.
Rosa kembali masuk ke dalam rumah dengan membawa belanjaan. Baru saja sampai di ruang tamu.
"bau apa ini ya?" gumam Rosa.
" Astaghfirllah, bau gosong!" teriak Rosa sambil berlari menuju dapur.
Rosa segera mematikan kompor. Dia lupa kalau sedang memasak air. Dan sekarang asap mengepul dari teko yang sudah gosong.
"Uhuk, uhhhukkkk!" Rosa terbatuk- batuk menghirup asap.
"Hadeuuuhhh, bolong deh tekonya!" gerutu Rosa yang sedang mengecek kondisi teko tercinta.
Rossa meletakkan kembali teko berada diatas tingkringan kompor. Ia masuk ke dalam kamar yang sebelumnya mengunci pintu ruang tamu terlebih dahulu dan segera meraih ponselnya yang berada di meja riasnya. Berniat menelepon sang suami Rudy Hartanto.
"Halo, assalamualaikum, Pah..." ucap Rosa.
"Waalaikumsalam, Mah..."Jawab Rudy.
"Pah, tadi mama masak air terus mama tinggal beli sayur depan rumah, mama kelamaan belanjanya,"
"Terus gosong jadinya?" Rudy memotong ucapan istrinya.
"Hahahhaha, iya pah gosong jadinya..." Rosa tertawa tak berdosa.
"Pah, nanti pulang kantor, beliin di toko gerabah, ya?" pinta Rosa dengan senyum-senyum manja. Padahal yang Rudy tak akan bisa melihatnya.
"Iya, Mah," jawab Rudy singkat.
"Pah, bisa jemput Amartha, nggak?" tanya Rosa.
"Emang si Moti belum bisa di starter?" Rudy balik bertanya.
"Iya belum bisa, mama udah minta tolong sama anaknya pak Haji Jafar, buat bawain si Moti ke bengkel, siapa ya Pah namanya? duh mama kok lupa ya," Rosa memutar bola matanya mengingat- ingat.
"Ahmad," Jawab Rudy.
"Oh iya, Ahmad, mama udah minta tolong sama dia, mungkin sebentar lagi kesini," kata Rosa.
"Amartha suruh tunggu papa deh, Mah, nanti jam 2 siang papah jemput dia, tapi nanti papa langsung balik lagi ke kantor ya, Mah?"
"Ya udah, makasih ya, Pah..." ucap Rosa seraya tersenyum genit.
" Iya ,Mah, sama - sama..." jawab Rudy lembut.
" Assalamualaikum," Rosa mengakhiri.
" Waalaikumsalam,"
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Rudy. Rosa mengirim pesan singkat untuk Amartha bahwa Rudy yang akan menjemputnya jam 2 siang nanti. Kemudian Rosa membereskan belanjaan yang habis dibelinya dari kang sayur. Rumah yang tidak terlalu besar ini sangat nyaman untuk dihuni. Rosa yang memiliki hobi bertanam, menyediakan satu spot untuk berkebun. Wanita itu menanam bermacam- macam jenis tanaman. Seperti cabai, tomat, sereh,dan tanaman lainnya. Menurutnya hobinya ini bisa membuatnya tetap waras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amartha kini tengah menunggu Rudy di trmpat Fotocopy depan Sekolah. Kebetulan di samping tempat fotocopian itu ada penjual P*p *ce, nama brand es blender dengan berbagai varian rasa dan bisa diberi topping sesuai selera. Amartha membeli satu untuk dirinya. Rasa bubble gum menjadi pilihannya. Ketika sedang asyiknya menyeruput es, ada suara pria menyapanya.
"Amartha?" suara pria itu mengalihkan perhatian gadis berkucir kuda itu.
Amartha menoleh ke samping kanannya. Terlihat seorang pria berkaos Abu- abu dan bercelana jeans melambaikan tangannya ke arah Amartha. Siapa lagi kalau bukan Kenan? Dia menarik satu kursi plastik dan duduk disamping Amartha.
"Sendirian?" Tanya Kenan basa basi yang basi banget.
"Iya" Jawab singkat Amartha.
Krik krik.
Hening.
Tak ada yang berbicara. Kenan menatap gadis berseragam abu-abu itu lekat- lekat. Gadis super cuek yang menarik.
"Ehemmm, kamu disini lagi fotocopy atau?" Kenan mulai bertanya.
"Nunggu jemputan," jelas Amartha dengan singkat.
"Dijemput siapa? pacar?" Kenan mulai kepo.
"Papah," jawab Amartha sesingkat- singkatnya.
"Mas Kenan disini lagi ngapain?" tanya Amartha untuk sekedar sopan santun.
"Aku lagi fotocopy brosur..."jawab Kenan ramah.
"Brosur?" Amartha mengerutkan keningnya.
"Kamu inget nggak tempo hari kita ketemu di sekolah? nah, hari itu aku nganterin Refan buat minta izin buat promo kampus nya gitu, buat kalian yang udah kelas 3 biar ada referensi mau kuliah dimana,"
"Ohhh," Amartha hanya ber oh ria.
"Aku sih cuma bantuin ala kadarnya ajah, kayak bantuin fotocopi kayak gini nih," kata Kenan sambil menunjuk brosur yang dipegangnya.
"Aku sama Refan beda kota kuliahnya, yang bareng Refan itu si Kevin mereka kuliah di kota Y, kalau aku di kota J dan Dani di Kota B." lanjut pria itu. Sedangkan Amartha hanya mengangguk pelan.
Nggak ada yang nanya.
Seruputan terakhir mendarat ditenggorokannya. Amartha lantas membuang bekas minumannya itu di tong sampah. Kemudian duduk kembali di kursi itu. sambil sesekali mengecek arlojinya.
"Mau aku anterin pulang?" Kenan menawarkan.
" Nggak, nggak usah..."
"Daripada nunggu lama disini, aku juga udah kelar fotocopinya,"
"Nggak usah beneran..." tolak Amartha.
"Ya sudah, aku temenin kamu sampai papa kamu datang..."
"Kalau mau pergi, pergi aja nggak apa- apa, Mas..." ucap Amartha.
"Aku disini aja, nemenin kamu," Kenan setengah memaksa.
Amartha menghela nafas panjang. Susah sekali mengusir pria satu ini. Dia tidak berniat untuk mengenal Kenan lebih jauh. Tidak ada pembicaraan setelah itu. Tak berapa lama, Rudy datang. Dia berhenti di depan gerbang sekolah. Amartha yang melihatnya langsung bangkit dari duduknya.
"Mas Kenan, aku duluan ya? Papa udah datang," Amartha segera bangkit dan sedikit mengulas senyumnya sopan.
"Hati- hati, Ta." ucap Kenan lembut.
Meleleh hati Kenan melihat senyum gadis itu. Dia tidak melepaskan pandangannya dari Amartha yang tengah menyebrang jalan, menemui sang papa. Amartha berjalan menemui papanya yang kini menyodorkan helm untuk dipakai. Amartha duduk menyamping di jok motor itu. Kemudian motor melaju meninggalkan sekolah. Kenan masih terpaku di tempat. Sampai terdengar suara dering di ponselnya. Kenan segera menekan tombol hijau.
"Woy!" teriak Kevin.
"Buset dah, nggak usah pake teriak juga kali," sentak Kenan sambil mengusap telinganya yang rasanya tidak karuan.
"Ya lagian, di telfon nggak diangkat- angkat! liat tuh berapa kali aku missed call? " gerutu Kevin.
"Brisik!"
"Cepetan kesini, GPL, nggak pake lama!"
"Iya..."
Kenan mematikan sambungan telepon itu dan memasukkan ponselnya kedalam saku. Tak lupa mencangkolkan plastik hitam yang berisi brosur- brosur di motornya. Lantas melajukan motornya ke rumah Kevin.
...----------------...
Jangan lupa komen dan likenya....❤❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
ARSY ALFAZZA
semangat selalu thor
2022-01-04
0
Sedang Bertapa
keren Kak... lanjut...
2022-01-02
0
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™
done kk
2021-12-17
0