Berulang kali Amartha menghubungi nomor Kenan. Tapi hanya sapaan dari mbak provider yang menjelaskan jika nomor yang gadis itu hubungi sedang tidak aktif. Sudah seminggu ini Kenan tidak bisa dihubungi.
Bagaimana pun Amartha tidak bisa membohongi hatinya, jika dia terlanjur nyaman dengan kehadiran Kenan. Kenan yang menghilang tiba- tiba membuatnya gusar. Ingin berteriak namun suara tercekat di tenggorokan, rasanya sulit sekali bahkan hanya untuk bernafas.
Kemana kamu, Mas?
Air matanya menetes membasahi pipinya. Amartha yang saat ini sedang berada di dalam kelas. Tak kunjung membereskan buku pelajarannya. Rasanya enggan untuk pulang. Sinta pun iba melihat Amartha yang begitu patah hati.
"Ta, kamu nggak mau pulang?" tanya Sinta sembari menyentuh bahu Amartha mengusapnya dengan lembut
"Sinta, tolong bilang sama aku dimana Mas Kenan? Sinta, mas Refan sahabat mas Kenan, dia pasti tahu keberadaan mas Kenan sekarang ... tolong kasih tahu dimana mas Kenan sekarang," tanya Amartha bertubi- tubi. Dia meraih tangan Sinta disertai tatapan mengiba.
"Aku udah coba nanya berkali- kali, tapi dia bungkam seribu bahasa, aku udah nyuciin sepatu dia, beresin kamar dia, dan yang paling bikin aku sebel aku juga udah cuciin kaos kaki dia, tapi tetep aja, dia nggak mau bocorin nomor teleponnya mas Kenan," jelas Sinta. Betapa jengkelnya dia sudah melakukan ini itu , namun hasilnya nihil.
"Kamu coba liat kontak yang sering dia hubungi Sinta, mereka pasti sering telfon, kan? bantu aku," kata Amartha dengan linangan air mata.
"Tanpa kamu minta nih sahabatmu yang satu ini, udah jadi agen rahasia dalam rangka membobol kontak hape mas Refan, tapi nggak ada jejak, heran aku juga, akhirnya aku nyerah,"
"Biar aku yang ngomong sama mas Refan..." Amartha berusaha membujuk Sinta agar bisa mempertemukannya dengan kakaknya yang merupakan sahabat karib Kenan.
"Percuma, dia nggak bakal ngasih tahu kamu..." Sinta hanya bisa memeluk sahabatnya itu. Berharap sedikit memberi ketenangan .
"Aku pengen denger suaranya, kenapa disaat aku membuka pintu hatiku buat dia, dia malah menghilang, disaat aku sudah menaruh rasa, dia dengan jahatnya pergi gitu aja," Amartha menangis.
"Sabar, aku yakin suatu saat kalian pasti akan ketemu, kamu juga harus yakin itu," Ucap Sinta.
"Kita pulang, yah? Mama kamu pasti udah nungguin di luar gerbang," bujuk Sinta yang mulai merapikan buku- buku Amartha. Amartha hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Udah ... udah ... hapus air matanya, yante Rosa nanti khawatir kalau liat kamu kayak gini," ucap Sinta sembari menghapus jejak air mata di pipi Amartha.
"Kebetulan besok week end jadi malam ini aku nginep di rumah kamu, nanti sore aku kesana," Sambung gadis ceria itu.
"Iya, makasih banget Sinta..." Amartha memeluk Sinta berharap mendapatkan sedikit kekuatan. Amartha mencoba untuk menipiskan bibirnya menghapus jejak- jejak kesedihan.
Mengapa kamu datang? Jika akhirnya kamu juga pergi, bahkan tanpa permisi?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu mengajak Amartha berlari. Tidak terasa sudah hampir 1 tahun setelah menghilangnya Kenan. Amartha sudah dinyatakan lulus. Ya...Walaupun nilainya pas- pas an. Sekarang dia tercatat sebagai seorang mahasiswi keperawatan di sebuah Akademi Keperawatan di kota S. Baginya menempuh pendidikan selama 3 tahun itu sudah cukup bagi otaknya untuk bekerja keras, ditambah lagi ini bukanlah keinginannya.
Awalnya Rudy menginginkan Amartha kuliah kedokteran tapi apa daya otak tidak mau diajak bekerja sama. Bagi Amartha sama saja, menjadi dokter atau pun perawat sama-sama tugasnya menolong orang. Dan sama- sama bukan cita-citanya. Bahkan Amartha sudah tidak mengenal dirinya. Dia tidak mengerti apa yang diinginkannya.
Apa kabar dengan Sinta? Gadis itu kuliah di kota J mengambil jurusan Hukum. Sinta yang supel mudah disukai banyak orang terlebih lagi kaum adam. Dengan tubuh tinggi semampai dan wajah yang cantik mudah baginya mendapatkan kekasih.
Berbeda dengan Sinta, Amartha justru menjadi pribadi yang tertutup. Dia pun hanya memiliki satu sahabat untuk bertukar cerita. Dan gadis itu menutup pintu hatinya rapat-rapat . Karena hanya Kenan lah sang penghuni hati.
"Mah, Amartha pamit, ya," Amartha menyalami punggung tangan sang mamah tercinta. Raut datar yang bisa Amartha persembahkan.
"Hati- hati Sayang, kabari mama kalau kamu udah sampai di kosan," Rosa menatap sendu anaknya.
"Iya..." sahut Amartha singkat.
"Pah, Amartha pamit..." Amartha menyalami tangan papanya.
"Iya, Nak, hati- hati di jalan..." Ucap Rudy sambil mengelus pucuk kepala putrinya.
Rudy dan Rosa melambaikan tangan kepada Amartha yang semakin menjauh. Gadis itu masuk melewati pemeriksaan tiket Kereta Api. Kereta yang akan membawanya ke kota S. Dengan jarak tempuh sekitar dua setengah jam perjalanan.
Amartha lebih menyukai menaiki transportasi itu daripada naik bus. Amartha hanya membawa tas punggung berwarna ungu, warna kesukaannya. Dia segera memasuki peron dan menaiki kereta yang sudah terparkir di jalur tiga. Amartha merogoh tiket dan melihat kembali nomor tempat duduknya.
"Gerbong 1 eksekutif, nomor 10 A," gumam Amartha. Dia menyelusuri gerbong Kereta Api. dan setelah beberapa saat akhirnya dia menemukan tempat duduknya. Amartha duduk di samping jendela, ia menaruh tas dipangkuannya. Sambil melihat kembali tiket miliknya.
"Kereta berangkat dari stasiun kota B jam 5 sore dan tiba di stasiun S jam setengah delapan malam, oke ... aku SMS Vira dulu deh, kayaknya dia berangkat dari stasiun P sekitar jam 6 sore," Amartha membaca keterangan di kertas tiket, memastikan jam keberangkatan. lalu memasukkan kembali tiket nya ke dalam saku depan tasnya.
Jari jemarinya nengetik pesan untuk sahabatnya, Vira Anugerah. Dia memberi tahu dimana tempat duduknya dan dimana mereka akan bertemu setelah sampai di stasiun S.
Ketika baru saja kereta akan berangkat, ada seorang lelaki kisaran umur 25 tahun menghampiri tempat duduknya. Lelaki itu memakai kaos biru dongker dan celana jeans. Di tangannya dia memegang jaket kulit.
"Permisi.." ucap lelaki tersebut ketika menaruh tasnya diatas. Lelaki itu kemudian duduk disamping Amartha. Meluruskan kakinya yang bersepatu kets itu di pijakan depan kursinya. Membuat dirinya senyaman mungkin.
Setelah 30 menit perjalanan dua orang petugas menghampiri kursi Amartha.
"Selamat sore, bisa saya lihat tiketnya?" tanya seorang petugas kereta api.
Amartha dan lelaki yang disampingnya menyerahkan tiketnya kepada petugas tersebut.
"Terima kasih," petugas itu menyerahkan kembali tiket yang sudah di check nya.
"Ehem, turun dimana?" lelaki itu membuka pembicaraan.
"Hah?" Amartha menengok ke samping kirinya.
"Aku?" Amartha menunjuk dirinya.
"Haha, iya kamu, siapa lagi? " lelaki itu tertawa.
"Kamu turun dimana?" lelaki itu mengulang pertanyaannya.
"Aku di stasiun S," jawab Amartha singkat padat dan jelas.
"Sama dong, aku juga turun disana," lelaki menggeser tubuhnya dan kini menghadap Amartha. Cantik.
"Oh gitu ya?" ucap Amartha.
"Kamu masih kuliah atau..?" tanya lelaki itu menggantung.
"Maaf, saya tidak suka berbicara dengan orang asing," ucap Amartha datar.
"Hahahaha, iya iya, maaf..." lelaki itu tertawa renyah.
"Kenalkan namaku Satya Ganendra, panggil aja Satya, atau panggil sayang juga boleh, eh..." lelaki bernama Satya itu mengulurkan tangannya sambil tertawa kecil, namun disambut tatapan tidak bersahabat dari gadis yang duduk disampingnya yang sedang bergumam dalam hatinya.
Nggak lucu!
...----------------...
Duh kemana sih Babang Kenan......? Ntar Amartha di sabet Babang Satya baru nyaho loh....
Like nya jgn lupa ya netijen......jangan lupa sajen hati dan bunga sekebon biar Tuh Babang Kenan muncul lagi.... Ehek!
lope lope ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Tanjung Jung
apa privasi ya nyebutin nama sebuah kota,hanya diberi inisial saja
2022-05-04
1
Ufuk Timur
Aku kira yg barusan duduk di samping Amartha babang Kenan🤣🤣🤣🤣 btw kak, ada typo satu huruf diatas pas emaknya Amartha menunggu di gerbang, , Tante= Yante
2021-12-22
0
♏pi Mυɳҽҽყ☪️☀️
bang-ke kemana nih,,, ditikung bang-sat baru nyaho🤣🤣🤣🤣🤣
2021-11-09
0