Amartha kesal dengan Vira. Benar- benar spesies yang satu ini memang suka maksa.
Berdebat dengannya pun hanya membuat kering tenggorokan.
"Ayo, Ta! tunggu apa lagi?!" ucap Vira.
"Astaga, sabar dulu, Vira! aku lagi nyiapin mental dulu!" Amartha yang masih betah di posisinya duduk di belakang stir motor.
Tiiiiinnn...!
Mobil putih itu mengeluarkan bunyi klakson lagi. Membuat Amartha mau tak mau harus melajukan motornya.
"Bismillah..." Amartha mulai menjalankan motor milik Vira itu. Dengan kedua tangan yang tegang bukan main. Amartha membelah jalanan di kota S tersebut.
"Ta, tarik gasnya lagi bisa, nggak? Ini mah kayak naik sepeda, lambat banget!" keluh Vira.
"Komplain lagi, aku masukin cabe sepuluh biji tuh mulut!" sarkas Amartha.
"Aku lagi konsentrasi, nih! jangan ganggu!" lanjut Amartha.
"Ta, di pertigaan depan ada lampu merah! jangan lupa tarik remnya!" Vira mengingatkan.
"Brisik!" Amartha sungguh sangat kesal dengan Vira yang terus bicara selama dia mengemudikan motor itu. Sahabatnya itu benar- benar menguji kesabarannya.
Beberapa meter sebelum lampu merah, Amartha mulai menarik remnya pelan- pelan. Vira menghembuskan nafasnya lega. Ketika motor itu dapat berhenti dengan mulus. Tidak sampai menabrak kendaraan lain di depannya.
Namun, Vira merasa ada yang aneh. Ia sesekali menengok ke belakang. Sepertinya mobil J**Z putih yang beberapa waktu yang lalu bertemu di tempat peribadatan mengikuti mereka sedari tadi.
Vira merasa sedikit cemas, takut kalau si pemilik mobil adalah penjahat. Dia tidak mau mati muda. Dia belum merasakan rasanya berkembang biak. Jodoh saja masih belum kelihatan hilalnya.
"Ta, kayaknya mobil putih yang dibelakang ngikutin kita, deh!" Vira membuka pembicaraan.
"Masa sih? mungkin cuma kebetulan satu arah sama kita," ucap Amartha tak mau curiga.
"Itu mobil yang di tempat peribadatan tadi loh, Amartha!" Vira meninggikan suaranya.
"Perasaan kamu aja kali!" ucap Amartha dengan entengnya.
"Nomor platnya sama, Ta!" Vira mendengus kesal.
Ingin sekali Vira memukul helm ungu yang ada di depannya itu. Amartha sama sekali tidak mempercayai apa yang dia katakan.
"Diem, ah! udah lampu ijo!" Amartha melajukan kembali motor matic itu.
"Ta, mampir ke apotek dulu bisa, nggak? perutku sakit banget, nggak kuat!" Vira memegangi perutnya, tak kuasa menahan nyeri yang terus menyerang
"Nggak bisa! nanti aja aku beli di Ind****et deket kosan! uang penting sekarang kita nyampe kosan dulu dengan selamat!" tolak Amartha.
"Terserah kamu, deh" Vira menyerah.
"Jangan lupa tarik remnya!" Vira kembali berucap.
"Iya iya, ini juga diinget- inget kok, Vir! kalau nggak, kamu ajah nih yang nyetir" ucap Amartha sambil melirik spion sebelah kanan.
"Nggak bisa! sakit banget perutku," tolak Vira.
"Makanya diem?! aku nggak bisa fokus!" Amaryha memberi titah agar Vira tak banyak bicara untuk saat ini.
"Soalnya kamu lambat banget, Amartha! tambahin dikit kecepatannya, bisa- bisa kita nyampe tengah malem kalau kamu nyetirnya kayak begini!" Vira mencoba memperingatkan Amartha.
Amartha mulai menambah kecepatannya. Sesekali dia melihat spion. Memang benar, mobil putih itu menguntit mereka. Tapi Amartha menghalau pikiran itu, dia harus tetap konsentrasi.
Sementara, lelaki yang berada di dalam mobil putih itu, terus mengikuti motor matic berwarna hitam. Dia tidak peduli kalau kedua gadis itu mengetahui, jika mereka telah diikuti. Satya hanya ingin memastikan Amartha selamat sampai tujuan. Dia tidak ingin terjadi hal buruk. Terutama di tanjakan dekat pom bensin, disana rawan begal.
"Modal nekat banget nih cewek! mana ngelewatin tanjakan tadi! tau gitu, aku anterin naik mobil, emang sih belum begitu malem, tapi daerah sini memang rawan, mereka yang naik motor, malah aku yang deg- degan!" Satya menggerutu sepanjang perjalanan.
Akhirnya setelah menempuh 30 menit perjalanan, motor matic berwarna hitam itu berhenti di sebuah kos-kosan.
Satya menghela nafas lega. Dia memarkirkan mobilnya tak jauh dari kos- kosan ber cat putih itu. Ketika Satya sedang mengambil tasnya di kursi samping kirinya, tiba - tiba ada yang mengetuk jendela mobilnya.
Satya lalu menurunkan kaca mobilnya itu. Ternyata Amartha lah yang berdiri di samping mobilnya.
"Keluar!" Titah Amartha.
Satya dengan santai turun keluar dari mobilnya. Dia menyenderkan tubuhnya di samping mobil itu seraya melipat tangannya di dada.
"Jadi, kamu yang ngikutin aku dari tadi?" ucap Amartha dengan tatapan menyelidiknya.
"Harusnya kamu bilang terima kasih sama aku, Nona..." jawab Satya sambil tersenyum.
"Terima kasih? Untuk ngikutin aku, gitu? yang ada kamu tuh udah bikin aku takut sepanjang jalan tadi!" gerutu Amartha.
"Hahahahaha......" Satya malah tertawa.
"Malah ketawa! Ih nggak jelas banget jadi orang!" Amartha mulai jengah dengan sikap Satya.
Amartha membalikkan badan berniat meninggalkan lelaki itu. Tapi sejurus kemudian tangan Satya kembali mencekalnya, seperti kejadian di dalam kereta.
"Tunggu!" Satya mencegah Amartha pergi.
"Ih apaan, sih! main pegang- pegang! lepasin..." Amartha menatap tidak suka, berusaha melepaskan cekalan Satya.
"Oke ... oke ... aku lepasin, begini ... pertama, kamu belum bilang terima kasih atas bahu yang sudah jadi bantal empuk kamu selama di dalam kereta," Satya menepuk bahu kanannya.
"Yang kedua, beruntung aku nyuruh kamu pergi dari tempat peribadatan itu, kamu tahu nggak disana rawan kejahatan? dan yang ketiga, aku ngikutin kamu sampai kesini, coba kalau nggak? Itu di tanjakan pom bensin sering ada begal, kalau ada apa-apa sama kalian, gimana?" Satya mencerocos tanpa titik koma.
"Oke, terima kasih Tuan Satya..." Amartha mengalah.
"Sebentar..." Satya memberi kode agar Amartha diam di tempatnya sekarang. Lelaki itu merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan ponselnya.
"Ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu." sambung Satya.
Satya membuka gallery ponselnya dan memperlihatkan foto Amartha yang sedang tidur dengan mulut yang sedikit mangap.
Amartha kaget melihat foto dirinya dengan pose yang memalukan itu. Amartha berusaha meraih ponsel Satya. Satya langsung meluruskan tangannya ke atas. Dia tertawa puas melihat Amartha yang bersusah payah meraih benda itu.
"Ih hapus nggak?!" Amartha melompat berusaha menjangkau tangan Satya.
"Ngapain dihapus? orang lucu kok! Hahahah..." Satya tertawa renyah.
"Hapus nggak?!" Amartha semakin jengkel dibuatnya.
"Oke, aku akan hapus foto ini, tapi ... ada syaratnya!" Satya menurunkan tangannya dan memasukkan ponsel itu ke saku celananya.
"Apa?" Amarta mendengus kesal.
"Pertama, kasih aku nomor hape atau pin B**ck B***y kamu, dan yang kedua, ambilin aku minum, aku haus!" Satya tersenyum penuh kemenangan.
"Syaratnya banyak banget! nggak mau!" Amartha menolak permintaan pria tampan itu.
" Ya udah ... nggak akan aku hapus nih foto! lumayan buat nakutin tikus di rumah tetangga, eh..." Satya tertawa.
"Jadi cowok nyebelin banget, sih?!" Amartha mau tak mau memberikan nomor hape dan pin B**ck B***y miliknya.
"Minumnya?" ucap Satya.
"Air galon lagi abis! aku ke mini market yang di depan dulu," ucap Amartha sekenanya.
"Oke, kita bareng aja kesananya," ajak Satya.
"Kita?" Amartha bertanya kepada Satya yang masih memamerkan senyum manisnya.
"Iya, aku sama kamu," jelas Satya.
Amartha memutar malas bola matanya. Lelaki ini sungguh membuat darahnya mendidih. Amartha yang masih menggendong tas ungu miliknya, mau tak mau berjalan berdampingan dengan Satya menuju mini market di seberang kosan bercat putih itu.
...----------------...
Yuk lah di vote,like,komen dan paporitin.
Krisan dengan bahasa yang sopan wahai netijeeeeeen....
Untuk visual, sesuai imajinasi kalian masing- masing, yess?
Lope lope❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
🎯™ Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
satya udah mulai beraksi ini untul mendapatkan perhatian amartha
2022-03-29
1
Ufuk Timur
Kenan, masa depanmu mengkhawatirkan 🤣🤣bisa tergeser oleh bbg satya
2021-12-22
0
✰͜͡v᭄pit_hiats
siapkan mental nya🤫🤫
2021-12-15
0