Hari ini sungguh keajaiban luar biasa.
Karena Si Moti (sebutan untuk motor butut milik Amartha) lancar Jaya membelah jalanan. Cihuy, ingin Amartha mengepalkan tangan seraya berteriak, Yess!
Dengan bangga Amartha masuk ke dalam lingkungan Sekolah seraya menyapa pak Kasim dengan senyum yang indah merekah. Seakan hari ini adalah hari kemenangan baginya terlepas dari hukuman hormat Bendera.
"Pagi, Pak Kasim," Amartha menjereng giginya yang rapi.
"Pagi juga Neng, widih tumben ini berangkat pagi? nggak mogok lagi tuh motor?" tanya pak Kasim.
"Alhamdulillah lagi nurut, saya masuk kelas dulu ya, Pak?" Amartha pamit menuju kelasnya.
Amartha yang ngomongnya irit bak duit akhir bulan, hari ini pun riang gembira berjalan menuju kelasnya, dududuududuudu.
Setelah beberapa saat, sampailah ia di depan kelasnya. Amartha dengan rambut sepunggung yang dikucir kuda itu masuk ke dalam kelas. Mendudukkan dirinya di kursi dan menyimpan tasnya di laci meja. Amartha memilih bangku paling depan yang posisinya di tengah- tengah ruangan. Menurutnya ini adalah posisi yang strategis untuk melihat papan tulis.
"Ciiyeeee, Amartha nggak pake acara hormat bendera?" goda Sinta yang sedang duduk di samping Amartha seraya memainkan alis kirinya.
"Biasa aja kali, hahaha," sahut Amartha.
"Wah, berarti nggak ngapelin pak Bagas, dong? kan lumayan tuh pagi- pagi dapet vitamin buat kesehatan mata, hahahaha," timpal sinta sambil tertawa.
"Bukannya yang naksir pak Bagas itu kamu ya, Sin?" Amartha tak mau kalah.
"Lumayan lah buat cuci mata kan, Ta?"
"Tumben ah, bisa dateng pagi? nggak ngadat lagi tuh, si Moti?" lanjut Sinta
"Mungkin dia kasian sama majikannya ini yang selalu dihukum perkara dateng telat ke sekolah," Amartha tertawa renyah.
Bel sekolah pun berbunyi. Tanda kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai.
Amartha mencoba fokus dengan pelajaran Sosiologi yang diajarkan oleh Pak Dirman. Amartha memilih jurusan IPS karena dia sadar diri dengan otaknya yang lemot kalau harus menghafal rumus- rumus fisika dan kimia yang bisa membuat kepala nyut- nyutan.
Prinsipnya hidup tidak perlu dibikin ribet.
Bisa jadi tua sebelum waktunya.
Masalah Si Moti, Amartha tidak punya nyali untuk bertanya kepada sang papa.
Bel Jam istirahat pertama pun menggema ke seantero lingkungan sekolah. Amartha memilih duduk di salah satu tempat duduk yang ada di depan kelas.
"Kamu nggak ke kantin?" tanya Sinta.
"Nggak, kamu ajah, aku lagi males desek- desekan,"
"Ya udah aku temenin kamu disini," Sinta mendudukkan dirinya disamping Amartha.
"Ada yang lagi kamu pikirin, Ta?" lanjut Sinta.
"Perkara si Moti, aku bilang sama papa, aku naik angkot ajah atau ngojek gitu biar nggak terus - terusan telat, tiap hari diomelin Pak Hardi, kalau pun nggak boleh ngojek, minimal beli motor baru gitu loh, Sin," jelas Amartha yang kemudian membuang nafasnya kasar.
"Terus? Papa kamu mau beliin?"
"Kalo ngojeknya sih nggak boleh, tapi kalau beli motor katanya nanti dipikir lagi," Amartha menghela nafas panjang
"Yang sabar ya, papa kamu pasti berusaha yang terbaik buat kamu," ucap Sinta menenangkan.
Amartha sebenarnya tidak ingin membebani orangtuanya dengan meminta sesuatu barang yang mahal harganya. Tapi, berat baginya untuk mengejar ketertinggalan pelajaran dengan otak pas- pasannya ini.
Tak sengaja mata Amartha menangkap beberapa orang lelaki yang sedang bercengkrama dengan Pak Arif guru matematika. Terlihat dari gaya pakaiannya yang Bebas Rapi itu kemungkinan mereka anak kuliahan. Matanya menatap dengan intens satu sosok lelaki berkemeja biru dongker.
Rasanya seperti familiar.
" Woy? bengong aja!" sentak Sinta sembari melambaikan tangan di depan wajah Amartha.
" Eh, eh, enggak kok!" Amartha gugup.
"Masuk yuk, udah bunyi tuh bel sekolah," Sinta menarik lengan Amartha seraya bangkit dari duduknya.
Ketika akan melangkah, tiba- tiba mata Amartha dan sosok lelaki itu bertemu satu garis lurus. Lelaki itu mengulas senyumnya. Membuat Amartha kehilangan fokusnya.
Jedug!
Amartha menabrak pintu kelas.
"Awww!" pekik Amartha sambil mengusap- usap keningnya dengan ujung rambut panjangnya.
"Kenapa itu pintu segala ditabrak?" tanya sinta heran.
"Nggak tau, itu kenapa pintu nongol disitu?" jawab Amartha yang sedari tadi masih mengusap keningnya.
"Ya emang pintu ngejogrognya disituuuu dodol! gemes deh lama- lama!" ucap Sinta sewot.
"Benjol nggak tuh?" lanjut Sinta.
"Nggak kayaknya, Sin,"
"Ya udah yuk masuk," Sinta menggandeng tangan Amartha.
Amartha menuju tempat duduknya bersamaan dengan getaran benda di dalam saku. Ponsel Amartha bergetar. Selama proses belajar mengajar memang semua murid harus menggunakan mode senyap atau getar pada ponsel mereka.
Diraihnya ponsel dari dalam saku rok abu-abunya.
💌 Hai, itu kening nggak kenapa- napa?
Berkerut lagi kening Amartha kali ini bukan karena kening yang kejedot pintu.
Namun, karena sebuah pesan dari nomor yang tak dikenalnya. Karena penasaran dengan si empunya nomor itu Amartha pun membalas.
💌Ini siapa? kok kamu tanya kening aku?
Amartha mengetuk- ngetukkan jari tangannya di meja. Menunggu balasan dari orang yang diseberang sana.
Ponsel Amartha kembali bergetar. Dia langsung membuka pesan itu.
💌 😁
Melihat balasan yang hanya emot gigi dijereng itu Amartha lantas mendengus kesal.
Gadis itu menepuk tangan sinta. Sinta yang sedang memainkan ponselnya otomatis menengok ke arah sahabatnya itu.
"Kenapa?" tanya Sinta.
"Aku ke toilet bentar ya," jawab Amartha. Kemudian ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju toilet.
Tak perlu waktu lama Amartha sampai di toilet sekolah. Kemudian menyelesaikan ritualnya disana. Ketika akan keluar dari tempat sakral itu, dia menabrak seseorang.
"Awwwh!" pekik Amartha.
"Kamu nggak apa- apa?" tanya orang itu.
Jika didengar dari suaranya sih seperti seorang lelaki. Amartha lalu mendongakkan wajahnya. Melihat siapa yang ditabraknya tadi.
Hmmm wangi.
"Kamu ... Amartha?" tanya orang itu lagi.
"Iya, kamu Kenan, kan?" Amartha balik bertanya.
"Wah kamu masih inget namaku, kenapa SMSku nggak dibalas?" tanya Kenan dan menyunggingkan senyum manisnya.
"Hah, SMS?" Amartha balik bertanya.
"Iya ... SMS, nomorku yang belakangnya 79," Jawab Kenan santai.
"Oh, itu ternyata kamu? buat apa dibalas? cuma emot kayak gitu kok," Jawab Amartha dengan ketus.
Kenan mengerutkan keningnya heran mendengar jawaban gadis yang dihadapannya ini.
"Kita belum kenalan secara langsung, aku Kenan Pradipta, dulu aku juga sekolah disini," Kenan mengulurkan tangannya.
"Aku Amartha Dina, aku mau masuk ke kelas,"
Amartha menjabat tangan Kenan sekilas.
Ternyata dia pengirim SMS tadi dan SMS yang semalam juga? Tapi, dari mana dia bisa dapat nomor ponselku?
Amartha berjalan menuju kelasnya, meninggalkan lelaki berkemeja biru dongker yang mengalihkan dunianya sejenak.
Kenan menatap punggung Amartha yang kian menjauh dari pandangannya.
Makin bikin penasaran.
Kenan lalu berjalan menuju parkiran motor dimana teman- temannya sedang berkumpul.
"Dari mana aja, Ken?" tanya Kevin.
"Dari toilet," jawab Kenan sedangkan Refan dan Dani hanya mengangguk mengerti.
"Mau langsung ke rumah kamu, Dan?"
"Cus markicuss," jawab Dani ala ngondek. Membuat sejurus pukulan dari sahabat-sahabatnya mendarat enak di bahunya dan gelak tawa tak terelakkan dari mereka.
...------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen beserta hati dan bunga buat author yang lemah lembut ini ya.......
mekso...wkwkkwwk.
lope lope dari sindang ayey ?!!!
❤❤❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus berkarya
2023-07-03
0
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
semangat
2022-01-06
0
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
baguuuus ceritanya
2022-01-05
0