"Amartha..." Kenan memanggil nama gadis yang selama ini ada di hatinya. Dia menatap Amartha dengan tatapan yang lembut.
"Iya?" sahut Amartha yang juga menatap lelaki itu.
"Ehmm, aku ... aku minta maaf, Amartha..." ucap Kenan dengan tatapan yang berubah menjadi sendu.
"Iya, Mas ... aku udah maafin, kita nggak usah bahas itu dulu, ya?"
"Nggak, aku akan jelasin semuanya sekarang, aku mau kesalahpahaman ini segera berakhir, sudah saatnya kamu tahu dan aku pun sangat tersiksa dengan ini semua..." Ucap Kenan.
...FLASH BACK ON...
.
.
.
Di suatu Malam ketika Kenan bertamu di kediaman Amartha. Di malam itu dia berbincang dengan Rudy, Ayah dari gadis pujaan hatinya.
"Ehemm!" Rudy berdehem.
"Eh ... Om, selamat malam, perkenalkan Om, nama saya Kenan, teman Amartha," ucap Kenan memperkenalkan diri dan menyalami Rudy.
"Duduklah," ucap Rudy dingin.
"Nama kamu siapa tadi?" Rudy menatap tajam Kenan.
"Kenan, Om ... Kenan Pradipta," jawab Kenan.
"Nak Kenan, sejak kapan kalian berteman? setahu saya Amartha tidak memiliki teman dekat lelaki," tanya Rudy dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Mungkin sekitar 2 bulan, Om." jawab Kenan hati-hati.
" Kuliah atau kerja?" tanya Rudy dengan tatapan menyelidik.
"Masih kuliah Om ... tapi, sambil part time juga di restoran," jawab Kenan jujur.
"Saya tidak mau basa- basi, Nak Kenan ... Saya harap kalian memang hanya sebatas teman, dan satu hal lagi, mulai saat ini lebih baik jangan kamu temui lagi putri saya! sebentar lagi dia Ujian, saya tidak mau dia kehilangan fokus hanya karena urusan cinta!" ucap Rudy tegas.
"Iya, Om saya mengerti," jawab Kenan.
"Kecuali..." Rudy menggantung ucapannya.
"Kecuali apa ,Om?" tanya Kenan penasaran.
"Kecuali jika kamu memang serius dan benar-benar mencintai putriku, maka tunggulah sampai Amartha menyelesaikan sekolahnya dan melanjutkan kuliah ... tapi jika kamu hanya ingin main- main, tinggalkan dia!" ucap Rudy menatap tajam ke arah Kenan.
"Aku hanya mempunyai seorang putri, pantaskanlah dirimu untuk memilikinya, jika kamu memang benar-benar mencintai putri semata wayangku itu, maka kamu bisa buktikan kepadaku agar aku bisa dengan tenang menyerahkannya kepadamu, aku ingin dia hidup bahagia..." lanjut Rudy.
"Aku menerima apapun syaratnya, Om! aku akan berusaha bekerja keras, aku akan buktikan bahwa aku layak untuk mendapatkan cinta Amartha..." ucap Kenan mantap.
"Ehemm ... jika suatu saat ada lelaki yang mendekatinya bagaimana, Om?" lanjut Kenan.
"Kamu bisa memperjuangkannya, Nak!"
Setelah malam itu, Kenan menghilang dari kehidupan Amartha, dia hanya bisa melihat pujaan hatinya dari kejauhan. Kenan yakin bisa membuktikan ucapannya kepada Rudy.
...FLASHBACK OFF...
.
.
"Gitu ceritanya, Dek..." ucap Kenan, sudah lama rasanya, dia tidak memanggil Amartha dengan sebutan 'Dek'.
"Jahat kamu, Mas..." Amartha tak kuat menahan tangis yang pecah di pagi buta itu.
"Loh kok nangis? iya iya aku minta maaf aku emang jahat sama kamu ... mau maafin aku, kan?" Kenan ingin menghapus air mata itu. Namun, sayangnya dia tidak bisa.
"Udah ya, jangan nangis lagi, aku nggak bisa kalau harus lihat kamu nangis kayak gitu, pokoknya hari ini kamu boleh tanya apa aja sama aku ... nanti aku akan jawab, aku pengen semuanya clear," kanjut Kenan.
"Kenapa kamu nggak bales pesan aku, Mas? kenapa kamu ganti nomor telfon kamu?" Amartha mengambil tisu dan mengelap cairan bening yang terus mengalir dari kedua matanya.
"Itu salah satu syarat papah kamu, kalau aku harus memutus semua akses komunikasi dengan kamu, aku pun sebenernya nggak kuat, tapi demi janji aku sama papah kamu, aku lakuin itu, mungkin papah kamu pengen tau seberapa besar keseriusan aku sama kamu, Dek," ucap Kenan panjang lebar.
"Terus, kamu tau aku kuliah di sini dari siapa? terus tau kosanku juga dari siapa?" Amartha menghapus jejak air matanya.
"Dari papah kamu juga," jawab Kenan.
"Papah?" Gumam Amartha tidak percaya.
"Setahun lebih aku jd penguntit tau, nggak?Hahahahah, oh ya, saat pengumuman kelulusan kamu, aku juga disana loh, Dek," Kenan mencoba mengingat-ingat kejadian ketika dia menguntit Amartha. Berusaha menghibur gadis cantik itu.
"Hah? masa?" Amartha membulatkan matanya tak percaya.
"Iya ... aku di depan sekolah kamu nungguin kamu keluar, bahkan aku berbaur dengan kalian yang sedang merasakan euforia kelulusan, ehemmm! waktu teman-teman kamu main corat-coret seragam sekolah, cuma kamu aja siswi yang seragamnya bersih dari coretan, bener, 'nggak?" jelas Kenan.
"Kok aku nggak sadar ada mas disana?"
"Iya lah ... orang aku nyamar jadi anak sekolahan, pake baju SMA segala, malu banget sumpah, tapi nggak apa- apa demi bisa liat kamu, apapun akan aku lakuin," Kenan tertawa renyah.
"Hahaha, kamu tuh konyol banget sih, Mas!" Amartha tertawa kecil.
"Percaya atau nggak? banyak hal bodoh yang aku lakuin, contohnya, setiap beberapa bulan sekali aku pasti ke kota ini, kamu nggak sadar? Ada mobil grey metalic yang parkir di depan kosan kamu? Itu mobil aku, aku sampai nongkrong di warkop depan kosan kamu, sampai kembung rasanya kebanyakan minum, hahaha " Kenan lalu tertawa.
"Oh, iya, aku sering liat mobil itu, di depan kos kadang juga di kmpus ... ternyata itu mobil Mas Kenan?" ucap Amartha.
.
"Kamu cantik tau nggak kalo lagi ketawa kayak gitu..." ucap Kenan yang sukses membuat Amartha salah tingkah.
"Ih apaan, siu?" Ucap Amartha malu-malu.
"Dek, kamu sadar nggak? hari ini tuh rekor loh, kamu ngomong banyak sama aku, hahahaha," kata Kenab seraya mengerlingkan sebelah matanya.
"Maksudnya?" Amartha menatap Kenan dengan heran.
"Karena biasanya Adek tuh kalo ngomong irit kaya isi dompet akhir bulan! hahahha" jelas Kenan.
"Ih, ngeselia! Aku cubit nih lukanya..." Amartha memasang muka kesalnya yang sialnya semakin membuat wajahnya terlihat menggemaskan.
"Ehhhh jangan, jangan, hahah" Kenan kembali tertawa mencoba melindungi tangan kirinya.
"Berhenti nggak ketawanya!" Amartha bersiap untuk mencubit tangan kiri Kenan.
"Iya iya aku nggak ketawa lagi...." Kenan langsung menghentikan tawanya ketika melihat gadis itu melotot kepadanya.
Kini Kenan menatap wajah Amartha cukup lama. Amartha menyadari itu, namun tidak ada keberanian untuknya menatap mata Kenan. Dia mengalihkan pandangannya ke bawah. Ada rasa deg-degan ditatap oleh lelaki itu.
"Amartha?" Kenan memulai pembicaraan.
"Iya, ada apa, Mas?" tanya Amartha.
"Lihat aku, Ta..." pinta Kenan.
Amartha lantas memandang wajah Kenan. Menatap mata lelaki itu dengan lembut. Apa yang sebenarnya ingin lelaki ini bicarakan?
"Ehem, ada yang ingin aku omongin, udah lama aku pengen ngomong ini," Kenan menatap Amartha serius.
"Ngomong apa masalah apa, Mas?" Amartha mengerutkan keningnya.
"Kalau boleh jujur, aku nggak sanggup kalau kamu dimiliki orang lain, aku menghilang karena aku berusaha memantaskan diri buat kamu, dan aku tidak suka melihat lelaki itu mendekati kamu..." Kenan mengungkapkan perasaannya, yang selama ini dia simpan untuk gadis cantik di depannya itu.
Sementara Amartha, hatinya berdebar tak karuan. Sejujurnya setiap kata yang diucapkan Kenan membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Dia tahu kemana arah pembicaraan ini. Amartha menunduk sambil menautkan kedua tangannya untuk mengusir sedikit kegugupan. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Lihat aku, Amartha...." ucap Kenan lembut. Amartha lalu menatap kembali mata itu.
"Amartha, aku bukan laki- laki yang romantis yang bisa merangkai kata untuk menarik hati kamu, tapi percayalah, aku benar- benar cinta sama kamu, Amartha Dina, aku mencintai kamu ... maukah kamu jadi pacar aku? oh nggak nggak, lebih tepatnya ... mau kah kamu menikah sama aku? menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku?" lanjut Kenan.
"Mas ... aku..." Amartha menggantung ucapannya.
"Tidak perlu dijawab sekarang Amartha, aku akan menunggu itu, aku akan menunggu sampai kamu siap memberikan jawaban itu," ucap Kenan.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Andrea
semngt trs nih Amartha jgn percy gt aja #kompor
2021-12-25
2
Andrea
lope nya ga ada, bunganya jg ga ada gmn ini?
2021-12-25
1
Andrea
Lagian pak Rudy ad2 aja kayak dy g pernh muda
2021-12-25
1