"Ya Allah Gustiiii, Amartha!" teriak sang Ibu Negara.
"Ya Allah Mama! bikin kaget aja," ucap Amartha sambil mengusap dadanya.
"Ini kamar apa kapal pecah? ya ampun, berantakan banget!"
"Emang aku lagi beres-beres, buang barang-barang yang udah nggak penting lagi, Mah,"
"Ya udah tinggal dulu, nanti bisa dilanjutin lagi, papa udah nunggu di ruang makan," Rosa menutup pintu kamar anaknya.
Amartha segera menuruti titah Ibu negara demi keamanan bersama. Setelah mencuci tangannya, ia pun duduk di samping mamanya Mereka menikmati makan malam dengan keheningan. Hanya ada suara sendok dan garpu yang sesekali beradu. Rudy, papa Amartha memang tidak suka ada yang berbicara saat makan. Menurutnya, itu tidaklah sopan. Ketika Rosa akan membereskan piring bekas makan, tangan Amartha mencegahnya dan memintanya untuk duduk sejenak.
"Mah, Pah, ada yang mau aku bicarain,"
"Ada apa, Sayang?" Rosa menatap lembut anak semata wayangnya.
"Gini, hem ... ehem..."
"Ngomong ajah, nggak usah takut," timpal Rudy saat melihat putrinya ragu untuk berbicara.
"Kalau mulai hari ini Amartha naik angkot atau ojek ajah gimana? aku capek banget tiap hari dihukum, karena telat mulu dateng ke sekolah, pak Hardi aja sampe hafal mukaku ini, masa iya tiap jam pelajaran pertama aku selalu nggak ikut, Pah"
"Nggak boleh! kalau ada apa-apa dijalan gimana? nggak! kamu tetep dianter Mama, seperti biasa," ucap Rudy.
"Tapi, Pah..." Amartha berusaha bernegosiasi dengan Rudy.
"Jangan membantah!" bentak Rudy.
"Amartha, ada istilah jawa, alon alon asal kelakson, eh ... kelakon, biar lambat asal selamat, Sayang," timpal Rosa sambil mengusap lembut punggung anaknya.
"Kalau kita ganti motor butut itu aja gimana, Pah?"
"Kalau itu nanti kita pikirkan lagi,"
Setelah pembicaraan itu, Amartha masuk ke dalam kamar merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Hampir saja matanya terpejam, tiba tiba ada bunyi kling yang berasal dari ponsel miliknya tanda ada sebuah pesan masuk. Amartha segera meraih ponsel itu dan membuka sebuah pesan.
💌 Selamat malam Amartha.
Keningnya berkerut membaca pesan itu. Nomor tak dikenal. Kemudian, ia kembali meletakkan ponsel itu diatas nakas.
Amartha kembali membereskan kamarnya yang masih berantakan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rosa dan Rudy tengah duduk santai di kursi kayu yang ada di teras depan rumah, berdiskusi mengenai permintaan putri semata wayangnya.
"Gimana, Pah?"
"Gimana apanya?" tanya Rudy dengan kening berkerut.
"Tentang motor itu," Rosa meminta jawaban suaminya.
"Entahlah, rasanya untuk menjual motor itu berat, lagian siapa juga yang mau beli? udah rusak begitu, Mama tau sendiri motor itu papa beli dengan honor yang papa tabung selama bertahun- tahun,"
"Iya, Pah ... mama tau betul itu,"
"Mama tau kan, papa hanya seorang PNS dengan gaji yang nggak seberapa, karena papa tidak meningkatkan pendidikan, papa mau hidup semampu yang kita bisa, papa ada tabungan tapi itu untuk biaya kuliah Amartha,"
"Iya, Pah ... mama ngerti, nanti mama coba untuk ngomong pelan-pelan sama Amartha ya, Pah? jangan terlalu dipikirkan," kata Rosa sambil mengusap pelan punggung tangan suaminya.
"Kalau mama cari kerja ajah gimana, Pah?" lanjut Rosa.
"Jangan mulai deh, Mah! kita sudah sering membahas ini, aku sedang tidak ingin berdebat, " jawab Rudy.
Rosa menghela nafas panjang. Rudy sangat keras kepala. Kini, Rosa nampak berpikir keras. Ia tak mungkin membantah suaminya dan tak ingin juga mengecewakan putrinya. Apa yang harus ia lakukan?
"Pah, masuk yuk?" Rosa mengulas senyum menatap wajah sang suami dan mengajaknya masuk ke dalam rumah karena hari sudah semakin larut.
Menjadi Ibu itu bukan perkara mudah. Apalagi ketika negara api sudah menyerang seperti sekarang ini. Dia tidak boleh berpihak kepada kubu mana pun. Dia harus tetap netral.
Ditatap wajah lelah suaminya. Begitu banyak beban yang ia tanggung sendirian. Kekhawatiran terhadap putri semata wayangnya itu yang menjadikan Rudy seorang ayah yang over protective.
Rosa ingat betul ketika Amartha kecil jatuh dari ayunan yang ada di Taman Kanak- kanak, Rudy langsung pulang dari kantor untuk melihat anaknya.
"Amartha! mana yang sakit, Sayang?" Rudy berlari dan meraih tubuh Amartha. Didekapnya dan diusapnya air mata yang mengalir deras di pipi gadis kecil itu.
Kening yang benjol dan bibir yang jontor, membuat Rudy tidak tega melihat Amartha kecil menangis kesakitan.
"Mah, mulai besok biar aku yang kerja, kamu jagain Amartha di rumah,"
"Tapi, Pah..."
"Aku nggak mau terjadi hal seperti ini lagi, Mah!" suara Rudy mulai meninggi.
"Lalu bagaimana dengan Minah?" tanya Rosa.
"Ya mau bagaimana lagi? setelah kamu selesai mengurus surat pengunduran diri, Minah pun berhenti bekerja disini, kamu yang mengambil alih tugas menjaga Amartha." ucap Rudy.
"Baiklah..." Rosa menuruti kemauan Rudy.
Sejak saat itu, Rosa mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai guru disalah satu Sekolah Dasar dekat tempat tinggal mereka.
Rudy memberi titah kepada istri tercinta untuk menjadi ibu rumah tangga, menjaga putri kecil mereka. Rudy tidak suka dibantah.
Sekarang Rosa mengubah posisi tidurnya yang semula miring ke kanan menjadi telentang dan menatap langit-langit kamar mereka. Pikirannya mulai berkelana mencari solusi.
Andaikan Rudy memperbolehkan dirinya untuk bekerja. Mungkin keadaan perekonomian mereka akan lebih baik. Rudy terlalu over thingking. Selalu mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi. Seperti kejadian sore tadi, ketika ia tahu Amartha pulang naik ojek. Wajahnya merah padam menyambut kepulangan putrinya di depan teras rumah.
Amartha masuk ke rumah dengan wajah yang tertunduk tidak berani menatap wajah itu.
Rosa mengelus punggung suaminya untuk tidak memarahi Amartha. Rosa takut Amartha akan menjadi anak yang pembangkang jika terus dikasari.
Apakah kejadian saat itu membuat dirinya begitu trauma? Kejadian saat dirinya dalam perjalanan pulang dari kantor. Dia melihat ada anak yang terjatuh dari motor di jalan raya dekat pusat perbelanjaan.
Rudy yang tengah melintas menghentikkan laju motornya dan membantu korban menuju Rumah Sakit. Melihat darah yang begitu banyak membuat Rudy sedikit ketakutan. Untung saja nyawa anak itu bisa diselamatkan. Anak berusia 4 tahun itu terbaring lemah di IGD.
Semenjak saat itu Rudy, tidak mempercayakan Amartha di bonceng motor oleh siapapun jika bukan dengan dirinya atau Rosa. Dan berlaku sampai saat ini.
Walaupun Amartha sudah menginjak usia 17 tahun. Bagi Rudy, ia tetap putri kecilnya yang harus dilindungi. Jika tidak pandai- pandai menjaga emosi. Mungkin Rosa sudah menjambak- jambak rambutnya karena jengkel menghadapi sikap Rudy yang over protective itu.
...----------------...
Jangan lupa dukung karya author dengan cara klik like, komen dan kirim bunga sekebon atau hati juga boleh.
BTW Jangan hujat author yang lemah lembut ini ya.......sungguh author nggak siap dihujat wahai netijen yang budiman....
Kira- kira tuh motor butut ny Amartha pensiun nggak ya?????? Kita cari tau jawabannya di episode selanjutnya...👌🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus Sukses
2023-07-03
0
📘Reo🔥
rindu moti
2022-01-08
0
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
semangat kk.. sukses terus
2022-01-05
0