NovelToon NovelToon
KESUCIAN CINTA NAYA

KESUCIAN CINTA NAYA

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:162.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: DewiOmega

Warning! Mengandung banyak bawang. Harap bijak dalam memilih bacaan. Silahkan promo di atas bab 100 ya. Hargai penulis ya. 🤗

Kehilangan cinta kedua orang tuanya bersamaan membuat gadis belia delapan belas tahun bernama Naya, merasa masa depannya bahkan hidupnya telah berakhir.

Kebaikan dan Cinta seorang duda seusia bapaknya, membuat hidup Naya penuh intrik. Orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya untuk alat membalas dendam dan mencapai tujuan pribadi.

Kira-kira nih, Naya akan tumbuh menjadi wanita yang seperti apa? Dan bagaimana dengan kisah cintanya? Karena terkadang cinta bisa membahagiakan dan menyakitkan di waktu bersamaan.

Ini adalah novel ketiga DewiOmega, semoga bisa menghibur pembaca semua. Tetap dukung karya para penulis dengan memberikan Like, komen vote dan rate bintang 5 ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Pemuda Songong

Sebuah motor merah besar berhenti di depan Naya. Pengendaranya sengaja menggeber gas motornya sehingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.

“Hei! Hentikan. Apa yang kamu lakukan?! Berisik!” hardik Naya.

Pengendara motor berjaket kulit itu mematikan mesin motornya dan membuka kaca pelindung helm full face yang terlihat mahal miliknya. Naya hanya bisa melihat sepasang mata bening yang menatap tajam ke arahnya.

“Jaman sudah maju begini, masih saja ada yang mau memakai sepeda butut macam ini.” Pengendara motor itu, yang ternyata seorang pria, melirik ke arah sepeda Naya dengan tatapan menghina.

“Apa urusan anda? Kendaraan apa yang saya pakai, sama sekali tidak ada hubungannya dengan anda.” Naya berdiri berhadapan dengan pria itu.

“Memang tidak ada, tapi aku sama sekali tidak suka melihat gadis yang suka mencari perhatian melalui simpati orang. Kamu suka dikasihani rupanya.” sinisnya.

Pria itu kemudian melepas helmnya. Naya sempat terkesiap kaget melihat wajah tampan di balik helm mahal senada dengan warna motor yang dikendarainya. Melihat ekspresi gadis di depannya itu, sebuah seringai tersungging di bibir pria Dante.

“Awas, lepas itu mata.” Sindirnya, membuat Naya mengerjapkan matanya yang bulat.

“Ehemm.” Naya merapikan rok seragamnya untuk menutupi malunya karena tertangkap sedang memandang pria di depannya dengan sorot kagum.

“Baru pertama kali lihat cowok cakep pakai motor mahal ya?”

“Sombong.” Ucap Naya dengan nada menghina.

“Wajar. Orang kaya bebas kalau mau sombong.”

“Songong.”

“Memang. Kalau singing, nyanyi dong.”

Naya berbalik agar senyumnya tidak terlihat lawan bicaranya. Dia memilih kembali berjongkok dan berkutat dengan rantai sepedanya.

“Hei. Tinggalkan saja barang rongsokan itu di sini. Gak akan ada yang ambil. Ayo aku antar kamu ke sekolah.”

Naya berdiri dan berbalik lagi. “Gak perlu. Aku bisa sendiri.” Tolaknya.

“Dih, belum kaya aja udah sombong. Bener nih? Gak nyesel?” Naya hanya diam melihat pemuda yang sepertinya sebaya dengannya itu.

“Kenapa? Takut diperkosa? Tenang, kamu bukan tipe wanita idamanku. Kalau aku macam-macam padamu, laporkan saja sama Haris atau Indra Hartawan.” Dante memakai helm dan menyalakan mesin motornya.

Begitu mendengar dua nama yang dikenalnya, tanpa ragu Naya naik ke atas boncengan yang menyusahkannya itu. Karena Dante menggunakan motor balap, kursi boncengannya kecil dan menjorok ke depan, membuat badannya menempel ke punggung pemuda itu.

Naya segera menahan tubuhnya dengan kedua tangannya agar ada jarak antara mereka. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di depan gerbang sekolahnya.

“Kamu bisa turun sekarang.” Perintahnya.

“Terima kasih.” Ucap Naya setelah menjejak tanah.

Tanpa basa-basi lagi, Naya segera berlari ke arah gerbang sekolahnya dan menemui pak Rudi yang sudah berdiri menunggunya di pintu gerbang.

“Bahkan dia tidak berusaha menanyakan namaku.” Gerutu Dante sambil menggeber motornya.

“Dasar songong.” Protes Naya seraya menutup kedua telinganya.

“Tumben telat datangnya?” sapa pak Rudi.

“Iya pak, sepeda Naya rusak tadi di depan halte. Untung ada mas itu yang nolongin Naya. Tolong bukain pintunya, Pak. Naya janji ini yang pertama dan terakhir kalinya.”

Pak Rudi mengamati wajah Naya dengan cermat. Ada noda hitam di dahi dan pipi kanannya. Kedua tangannya pun kotor karena minyak rantai sepertinya. Naya tidak sedang berbohong, putus pak Rudi yang segera membuka pintu gerbang untuk Naya.

Merasa tidak dihiraukan kehadirannya, Dante memacu motornya meninggalkan SMA Tunas Bangsa dengan perasaan kesal.

“Terima kasih, Pak Rudi.” Naya segera melewati gerbang dan setengah berlari menuju kelasnya, melupakan pemuda songong yang sudah membantunya tadi.

Di depan kelasnya Naya berhenti dan mengatur napasnya sebelum masuk ke dalam. “Selamat pagi, Pak. Maaf saya terlambat.” Ujarnya.

“Ini sudah siang, Naya. Masih saja ‘selamat pagi’ yang kamu ucapkan.” Sahut Darto seraya menghampiri Naya. “Sebutkan kesalahanmu dan alasannya, sebelum saya perbolehkan kamu masuk.” Darto mengamati noda hitam di

wajah Naya.

“Saya datang terlambat sehingga tidak mengikuti upacara bendera dan kuis Matematika. Itu karena rantai sepeda saya lepas dan tidak berhasil saya benahi, Pak.” Paparnya.

“Baik. Kamu saya izinkan masuk dan mengikuti pelajaran.”

“Yah. Cuma gitu aja nih, Pak?”

“Wah, murid pinter mah bebas.”

“Gak adil ini. Pilih kasih.”

Komentar bernada tidak puas mulai bergema di dalam kelas. Kebanyakan karena mereka kecewa dengan keputusan gurunya yang terkesan melepaskan Naya dari hukuman dan bersikap tidak adil. Darto berbalik menghadap murid-muridnya.

“Diam. Berisik sekali kalian.” Hardiknya tegas. “Cuci tangan dan mukamu. Lalu segera bergabung dengan yang lain.” Perintahnya pada Naya tanpa berbalik.

Mendengar perkataan gurunya, dengungan lebah kembali terdengar. Namun sepertinya hal itu tidak Darto hiraukan. Guru paruh baya itu kembali duduk di kursinya dan mulai membuka buku pegangannya.

Naya kembali dari kamar mandi setelah selesai membersihkan wajahnya dan mencuci tangannya yang penuh minyak rantai. Saat melangkah masuk kelas hendak menuju kursinya, Darto berdiri dan memanggilnya.

“Sini, Nay.”

Naya segera menghampiri guru favoritnya itu dengan kepala tertunduk. “Iya, Pak.”

“Karena kamu terlambat dan tidak mengikuti kuis hari ini, sekarang kamu kerjakan soal-soal ini di papan tulis untuk mendapatkan nilai kuis.” Darto menyerahkan sebuah buku dalam keadaan terbuka pada Naya.

Tanpa pikir panjang, Naya menerima buku itu dan mulai membacanya. Setelah dirasa cukup, Naya mengambil spidol di meja guru dan mulai mengerjakan soal yang Darto pilihkan di papan tulis.

Dalam waktu tiga puluh menit, Naya berhasil mengerjakan lima soal dengan sempurna. Darto menghampiri papan tulis dan tersenyum ke arah Naya.

“Kamu memang tidak pernah mengecewakan saya.” Pujinya. “Kalian lihat sendiri, hasil kerja Naya. Dalam waktu tiga puluh menit, bisa menyelesaikan soal dengan sempurna. Ini hukuman karena dia datang terlambat.”

“Tapi dia juga tidak ikut upacara, Pak. Harusnya tetap dihukum.” Ujar Tere.

“Ye…, dasar kamunya aja yang dari dulu sirik sama Naya.” Lusi tidak terima temannya dipojokkan.

“Ngapain sirik? Pak, bukannya peraturan itu tidak memandang tua, muda, kaya, miskin, pintar atau bodoh? Kalau melanggar ya dihukum. Benar tidak, Pak?”

“Tere benar. Untuk itu, bapak minta Tere membantu Naya menghitung, biar Naya yang lari keliling lapangan upacara.”

“Hahh?! Kenapa jadi saya juga ikutan, Pak?” Tere memprotes keputusan Darto.

“Tidak ada lagi yang bisa saya percaya selain kamu, karena kamu yang mengusulkan untuk memberi Naya hukuman. Sudah, sana laksanakan.” Darto kembali ke mejanya dan mengambil barang-barangnya termasuk penggaris kayu tebal yang selalu setia menemaninya.

“Ishh! Dasar pembawa sial.” Tere mengumpat tepat di depan wajah Naya, lalu mendahului berjalan ke pinggir lapangan.

Naya mulai berlari mengelilingi lapangan upacara tanpa mengeluh karena memang dia pantas mendapatkannya. Tiga putaran bukan hal yang berat buat Naya. Dia berlari dengan kecepatan sedang agar tidak cepat lelah.

Kakinya terus berlari kecil sambil otaknya berpikir tentang pemuda songong yang menolongnya tadi. Naya bahkan belum berterima kasih dengan benar karena sibuk merayu pak Rudi tadi. Bahkan nama pemuda itu belum sempat Naya tanyakan.

Bagaimana bisa dia tahu kalau aku sekolah di sini? Dan bagaimana dia tahu kalau aku kenal dengan mas Haris dan paman Indra? Siapa dia sebenarnya?

“Heh! Bisa cepetan gak?! Panas nih.” Teriak Tere dari pinggir lapangan.

Naya menambah kecepatannya agar putaran ketiga hukumannya segera berakhir. Naya berhenti di pinggir lapangan dan mengatur napasnya. Lumayan berkeringat juga walau hanya tiga putaran di saat matahari sudah mulai merambat naik.

****

1
Janitra Windarto
Lumayan
Fania kurnia Dewi
keren
Fania kurnia Dewi
Mampir,langsung suka ceritanya
DewiOmega: terima kasih sudah berkunjung. semoga terhibur dengan ceritanya.
total 1 replies
Meri Marlinda
nyimak
Yeni Eka Wijayanti
ceritanya bagus, sayang sekali yg like dan vote sedikit
Nhimasera Sera Sera
keren ada makna yg terkandung dalam cerita bahwa sebaik apapun rencana manusia pasti rencana Tuhan lebih baik lagi 👍👍👍
Elly Sari Narulita
Kasian Kanaya hidupnya selalu sedih dari kecil...
teganya kamu Thor..harusnya Kanaya merasakannya kebahagian 😭😭
DewiOmega: Tunggu season 2 nya ya... 😅
total 1 replies
Elly Sari Narulita
karena dari awal niatnya Damar sudah jelek pasti hasilnya juga jelek..habis manis sepah di lepeh..hahahha kasihan...
Elly Sari Narulita
apakah harus koma dulu papi Frans ..baru menyesali perbuatannya 😠
Elly Sari Narulita
Hendry...emberrrr banget sihhhh
Elly Sari Narulita
bokiisss alannn....
minta dua an aja...cemburu yaa sm Ji min😀
Elly Sari Narulita
tiba tiba erica pingsan..apa dia sudah merasa mau bertemu dgn papi tua yg pemaksa??
Elly Sari Narulita
semangat ya Kanaya erica 😘
Elly Sari Narulita
ya Tuhan...kenapa ceritanya jadi bagus begini...jadi pengin baca terus..
DewiOmega: Terima kasih sudah berkunjung, Kak. Semoga terhibur dengan ceritanya. 😘
total 1 replies
Elly Sari Narulita
kesian Naya deh...
kenapa sih pak Indra ngga terus terang aja..kalo Dari awal udah jelas pasti anak2nya maklumin....
Elly Sari Narulita
senenggggg bacanyaaa..
semangat nanyaaa 😘😘
Coretan Senja: Hai ka kalau berkenan mampir juga yuk di ceritaku judulnya MENIKAH DENGAN MAFIA ARROGANT hehehe 🥰
total 1 replies
Elly Sari Narulita
Alllaaaaannnn....

aku padamuuuuu💖💖😀
Elly Sari Narulita
jadi esmosi sm anaknya Bu Laras😠
untung ada Alan ..
Elly Sari Narulita
jreng ..jrenggg..
apa tuh wasiatnya om Indra Hartawan 🤔
Elly Sari Narulita
Naya..Naya...berani banget sih..
aku mah udah ngacirrr 😂

tambah penasaran bacanya
Lanjutttt..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!